
Suasana wanua kecil itu terasa begitu sunyi. Jangankan suara orang, bahkan jangkrik dan belalang yang biasanya terdengar bersuara saat malam hari tiba pun tak sedikitpun terdengar. Hanya ada suara burung hantu yang sesekali terdengar dari balik ranting pohon yang gelap meskipun malam baru saja menjelang.
Telinga peka Resi Simharaja terlihat bergerak-gerak seakan mencoba untuk menajamkan pendengarannya agar dia mampu mendengar suara sekecil apapun yang ada. Pria paruh baya bertubuh gempal yang merupakan manusia jadi-jadian itu mendengus lirih kala telinga nya mendengar suara aneh dari ujung perkampungan kecil ini.
"Ndoro Pendekar, saya mendengar sesuatu dari ujung kampung sana. Sepertinya ada pemujaan besar yang sedang terjadi", Resi Simharaja menunjuk ke arah barat laut.
Hemmmmmmm..
"Ini aneh. Jika ada pemujaan terhadap Dewa, seharusnya mereka tidak sampai membuat rumah mereka menjadi sunyi senyap seperti ini. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka sampai rela melakukan hal itu", ucap Jaka Umbaran sembari mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Kau benar Pendekar Gunung Lawu..
Dulu tempat ini terkenal ramai dan ramah dengan para pendatang. Mereka hanya memuja Dewa pada hari Radite (Minggu) dan Budha ( Rabu )saja. Aku kenal Rama ( kepala desa ) disini, jadi paham betul dengan adat istiadat di tempat ini. Sebaiknya kita lihat dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi", ucap Buyut Wangsanaya segera.
"Aku sependapat dengan mu, Tabib Sakti.. Kita lihat dulu saja, jika ada yang tidak beres maka kita bisa bertindak", sahut Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan sambil mengangguk setuju. Mendengar ucapan kedua orang itu, Jaka Umbaran pun tidak keberatan dan mereka berlima segera bergegas menambatkan kuda mereka sebelum menggunakan ilmu meringankan tubuh masing-masing untuk melesat cepat kearah barat laut Wanua Jagara.
Di bawah pohon beringin besar, sebuah arca seorang wanita cantik sedang berselimut asap tebal dupa dan kemenyan yang mengepul dari anglo tanah liat di bawahnya. 3 tampah besar berisi bebungaan dan sesajen tertata rapi di bawah kaki arca perempuan cantik itu. Tak ada ciri khas dari arca perempuan itu layaknya patung-patung para dewa yang selama ini menjadi sesembahan para penduduk Kerajaan Galuh Pakuan. Ini menandakan bahwa para penduduk Wanua Jagara yang sedang berdoa khusyuk di tempat itu tidak sedang memuja dewi ataupun dewa pada umumnya.
Seorang lelaki tua berjanggut pendek yang telah memutih karena bercampur dengan uban berpakaian layaknya seorang pendeta memimpin acara puja itu dengan penuh khidmat. Matanya terpejam dan mulutnya terus berkomat-kamit membaca mantra.
"Oh Nyi Pelet sang Ratu Gunung Ciremai..
Ku persembahkan kepada mu aneka sesajen seperti kehendak mu. Berikan kami keselamatan dan berkah mu yang abadi.."
Begitu doa khusyuk itu selesai diucapkan, pendeta yang memimpin upacara itu segera menoleh ke arah samping kiri. Melihat anggukan kepala halus dari sang pendeta, seorang lelaki muda bertubuh gempal yang berdiri di pojokan para pengikut upacara segera mundur. Sebentar kemudian, dia kembali sambil membopong tubuh seorang gadis remaja yang terikat tangan dan kakinya dan meletakkannya di atas meja batu datar di depan arca. Mulut perempuan muda itu diikat dengan kain hingga tak bisa bersuara. Para pengikut upacara yang terpejam matanya sama sekali tidak melihat kejadian itu, mereka terus mengucapkan doa-doa dengan cepat.
