JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak


__ADS_3

*****


Nun jauh di timur, tepatnya di timur Kali Lawor yang merupakan perbatasan alam antara wilayah Kadipaten Selopenangkep dan Kadipaten Kanjuruhan yang juga merupakan wilayah perbatasan Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala, ribuan orang prajurit nampak sedang berbaris rapi di padang rumput luas. Tak kurang dari 20 ribu orang prajurit berkuda dan 10 ribu orang prajurit berjalan kaki nampak berjajar rapi dengan senjata lengkap. Selain mereka, juga ada 500 pasukan bergajah yang merupakan tunggangan beberapa perwira tinggi, 500 kereta perang dan sekitar 3 ribu pedati yang di tarik oleh kerbau dan sapi.


Selain mereka, ada sekitar 100 kapal besar yang penuh dengan prajurit bersiaga di muara pertemuan Kali Lawor dan Sungai Kapulungan. Di ujung tiang kapal, nampak bendera hijau yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Jenggala bersulam benang merah yang membentuk bintang segi lima.


Ini merupakan perkemahan terbesar di wilayah ini selama hampir 20 tahun terakhir.


Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan janggut lebat berpakaian serba hitam dari sutra mahal yang mereka ciri khas dari seorang bangsawan, nampak berdiri menatap ke arah barisan para prajurit Jenggala ini. Selain baju zirah yang menutupi dada dan bahu nya, sebilah pedang bersarung biru tergantung pada pinggang. Selain itu, ada sebuah ciri khas dari lelaki itu berupa mata sebelah kiri nya berwarna putih.


Ya, dia adalah panglima perang Kerajaan Jenggala yang bernama Senopati Tambakwedi. Seorang perwira tinggi prajurit yang handal dalam menggunakan pedang dan pintar mengatur taktik perang. Dia telah beberapa kali menjadi pahlawan Kerajaan Jenggala memadamkan beberapa pemberontakan yang ada di negeri negeri bawahan kerajaan itu.


Dari arah samping kanan, muncul dua orang lelaki yang sepertinya juga merupakan perwira tinggi prajurit Jenggala. Salah seorang diantara mereka bertubuh gempal dengan kumis tipis namun memiliki janggut yang panjang. Sementara seorang lainnya bertubuh sedikit kurus dengan mata besar seperti sedang melotot dengan sebuah tahi lalat besar di dagu sebelah kiri. Dua orang itu segera menghormat pada sang panglima besar.


"Persiapan prajurit kita sudah rampung, Gusti Senopati. Tinggal menunggu perintah dari Gusti Senopati", ucap si lelaki bertubuh gempal itu usai menghormat.


"Bagus, Tumenggung Citragadha..


Lantas bagaimana dengan pasukan perbekalan, pasukan berkapal dan pasukan bergajah kita Tumenggung Genggong?", Senopati Tambakganggeng mengalihkan pandangannya ke arah perwira bertubuh kurus itu.


"Seperti perintah dari Gusti Senopati, kami telah menata para pasukan khusus kita sedemikian rupa. Tinggal menunggu perintah dari Gusti Senopati, kita siap menggempur pertahanan Panjalu", ujar perwira kurus bernama Tumenggung Genggong ini segera.


"Kalau begitu tunggu apalagi, kita harus cepat menundukkan Kadipaten Selopenangkep sebelum bergerak ke Daha.


Hari ini juga, kita berangkat ke Kota Kadipaten Selopenangkep!", ujar Senopati Tambakwedi segera.


"Baik Gusti Senopati..", ujar kedua pembantu utama panglima Kerajaan Jenggala ini segera sambil menghormat sebelum mereka bergegas pergi.


Tak lama kemudian, terdengar suara terompet sangkakala dari tanduk kerbau ditiup lantang.


Thhhhuuuuuuuuuuuuuuuutttttthhhh!!!!


Mendengar suara nyaring ini, para prajurit Jenggala segera berdiri tegak lurus menghadap kearah Senopati Tambakganggeng yang maju ke tengah padang rumput. Di apit oleh dua pendekar yang mengenakan caping bambu bertirai hitam, Senopati Tambakganggeng segera mengedarkan pandangannya pada seluruh prajurit Jenggala.


"Dengarkan semuanya!


Hari ini kita akan berangkat ke Daha. Sudah saatnya kita mengakhiri perpecahan Kerajaan Medang Kahuripan dengan menaklukkan mereka. Hari ini juga kita siapkan diri untuk membuat Kota Dahanapura menjadi tempat api yang sesungguhnya!", ucap Senopati Tambakwedi membakar semangat para prajurit Jenggala.


Suara riuh rendah para prajurit pun langsung terdengar membahana di seluruh penjuru. Dengan menaiki kereta kuda yang di tarik empat ekor kuda terbaik, Senopati Tambakwedi memimpin pasukan besar Jenggala menyeberangi Kali Lawor.

