
"Tumenggung Mahambara..
Diam kau!!! Siapa yang menyuruhmu untuk mendahului omongan ku ha?!", bentakan keras Adipati Aghnisuta seketika menghentikan sikap galak sang perwira prajurit Kalingga. Melihat tatapan mata penuh keinginan membunuh dari sang pimpinan tertinggi dalam tata pemerintahan Kadipaten Kalingga, Tumenggung Mahambara seketika mengkerut ketakutan.
"Mohon ampun Gusti Adipati, hamba hanya..."
"Cukup! Jangan membuat ku semakin kesal dengan ulah mu, Mahambara!!
Pendekar muda, apa maksud mu tak sependapat dengan keputusan ku? Jelaskan pengertian nya pada ku sekarang", Adipati Aghnisuta mengalihkan perhatian nya pada Jaka Umbaran yang duduk bersila dengan tenang di pojokan Pendopo Agung. Pandangan mata semua orang pun ikut tertuju pada pendekar muda ini.
"Mohon maaf sebelumnya jika hamba sudah bertindak lancang, Gusti Adipati Aghnisuta.
Tapi hamba bertindak atas dasar penalaran dan pertimbangan dalam menentukan keadilan bagi mereka semua. Kami para murid Perguruan Bukit Katong hanya sekedar lewat di tempat pertarungan dan tak sengaja terlibat dalam masalah pertikaian antara Ki Joyo dan saudagar Bo En Hiang. Jadi kami tidak memiliki kepentingan apapun di dalam masalah ini, karena itu semua tindakan hanya berdasarkan atas asas keadilan semata-mata.
Begini Gusti Adipati, dalam hukum jual beli, setiap barang yang sudah diambil seharusnya langsung di bayar tanpa ada penundaan sedikitpun kecuali jika ada perjanjian sebelumnya. Dari penjelasan kedua belah pihak yang berseteru, keduanya sama-sama mengakui bahwa tidak ada perjanjian sebelumnya tentang penundaan pembayaran. Ini semua terjadi karena saudagar Bo En Hiang tidak bisa membayar barang yang sudah dia bawa.
Jadi menurut Kitab Undang-undang Kutara Manawa bagian keempat baris terakhir nomor kedua, seseorang yang tidak bisa memenuhi tanggungan nya maka akan mendapat denda. Karena itu, Saudagar Bo En Hiang telah terbukti bersalah dalam hal ini", terang Jaka Umbaran yang segera membuat semua orang terkejut bukan main mendengar penjelasannya.
Kitab Undang-undang Kutara Manawa adalah patokan untuk membuat sebuah keputusan dalam tata pemerintahan Kerajaan Panjalu saat itu karena sudah di ciptakan oleh Prabu Airlangga sejak awal pembentukan Kerajaan Panjalu. Semua pejabat negara maupun para pemimpin daerah tentu semua tahu apa yang tertulis di dalam nya. Dan kini ada seorang pendekar muda yang tidak jelas asal-usulnya dengan gamblang mengatakan bahwa ia membuat keputusan sendiri berdasarkan kitab hukum ini. Tentu saja, semua orang termasuk Patih Adiwinata pun kaget bukan main mendengar nya karena semua ucapan nya sama sekali tidak salah.
Hemmmmmmm...
'Bocah ini punya pengetahuan yang luas tentang Kitab Undang-undang Kutara Manawa. Aku saja tidak hapal betul isi di dalamnya tapi jawaban nya sama sekali tidak keliru.
Siapa sebenarnya bocah ini?', batin Patih Adiwinata seraya melirik ke arah Jaka Umbaran yang sedang menerangkan tentang hukum jual beli dan denda serta sangsi yang tertulis dalam kitab hukum itu di hadapan semua orang.
Tumenggung Mahambara yang semula memendam rasa marah pada Jaka Umbaran karena telah mendapatkan semprotan pedas dari Adipati Aghnisuta karena memarahi nya pun langsung terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya melongo mendengar uraian Jaka Umbaran yang begitu lugas dan gampang dicerna oleh semua orang.
"Bagus sekali anak muda..
Kau menyanggah pendapat ku dengan aturan hukum yang berlaku di Kerajaan Panjalu dengan baik. Aku kagum dengan luasnya ilmu pengetahuan yang kau miliki.