Tiba-tiba saja mata patung perempuan cantik itu memancarkan cahaya merah menyala. Melihat itu si pendeta segera menghunus sebilah pedang yang tergeletak di samping tempat duduknya. Dengan langkah kaki tegak, si pendeta melangkah menuju ke arah gadis remaja yang terikat itu sembari terus mengucapkan mantra pemujaan kepada Nyi Pelet atau Nini Pelet sang Ratu Siluman Gunung Ciremai.
Dengan penuh ketakutan, si gadis remaja itu berusaha keras untuk menjauh dari si pendeta yang memegang pedang tajam yang menuju ke arah nya. Namun apa daya, kedua tangan dan kakinya terikat tali serabut kulit pohon melinjo yang begitu kuat dan tak mungkin untuk dilepaskan hingga tubuhnya hanya bergeser sedikit saja dari tempat semula.
Dengan tatapan mata bengis, sang pendeta mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan mengayunkan nya ke leher perempuan muda itu. Sang perempuan muda itu langsung menutup rapat-rapat matanya, pasrah pada ajal yang menjemput.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!
Akan tetapi...
Thhrraaaaaaaaaaangggggg!!!!
__ADS_1
Sebuah pedang dengan gagang berwarna kuning kecoklatan tiba-tiba muncul dan menangkis tebasan pedang si pendeta yang ingin mencabut nyawa gadis remaja itu. Melihat usaha nya di gagalkan, si pendeta langsung menoleh ke arah asal pedang yang kini menancap pada sebatang pohon randu di samping meja batu.
"Bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn!!!
Siapa yang berani mengganggu acara ku? Muncullah jika kau masih seorang manusia!"
Teriakan keras sang pendeta sontak membuat pemujaan itu terhenti seketika. Dari arah munculnya pedang, Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis muncul diikuti oleh Buyut Wangsanaya, Nyai Larasati dan Resi Simharaja.
Memang Jaka Umbaran yang baru saja sampai di tempat itu langsung mencabut pedang yang ada di pinggang Dewi Rengganis saat melihat gadis muda itu akan dijadikan sebagai tumbal persembahan oleh lelaki tua itu. Sikap cekatan nya berhasil menyelamatkan nyawa si perempuan muda.
"Aku yang melakukannya, pendeta tua!
Apa kau sudah tidak waras ingin membunuh gadis kecil ini? Apa salahnya kepada mu?", tanya Jaka Umbaran sembari menatap tajam ke arah si pendeta.
"Hehehehe, gadis itu akan ku jadikan sebagai tumbal persembahan untuk Nyi Pelet sang Ratu Penguasa Gunung Ciremai. Ini agar rakyat Wanua Jagara bisa tetap hidup tentram tanpa takut akan bahaya yang mungkin terjadi. Nyi Pelet sudah menjanjikan pada kami, jika kami memberikan tumbal nyawa seorang gadis remaja tiga purnama sekali maka tidak akan ada lagi ancaman bahaya bagi masyarakat Wanua Jagara", ucap si pendeta itu sembari menyeringai lebar menatap wajah tampan Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya.
"Bodoh sekali kau ini..
Jelas-jelas kau sudah ditipu tapi masih juga kau lakukan. Kau ini apa tidak merasa kalau semua warga Wanua Jagara hanya dimanfaatkan sebagai sapi perahan untuk memenuhi nafsu iblis Nyi Pelet?", ucap Nyai Larasati segera.
"Kami tahu itu tapi setidaknya beberapa orang warga kami masih hidup sampai sekarang karena melakukan persembahan untuk Nyi Pelet.
"Kalian ini diingatkan tapi malah tidak mau tahu!
Dasar bebal. Tidak mau mendengarkan omongan yang membenarkan", ucap Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu segera. Lelaki tua yang biasanya tenang ini rupanya ikut-ikutan emosi melihat para penduduk Wanua Jagara yang keras kepala.
"Kurang ajar!!
Mulutmu perlu di kasih pelajaran, kakek tua buntung. Semuanya, bunuh para pengganggu ini!!!"
