
"Sekarang duduklah, Jayabaya..
Kosongkan semua pikiran mu. Buka kelima panca indra mu dan biarkan alam semesta mengisi seluruh tubuh mu dengan semua kekuatan yang dimiliki nya", perintah Prabu Bameswara segera.
Mendengar perintah dari sang ayah, Jaka Umbaran segera duduk bersila di atas sebuah batu besar pipih yang ada di dekatnya. Kedua tangan sang pangeran muda segera tertangkup di depan dada, sementara matanya perlahan terpejam. Perlahan suara nafas sang pangeran terdengar teratur.
Prabu Bameswara tersenyum tipis tatkala ia melihat sang putra telah melaksanakan apa yang dia perintahkan. Mulut lelaki paruh baya itu segera komat-kamit merapal mantra. Cahaya putih redup berhawa dingin langsung tercipta di telapak tangan kanan nya. Di sekeliling nya, ada kabut putih yang nampak berputar.
Setelah itu, Prabu Bameswara segera meletakkan telapak tangan nya ke dahi Jaka Umbaran. Perlahan kabut putih tipis itu masuk ke dalam tubuh sang pangeran muda lewat hidung. Tubuh Jaka Umbaran langsung bergetar hebat kala hawa dingin yang sanggup membuat orang kedinginan setengah mati ini mulai memasuki tubuhnya.
Perlahan tubuh Jaka Umbaran terlihat sedikit demi sedikit menjadi sebening kaca. Setelah itu, tubuhnya terlihat menghilang. Ini merupakan pertanda bahwa Ajian Halimun telah bersatu dengan tubuhnya.
Prabu Bameswara segera meluruskan kedua tangan nya di samping tubuhnya usai ajian yang dia turunkan kepada Jaka Umbaran selesai sepenuhnya. Dia pun segera membuat gerakan tangan seperti sikap mudra di depan dada sembari menghela nafas panjang. Bersamaan dengan itu, Jaka Umbaran muncul kembali di tempat ia duduk bersila.
"Ajian Halimun telah sempurna dalam tubuh mu, putra ku..
Masih ada beberapa ilmu kedigjayaan ku yang akan ku berikan kepada mu akan tetapi kita tidak boleh terlalu meninggalkan istana. Ayo kita pulang ke Istana Katang-katang..", mendengar ucapan sang ayah, Jaka Umbaran segera mengangguk mengerti. Dan sebentar kemudian, tubuh ayah dan anak itu telah hilang dari pandangan mata setelah kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh mereka berdua.
Dan demikianlah, selama beberapa hari berikutnya, Prabu Bameswara terus memberikan ilmu kanuragan yang dimilikinya pada Jaka Umbaran. Ajian Waringin Sungsang dan Pedang Naga Api pun di wariskan kepada sang putra mahkota sebagai senjata pertahanan diri kala menjalankan tugas nya sebagai calon penguasa Kerajaan Panjalu selanjutnya.
Sementara Jaka Umbaran menerima ilmu dari sang ayah, Besur mengunjungi tempat tinggal sang ayah di pinggiran Kotaraja Daha. Bersama dengan Baratwaja dan Gendol, mereka siang itu berkunjung ke rumah Wredamantri Mpu Gumbreg. Resi Simharaja menolak untuk ikut serta karena dia ingin tetap berada di dekat Jaka Umbaran.
Kebetulan saja, Mpu Gumbreg sedang kedatangan tamu dari Kepatihan Daha yakni Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka, yang juga merupakan ayah dari Baratwaja.
"Loh, Romo Mapatih juga ada disini?", ujar Baratwaja saat melihat ayahnya ada di tempat itu.
"Aku lama tidak ngobrol dengan paman mu ini, anak ku..
Kalian kenapa kemari? Tidak ada tugas dari Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya?", tanya Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka sembari menatap ke arah ketiga orang pengawal pribadi putra mahkota Kerajaan Panjalu itu sembari sedikit mengerutkan keningnya.
"Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sedang sibuk berlatih di halaman belakang istana, Paman Mapatih.
Katanya sih untuk persiapan keberangkatan ke Matahun. Jadi dia ingin mempersiapkan diri sebaik-baiknya", sahut Besur segera.
"Majikannya berlatih ya sebaiknya kalian ikut latihan. Jangan malah kelayapan tidak jelas begini.
Sebagai pengawal pribadi Yuwaraja, jaga sikap kalian semua. Jangan sampai malah membuat malu majikan kalian", ucap Mpu Gumbreg sembari meneguk sidhdhu yang ada di cangkir nya.
__ADS_1
"Jangan sok bijak kau Mbreg..