Dengan ini aku mencabut hukuman untuk Ki Joyo. Selanjutnya, berdasarkan pembelaan yang di berikan oleh anak muda ini, maka Ki Joyo akan menerima bayaran barang yang dibawa oleh saudara Bo En Hiang berikut denda keterlambatan. Aku memberi waktu selama 1 hari untuk menyelesaikan hutang ini. Jika dalam waktu 1 hari, saudara Bo En Hiang tidak bisa membayar kewajibannya pada Ki Joyo, maka pemerintah daerah Kadipaten Kalingga akan menyita harta benda nya yang ada di pelabuhan Halong sebagai jaminan.
__ADS_1
Mengenai pengobatan anak buah yang terluka, akan menjadi tanggung jawab pihak masing-masing. Keputusan ku sudah selesai, tidak ada keputusan ulang lagi untuk masalah ini", ucap Adipati Aghnisuta segera.
Mendengar ucapan itu, Ki Joyo dan para pengawal pribadi nya langsung tersenyum lebar. Keputusan ini sungguh sangat adil bagi mereka karena merekalah yang dirugikan karena masalah ini.
Lain halnya dengan Bo En Hiang dan kawan-kawan. Mereka langsung cemberut karena keputusan yang diambil oleh Adipati Aghnisuta akan memaksa mereka untuk segera melunasi hutang dagang mereka pada Ki Joyo sedangkan kondisi keuangan mereka sedang memburuk akibat hilangnya salah satu kapal dagang mereka di Selat Malaka setelah di timpa badai. Jika sampai ini melebar kemana-mana, nama baik nya sebagai saudagar kaya akan tercoreng dan mereka pasti akan kesusahan dalam mencari nafkah lagi di Kadipaten Kalingga.
Setelah mengeluarkan keputusan ini, semua pedagang di silahkan untuk membubarkan diri. Terkecuali dengan rombongan Jaka Umbaran dan kawan-kawan yang diminta untuk tinggal sementara waktu di dalam Istana Kadipaten Kalingga.
"Mohon ampun bila saja ada kata-kata hamba yang kurang berkenan, Gusti Adipati.
Hamba ingin bertanya, apa sebabnya Gusti Adipati menahan kami disini? Apa ada kesalahan yang telah kami lakukan?", tanya Sadewa selaku pimpinan rombongan murid Perguruan Bukit Katong itu segera.
"Tidak tidak tidak.. Ini bukan penahanan, aku hanya ingin berbincang sebentar saja dengan pendekar muda ini. Sekalian aku menjamu kalian sebagai tamu kehormatan yang telah membantu ku mencegah ku berbuat kesalahan dalam mengambil keputusan.
Pendekar muda, siapa nama mu dan darimana kau berasal?", tanya Adipati Aghnisuta sembari menatap ke arah Jaka Umbaran.
"Hamba Jaka Umbaran. Asal hamba dari Gunung Lawu tepatnya di Pertapaan Watu Bolong. Hamba murid Maharesi Siwamurti", jawab Jaka Umbaran dengan sopan.
Terus terang saja, aku sangat penasaran dengan asal usul mu karena kau mengingatkan ku pada seseorang yang ku kenal saat masih muda", lanjut Adipati Aghnisuta kemudian.
"Hamba tidak tahu siapa orang tua hamba sebenarnya karena Maharesi Siwamurti merawat hamba sejak masih kecil. Namun dia memberikan satu petunjuk, bahwa dia menyelamatkan hamba dari lereng tenggara Gunung Wilis. Mungkin saja orang tua hamba berasal dari daerah sekitar tempat itu. Kelak selepas menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, hamba akan mencari keberadaan mereka", Jaka Umbaran menghormat usai berbicara.
Hemmmmmmm...
"Begitu rupanya.. Semoga Hyang Agung akan segera mempertemukan mu dengan orang tua mu, Jaka Umbaran.
Ah sepertinya makanan yang dimasak sudah rampung dipersiapkan. Mari Jaka Umbaran dan semuanya, kita nikmati saja makan siang bersama", Adipati Aghnisuta segera bangkit dari tempat duduknya dan mengajak semua orang untuk bersamanya menuju ke sasana boga dimana telah tersaji pelbagai jenis makanan yang disiapkan untuk mereka.
Selepas menikmati makan siang bersama, rombongan Jaka Umbaran pun segera mohon undur diri untuk meneruskan perjalanan ke Lembah Kali Gung yang merupakan tapal batas wilayah antara Kadipaten Kalingga dan Kadipaten Rajapura. Adipati Aghnisuta dan Patih Adiwinata sendiri mengantar mereka hingga pintu gerbang Istana Kadipaten Kalingga.
