
"Makan saja yang ada di dalam otak mu Sur...
Kalau Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tidak mengalahkannya, kau yang menjadi mangsa ikan hiu itu", sahut Gendol dari belakang.
"Lha tapi itu sekarang kan sudah mati, Ndol. Jarang-jarang loh kita makan ikan hiu panggang", Besur kekeuh dengan omongan nya. Resi Simharaja mendengus dingin sembari melangkah mendekati mayat Shuralangi. Dia menghirup nafas panjang sebelum meletakkan tangannya pada dada ikan hiu itu.
Zzzzzrrrrrrrrrrttttthhhhh!!
Tiba-tiba cahaya biru kehitaman muncul dari seluruh tubuh Shuralangi. Perlahan berkumpul menjadi satu di telapak tangan Resi Simharaja dan menggumpal menjadi sebuah mustika berwarna biru kehitaman.
Begitu mustika ini ada di telapak tangan Resi Simharaja, tubuh Shuralangi yang berubah menjadi seekor ikan hiu pun langsung kurus kering. Kini tak ubahnya seperti seekor ikan asin besar.
"Ini adalah mustika siluman milik Shuralangi, Gusti Pangeran. Kedigjayaan nya adalah mampu membuat pemakainya memiliki kemampuan untuk hidup di dalam air seperti seekor ikan sekaligus punya kekuatan selayaknya seekor ikan hiu.
Simpanlah, barangkali berguna suatu hari nanti", Resi Simharaja mengulurkan mustika biru kehitaman itu kepada Jaka Umbaran.
Tanpa pikir panjang, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera memungut mustika ini dan menyimpan nya di balik bajunya. Sedangkan Akuwu Mpu Setyaki bersama para punggawa Istana Pakuwon Watugaluh dan segenap tamu undangan pernikahan Rara Arumsari pun segera mendekati sang pangeran muda.
"Terimakasih atas bantuannya, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.
Andaikata Gusti Pangeran tidak mampir ke tempat ini, nasib putri hamba mungkin sudah lain", ucap Akuwu Mpu Setyaki sembari menghormat pada Pangeran Mapanji Jayabaya.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Akuwu Mpu Setyaki..
Ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai pimpinan Kayuwarajan Kadiri untuk mengayomi masyarakat yang tinggal di sini. Lagipula ini juga bukan hanya kerja keras ku saja, tapi juga kerjasama dengan para pengikut ku. Jasa mereka tidak bisa kau abaikan", Besur langsung membusungkan dadanya mendengar ucapan majikannya itu.
"Kalian dengar tidak apa kata Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tadi?
Aku juga ikut berjasa dalam penyelamatan putri Akuwu Pakuwon Watugaluh ini dari gangguan siluman ikan hiu itu. Makanya kalian har...
Bhhhuuuuuuggggh..
Waaddddddaaaaaawwwhhh..!! Kenapa kau injak kaki kiri ku yang cantengan Macan Tua?!! Sakit tahu!", Besur tak jadi meneruskan omongannya karena jempol kaki kirinya diinjak oleh Resi Simharaja. Kontan saja, jempol kaki sang perwira prajurit Panjalu ini langsung pecah sekaligus mengeluarkan darah dan nanah.
"Banyak omong!
Sudah ku bilang untuk menjaga omongan mu tempo hari, tapi masih saja kau bicara seenak udel mu saja. Kalau kau buka mulut lagi, aku tidak akan segan-segan untuk mencabik perut buncit mu itu", Resi Simharaja mendelik kereng pada Besur. Mendengar ancaman itu, Besur pun langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan sambil geleng-geleng kepala tanda bahwa dia tidak akan bicara lagi.
Jaka Umbaran tersenyum penuh arti melihat ulah para pengikutnya ini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karena pernikahan ini tidak jadi dilaksanakan, maka aku akan mencarikan jodoh lain untuk putri ku.
Tapi para tamu undangan jangan bubar dulu. Hidangan sudah di siapkan, mohon semuanya tetap di tempat ini", ucap Akuwu Mpu Setyaki kepada seluruh tamu undangan yang hadir di tempat itu. Para tamu undangan pun langsung mengangguk mengerti. Mereka kembali berkumpul di Pendopo Pisowanan Pakuwon Watugaluh dan langsung disuguhi pelbagai jenis makanan yang telah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
Sedangkan Jaka Umbaran dan para pengikutnya pun mendapatkan tempat tersendiri di sasana boga Istana Pakuwon Watugaluh. Tak hanya Gendol, Resi Simharaja, Baratwaja dan Besur namun juga Nyai Paricara alias Indrawati dan Secawiguna pun ikut serta dalam acara perjamuan ini. Bersama dengan Mpu Setyaki dan istri juga Rara Arumsari, mereka menyantap makanan yang dihidangkan.
