
"Panggil dia untuk segera berkumpul, kita tidak boleh membuang waktu lagi Sur", perintah Jaka Umbaran segera. Besur langsung menghormat sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.
"Tapi sebelum Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya pulang ke Daha, ada sesuatu yang perlu Gusti Pangeran selesaikan lebih dulu", Akuwu Mpu Setyaki segera berbicara.
"Apa itu Akuwu Mpu Setyaki?", Jaka Umbaran mengalihkan pandangannya pada penguasa Pakuwon Watugaluh ini.
"Tahanan perempuan yang bersama dengan orang-orang yang menghadang Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tempo hari.
Apa yang sebaiknya kami lakukan?", Mpu Setyaki menatap ke arah Jaka Umbaran meminta pertimbangan.
Hemmmmmmm..
"Biar kami yang mengurusnya. Baratwaja, jemput perempuan dari Blambangan itu dan bawa serta ke Kotaraja Daha. Disana nanti aku akan memutuskan hukuman apa yang pantas untuk nya", mendengar perintah dari sang majikan, Baratwaja pun segera menghormat sebelum ia bergerak sesuai tugas yang diberikan oleh Jaka Umbaran.
Siang itu juga, Jaka Umbaran memimpin rombongan kecil itu meninggalkan Istana Pakuwon Watugaluh. Semua nampak bersemangat untuk pulang ke Kotaraja Daha kecuali satu orang yang terlihat seperti sedang sakit gigi, Gendol.
"Kau kenapa Gigi Jarang?", tanya Resi Simharaja yang berkuda di samping Gendol.
"Apa kau bisa mengerti dengan perasaan manusia, Macan Tua?
Siluman harimau seperti mu mana bisa mengerti dengan perasaan ku saat ini. Saat ini masih masa pengantin baru ku Macan Tua, belum genap sepekan. Aku harusnya masih mesra-mesranya sama Yayi Arumsari. Eh malah berangkat pulang ke Kotaraja", Gendol membongkar unek-unek yang ada di dalam hatinya.
"Iya kau memang masih pengantin baru, semua orang juga tahu hal itu.
Cuma ini adalah tugas negara. Siap tidak siap, sebagai seorang ksatria Kerajaan Panjalu, harus siap jiwa raga saat negara membutuhkan. Mau itu pengantin baru, mau istri mu mau melahirkan, mau bapak mu sedang sekarat, tapi kalau tugas negara memanggil kita tidak boleh sekalipun mengatakan tidak karena kita adalah seorang prajurit. Ini adalah dharma ksatria kita", ucap Resi Simharaja dengan semangat berapi-api. Gendol pun terdiam mendengar uraian panjang lebar dari bekas raja siluman Alas Roban ini.
"Satu lagi, kau juga harus ingat Ndol. Kau dapat istri cantik juga karena bantuan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Ini akan menjadi hutang budi mu seumur hidup.
Jadi jika Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya memerintahkan kepada mu untuk ikut, kau harus ikut serta. Kalau kau membandel dan membangkang terhadap perintahnya, beliau bisa dengan mudah menyuruh Rara Arumsari menceraikan mu. Mau kau?", Resi Simharaja sengaja menakut-nakuti Gendol.
"Ya tentu saja tidak mau macan tua!
Orang gila mana yang mau kehilangan istri secantik Yayi Arumsari? Si bogel di depan itu saja saking irinya dengan keberuntungan ku, selalu berbuat hal-hal yang tidak masuk akal", Gendol menunjuk ke arah Besur yang berkuda di depannya. Tapi sebelum berangkat menuju ke arah Kotaraja Daha, Besur sempat memaki Gendol yang sedang asyik menikmati keindahan taman sari istana Pakuwon Watugaluh. Hampir saja mereka ribut andaikata Besur tidak menggunakan nama Pangeran Mapanji Jayabaya.
"Maka dari itu, jangan kau tekuk wajah mu seperti orang mau buang air besar begitu. Tidak enak dipandang mata. Sudah wajah pas-pasan, eh merengut pula. Bikin mata jadi sakit melihatnya", ucap Resi Simharaja seraya menepuk punggung kudanya hingga kuda tunggangannya langsung melesat meninggalkan Gendol yang masih berjalan santai. Seketika Gendol menggerutu dalam hati.
