JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Bukan Manusia


__ADS_3

Kemarahan lelaki tua berjanggut pendek itu membuat beberapa orang yang ada di tempat itu ketakutan. Pasalnya, jika lelaki tua bangsawan ini sedang marah, dia akan mencari sesuatu yang bisa meredakan rasa amarah nya. Kadang, dia mencari seorang pengalasan atau abdi setia nya hanya untuk dipukuli tanpa alasan yang jelas.


Ya, lelaki tua itu adalah Rakryan Kanuruhan Mpu Karnikeswara Matanggalaksana, seorang menteri yang bertanggung jawab atas berita dari seluruh wilayah Kerajaan Panjalu juga sebagai penghubung antara pasukan dan istana lewat surat yang di kirim oleh merpati surat. Karena itu, meskipun Tumenggung Setawardana yang menjadi pimpinan kelompok pasukan khusus Lowo Bengi tidak bertanggung jawab kepada nya, namun sedikit banyak lelaki tua itu mengetahui semua rahasia milik mereka.


Aslinya, dia bernama Mpu Cakriya. Dia bisa masuk dalam tata pemerintahan Kerajaan Panjalu karena masih kerabat dekat dengan salah seorang selir kakek Pangeran Mapanji Jayabaya yakni Prabu Jayengrana yang bernama Ratna Pitaloka. Meskipun demikian, sesungguhnya Mpu Cakriya yang memperoleh gelar Mpu Karnikeswara Matanggalaksana adalah salah satu dari keturunan Raja Wurawari, Raja Lwaram yang pernah di kalahkan oleh leluhur Pangeran Mapanji Jayabaya yakni Prabu Airlangga.


Sepanjang akhir masa pemerintahan Prabu Jayengrana hingga berganti dengan pemerintahan Prabu Bameswara, Mpu Cakriya menunjukkan adanya perilaku yang baik di mata masyarakat Kotaraja Daha juga di kalangan istana negara. Perlahan, setahap demi setahap, Mpu Cakriya mulai meningkat jabatan nya dari seorang petugas pengurus kebutuhan dapur istana hingga menjadi seorang Mahamantri Katrini dengan pangkat Rakryan Kanuruhan. Harta dan kekayaan yang berlimpah telah di miliki oleh Mpu Cakriya. Bahkan kedua putra dan seorang putri nya telah memiliki kehidupan yang baik.


Namun sepeninggal Selir Ratna Pitaloka, entah apa yang membuat Mpu Cakriya mulai bertindak aneh dengan mulai mendekati Rara Kinanti, selir Raja Sri Bameswara dari Lodaya usai lahirnya Pangeran Mapanji Lodaya. Dalam perhitungan nya, Pangeran Mapanji Lodaya lah yang kelak akan menjadi penerus tahta Kerajaan Panjalu setelah penculikan Pangeran Mapanji Jayabaya ketika itu. Dia bahkan mulai menggalang dukungan dari berbagai pihak terutama para selir sepuh dari mendiang Prabu Jayengrana.


Sekembalinya Pangeran Mapanji Jayabaya ke Kotaraja Daha, tentu saja semua hal yang di bangun oleh Rakryan Kanuruhan Mpu Karnikeswara Matanggalaksana pun sia-sia belaka. Ini dikarenakan sudah tidak mungkin lagi Pangeran Mapanji Lodaya menduduki tahta Kerajaan Panjalu. Semua jerih payahnya selama ini pun tak berguna sama sekali.


Kesal karena semua jerih payahnya sia-sia, Mpu Karnikeswara Matanggalaksana pun mulai mencari kesempatan untuk menghabisi nyawa Jaka Umbaran saat dia tidak berada di Kotaraja Daha maupun di Istana Katang-katang. Saat Jaka Umbaran menawarkan diri untuk mengantarkan nawala dari Prabu Bameswara ke Kadipaten Matahun, lelaki tua itu sempat menyeringai kecil saat pisowanan rutin sepekan sekali itu.


Segera setelah itu, dua orang pimpinan pengawal pribadi nya di tugaskan untuk mencari berbagai berita tentang keberadaan pembunuh bayaran yang bersedia untuk melakukan tugas keji ini. Prapta dan Songkali, dua orang prajurit pengawal pribadi Mpu Cakriya pun segera berangkat ke Jenggala setelah mereka mendapat kabar tentang keberadaan pembunuh bayaran nomor satu di wilayah tersebut, Lima Iblis Pencabut Nyawa.