"Gusti Pangeran, jujur saja hamba kebingungan sekarang ini..
Anak gadis yang batal menikah di hari pernikahan nya, pasti akan sulit untuk mendapatkan jodoh yang lain. Karena itu, hamba mohon bantuan dari Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya untuk mencarikan jodoh untuk Rara Arumsari", ucap Akuwu Mpu Setyaki segera.
Uhukkk uhukkk..
Jaka Umbaran langsung tersedak mendengar permintaan dari Akuwu Mpu Setyaki ini. Bagaimanapun juga, dia tidak berpikir sejauh ini. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh pimpinan Pakuwon Watugaluh ini tidak salah.
Sementara Besur yang terkena imbasnya dari terdesaknya sang pangeran muda ini langsung mengusap air yang membasahi wajahnya. Saat dia mau protes, Resi Simharaja sudah lebih dulu melotot kereng pada nya hingga dia terpaksa harus tutup mulut sambil menggerutu dalam hati.
'Duh Gusti Hyang Akarya Jagat..
Kog apes banget sih aku? Tak ada angin tidak ada hujan, tahu-tahu kena semburan air minum Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Mana kucing besar itu pakai ancaman lagi. Apes apes...'
Hemmmmmmm..
Terdengar suara dengusan nafas berat dari mulut Jaka Umbaran sembari mengusap air yang keluar dari mulut nya. Sang Pendekar Gunung Lawu ini nampak sedang berpikir keras yang terlihat pada saat dia sedang mengerutkan keningnya dalam-dalam. Entah apa yang sedang ada dalam otak Pangeran Mapanji Jayabaya.
Tiba-tiba pandangan mata nya tertuju pada Gendol yang sedang asyik mengunyah paha ayam panggang sambil menyuapkan nasi putih sesekali. Sebuah senyuman lebar tersungging di bibir Jaka Umbaran. Sebuah pemikiran pun melintas di dalam kepala Yuwaraja Panjalu ini.
"Jujur saja aku tidak memikirkan hal ini, Akuwu Mpu Setyaki..
"Siapa orangnya Gusti Pangeran?", ucap Akuwu Mpu Setyaki tak sabar untuk segera mengetahui orang yang di jodohkan dengan Rara Arumsari.
"Dia orangnya..", Jaka Umbaran menunjuk ke arah Gendol.
Ucapan sang pangeran muda ini langsung membuat semua orang menatap ke arah Gendol yang juga langsung menghentikan makannya meskipun sambil mengemut paha ayam.
"Hamba Gusti Pangeran?!", ucap Gendol setengah tak percaya dengan omongan majikannya itu. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu saling pandang mendengar suara Jaka Umbaran.
"Gusti Pangeran yakin akan menjodohkan putri hamba dengan dia?", Mpu Setyaki ikut menimpali omongan Gendol.
"Iya, aku ingin kau menikahkan putri mu dengan Gendol.
Sudah lama Gendol mengikuti ku bahkan sebelum aku kembali ke Kotaraja Daha dan memperoleh kedudukan ku sebagai Yuwaraja Panjalu. Kalau urusan kesetiaan, Gendol tidak diragukan lagi. Ilmu kanuragan nya juga cukup tinggi. Apalagi yang kurang?
Jabatan? Dia adalah tangan kiri ku dalam setiap tugas. Saat nanti aku pulang ke Istana Katang-katang, dia pasti akan ku angkat menjadi seorang Demung", ucap Jaka Umbaran penuh keyakinan.
Mendengar jawaban itu, senyum lebar terukir di wajah Akuwu Mpu Setyaki. Sedikit banyak, lelaki tua ini memang lumayan gila pangkat dan jabatan. Dia menyetujui lamaran Shuralangi sebelumnya juga karena hal ini. Dia ingin punya mantu yang memiliki jabatan tinggi agar masa depan putri nya kelak terjamin sepenuhnya.
"Kalau begitu, hamba setuju dengan pendapat Gusti Pangeran.