__ADS_1


Sepasang lelaki bertubuh kekar dan berotot yang sedari tadi terus mengawasi pergerakan para prajurit Jenggala ini, segera menuju ke arah semak belukar yang ada di belakangnya. Mereka pun segera menuntun kudanya menuju ke sebuah jalan setapak yang ada di dekat tempat itu.


"Kita harus cepat mengabarkan hal ini pada Gusti Patih Mpu Narattama, Adhi Warupa.


Cepatlah, kita tidak punya waktu banyak!", bisik si lelaki bertubuh gempal yang lebih tua segera.


"Aku tahu itu, Kakang Jaladri. Kita harus secepatnya sampai di Kota Kadipaten Selopenangkep sebelum para prajurit Jenggala itu sampai", balas Warupa sembari mempercepat langkah kaki nya. Begitu sampai di jalan yang bisa untuk berkuda, kedua orang telik sandi Kadipaten Selopenangkep itu segera melompat ke atas punggung kuda mereka masing-masing dan langsung menggebrak kuda tunggangan mereka sekencang-kencangnya agar segera sampai di Kota Kadipaten Selopenangkep sesegera mungkin.


Hampir tengah hari, mereka memasuki istana Kadipaten Selopenangkep. Tanpa menunggu lama lagi, keduanya langsung melompat turun dari kudanya dan berlari menuju ke arah Kepatihan Selopenangkep yang terletak di bagian timur istana.


Di pendopo Kepatihan, mereka langsung bergegas menuju ke arah Patih Mpu Narattama yang sedang duduk bersama dengan beberapa orang punggawa istana Kadipaten Selopenangkep. Keduanya segera menyembah sebelum duduk bersila dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Ada berita penting apa hingga kalian datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?", Patih Mpu Narattama mengangkat tangan kanannya.


"Huuuuffffffffff huffftt...


Mohon ampun Gusti Patih, hamba menghadap tanpa di panggil. Tapi kami baru saja melihat pa-pasukan Jenggala dalam jumlah besar baru saja melewati Sungai Lawor dan sedang bergerak menuju ke arah Kota Kadipaten Selopenangkep. Sekurang-kurangnya ada 50 ribu orang prajurit yang berangkat", ucap Warupa segera.


APPAAAAAAAAAAAA??!!!


Patih Mpu Narattama langsung bangkit dari tempat duduknya saking kagetnya mendengar laporan telik sandi itu. Jumlah prajurit sebesar itu tentu saja bukan lawan yang sepadan dengan kekuatan Selopenangkep saat ini. Sebagaimana aturan yang berlaku, setiap Kadipaten di wilayah Kerajaan Panjalu hanya diperbolehkan untuk memiliki 20 ribu orang prajurit saja.


Tetapi jika mereka menyerah pada para prajurit Jenggala, maka bisa dipastikan bahwa Selopenangkep akan menjadi sarang para prajurit Jenggala untuk mencapai Kotaraja Daha dan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.


Putra Patih Sancaka yang mewarisi kedudukan sebagai Patih Selopenangkep usai mangkat nya sang ayah ini langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam.


Sejak kecil, Mpu Narattama memang belajar tentang ilmu tata pemerintahan dan ilmu perang. Meskipun dia menjadi seorang Patih Kadipaten Selopenangkep, namun kemampuan beladiri nya tak lebih baik dari Senopati Naratama yang menjadi salah satu perwira tinggi di keprajuritan Kotaraja Daha. Dia lebih unggul dalam urusan pemerintahan dibandingkan dengan urusan peperangan.


Akan tetapi, sebagai seorang ksatria, tentu Patih Mpu Narattama tidak mungkin akan membiarkan para penduduk Kota Kadipaten Selopenangkep menjadi korban dari keserakahan para prajurit Jenggala. Adipati Selopenangkep saat ini, Pangeran Mapanji Lodaya pun tentu saja tidak akan mampu berbuat apa-apa. Bocah remaja yang baru menginjak usia 1 dasawarsa lebih sedikit ini tentu tidak akan bisa memikirkan hal sebesar ini.


"Warupa, Jaladri..


Kalian berdua aku tugaskan untuk menyampaikan kabar ini ke Kotaraja Daha. Berangkatlah sekarang juga. Aku akan mengatur para prajurit Selopenangkep untuk menahan para prajurit Jenggala disini semampu kami.


Cepatlah berangkat!", titah sang warangka praja Selopenangkep itu segera.


"Baik Gusti Patih..", ucap Warupa dan Jaladri segera. Keduanya segera menghormat pada Patih Mpu Narattama sebelum meninggalkan tempat itu.


Setelah kedua orang telik sandi itu pergi, Patih Mpu Narattama segera mengedarkan pandangannya pada segenap punggawa istana Kadipaten Selopenangkep yang ada di tempat itu.