Dulu Gusti Prabu Jayengrana sibuk berlatih saat membangun markas besar Pasukan Garuda Panjalu, bukankah kau malah asyik menggoda para perempuan di Wanua Sanggur?", Mpu Baprakeswara sembari tersenyum tipis.
"Itu dulu ya Lu.. Saat masih muda.. Kalau sekarang sudah tua, jadi cukup tahu diri saja. Toh sekarang aku sudah anteng bersama Pergiwa dan Juminten", balas Mpu Gumbreg dengan santainya.
"Lha iya anteng wong kamu ada di rumah..
Coba kau keluar dari rumah, kelakuan mata keranjang mu kan masih tetap tidak berubah. Tempo hari di undangan nya Rakryan Kanuruhan Mpu Karnikeswara, kau juga menari sama penari tledek bertubuh bahenol itu bukan?", ucap Mpu Baprakeswara sedikit keras. Pucat muka Mpu Gumbreg seketika mendengar celetuk orang nomor dua di tata pemerintahan Kerajaan Panjalu ini.
"Ssssttttttttt....
Jangan keras-keras kau bicara Lu.. Kalau sampai kedengaran Juminten dan Pergiwa, bisa habis aku di hajar mereka berdua", Mpu Gumbreg langsung meletakkan telunjuk tangan nya ke depan mulut.
"Lha iya loh, itu kenyataan. Kenapa harus ditutup-tutupi?
Iya kan Jum, Pergiwa?", Mapatih Mpu Baprakeswara tersenyum ke arah Juminten dan Pergiwa yang datang sambil mengantarkan beberapa makanan dan minuman pada mereka. Kedua perempuan itu hanya tersenyum saja sambil meletakkan nampan berisi beberapa piring makanan itu ke meja di hadapan Mpu Gumbreg dan para tamunya tapi melirik tajam ke arah Wredamantri Mpu Gumbreg seolah berkata 'kami butuh penjelasan mu'.
"Mulutmu itu benar-benar beracun Lu..
Kau sengaja datang kemari untuk membuat suasana gaduh dalam rumah ku? Kawan macam apa kau ini?", gerutu Mpu Gumbreg sambil mendengus dingin.
Gendol yang sedari tadi hanya diam saja, langsung berbisik lirih di telinga Baratwaja.
"Baru tahu aku darimana asal bakat kurang ajar nya si Besur. Ternyata menurun dari bapaknya"
Baratwaja tak menanggapi omongan ini tapi sebuah senyuman lebar tersungging di wajahnya. Besur yang curiga dengan senyuman lebar Baratwaja, langsung berbisik pada kawannya itu.
"Ngomong apa dia baru saja Ja?"
"Ah tidak apa-apa. Hanya bilang rumah bapak mu ini lumayan besar dan rapi Sur", jawab Baratwaja sembari manggut-manggut saja.
Hari berganti dengan cepat. Tak terasa sudah sepekan pernikahan Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi dilaksanakan. Tadi sore telah diadakan upacara adat sepekan pernikahan di istana yang di hadiri oleh para petinggi negara.
Pada malam harinya, Jaka Umbaran segera bicara dengan Nararya Padmadewi tentang apa yang ditugaskan untuk nya. Raut wajah cantik perempuan itu langsung keruh mendengar omongan Jaka Umbaran yang akan meninggalkan istana.
"Berapa lama Kangmas Pangeran akan menjalankan tugas itu?", tanya Nararya Padmadewi sembari memeluk erat tubuh suaminya itu.
__ADS_1
"Paling cepat 1 pekan. Itu kalau tidak ada halangan. Tapi aku janji, sebelum satu purnama sudah pulang ke Istana Katang-katang, Yayi...
Kau harus mengerti bahwa sebagai istri dari seorang ksatria, harus siap ditinggalkan oleh suami mu yang sedang menjalankan tugas dari negara. Ini juga bentuk dharma bakti mu pada negeri ini", ucap Jaka Umbaran sembari mengelus rambut Nararya Padmadewi yang hitam legam.
"Aku mengerti itu Kangmas Pangeran. Segera pulanglah saat tugas mu telah usai. Aku akan selalu setia menunggu kedatangan mu", ucap Nararya Padmadewi yang langsung mendapatkan kecupan mesra di keningnya setelah berbicara.
Keesokan paginya, rombongan Jaka Umbaran bersama keempat orang pengawal setia nya juga 10 orang prajurit pilihan bergerak meninggalkan Kotaraja Daha. Dalam rombongan itu, ada Secawiguna yang telah sembuh lukanya setelah 5 hari menerima perawatan dari para tabib istana. Mereka bergerak menuju ke arah Utara dimana Kadipaten Matahun berada.
