JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Siluman Laut Utara


__ADS_3

Jaka Umbaran segera mengangguk mengerti. Sedari tadi ia memang merasakan sesuatu yang lain pada sang calon mempelai pria yang tampan dan gagah ini. Sekilas Jaka Umbaran lamat-lamat mencium aroma pandan yang keluar dari tubuh calon mempelai pria yang semakin mendekati tempat mereka berada.


"Gusti Pangeran, ini adalah calon menantu hamba. Dia adalah putra dari Tumenggung Lasem yang bernama Tumenggung Antaka. Namanya adalah Raden Antakadewa", urai Akuwu Mpu Setyaki memperkenalkan lelaki muda bertubuh tegap ini.


Sang lelaki bertubuh tegap itu segera membungkuk hormat kepada Jaka Umbaran diikuti oleh Rara Arumsari, putri Akuwu Pakuwon Watugaluh yang akan menjadi istrinya.


Hemmmmmmm..


"Selamat untuk kalian berdua. Semoga nanti setelah resmi menikah, kalian berdua akan hidup bahagia selamanya", ucap Jaka Umbaran segera.


"Terimakasih atas doa dan kehadirannya, Gusti Pangeran. Semoga Hyang Agung mengabulkan doa Gusti Pangeran untuk kami", ucap Raden Antakadewa sembari tersenyum tipis.


"Sungguh pemuda yang sopan. Akuwu Mpu Setyaki pasti beruntung bisa memiliki menantu seperti mu.


Eh mana rombongan pengiring pengantin dari Lasem? Aku ingin berbincang tentang beberapa hal dengan mereka, terutama pada Tumenggung Antaka", Jaka Umbaran menatap para tamu undangan yang hadir di tempat itu. Raden Antakadewa sempat terkejut mendengar omongan Jaka Umbaran, namun dia cepat menguasai diri. Ini tak luput dari perhatian Resi Simharaja yang sedari tadi terus mengawasi gerak-gerik lelaki muda itu.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Kanjeng Romo Tumenggung Antaka tidak bisa hadir karena sedang menjalankan tugas dari Gusti Adipati Lasem. Beliau hanya bisa mengirimkan hadiah untuk keluarga Istana Pakuwon Watugaluh", Raden Antakadewa mengerakkan tangannya ke arah beberapa orang lelaki bertubuh kekar yang ada di sudut tempat itu.


Mereka yang berjumlah delapan orang, maju dengan memikul 2 peti kayu besar yang sepertinya berisi barang yang berat. Terlihat mereka berdelapan cukup kepayahan memikul peti-peti itu karena beberapa bulir keringat nampak jatuh di pelipis mereka usai meletakkan peti-peti kayu jati ini di samping Raden Antakadewa.


Dua orang segera membuka tutup peti kayu jati ini. Saat tutupnya terbuka, mata semua orang langsung melebar tatkala melihat isi dalam peti kayu jati ini. Ratusan kepeng emas, perhiasan, kalung mutiara, gading gajah dan beberapa guci keramik yang sepertinya merupakan barang mewah dari Negeri Tiongkok nampak seperti tumpukan barang tidak berguna dalam peti besar itu.


Melihat itu, Jaka Umbaran segera menghentakkan kakinya ke tanah. Dua keping kepeng emas mencelat ke atas dan sang pangeran muda dari Kadiri ini segera menangkapnya dengan cepat.


Mata batin Jaka Umbaran memang tidak bisa dibohongi. Dua keping kepeng emas di tangannya pun segera terlihat saat telapak tangan sang pangeran muda terbuka. Dan ini bukan kepeng emas yang umumnya digunakan sebagai mata uang di Kerajaan Panjalu.


"Ini bukan kepeng emas Kerajaan Panjalu. Ada tulisan huruf asing di atasnya. Kalau diperhatikan, ini adalah mata uang Kerajaan Sriwijaya. Aku pernah melihatnya.


Katakan padaku, darimana kau dapatkan kepeng kepeng emas ini?", pertanyaan Jaka Umbaran sontak membuat semua orang terkejut bukan main. Akuwu Mpu Setyaki pun langsung meraih tumpukan kepeng emas di dalam peti dan segera memeriksanya. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Pangeran Mapanji Jayabaya.


"Nakmas Raden Antakadewa..


Tolong jawab jujur pertanyaan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", imbuh Mpu Setyaki sembari menatap ke arah wajah tampan Raden Antakadewa yang mulai nampak kebingungan.


"Eh anu itu aku tidak tahu Gusti Pangeran..