'Dasar Macan Tua sialan'
*****
__ADS_1
Karena jarak yang cukup dekat antara Kota Pakuwon Watugaluh dan Kotaraja Daha, tak butuh waktu sampai setengah hari perjalanan rombongan Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya sampai di pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu ini.
Para penduduk Kotaraja Daha yang kebetulan sedang lewat, langsung menepi dan menghormat pada rombongan Sang Yuwaraja Panjalu. Para perempuan muda yang melihat lewatnya pangeran mahkota Kerajaan Panjalu ini pun berebut untuk bisa melihat wajah tampan calon raja Panjalu itu.
"Wah ternyata tampan sekali ya Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Aku ingin sekali melahirkan bayi dari nya", ucap seorang gadis bertubuh montok dengan dada besar dengan genitnya.
"Eh Widuri, mana mau Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sama perempuan genit seperti mu heh?
Jangankan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, sama kuli panggul barang di pasar besar saja kau juga tidak menolak. Jangan mimpi bisa menelan bintang ya jika pasir saja masih kau maui", sahut seorang gadis muda yang bertubuh sedikit kurus sengit.
"Iya nih Widuri, sekali sekali kau berkaca lah. Jangan menjadi katak yang ingin makan daging angsa jika kelakuan mu masih mirip dengan pelacur murahan di tepi Sungai Kapulungan sana.
Amit-amit jabang bayi deh", timpal seorang perempuan muda lain yang ikut mengeroyok si gadis muda bernama Widuri ini.
"Ah bilang saja kalau kalian iri hati terhadap ku yang lebih laku di bandingkan dengan kalian yang sama sekali tidak dilirik oleh para lelaki", ujar Widuri dengan percaya diri nya yang tinggi.
"Itu karena kau murahan huuuuu", ucap kedua gadis itu bersamaan. Widuri tak menanggapi omongan dua orang gadis muda ini, tapi mengejek mereka dengan mencebikkan bibirnya yang merah merona.
****
Kedatangan Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya di Istana Kotaraja Daha langsung disambut dengan penuh hormat oleh para prajurit penjaga gerbang istana. Sang Pendekar Gunung Lawu ini langsung menuju ke arah Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha dimana Prabu Bameswara telah menunggu.
"Sembah bakti saya Kanjeng Romo Prabu", ucap Jaka Umbaran segera setelah berjongkok dan menyembah pada Prabu Bameswara yang sedang duduk di atas singgasana.
"Aku terima sembah bakti mu putra ku.
Ada yang perlu kita bicarakan. Duduklah di tempat mu Ngger Cah Bagus", ucap Prabu Bameswara sembari mengangkat tangan kanannya.
Jaka Umbaran segera bangkit dari tempat nya dan segera duduk di kursi sebelah kanan bawah dari singgasana Kerajaan Panjalu. Sedangkan para pengikut nya tetap saja di tempat mereka berada.
"Begini Ngger Cah Bagus, mengenai kedatangan Adipati Wangsakerta dan Adipati Prabhaswara kau sudah tahu sendiri bukan alasan mereka berdua datang bersama dengan kedua putri mereka?", tanya Prabu Bameswara sambil tersenyum penuh arti.
"Saya mengerti Kanjeng Romo Prabu. Ini memang hutang janji yang harus ditepati, saya tidak akan ingkar janji.
Tapi sebelum itu, ada seseorang yang datang dari negeri manca. Dia datang kemari untuk menagih janji dari seorang utusan Kerajaan Panjalu yang bernama Panji Tejo Laksono", ujar Jaka Umbaran segera. Prabu Bameswara segera menoleh ke arah Ratu Dyah Chandrakirana sesaat sebelum berbicara.
"Janji? Janji apa, putra ku?", Prabu Bameswara menatap ke arah Jaka Umbaran.
"Indrawati, bicaralah sekarang", mendengar suara Jaka Umbaran, Indrawati alias Nyai Paricara langsung menyembah pada Prabu Bameswara sebelum mulai berbicara.
__ADS_1
"Mohon ampun Gusti Prabu bila kedatangan hamba tidak pada waktu yang tepat. Nama hamba Indrawati. Hamba adalah putri dari seorang Putri Negeri Champa yang bernama Putri Anarawati....", Indrawati pun segera menceritakan semua nya pada Prabu Bameswara. Sang Penguasa Kerajaan Panjalu itu nampak manggut-manggut mengerti.