Gunung yang menghijau dan persawahan luas serta sungai-sungai kecil menjadi pemandangan yang menemani perjalanan sang pangeran muda. Kuda-kuda mereka terus mencecah jalanan, menciptakan debu-debu yang beterbangan mengiringi derap langkah kaki kuda tunggangan para pembesar istana Kerajaan Panjalu ini.
Saat memasuki Kota Watugaluh yang ada di tepi Sungai Kapulungan, matahari telah ada di atas kepala. Mereka yang dalam pakaian penyamaran karena tidak ingin menarik perhatian orang lain, menghentikan langkah kaki kuda mereka di dekat dermaga penyeberangan ke utara Sungai Kapulungan. Mereka kemudian menuju sebuah warung makan yang ada di dekat tempat itu untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.
Semula, tidak ada masalah yang terjadi. Namun tiba-tiba saja dari arah dermaga, orang-orang nampak berlarian untuk menjauhi tempat itu dengan terburu-buru. Nampaknya mereka semua sedang ketakutan pada sesuatu.
Baratwaja yang penasaran, langsung mencegat salah seorang yang sedang berlari tunggang langgang dari dermaga penyeberangan.
"Kisanak, apa yang sedang terjadi? Kenapa semua orang berlarian?"
Mendengar pertanyaan itu, sambil tersengal-sengal karena mengatur nafasnya, lelaki bertubuh kekar itu segera menjawab sambil menunjuk ke arah dermaga penyeberangan. Sebuah perahu tertambat pada geladakan dermaga dan bendera merah darah bergambar pedang nampak berkibar di tiang nya.
"I-itu Kisanak, ada perompak sungai pimpinan Brajasena sedang mendarat di dermaga penyeberangan. Kalian semua cepat lari lah kalau masih ingin hidup. Aku permisi ..", selesai bicara, orang itu kembali berlari cepat meninggalkan tempat itu. Baratwaja pun segera mendekati sang pangeran muda.
"Ada sekumpulan perompak sungai Ndoro.. Apa yang sebaiknya kita lakukan?", tanya Baratwaja segera.
"Kelompok Perompak Sungai Bajang pimpinan Brajasena terkenal ganas dan sadis, Gusti.. Mereka tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa orang lain yang tidak berdosa. Kita sebaiknya tidak berurusan dengan mereka", ucap Secawiguna mencoba memberi saran.
Belum sempat Jaka Umbaran menanggapi omongan mereka berdua, dari arah pintu masuk warung makan sekumpulan orang berwajah seram dan sangar dengan membawa berbagai senjata berukuran besar datang. Seorang lelaki paruh baya bertubuh tinggi besar dengan jambang lebat dan pakaian jubah panjang berwarna hitam nampak liar menatap seisi warung makan itu. Ada sebuah luka memanjang di wajah kanannya dari dahi hingga pipi yang sepertinya telah membuat mata kanannya memutih seperti buta. Rambutnya yang gimbal semakin membuat nya terlihat menakutkan.
Pandangan mata lelaki sangar ini langsung terpaku pada sosok Jaka Umbaran yang terlihat seperti sedang menikmati makanan yang disajikan untuk nya. Dia menyeringai lebar sembari melangkah mendekati tempat Jaka Umbaran duduk makan. Para prajurit dan para pengikut setia Mapanji Jayabaya yang duduk di sekitar tempat sang pangeran muda ini diam-diam memegang gagang senjata mereka untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
"Wah kelihatan nya makanan mu enak sekali ya anak muda. Yang lain sudah kabur dari sini, tapi kau masih tenang saja. Aku salut pada mu", ucap lelaki berwajah seram ini sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil sepotong paha ayam panggang yang masih tersisa di piring sang pangeran muda.
Saat tangan lelaki itu hampir menyentuh paha ayam panggang itu, Jaka Umbaran segera mencekal lengan tangan nya. Si lelaki bertubuh tinggi besar itu terkejut dan langsung berupaya untuk melepaskan cengkeraman tangan Jaka Umbaran. Namun cengkeraman tangan sang pangeran muda seperti jepit besi yang kuat hingga tak bisa dia lepaskan.
"Lepaskan aku bajingan keparat!", mendengar itu, Jaka Umbaran segera melepaskan pegangannya hingga lelaki bertubuh tinggi besar itu langsung jatuh terjengkang ke belakang dan menabrak anak buah nya.
Geram dengan sikap Jaka Umbaran yang telah membuatnya malu di depan anak buah nya, lelaki bertubuh tinggi besar itu langsung mengayunkan tangan nya ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan sambil berkata,
__ADS_1
"Habisi mereka semua..!!!"