Kanjeng Romo Tumenggung Antaka hanya menyuruhku untuk membawanya sebagai hadiah pernikahan untuk Dinda Rara Arumsari. Selebihnya hamba tidak tahu menahu soal itu", ucap Raden Antakadewa segera.


"Dusta!! Kau berdusta, anak muda!!

__ADS_1


Itu adalah benda-benda dari berbagai negara asing yang sering datang ke Panjalu lewat laut. Guci keramik itu dari Negeri Tiongkok, kepeng emas itu berasal dari Sriwijaya dan gading gajah ini berasal dari Siam. Bagaimana mungkin seorang tumenggung bisa memiliki barang mahal seperti ini?", sahut Resi Simharaja yang sudah tidak sabar ingin membuka kedok Raden Antakadewa ini.


Tak bisa lagi mengelak, Raden Antakadewa mundur selangkah ke belakang. Lalu mempersiapkan diri untuk menghadapi semua orang yang ada di tempat itu karena kedoknya sebagai putra Tumenggung Lasem telah terbongkar.


"Iya, itu memang barang dari beberapa negeri manca. Lantas kenapa aku tidak bisa memiliki nya? Ada masalah dengan itu?


Di Laut Utara, masih ada tumpukan benda semacam itu hingga segunung tingginya", tantang Raden Antakadewa sembari menatap tajam ke sekelilingnya. Delapan orang lelaki bertubuh kekar tadi pun segera membentuk sebuah pagar betis di sekeliling Raden Antakadewa.


Suasana pernikahan yang seharusnya sakral kini berubah menjadi menegangkan.


Ploookkkk ploookkkk ploookkkk!!


Jaka Umbaran bertepuk tangan sambil tersenyum penuh kemenangan. Rupanya tidak terlalu sulit untuk membongkar rahasia pemuda tampan itu hanya dengan beberapa kata yang menjebaknya saja.


"Kau mengatakan bahwa di Laut Utara, masih banyak tumpukan harta seperti ini. Itu berarti bahwa kau bukan seorang manusia, Raden Antakadewa.


Manusia tidak mampu menyelam hingga kedalaman ratusan tombak di dalam lautan. Sekarang katakan pada ku, siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuan mu menyamar sebagai Raden Antakadewa, putra Tumenggung Antaka", tanya Jaka Umbaran kemudian.


Sadar telah di jebak oleh Jaka Umbaran, Raden Antakadewa menyeringai lebar. Dia memutar kepalanya dan seketika itu juga wajahnya berubah menjadi menyeramkan. Kulitnya berubah menjadi hitam kebiruan, giginya lancip seperti gigi ikan shura ( hiu ) dan dia tidak memiliki rambut. Namun sebuah mahkota berhias permata merah menghiasi kepalanya.


Melihat perubahan wujud Raden Antakadewa ini, Rara Arumsari langsung pingsan seketika. Dua orang emban dan ibunya segera memapah tubuh perempuan cantik itu ke arah Pendopo Pisowanan Pakuwon Watugaluh untuk di sadarkan. Sementara itu, semua orang yang melihat perubahan wujud Raden Antakadewa langsung mengambil jarak jauh karena tahu bahwa orang yang menyamar itu adalah seorang siluman.


"Shuralangi...


Shuralangi sang siluman ikan hiu itu nampak terkejut mendengar omongan Resi Simharaja yang ternyata mengenali dirinya. Segera dia menajamkan penglihatannya dan melihat wujud asli dari Resi Simharaja yang berupa seekor harimau putih besar.


"Pantas saja penyamaran sempurna ku mampu di bongkar dengan mudah. Rupanya ada seseorang yang membantu.


Simharaja, kau macan tua, sebaiknya tidak ikut campur urusan ku. Aku akan membawa Rara Arumsari ke Laut Utara untuk ku jadikan istri", ucap Shuralangi kemudian.


"Itu menyalahi kodrat dan aturan alam semesta, hai siluman Laut Utara. Manusia jodohnya dengan manusia. Siluman harusnya dengan siluman juga. Itu adalah aturan baku yang harus ditaati oleh semua ciptaan Hyang Akarya Jagat.


Jika kau bersikeras dengan pendirian mu, maka aku tidak akan pernah tinggal diam!", tegas Jaka Umbaran sembari menatap tajam ke arah Shuralangi.


"Aku tidak peduli!


Yang aku mau, Rara Arumsari menjadi milik ku. Yang menghalangi niat ku, akan ku bunuh!", Shuralangi memamerkan gigi tajamnya yang mengerikan.