__ADS_1
Bekel Gandar, minta Resi Palakrama untuk menyiapkan kembali acara pernikahan di sanggar pamujan. Cepat berangkat ", Akuwu Mpu Setyaki menoleh ke arah Bekel Gandar, pimpinan prajurit Pakuwon Watugaluh yang ada di luar sasana boga istana.
"Baik Gusti Akuwu..", lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal yang melintang di wajahnya itu segera menghormat pada Akuwu Mpu Setyaki dan Pangeran Mapanji Jayabaya sebelum bergegas mencari keberadaan Resi Mpu Palakrama, pendeta tua yang biasanya bertugas sebagai juru nikah di wilayah Pakuwon Watugaluh.
"Wah ternyata kau begitu beruntung, Gigi Jarang..
Gara-gara kau sok jagoan tadi, kau akhirnya bakal punya istri cantik", ucap Resi Simharaja sembari tersenyum.
"Resi Simharaja benar, Ndol..
Ibarat kata, kali ini kau ketiban rejeki besar. Ketiban durian runtuh. Kau harus berterimakasih kepada Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", sambung Baratwaja kemudian.
"Ah belum tentu, Ja..
Kalau ketiban durian runtuh itu bukan rejeki tapi apes karena kepala pasti bonyok. Kau ini bicara sembarangan saja", timpal Besur sedikit ketus.
"Heleh, itu cuma peribahasa saja Sur bukan sebenarnya. Kau ini kenapa sih? Sepertinya tidak senang dapat istri cantik begitu?
Iri ya? Iri bilang saja Sur hehehehehehehehe", seloroh Baratwaja segera.
"Buat apa iri, Ja?
Calon istri ku, Rara Wiyati juga tak kalah cantik dengan paras Arumsari. Justru aku kasihan pada mu. Kau yang paling tampan di antara kita berempat, tapi sayang jodoh mu datangnya yang paling akhir hahahaha..", serang balik Besur sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sialan kau...", umpat Baratwaja segera.
Dan demikianlah, akhirnya hari itu Gendol sang abdi setia Jaka Umbaran pun akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan menyunting putri Akuwu Mpu Setyaki. Meskipun terkesan dadakan, namun nyatanya pernikahan ini malah terlihat sakral karena mereka semua khidmat mengikuti jalannya proses pernikahan Gendol dan Baratwaja.
Karena tidak ingin membuyarkan acara malam pertama Gendol dan Rara Arumsari, Jaka Umbaran pun memilih untuk bermalam di Istana Pakuwon Watugaluh bersama dengan para pengikutnya yang lain.
Malam belum terlalu larut. Jaka Umbaran dan para pengikutnya termasuk Nyai Paricara alias Indrawati dan Secawiguna pun masih asyik berbincang di halaman balai tamu kehormatan tentang beberapa hal yang mereka alami sepanjang perjalanan. Cahaya bulan yang hampir purnama membuat malam hari itu begitu cerah dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Besur asyik membolak-balik jagung muda diatas perapian, sedangkan Baratwaja nampak berbincang sesekali nimbrung obrolan dengan Secawiguna dan Nyai Paricara alias Indrawati yang duduk di samping Jaka Umbaran dan Resi Simharaja.
Tiba-tiba saja, Resi Simharaja menatap tajam ke arah rimbun pepohonan yang rindang di luar tembok istana. Meskipun tidak sejelas siang hari, namun mata tajam Resi Simharaja jelas melihat sebuah bayangan sedang duduk di salah satu dahan besar pohon berdaun lebar ini.
Tatapan mata Resi Simharaja tak luput dari perhatian Jaka Umbaran yang segera ikut menatap ke arah rimbun pohon besar itu. Saat melihat ada gerakan halus pada bayangan di dahan pohon besar itu, Jaka Umbaran mendengus dingin. Dia segera mengibaskan tangannya dan sepotong kayu bakar yang sedang menyala karena dilalap api pun melesat cepat kearah sosok bayangan yang ada di dahan pohon berdaun lebar itu.
Cllaaaaaassshhhhh!!
Setelah itu, Jaka Umbaran segera berdiri dari tempat duduknya sembari berkata lantang,
"Jangan suka mengintip dari kejauhan, Kisanak! Kalau kau manusia yang pernah belajar tentang tata krama,
__ADS_1
Turun kesini..!!"