
Sementara itu, Ki Kancra Bodas terus berenang cepat kearah Utara. Di tepian Balong Dalem, dia melihat Jaka Umbaran dan Resi Simharaja berjalan mendekati Buyut Wangsanaya dan Resi Guru Ekajati. Sembari mendengus keras, dia bergumam lirih.
"Jaka Umbaran, akan ku laporkan ini pada Nini Pelet sang Ratu Siluman Gunung Ciremai.
Dia yang akan membereskan mu.."
Setelah melepaskan unek-unek nya, Ki Kancra Bodas sang siluman ikan segera melesat cepat bagaikan terbang ke arah sisi timur laut Gunung Ciremai. Meninggalkan Balong Dalem yang selama ini menjadi tempat tinggal abadi nya sebagai penjaga Kembang Wijayakusuma.
Buyut Wangsanaya menatap ke arah Jaka Umbaran dengan tatapan mata penuh harap saat pemuda tampan itu bersama dengan Resi Simharaja mendekati tempat nya berada.
"Bagaimana Pendekar Gunung Lawu? Kau berhasil mendapatkan nya?", tanya Buyut Wangsanaya segera.
"Apakah ini yang kau maksudkan, Tabib Sakti Bertangan Satu?", Jaka Umbaran memasukkan tangan ke balik baju dan mengeluarkan bunga putih yang masih kuncup dengan beberapa kelopak bawah berwarna merah. Mata Buyut Wangsanaya langsung melebar tatkala ia melihat benda pusaka yang menjadi incaran para tabib itu kini ada dalam genggaman tangan Jaka Umbaran.
"Kau sungguh mendapatkan nya??
Jagad Dewa Batara, sungguh istimewa kawan ku yang satu ini. Kau sungguh-sungguh hebat Pendekar Gunung Lawu", puji Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu. Lelaki tua bertubuh gempal cenderung gemuk itu sedikit iri dengan kemujuran Jaka Umbaran tapi dia sadar bahwa itu semua adalah garis takdir Dewata.
Mereka berempat pun segera meninggalkan Balong Dalem untuk kembali ke kediaman Buyut Wangsanaya. Jarak ribuan tombak terasa begitu dekat dengan rasa puas setelah berhasil mendapatkan Kembang Wijayakusuma.
Sesampainya di rumah, Buyut Wangsanaya pun segera mengajak mereka ke tempat peristirahatan Dewi Rengganis dan Nyai Larasati. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan Buyut Wangsanaya.
"Bagaimana Tabib Sakti? Apa kalian mendapatkan hasil yang diinginkan?", tanya Nyai Larasati penuh harap.
"Pendekar Gunung Lawu yang mendapatkan nya, Bidadari Angin Selatan. Nyawa murid ku akan selamat", jawab Buyut Wangsanaya segera.
"Pendekar muda, letakkan Kembang Wijayakusuma mu di kening Dewi Rengganis. Lekas lakukan", perintah Buyut Wangsanaya pada Jaka Umbaran. Mendengar itu, Jaka Umbaran segera mendekati Dewi Rengganis yang masih tak sadarkan diri. Wajahnya memucat dan bibirnya membiru menandakan bahwa nyawanya sedang diujung tanduk.
Jaka Umbaran segera meletakkan Kembang Wijayakusuma di kening Dewi Rengganis. Perlahan wajah cantik perempuan itu berangsur pulih kembali seperti semula. Bibirnya yang membiru pun perlahan berubah warna menjadi merah muda. Mata perempuan cantik itu perlahan terbuka yang menandakan bahwa dia telah sembuh dari penyakitnya. Bersamaan dengan itu, satu kelopak bawah Kembang Wijayakusuma menghitam dan lepas dari tangkai nya. Jaka Umbaran pun segera mengambil Kembang Wijayakusuma dan menyimpannya di balik bajunya.
"A-aku kenapa di disini?", ucap Dewi Rengganis perlahan namun terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di tempat itu.
Melihat itu, Nyai Larasati segera memeluk tubuh murid kesayangannya itu sembari berkaca-kaca.