Mendengar perintah si pendeta, semua lelaki warga Wanua Jagara langsung menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
Sebelum mereka mendekat, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah gadis muda itu lalu menyambar pedang Dewi Rengganis yang menancap di pohon randu. Secepat kilat dia menebas tali yang mengikat tangan dan kaki gadis muda itu lalu menyerahkannya kepada Dewi Rengganis.
"Lindungi gadis itu! Para penduduk ini urusan ku!!"
Usai berkata demikian, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah para penduduk yang seperti kesurupan menyerang mereka. Dengan sekuat tenaga, Jaka Umbaran menghentakkan kakinya ke tanah.
__ADS_1
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Seketika itu juga, tanah bergerak cepat layaknya terkena gempa bumi hebat. Para lelaki yang hendak maju ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Di samping itu juga, dia segera memutar tubuhnya dan menendang sebuah batu seukuran buah maja yang mengarah pada patung perempuan cantik yang matanya memancarkan cahaya merah.
Blllaaaaaarrr!! Krrraaaakkkkkk bhhuuuuummmmmmhh!!!
Patung perempuan cantik itu seketika langsung hancur berantakan. Tiba-tiba saja muncul angin kencang berhawa dingin berdesir cepat dari arah puncak Gunung Ciremai.
"Siapa yang berani menghancurkan patung ku?!!!!"
Suara keras dan memekakkan gendang telinga itu langsung membuat para penduduk Wanua Jagara yang baru saja di jatuhkan oleh Jaka Umbaran ketakutan. Mereka semua langsung bersujud di tanah.
"Ampuni kami Nyi Pelet ampuni kami.."
Bersamaan dengan itu muncul cahaya hijau terang benderang di bekas patung perempuan cantik itu berada. Kemudian sesosok wanita cantik muncul bersama dengan dua orang lelaki tua. Salah satunya mengenakan pakaian seperti sisik ikan.
Ya, mereka adalah Nyi Pelet atau Nini Pelet, sang Ratu Siluman Gunung Ciremai bersama dengan Bagaswara sang pengikut setia nya dan Ki Kancra Bodas, sang siluman ikan penjaga Kembang Wijayakusuma yang sempat beradu ilmu kesaktian dengan Jaka Umbaran tempo hari.
"Ampuni kami Nyi Pelet. Bukan kami yang menghancurkan patung pemujaan mu tapi pemuda itu yang melakukannya", si pendeta langsung menunjuk ke arah Jaka Umbaran yang berdiri 4 tombak jauhnya dari tempat mereka berada.
Ki Kancra Bodas sang siluman ikan yang berdiri di samping Nyi Pelet segera berbisik perlahan.
"Pemuda itu Jaka Umbaran, Nyi Ratu. Dia yang mengambil Kembang Wijayakusuma di Balong Dalem tempo hari"
Mendengar itu, Nyi Pelet atau Nini Pelet segera menatap tajam ke arah Jaka Umbaran. Meskipun cahaya obor yang ada di sekitar tempat itu ditambah dengan cahaya bulan yang lewat purnama tak jelas memperlihatkan wajah tampan Jaka Umbaran, namun mata tajam perempuan yang sudah berusia sekitar 500 tahun ini masih melihatnya dengan jelas.
"Jadi kau yang bernama Jaka Umbaran?
Bocah keparat, hari ini semua hutang mu pada ku harus kau bayar lunas!!!"
Nyi Pelet segera mengibaskan tongkat besi berkepala ukiran serigala yang menggigit batu berwarna hijau ke arah Jaka Umbaran. Selarik cahaya hijau terang menerabas cepat kearah Sang Pendekar Gunung Lawu dari ujung tongkat yang bernama Cis Kalasrenggi itu.
Whhhhuuuuuummmm...
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar saat sinar hijau terang tongkat besi Cis Kalasrenggi itu menghantam tubuh Jaka Umbaran. Asap tebal membumbung tinggi ke udara namun mata Nini Pelet segera melebar kala melihat Jaka Umbaran masih berdiri tegak sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Hanya ini kemampuan Ratu Siluman Gunung Ciremai? Tak sesuai dengan harapan..
Resi Simharaja, sekarang bagian mu!"