"Gusti Pangeran, ijinkan hamba untuk merontokkan gigi siluman ikan asin ini. Mohon doa restu..", Gendol yang sudah sejak tadi menahan marah karena ketidaksopanan sikap Shuralangi pada majikannya, langsung melesat cepat kearah siluman ikan hiu itu sembari mengayunkan gada di tangan kanannya. Jaka Umbaran yang hendak mencegah niat Gendol, mengurungkan niatnya begitu melihat beringasnya Gendol membela martabat nyam


Whhhuuuuuggggghhhh!!!

__ADS_1


Shuralangi buru-buru menjejak tanah dengan keras saat sambaran gada Gendol mengancam mulutnya. Tubuh siluman ikan hiu itu seketika melenting tinggi ke udara. Melihat itu, Gendol memburunya dengan ilmu meringankan tubuh nya.


Saat keduanya sejajar, Gendol mengayunkan gada kembar nya secara cepat dan beruntun pada Shuralangi.


Bhhhaaaaaaaaangggggggg bhhhaaaaaaaaangggggggg!!


Shuralangi tak memiliki kesempatan untuk menghindar. Siluman berkulit hitam kebiruan ini hanya menangkis gempuran Gendol dengan kedua tangannya yang memiliki pelindung lengan yang terbuat dari baja.


Begitu keduanya menjejak tanah, kedelapan pengikut Shuralangi berubah wujud ke bentuk aslinya yakni 8 siluman anjing laut. Mereka pun langsung mengepung Gendol dengan senjata seperti taring panjang mirip tombak. Besur, Baratwaja dan Resi Simharaja pun tak tinggal diam. Mereka pun segera menerjang maju ke arah kepungan 8 siluman anjing laut ini. Tempat yang semula akan menjadi tempat pernikahan ini kini berubah menjadi arena pertarungan sengit antara pengikut Jaka Umbaran dan pengikut Shuralangi.


Sang siluman ikan hiu pun tak mendapatkan perlawanan karena para pengikut Jaka Umbaran sibuk menghadapi para pengikutnya. Melihat kesempatan ini, Shuralangi langsung melesat cepat kearah Rara Arumsari putri Akuwu Mpu Setyaki yang baru sadarkan diri.


Rara Arumsari pucat wajahnya melihat calon suaminya itu hendak menyambar tubuhnya. Kurang sedepa dari tempat Rara Arumsari berada, Jaka Umbaran muncul di hadapan Shuralangi dan langsung meninju wajah siluman Laut Utara ini sekuat tenaga.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Raungan keras terdengar dari mulut Shuralangi. Tubuhnya mencelat jauh ke belakang dan menabrak tiang penjor janur kuning yang terbuat dari bambu. Penjor ini seketika ambruk dan nyaris mengenai para tamu undangan yang sudah menepi di dekat tembok istana. Gigi tajam Shuralangi rontok bersamaan dengan darah hijau kehitaman yang mengalir keluar.


Ajaibnya, gigi Shuralangi pun tumbuh kembali seperti sediakala. Selayaknya ikan hiu, gigi yang tanggal akan di ganti dengan gigi baru setajam pisau belati. Jaka Umbaran nampak terkesiap juga melihat itu semua.


Shuralangi segera bangkit dari tempat jatuhnya sembari mengusap sisa darah nya di sudut mulut. Dia justru menyeringai lebar menatap ke arah Jaka Umbaran.


"Lumayan keras juga pukulan mu, pendekar muda!


Tapi jangan besar kepala dulu. Ini baru saja di mulai", setelah berkata demikian, Shuralangi langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah sang pangeran muda.


Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh!!


Jaka Umbaran menghadapi tantangan itu dengan menangkis setiap hantaman Shuralangi dengan kedua tangannya. Kesal karena pukulan bertubi-tubi nya sama sekali tidak berguna melawan Jaka Umbaran, Shuralangi melompat ke arah Jaka Umbaran sembari membuka lebar kedua rahang mulutnya.


"Rasakan gigitan ku ini, heh keparat!


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!"


Manik mata Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya bersinar kuning keemasan sekilas sebelum gigi tajam Shuralangi menyambar bahu kiri nya.


Klllllaaaaaaannnggggggg!!


Mata Shuralangi langsung terbelalak lebar tatkala ia melihat gigi tajamnya tak mampu menembus kulit Jaka Umbaran. Rasanya seperti menggigit lempengan logam keras.

__ADS_1


"Ini kekuatan terbaik mu, Siluman Laut Utara?


Hanya seperti gigitan nyamuk!"


__ADS_2