__ADS_1


"Dengarkan aku, kita tidak boleh membiarkan para prajurit Jenggala ini sampai mengancam Kotaraja Daha. Kita tahan mereka sekuat tenaga disini. Lebih baik mati daripada membiarkan mereka menginjak-injak kehormatan kita.


Senopati Pranajiwa, atur pasukan Selopenangkep secepatnya di timur Kota. Cepatlah berangkat sekarang juga", perintah Patih Mpu Narattama segera. Tanpa menunggu diperintah dua kali, Senopati Kadipaten Selopenangkep itu segera menghormat sebelum bergegas menjalankan tugas yang dia terima.


"Lebih baik aku kehilangan nyawa ku daripada membiarkan orang-orang Jenggala ini berbuat semaunya"


*****


Suasana di dalam Istana Katang-katang sedang ramai oleh para punggawa Istana Kotaraja Daha juga para tamu undangan yang merupakan duta besar dari Sriwijaya dan Bedahulu yang kebetulan sedang mengirim pesan dari raja-raja mereka.


Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya sedang duduk dengan tangan menyembah pada langit. Sekuntum bunga kamboja yang berwarna kuning putih nampak ada di ujung tangannya yang menangkup di depan dahi. Disamping kiri kanan nya nampak Dewi Rengganis, Putri Pandan Wangi dan Indrawati sedang duduk dengan sikap serupa dengan nya.


Begawan Mpu Narada dari Pertapaan Harinjing perlahan mencipratkan air suci petirtaan yang penuh dengan bebungaan berbau harum pada Jaka Umbaran, Indrawati, Putri Pandan Wangi dan Dewi Rengganis. Mulut lelaki tua itu terus merapal doa pujian pada Sang Hyang Akarya Jagat. Bau harum setanggi dan kemenyan nampak memenuhi seluruh penjuru tempat pernikahan itu digelar.


Begitu selesai mantra pemujaan ini rampung, Jaka Umbaran dan ketiga perempuan cantik itu segera menurunkan tangan mereka ke depan dada. Selepas itu, Begawan Mpu Narada mengambil sejumput beras yang telah dimantrai dan menekan nya pada dahi keempat orang itu segera. Rampung, Begawan Mpu Narada langsung tersenyum sembari menghela nafas lega.


"Kini kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri. Aku doakan semoga kalian hidup rukun dan berbahagia selamanya", ucap Begawan Mpu Narada sembari tersenyum penuh arti.


"Terimakasih atas doa nya, Begawan", ucap Jaka Umbaran segera. Ketiga orang istri barunya juga tersenyum lebar.


"Sekarang waktunya kalian semua untuk melakukan sungkeman pada bapak ibu kalian. Dan untuk kalian bertiga, kalian juga harus menghormat pada istri tua Pangeran Mapanji Jayabaya", mendengar ucapan itu, keempat orang itu segera mengangguk mengerti.


Mereka pun segera turun dari sanggar pamujan dan melakukan sungkeman pada Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana. Dua orang pucuk pimpinan Kerajaan Panjalu itu segera mengangkat tangan kanannya diatas kepala mereka berempat sebagai tanda restu. Begitu juga pada Adipati Prabhaswara dan Adipati Wangsakerta.


Saat Dewi Rengganis, Putri Pandan Wangi dan Indrawati hendak berlutut di hadapan Nararya Padmadewi, perempuan cantik asal Kerajaan Galuh Pakuan ini segera menahan tubuh mereka bertiga.


"Tidak perlu bersujud kepada ku, kini kita semua adalah saudara", ucap Nararya Padmadewi sambil tersenyum penuh arti.


"Terimakasih banyak Kangmbok Padmadewi", ucap Dewi Rengganis, Putri Pandan Wangi dan Indrawati sembari tersenyum manis. Jaka Umbaran pun ikut gembira melihat kerukunan mereka berempat.


Namun, kegembiraan yang ada di tempat itu tidak berlangsung lama. Saat para tamu undangan menikmati pelbagai macam hidangan yang disajikan dalam acara pernikahan ini, Warupa dan Jaladri sampai di Istana Katang-katang. Mereka datang bersama dengan Tumenggung Setawardana yang sedang bertugas menjaga Istana Kotaraja Daha karena para penghuninya sedang ada di Istana Katang-katang.


Tumenggung Setawardana langsung menghormat pada Prabu Bameswara.


"Katiwasan Gusti Prabu, katiwasan..


Dua orang telik sandi ini melaporkan bahwa para prajurit Jenggala telah bergerak menuju ke Kota Kadipaten Selopenangkep. Kemungkinan saat ini mereka telah sampai disana", ucap Tumenggung Setawardana segera. Prabu Bameswara dan seluruh orang yang ada di tempat itu langsung terkejut bukan main mendengar nya.


HAAHHHHHHHHHH!!!!

__ADS_1


__ADS_2