Adipati Aghnisuta sendiri terus memandangi kepergian mereka semua setelah mereka memacu kuda mereka melintasi jalan raya di depan gerbang barat istana. Patih Adiwinata yang agak heran dengan sikap pimpinan daerah Kalingga ini langsung bertanya.
"Mohon ampun Gusti Adipati. Dari tadi hamba perhatikan, Gusti Adipati Aghnisuta nampak menaruh perhatian lebih pada Jaka Umbaran itu.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya?", mendengar pertanyaan itu, Adipati Aghnisuta segera tersenyum tipis saja.
"Pemuda itu mengingatkan ku pada Kakang Prabu Bameswara, Paman Patih. Banyak sekali kemiripan dengan Kakang Prabu Bameswara saat masih muda. Selain kecerdasan nya, dia memiliki wibawa agung sebagai seorang bangsawan.
Sebenarnya aku ingin sekali mencari tahu lebih jauh tentang dia, hanya sayangnya dia sedang diburu waktu untuk sampai di Lembah Kali Gung untuk menghadiri acara pertemuan para pendekar dunia persilatan. Jujur saja, aku duga dia adalah bocah itu", jawab Adipati Aghnisuta sambil terus menatap ke arah perginya rombongan murid Perguruan Bukit Katong itu meskipun mereka sudah tidak nampak lagi di ramainya jalan raya.
"Bocah itu? Maksud Gusti Adipati?", Patih Adiwinata sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh junjungan nya.
"Bocah itu, aku menduga bahwa ia adalah bocah calon Maharaja Panjalu selanjutnya yang menghilang dari istana setelah di culik dan sempat menggegerkan kerajaan Panjalu 18 tahun yang lalu", mendengar jawaban itu, Patih Adiwinata kaget bukan main.
"HAAAAAAAHHHHHHHH??!!!!"
****
Setelah melintasi jalan raya di dalam Kota Kadipaten Kalingga rombongan para murid Perguruan Bukit Katong terus bergerak ke arah barat. Perjalanan mereka yang sempat terhenti di istana Kadipaten Kalingga akibat dari permintaan dari Adipati Aghnisuta mereka tebus dengan memacu kuda mereka masing-masing sekencang-kencangnya. Debu beterbangan mengiringi derap langkah kaki kuda mereka mencecah jalan berbatu.
Meskipun pemandangan alam indah terhampar di depan mata, namun itu tidak membuat para pimpinan kelompok ini melambatkan laju pergerakan mereka. Beberapa Wanua kecil di luar kota Kadipaten Kalingga telah mereka lewati.
Begitu mendekati bantaran Kali Comal, dari arah selatan angin dingin berhembus kencang menerbangkan dedaunan dan debu. Angin dingin yang membawa uap air itu terasa semakin dingin menyentuh kulit.
"Kakang Sadewa, sebaiknya kita segera mencari tempat untuk beristirahat. Sepertinya hari akan segera hujan", ucap Surtikanti sambil memandang ke arah mendung hitam yang terlihat menggantung di langit barat dan selatan.
"Kau benar Surtikanti.. Tapi di depan adalah Kali Comal. Kita harus segera menyeberangi sungai besar itu jika tidak ingin terjebak banjir yang bisa menghambat perjalanan kita", jawab Sadewa sembari terus memacu kuda tunggangan nya.
Begitu sampai di bantaran Kali Comal tiba-tiba saja hujan deras turun dari langit disertai gemuruh petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Mereka semua langsung panik dengan hal itu. Sadewa yang melihat sebuah bangunan yang berada tak jauh dari tempat mereka berhenti, segera mengarahkan kuda nya ke arah tempat itu diikuti oleh seluruh anggota rombongan.
Begitu sampai, mereka segera berhamburan masuk ke serambi bangunan tua itu dan membiarkan kuda-kuda mereka berteduh di bawah pohon rindang yang ada di halaman. Dari arah belakang, muncul beberapa orang berpakaian kuning dengan celana pendek selutut berwarna hitam mendekati mereka.
Salah seorang diantara mereka, menyeringai lebar dan langsung berkata,
"Pucuk dicinta ulam tiba..
Kita bertemu lagi Nimas Wuni.."
__ADS_1