JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Amukan Pangeran Lembah Hantu


__ADS_3

Beberapa orang pengikut setia Pangeran Lembah Hantu memeriksa sekitar tempat itu barangkali ada petunjuk atau harta benda mereka yang masih tersisa. Saat salah satunya memeriksa beberapa mayat yang tidak terbakar sempurna, mereka menemukan sesuatu yang ganjil.


"Kakang Setra, coba lihat ini!", teriak orang itu segera.


Yang dipanggil segera mendekat ke arah orang itu. Dia langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh saudara nya itu dan melihat bahwa mayat ini tidak berasal dari Lembah Hantu. Dia mengenali pakaian nya sebagai orang dari Perguruan Bukit Kapur. Segera dia mendekati Pangeran Lembah Hantu untuk memberitahukan hal ini.


"Jadi mereka pelaku nya? Dasar keparat!! Aku tidak akan membiarkan mereka hidup lebih lama lagi", ucap Karnawijaya si Pangeran Lembah Hantu segera.


"Tapi pimpinan menurut saya ada sesuatu yang tidak masuk akal. Kalau hanya sekelas Mpu Waskita itu mana mungkin punya kemampuan untuk membunuh Mpu Lokeswara maupun Wijayadharma?


Menurut saya, ada orang lain yang menjadi pelaku utama penghancuran ini", ucap Ki Setraji, pengikut setia Pangeran Lembah Hantu ini segera.


Hemmmmmmm..


"Kau benar, Setraji..


Waskita itu hanya pendekar kelas menengah yang bahkan kau pun sanggup untuk mengalahkan nya. Akan tetapi, dari dia mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk tentang pelaku sebenarnya dari penghancuran tempat kita ini. Ayo kita cari tahu di Perguruan Bukit Kapur!", Pangeran Lembah Hantu segera melesat ke arah barat. Diikuti oleh para pengikut setia nya yang berjumlah sekitar 10 orang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, dalam waktu singkat, mereka telah menghilang dari tempat itu.


Mpu Waskita pimpinan Perguruan Bukit Kapur sedang duduk bersila di tempatnya sambil mengamati ratusan orang murid nya yang sedang berlatih. Lelaki tua itu asyik sambil menyeruput secangkir minuman keras yang terbuat dari campuran arak beras dan nira aren. Sepasang murid kesayangannya, Gandini dan Majakarwa yang di kenal sebagai Sepasang Sriti Gunting dari Bukit Kapur berdiri di dekat sang guru sembari ikut mengawasi pelatihan para murid yang di atur oleh para sesepuh Perguruan Bukit Kapur.


Namun ketenangan Perguruan Bukit Kapur tidak berlangsung lama karena kemunculan sebelas orang yang mendarat di tengah halaman perguruan silat yang ada di wilayah barat Kadipaten Matahun ini. Kedatangan mereka sontak saja membuat kegaduhan di arena pelatihan. Seorang murid langsung mendekati pimpinan kelompok ini yang tak lain adalah Pangeran Lembah Hantu.


"Kisanak, ini adalah wilayah pribadi. Tak semua orang di ijinkan untuk sembarangan memasuki. Pergilah sebelum kami mengusir mu", ucap si murid berbadan besar ini.


Pangeran Lembah Hantu segera mengangkat tangan kanannya sejajar dengan leher murid Perguruan Bukit Kapur ini. Begitu kepalan tangannya terbuka, tubuh murid berbadan besar ini langsung tertarik ke telapak tangan Pangeran Lembah Hantu. Segera tangan kanan Pangeran Lembah Hantu mencengkeram erat leher orang itu hingga pria bertubuh besar ini mendelik karena tak bisa bernafas.


"Cecunguk seperti mu sebaiknya mati saja!", ucap Pangeran Lembah Hantu sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


Tiba-tiba saja darah segar si lelaki bertubuh besar ini keluar dari dalam tubuh nya dan masuk ke mulut Pangeran Lembah Hantu.


"Aaaarrrgggggghhhhh lepaskan aku arrrrrrgggggghhh!!!", si murid berbadan besar ini meraung-raung kesakitan namun Pangeran Lembah Hantu tidak melepaskan diri nya sedikitpun. Setelah darah di tubuhnya mengering, lelaki bertubuh besar ini mati dan tubuhnya berubah menjadi mayat keriput. Seketika itu juga, Pangeran Lembah Hantu melemparkan nya ke arah para murid Perguruan Bukit Kapur. Sang Pangeran Lembah Hantu menjilat sisa darah segar di sudut bibirnya.


Peristiwa itu sungguh menakutkan. Bulu kuduk para murid Perguruan Bukit Kapur seketika berdiri melihat kejadian di luar nalar ini. Kesemuanya langsung mengambil jarak cukup jauh meskipun dengan sikap waspada.