Lewat surat yang di kirim melalui merpati surat, Mpu Cakriya alias Mpu Karnikeswara Matanggalaksana terus memantau perkembangan persiapan rencana pembunuhan terhadap Mapanji Jayabaya ini. Tak dinyana tak diduga, pembunuh bayaran nomor satu di Kerajaan Jenggala inipun bahkan gagal melaksanakan tugas sebagaimana yang telah di berikan.


"Kirimkan kabar kepada Songkali dan Prapta untuk mencari orang lain yang sanggup melakukan nya. Harus secepatnya sebelum Jayabaya sampai di Kotaraja Daha", perintah Mpu Karnikeswara Matanggalaksana segera.


"Baik Gusti Rakryan Kanuruhan", ucap sang prajurit pengurus merpati surat itu segera. Dia segera bergegas menuju ke tempatnya untuk melakukan perintah dari sang atasan.


Mpu Karnikeswara Matanggalaksana atau juga disebut sebagai Mpu Cakriya menatap tajam ke arah langit biru di Utara sembari mengepalkan tangannya erat-erat.


"Jayabaya, kau jangan senang dulu. Ini baru saja di mulai..!!"


*****


Setelah meninggalkan dermaga penyeberangan Sungai Kapulungan, rombongan Jaka Umbaran dan kawan-kawan memasuki wilayah Kota Pakuwon Watugaluh yang juga merupakan salah satu wilayah Kayuwarajan Kadiri. Kota kecil yang pernah menjadi ibukota Kerajaan Medang Kahuripan pada masa pemerintahan Prabu Airlangga itu nampak sedang ramai. Sepertinya sedang ada sesuatu yang penting terjadi di kota kecil ini.


Penasaran dengan hal itu, Jaka Umbaran melompat turun dari kudanya dan bertanya kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang mendorong gerobak kayu bersama seorang pria yang lebih muda.


"Kisanak, apa yang sedang terjadi di Kota Pakuwon Watugaluh ini?


Aku lihat dari ujung sana hingga hampir ke tengah kota ini, banyak hiasan penjor dan janur kuning", tanya Jaka Umbaran dengan sopan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, lelaki tua bertubuh kurus namun berotot ini melihat sekilas ke arah Jaka Umbaran. Memang, Jaka Umbaran dan para pengikutnya mengenakan pakaian penyamaran agar tidak menarik perhatian banyak orang. Pangeran muda ini hanya mengenakan baju tanpa lengan berwarna biru tua, gelang bahu dari akar hitam dan pelindung lengan yang terbuat dari kain biasa. Dia pun juga hanya mengenakan ikat kepala, membiarkan rambutnya yang lurus hitam legam tidak digelung seperti kebanyakan para bangsawan Kerajaan Panjalu lainnya. Dandanan nya itu persis seperti seorang pendekar pengelana dari jauh.


Yakin bahwa Jaka Umbaran dan kawan-kawan adalah orang baik-baik, lelaki paruh baya itu segera tersenyum tipis sebelum berbicara.


"Gusti Akuwu Setyaki sedang melaksanakan pernikahan putri nya, Kisanak..


Katanya sih mantunya itu berasal dari Kadipaten Lasem, putra seorang Tumenggung Lasem yang bernama Tumenggung Antaka. Kalau tidak salah namanya adalah Raden Antakadewa", urai lelaki itu dengan gamblang.


Hemmmmmmm..


'Kalau ada pernikahan di wilayah Kayuwarajan Kadiri, pasti undangan nya sudah sampai di Istana Katang-katang.


Sebaiknya aku mampir kesana untuk mengucapkan selamat kepada Akuwu Mpu Setyaki', batin Jaka Umbaran.


"Terimakasih atas berita nya, Kisanak. Aku permisi dulu", ucap Jaka Umbaran sebelum dia berbalik badan dan melangkah ke arah rombongan nya. Di atas kudanya dia segera menoleh ke arah para pengikutnya.


"Kita mampir dulu ke Istana Pakuwon Watugaluh. Aku ingin mengucapkan selamat kepada Akuwu Mpu Setyaki untuk pernikahan putri nya", mendengar ucapan itu, semua orang yang mengikutinya langsung menghormat seraya berkata kompak, "Sendiko dawuh Gusti Pangeran".


Dua orang itu terkaget setengah mati melihat itu semua. Keduanya saling berpandangan setelah rombongan itu berlalu menuju ke arah Istana Pakuwon Watugaluh.


"Mana ku tahu, Ging?


Dandanan nya biasa-biasa saja tapi memang wibawa nya seorang bangsawan. Sepertinya aku pernah melihat wajah orang yang ada di belakangnya tadi. Hemmmmmmm, kalau tidak salah dia itu perwira prajurit Panjalu loh", kata si lelaki paruh baya bertubuh kurus itu segera.