"Karena itu, kedatangan hamba kemari untuk menagih janji dari seorang utusan dari Daha yang telah di buat bersama dengan ibu hamba. Mohon bantuan Gusti Prabu Bameswara", Indrawati mengakhiri ceritanya sembari menghormat pada Sang Maharaja Panjalu itu.
Hemmmmmmm...
"Asal kau tahu, hai gadis dari Negeri Champa. Aku adalah Panji Tejo Laksono, utusan dari Daha yang membuat janji dengan ibu mu Putri Anarawati", betapa terkejutnya Indrawati mendengar jawaban Prabu Bameswara ini.
"K-kalau begitu, hamba mohon ampun bila ucapan hamba tadi telah menyinggung perasaan Gusti Prabu", ucap Indrawati segera.
"Tidak perlu kau meminta maaf. Apakah putra ku Mapanji Jayabaya tidak menceritakan tentang orang yang kau cari itu sebelumnya?", Indrawati pun segera menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Prabu Bameswara.
"Woh dasar bocah nakal..
Tapi itu bukan masalah lagi sekarang. Bagaimanapun juga, kau datang jauh-jauh dari tempat yang sangat amat jauh di Daratan Utara. Bagi kami para ksatria Panjalu, pantang untuk ingkar janji. Tentu saja aku akan memenuhi janji ku dengan ibu mu.
Aku akan menjodohkan mu dengan putra ku Mapanji Jayabaya. Tapi bukan hanya kamu sendiri yang akan menjadi istri nya, tetapi dua putri cantik yang ada di sana itu juga akan menjadi istrinya. Kau tidak keberatan bukan?", mendengar pertanyaan itu, Indrawati segera menoleh ke arah Dewi Rengganis dan Putri Pandan Wangi. Dua orang gadis cantik itu segera mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
"Hamba tidak keberatan jika harus berbagi suami dengan mereka, Gusti Prabu", jawab Indrawati seraya menyembah pada Prabu Bameswara.
Hehehehe..
"Kalau begitu, masalah yang pertama sudah selesai. Tinggal menunggu waktu untuk melakukan pernikahan kalian bertiga dengan Pangeran Mapanji Jayabaya.
Sekarang masalah yang kedua, aku perlu pertimbangan dari kalian semua. Aku mendapat kabar bahwa pasukan Kerajaan Jenggala telah melakukan pergerakan dari Kadipaten Kanjuruhan. Aku ingin mendengar pendapat kalian tentang masalah ini", Prabu Bameswara mengedarkan pandangannya ke arah para punggawa Istana Kotaraja Daha yang hadir di tempat itu.
"Kita sudah terlalu lama bersabar dalam menghadapi para prajurit Jenggala ini. Sudah saatnya kita mulai menaklukkan mereka semua dan menyatukan dua negeri ini menjadi satu kembali seperti dulu saat Prabu Airlangga bertahta, Gusti Prabu", ucap Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka sembari menghormat pada sang penguasa Kerajaan Panjalu ini.
"Tapi kita terikat dengan perjanjian yang dibuat oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana dengan Eyang Putri Dewi Kilisuci, Paman Mapatih..
Ini adalah aturan baku yang ditetapkan oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana sebelum beliau tutup usia", jawab Prabu Bameswara segera.
"Perjanjian lama ini dibuat oleh Gusti Prabu Jayengrana dan Yang Mulia Dewi Kilisuci, Gusti Prabu Bameswara. Kini mereka semua telah berpulang kepada Sang Pencipta. Jadi ini sudah tidak mengikat lagi pada Daha, apalagi Jenggala terus menerus membuat gara-gara dengan kita. Tentu saja ini tidak bisa kita biarkan terus-terusan.
Kita tidak boleh menjadi seekor harimau jinak dalam kandang karena sebuah perjanjian lama yang mengurung kita semua. Jenggala harus kita taklukkan", ucap Mapatih Mpu Baprakeswara dengan berapi-api.
Prabu Bameswara nampak terdiam sejenak mendengar penuturan sang warangka praja Kerajaan Panjalu ini. Sembari menghela nafas berat, dia lantas berkata,
"Baiklah, mungkin ini sudah saatnya. Perjanjian lama yang dibuat oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, aku nyatakan tidak berlaku lagi.
__ADS_1
Siapkan diri kita, kita akan melawan Jenggala!"