Mpu Waskita dan sepasang murid kesayangannya pun bersama sesepuh Perguruan Bukit Kapur langsung mendatangi Pangeran Lembah Hantu dan para pengikutnya.


"Karnawijaya, mau apa kau kemari hah?!", hardik Mpu Waskita segera.


Hehehehe...


"Waskita, kau sudah melakukan kesalahan besar. Hari ini aku datang untuk menuntut pertanggungjawaban mu", ucap Pangeran Lembah Hantu dengan suara serak yang menakutkan.

__ADS_1


"Apa maksud dari ucapan mu itu, Karnawijaya? Pertanggungjawaban apa yang kau inginkan?", balas Mpu Waskita lantang.


"Kau jangan coba untuk mungkir dari tanggungjawab mu, Waskita..


Bukankah kau yang menyuruh orang-orang Perguruan Bukit Kapur untuk membumihanguskan Lembah Hantu kemarin hah?! Apa kau pikir aku tidak tahu dengan perbuatan licik mu yang berani menyerang saat aku tidak ada di tempat?! Manusia rendahan seperti mu memang memalukan", kata Pangeran Lembah Hantu sengit.


'Hemmmmm rupanya permintaan dari Patih Mpu Kariti kemarin benar-benar dilaksanakan. Ini namanya tidak makan nangka tapi kena getahnya', batin Mpu Waskita.


"Lantas apa mau mu, Karnawijaya?!", tantang Mpu Waskita segera. Mendengar itu, Karnawijaya si Pangeran Lembah Hantu menyeringai lebar.


"Hutang darah di bayar darah, hutang nyawa di bayar nyawa. Hari ini aku mau melihat Perguruan Bukit Kapur senasib dengan Lembah Hantu!"


Mendengar perkataan Pangeran Lembah Hantu, kesepuluh orang pengikutnya tersenyum lebar sembari mencabut senjata mereka masing-masing. Setelah itu mereka langsung melesat cepat ke segala arah dengan mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah para murid Perguruan Bukit Kapur. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.


Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh...


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!!


Kesepuluh orang pengikut setia Pangeran Lembah Hantu benar-benar jagoan berilmu tinggi. Mereka dengan mudah dapat membantai hampir seratusan orang murid Perguruan Bukit Kapur dengan mudah, bahkan beberapa sesepuh pun sudah luka parah menghadapi mereka.


Mpu Waskita di bantu Sepasang Sriti Gunting pun bukan lawan yang sebanding dengan Pangeran Lembah Hantu. Menyadari kalau situasi nya tak mungkin dimenangkan oleh mereka, Mpu Waskita segera menoleh ke arah Gandini yang ngos-ngosan mengatur nafasnya sembari mengusap sisa darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.


Segeralah pergi. Aku akan menahan iblis ini untuk memberi waktu bagi kalian", ucap Mpu Waskita sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Cahaya kuning kemerahan berhawa panas menyebar di sekeliling tangan lelaki tua itu.


"Tapi Guru..."


"Tidak ada tapi-tapian. Pergilah sebelum masih ada waktu!", setelah berkata demikian, Mpu Waskita segera melesat cepat kearah Pangeran Lembah Hantu dengan mengerahkan ajian pamungkas nya.


Mpu Waskita segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah Pangeran Lembah Hantu yang masih menghadapi serangan Majakarwa. Perhatian Karnawijaya si Pangeran Lembah Hantu terpecah melihat kedatangan serangan pamungkas milik Mpu Waskita. Dia langsung memilih untuk menghadapi Mpu Waskita dan mengabaikan Majakarwa yang sudah luka cukup serius. Hal ini dimanfaatkan oleh Gandini untuk menggelandang tangan Majakarwa kabur dari tempat itu.


"Mampus kau iblis laknat!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!", teriak Mpu Waskita sembari menghantamkan kepalan tangannya yang berwarna kuning kemerahan ke arah dada Pangeran Lembah Hantu. Namun betapa terkejutnya Mpu Waskita saat melihat Pangeran Lembah Hantu justru merobek pakaian di dadanya nya dan sebuah mulut lebar bergigi tajam langsung menganga. Seketika itu juga tangan kanan Mpu Waskita masuk ke dalam mulut besar di dada Pangeran Lembah Hantu.


Chhhrreeepppppppphhhh...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Jeritan keras memilukan hati terdengar dari mulut kakek tua itu kala gigi tajam di mulut yang ada pada dada Pangeran Lembah Hantu memutus pergelangan tangannya. Darah segar langsung muncrat keluar dari luka di tangan kanan Mpu Waskita yang tinggal separuh. Lelaki tua itu langsung mundur dan terhuyung-huyung karena merasakan sakit yang luar biasa.