__ADS_1
"Oh Jagad Dewa Batara, terimakasih banyak Kau telah mengembalikan murid ku Rengganis. Terimakasih Dewa Yang Agung", ucap Nyai Larasati sembari terus meneteskan air mata kebahagiaan. Dia benar-benar bersyukur atas sembuhnya Dewi Rengganis.
Semua orang tersenyum penuh arti sembari melirik ke arah Jaka Umbaran yang nampak begitu lega setelah melihat Dewi Rengganis telah pulih seperti sedia kala.
"Kalian semua pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh juga Pendekar Gunung Lawu yang baru saja bertarung melawan penunggu pohon keramat itu. Dewi Rengganis juga butuh memulihkan kembali kesehatannya.
Beristirahatlah disini satu dua hari agar tenaga kalian pulih. Aku akan menyiapkan tempat dan makanan untuk kalian semua", ucap Buyut Wangsanaya segera.
"Terimakasih banyak atas kebaikan hatimu Tabib Tua..
Aku juga ingin mengistirahatkan tubuh ku barang satu dua hari sebelum pulang ke Gunung Cakrabuana", balas Resi Guru Ekajati sembari menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seperti sedang melemaskan otot-otot yang kaku.
"Tua bangka..
Kau tetap saja tidak berubah sama sekali. Untuk mu, kau harus membantu ku. Cantrik-cantrik ku sedang sibuk menyiapkan obat untuk orang yang membutuhkan pengobatan jadi kau harus turun tangan sendiri jika ingin tidur nyenyak", sungut Buyut Wangsanaya sambil berlalu meninggalkan tempat peristirahatan Nyai Larasati dan Dewi Rengganis.
"Eh Simorokok..
Kenapa kau tidak adil terhadap ku? Tunggu jangan kabur kau", ucap Resi Guru Ekajati sembari mengejar langkah kaki Si Tabib Sakti Bertangan Satu.
"Terimakasih banyak atas bantuan mu, Pendekar Gunung Lawu. Aku tidak tahu dengan cara apa harus membalas kebaikan mu", ucap Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan sambil tersenyum penuh arti.
"Sudahlah Nyai..
Bukankah kita sesama pendekar harus saling membantu? Tidak perlu sungkan balas budi, aku hanya melakukan kewajiban ku saja", Jaka Umbaran tersenyum tipis.
Mendengar jawaban itu, Nyai Larasati segera melirik ke arah Dewi Rengganis. Muridnya yang baru sembuh ini nampak ingin mengutarakan sesuatu. Melihat itu, Nyai Larasati langsung mengerti.
"Oh iya, aku masih ada perlu dengan Resi Guru Ekajati. Jaka Umbaran, tolong jaga Rengganis ya? Tubuhnya masih terlalu lemah sekarang ini", ucap Nyai Larasati sembari beranjak pergi dari tempat itu. Jaka Umbaran yang hendak menahannya urungkan niat setelah merasakan ujung bajunya di tarik oleh Dewi Rengganis.
"Kakang Umbaran sudah bersusah payah mengadu nyawa untuk menyelamatkan nyawa ku. Mulai sekarang, aku bersumpah untuk mengikuti kemanapun langkah Kakang Umbaran sebagai balas jasa atas pengorbanan yang Kakang Umbaran berikan", ucap Dewi Rengganis sambil menundukkan kepalanya. Wajah cantik perempuan itu terlihat memerah seperti kepiting rebus. Ini karena apa yang dia ucapkan adalah hal tabu bagi para perempuan di masa itu.
"Kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan, Dewi Rengganis?", ucap Jaka Umbaran sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Aku tidak pernah seyakin ini dalam hidupku Kakang?", jawab Dewi Rengganis tanpa ragu-ragu.
"Kalau nanti ada perempuan lain yang juga melakukan hal yang sama, apa kau akan tetap mau bersama dengan ku?", kembali Jaka Umbaran melontarkan pertanyaan. Mendengar itu, Dewi Rengganis menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Aku tidak akan mempermasalahkan nya"
Jaka Umbaran kembali memamerkan keindahan senyuman nya. Sementara itu di luar tempat peristirahatan, Resi Simharaja yang menguping pembicaraan mereka langsung membatin dalam hati,
'Sepertinya Awatara Wisnu yang satu ini akan sama seperti para pendahulunya'
****
"Kurang ajar!!!