"Heh, kalau begitu pasti benar dia adalah seorang pangeran Kang Jo.


Jagat Dewa Batara, jangan-jangan dia itu tadi adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, Yuwaraja Panjalu penguasa Kayuwarajan ini Kang", mendengar penjelasan itu, lelaki paruh baya bertubuh kurus itu tak kalah kagetnya.


"Kalau benar dia adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, maka sifatnya sama seperti mendiang Sinuwun Prabu Jayengrana dulu Ging..


Orangnya membumi dan tak pernah memandang rendah orang lain meskipun itu hanya rakyat jelata. Semoga Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya seperti itu.


Ayo Ging, kita lanjutkan pekerjaan kita. Mumpung belum tengah hari", si lelaki muda yang bernama Boging itu mengangguk cepat dan mendorong gerobak kayu bersama si lelaki paruh baya bertubuh kurus yang memiliki nama Bejo. Keduanya segera menghilang di balik keramaian jalanan Kota Pakuwon Watugaluh.


Sesampainya di depan pintu gerbang Istana Pakuwon Watugaluh, beberapa orang prajurit langsung menyilangkan tombak mereka sebagai tanda dilarang meneruskan perjalanan. Jaka Umbaran dan kawan-kawan segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing.

__ADS_1


Besur langsung mendekati salah seorang prajurit yang terlihat seperti pimpinan kelompok penjaga gerbang istana ini.


"Dilarang masuk, Kisanak..


Pakuwon Watugaluh akan melaksanakan pernikahan Gusti Putri Arumsari. Siapapun yang tidak berkepentingan dengan acara ini silahkan putar balik", ucap tegas si pimpinan regu prajurit itu segera.


"Oh buajingan seperti mu mau menolak kedatangan kami heh?


Eh cecunguk, buka matamu lebar-lebar dan lihat ini baik-baik", ucap Besur sambil menyorongkan sebuah lencana perak bergambar tengkorak menggigit bulan sabit ke muka si kepala regu prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Watugaluh itu. Seketika itu juga, kepala penjaga gerbang istana ini langsung menggigil ketakutan.


"Ampuni hamba Gusti Perwira..


Hamba tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan orang dari Istana Kotaraja Daha. Mari silahkan masuk, hamba antar menemui Gusti Akuwu Mpu Setyaki", ucap sang kepala regu prajurit itu dengan sopan.


Dengan di pandu oleh si kepala regu prajurit, Jaka Umbaran dan para pengikutnya memasuki istana Pakuwon Watugaluh. Mereka pun langsung diantar menuju ke arah tempat dimana pernikahan Dewi Arumsari dan putra Tumenggung Lasem itu diadakan.


Terlihat para tamu undangan dan para punggawa Istana Kota Pakuwon Watugaluh terlihat memadati halaman di depan sanggar pamujan yang menjadi tempat berlangsungnya proses pernikahan ini. Kedatangan Jaka Umbaran dan kawan-kawan sontak membuat perhatian semua orang tertuju kepada nya.


Akuwu Mpu Setyaki pun segera mendekati Sang Yuwaraja Panjalu dan langsung berjongkok menyembahnya.


"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran..


Mohon maaf jika penyambutan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tidak selayaknya untuk seorang putra mahkota", ujar Akuwu Mpu Setyaki segera.


"Aku kemari untuk memberikan selamat pada mu juga untuk mempelai pengantin berdua, tidak untuk meminta penyambutan yang berlebihan. Jadi kau tidak perlu sungkan.


Oh iya, apakah pernikahan nya telah rampung dilaksanakan?", tanya Jaka Umbaran sembari menatap ke sekelilingnya.


"Belum Gusti Pangeran, sebentar lagi..


Itu dia pengantin nya baru saja memasuki tempat ini", tangan Akuwu Mpu Setyaki mengarah pada lorong pintu samping istana dimana terlihat sepasang calon pengantin sedang berjalan menuju ke tempat prosesi pernikahan.


Mata Jaka Umbaran sedikit menyipit saat melihat sosok lelaki yang berjalan di samping calon pengantin perempuan yang tak lain adalah putri Akuwu Mpu Setyaki. Ada sesuatu yang ganjil pada sosok lelaki tampan bertubuh tegap itu. Resi Simharaja yang berdiri di belakang Jaka Umbaran segera mencolek pinggang sang pangeran muda sambil berkata,


"Dia bukan manusia, Gusti Pangeran.."

__ADS_1


__ADS_2