Pangeran Lembah Hantu menyeringai lebar sembari melangkah mendekati Mpu Waskita yang sedang berupaya keras untuk menghentikan pendarahan nya. Segera dia membuka telapak tangan kanannya dan tubuh kurus Mpu Waskita pun langsung tertarik pada nya. Tangan kanan Pangeran Lembah Hantu pun langsung mencengkeramnya dengan keras.

__ADS_1


"Kemampuan mu hanya seperti ini, tidak mungkin kau bisa membunuh Mpu Lokeswara. Katakan padaku, siapa orang yang menghancurkan Lembah Hantu, Waskita?", tanya Pangeran Lembah Hantu segera.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Kau membunuh ku pun, aku tidak akan pernah mengatakannya, Karnawijaya..


Kehancuran Lembah Hantu memang buah dari kejahatan kalian sendiri hehehe..", geram karena di ludahi dan jawaban itu, Pangeran Lembah Hantu segera meremas batang leher Mpu Waskita.


Krrraaaakkkkkk...!!


Kepala pimpinan Perguruan Bukit Kapur ini langsung terkulai lemas setelah bunyi tulang patah terdengar dari lehernya. Pangeran Lembah Hantu segera membanting mayat itu ke tanah sekeras mungkin.


Pangeran Lembah Hantu kemudian menoleh ke arah para pengikutnya yang sedang mengunjungi tubuh para murid Perguruan Bukit Kapur yang masih hidup.


"Ada lagi yang ingin menyusul guru kalian?! Jika tidak ada yang bicara, aku jamin kalian semua akan bernasib sama dengan guru kalian ini"


Seorang murid langsung mengangkat tangan kanannya. Ancaman itu bukan sekedar main-main karena gurunya pun terbunuh oleh orang kejam ini.


"Pangeran Mapanji Jayabaya. Pangeran Mapanji Jayabaya adalah dalang dari kehancuran Lembah Hantu. Dia....", si murid yang ketakutan itu langsung menceritakan semua hal yang dia ketahui.


"Bajingan kau Jayabaya..!! Kau sudah menabuh genderang perang dengan ku. Tunggulah, kehancuran Panjalu sebentar lagi akan terjadi", Pangeran Lembah Hantu mengepalkan tangannya erat-erat.


Pangeran Lembah Hantu segera berbalik badan sambil memberi isyarat kepada para pengikutnya. Sebentar kemudian terdengar suara jerit tertahan dari para murid Perguruan Bukit Kapur yang menjadi sandera. Rupanya Pangeran Lembah Hantu tidak ingin satupun orang tersisa dari tempat ini. Setelah melakukan pembantaian di Perguruan Bukit Kapur, Pangeran Lembah Hantu bersama para pengikut setia nya bergerak menuju ke arah Istana Kotaraja Kahuripan. Api langsung berkobar membakar semua bangunan yang ada di tempat itu.


Dari kejauhan, Gandini dan Majakarwa atau Sepasang Sriti Gunting dari Bukit Kapur tak kuasa menahan air mata mereka. Bagaimanapun juga mereka sama-sama dibesarkan di tempat itu oleh Mpu. Waskita sejak masih kecil.


"Sebaiknya kita susul Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya ke Daha, Kakang Karwa. Kita harus melaporkan hal ini kepada nya. Mari kita berangkat", Gandini mengusap sisa air mata di pipi nya sembari memapah tubuh Majakarwa yang sedang luka parah. Dengan gerakan tubuh yang sempoyongan, keduanya bergegas pergi meninggalkan tempat persembunyian mereka.


****


Tepat tengah hari di tepian Sungai Kapulungan yang menjadi batas alam antara Kadipaten Matahun dengan Kayuwarajan Kadiri, Jaka Umbaran menghentikan langkah kaki kuda tunggangannya. Entah kenapa tiba-tiba perasaan nya jadi tidak enak lalu segera menoleh ke arah belakang.


"Ada apa Gusti Pangeran?", tanya Gendol yang berkuda di samping kanan Jaka Umbaran.


"Ah tidak apa-apa, mungkin hanya perasaan ku saja yang mengatakan bahwa sedang terjadi sesuatu di Kadipaten Matahun.


Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Sebaiknya kita segera menyeberangi Sungai Kapulungan ini. Masih banyak tugas yang menanti kita di Kayuwarajan Kadiri", ucap Jaka Umbaran sembari melompat turun dari kudanya. Diikuti oleh para pengawal pribadi nya, Yuwaraja Panjalu ini segera menuntun kudanya menuju ke arah perahu penyeberangan yang sudah merapat di dermaga.


Sementara itu di seberang Sungai Kapulungan, seorang lelaki tua bertubuh gempal segera berdiri kala seseorang yang ada di dekatnya menunjuk ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan yang ada seberang sungai. Lelaki tua itu langsung menggenggam erat gagang tombak di sampingnya sembari berkata perlahan,


"Saatnya melaksanakan tugas..."

__ADS_1


__ADS_2