Bagaimana mungkin itu terjadi Kancra Bodas? Ceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat! Kalau tidak, akan ku masukkan kau ke dalam kuali masak ku untuk menambah kecantikan ku!"
Bentakan keras perempuan cantik yang berbaju merah dan kuning ini membuat Ki Kancra Bodas sang siluman ikan Balong Dalem menggigil ketakutan. Bagaimana tidak, saat ini dia sedang berhadapan dengan penguasa Kerajaan Siluman Gunung Ciremai.
Ya, perempuan cantik berbaju merah dan kuning ini adalah Nini Pelet, ratu penguasa Kerajaan Siluman Gunung Ciremai. Perempuan cantik yang terlihat seperti seorang gadis remaja berusia 17 tahun ini sebenarnya adalah seorang perempuan yang sudah berumur lebih dari 500 tahun. Nini Pelet yang memiliki nama asli Nyi Kartikasari awalnya hanya seorang gadis biasa yang berasal dari wilayah Kerajaan Galuh Pakuan di perbatasan dengan Kerajaan Sunda Pajajaran tepatnya di tepi Sungai Taruma ( Citarum sekarang ).
Nyi Kartikasari di culik dari kampung halaman nya oleh para perampok yang kemudian menjualnya kepada seorang bangsawan di Kawali. Perempuan berparas biasa saja itu mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dan dijadikan sebagai budak nafsu oleh sang bangsawan. Suatu hari, seorang pendekar menolongnya dan membawanya kabur dari Kawali ke Saunggalah. Nyi Kartikasari pun jatuh cinta pada sang pendekar namun rupanya cintanya kepada sang pendekar bertepuk sebelah tangan. Sang pendekar penolong nya sudah memiliki tambatan hati yang lain.
Di pengaruhi dan dibutakan cinta, Nyi Kartikasari pun nekat berangkat menuju ke Gunung Ciremai setelah mendengar kabar tentang adanya seorang lelaki tua yang sanggup membuat orang jatuh cinta pada orang lain meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak menyukainya. Susah payah melawan rintangan dan bahaya di lalui tanpa rasa takut sedikitpun oleh Nyi Kartikasari demi mendapatkan cinta sang pendekar.
Sesampainya di Gunung Ciremai dan bertemu dengan lelaki tua itu, Nyi Kartikasari pun segera diangkat murid oleh lelaki tua yang bernama Sagarahyang ini. Nyi Kartikasari pun diajari berbagai macam ilmu kesaktian yang membuatnya menjadi pendekar wanita pilih tanding. Yang paling penting, Nyi Kartikasari di ajari sebuah ilmu pelet ( penarik hati lawan jenis ) yang bernama Ajian Panggugah Asmara. Terakhir sebelum Sagarahyang mati, lelaki tua itu menyetubuhi Nyi Kartikasari untuk memberikan Ajian Rawa Rontek yang membuatnya tak bisa mati. Inilah alasan sebenarnya Sagarahyang mengangkat Nyi Kartikasari menjadi murid, yakni ingin mati.
Setelah itu, Nyi Kartikasari malang melintang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah kulon. Keampuhan ilmu pelet nya membuatnya terkenal dengan sebutan Nini Pelet dari Gunung Ciremai. Puas malang melintang di dunia persilatan, Nini Pelet mundur setelah usianya tak lagi muda. Namun keabadiannya membuat perempuan itu pun akhirnya menjadi penguasa siluman yang ada di kawasan Gunung Ciremai.
Jika saat ini Nini Pelet masih terlihat cantik dan awet muda, itu karena dia mengamalkan ilmu sesat yang mengorbankan darah segar perawan di setiap malam bulan purnama.
Ki Kancra Bodas menceritakan semua kejadian tentang hilangnya Kembang Wijayakusuma dari Balong Dalem tanpa terlewatkan sedikitpun. Mendengar nama Jaka Umbaran, Nini Pelet sang Ratu Siluman Gunung Ciremai mendengus keras,
"Jaka Umbaran ya hemmmm...
__ADS_1
Tunggu pembalasan ku!!"