
Para pendekar dunia persilatan wilayah tengah saling berpandangan tak bersuara sedikitpun mendengar ucapan Mpu Dirgo. Mereka sudah menghitung untung ruginya jika ingin menantang Jaka Umbaran. Jika Dewa Kalong Merah yang berilmu tinggi dengan tenaga dalam yang mumpuni saja tidak berdaya menghadapi pendekar muda yang mulai kondang dengan sebutan Pendekar Gunung Lawu ini, maka menggabungkan beberapa orang pendekar pun belum tentu bisa mengalahkan Jaka Umbaran. Apalagi jika satu lawan satu, sudah pasti mereka hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Setelah hening tak ada yang bersuara, Mpu Dirgo si Pendekar Golok Sakti menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Karena tidak ada yang berani untuk maju menantang Jaka Umbaran, maka aku umumkan bahwa Pendekar Gunung Lawu Jaka Umbaran menjadi pemenang akhir dari perebutan gelar pengatur wilayah tengah.
Dengan ini, maka pertemuan para pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa kali ini aku nyatakan selesai dengan hasil Resi Guru Ekajati menjadi pengatur wilayah barat, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan mengatur wilayah selatan, dan Jaka Umbaran yang merupakan yang paling muda diantara kami berempat akan menjadi penerus Dewa Pertapa Tanpa Tanding sebagai penata wilayah tengah.
Bagi yang ingin langsung pulang ke daerah masing-masing, aku ucapkan selamat jalan dan terimakasih atas waktu yang diberikan. Sedangkan untuk yang masih ingin tinggal, aku persilahkan. Perguruan Golok Sakti terbuka lebar untuk kalian"
Setelah berkata demikian, Mpu Dirgo mengajak Jaka Umbaran, Nyai Larasati, Resi Guru Ekajati dan Dewi Kembang Bulan untuk masuk ke dalam balai utama Perguruan Golok Sakti bersama dengan Maharesi Haridharma dan Resi Mpu Anubhaya. Ada beberapa hal yang perlu mereka bicarakan.
Satu persatu para pendekar dunia persilatan mulai berkemas untuk melakukan perjalanan kembali ke tempat mereka masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang masih tinggal di Perguruan Golok Sakti.Salah satunya adalah Perguruan Bukit Katong dan para pengikut setia Jaka Umbaran.
"Selamat kepada Resi Guru Ekajati, Nyai Larasati dan kau Jaka Umbaran atas keberhasilan kalian menjadi pengatur wilayah baru di tempat kalian masing-masing.
Mulai hari ini kita setara, tak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari lainnya. Kedepannya aku harap kita semua bisa bekerjasama dengan baik", ucap Mpu Dirgo membuka pertemuan para pengatur wilayah.
"Aku sebenarnya tidak ingin menjadi seorang pengatur wilayah, Pendekar Golok Sakti. Hanya saja, masa depan dunia persilatan di Tatar Pasundan akan hancur berantakan jika Ratu Racun Pembunuh murid si sesat Hyang Racun Kegelapan itu yang menata. Karena itu, mau tidak mau aku terpaksa harus turun tangan dan menentang kehendak pribadi ku yang tak ingin ikut campur urusan dunia persilatan ", ucap Resi Guru Ekajati segera.
"Itu sudah selayaknya, Resi Guru Ekajati.
Sebagai pendekar, sudah tanggung jawab kita untuk selalu menjaga keadilan dan kebenaran. Kau sebagai pimpinan Pertapaan Gunung Cakrabuana, memang paling cocok sebagai pimpinan pendekar wilayah kulon Resi Guru", ucap Dewi Kembang Bulan sambil tersenyum. Resi Guru Ekajati hanya mengangguk saja mendengar ucapan pimpinan pendekar wilayah timur Tanah Jawadwipa ini.
"Jujur aku masih penasaran, Jaka Umbaran..
Aku ingin sekali tahu kabar Dewa Pertapa Tanpa Tanding sekarang. Dia seolah tak mau lagi berurusan dengan dunia persilatan sama sekali", tanya Maharesi Haridharma sembari menatap ke arah Jaka Umbaran yang terlihat menyimak pembicaraan para pendekar sepuh di hadapannya itu.
"Guru baik-baik saja, Maharesi Haridharma..
Sebelum aku turun gunung, beliau berkata bahwa dia ingin menyendiri di Pertapaan Watu Bolong untuk bersiap menuju ke alam keabadian. Aku minta maaf jika sikap guru ku telah membuat dunia persilatan membenci nya karena keputusan yang dia ambil", balas Jaka Umbaran sembari membungkuk hormat kepada para sesepuh dunia persilatan ini.
__ADS_1
"Kami sama sekali tidak membencinya, Pendekar Gunung Lawu. Hanya saja, tanpa adanya Dewa Pertapa Tanpa Tanding, wilayah tengah sangat kacau sekarang.
Aku dengar, banyak sekali kelompok pendekar yang beralih menjadi perampok dan mengacau di beberapa wilayah terutama di kawasan barat dan sekitar Gunung Wilis. Ini akan menjadi tantangan besar untuk mu yang baru saja menjadi pengatur wilayah tengah. Kau harus membantu pemerintah pusat di Kotaraja Daha untuk menumpas kelompok pengacau keamanan ini segera", ucap Resi Mpu Anubhaya sembari mengelus jenggotnya yang lebat.
"Sesuai dengan kebutuhan dan perintah dari guru ku, Resi Mpu Anubhaya. Beliau menugaskan kepada ku untuk membantu menegakkan kebenaran dan keadilan di atas muka bumi. Jadi sesulit apapun itu, aku akan berusaha untuk menjadi pengatur wilayah tengah sebaik mungkin", jawab Jaka Umbaran sungguh-sungguh.
Setelah itu, Maharesi Haridharma membagikan sebuah lencana emas berbentuk pipih persegi panjang dengan ukiran kata pada Nyai Larasati, Jaka Umbaran dan Resi Guru Ekajati. Masing-masing memegang lencana berukir daerah yang mereka atur yakni selatan, tengah dan barat.
Seorang murid Perguruan Golok Sakti bergegas masuk ke ruang pertemuan itu dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ada apa Wanaperih? Kenapa kau masuk tanpa dipanggil?", tanya Mpu Dirgo dengan nada sedikit tinggi karena dia tidak suka dengan tindakan seorang muridnya yang bernama Wanaperih itu. Itu karena Wanaperih dianggap mengganggu acara pertemuan para pengatur wilayah yang seharusnya tidak boleh diganggu oleh siapapun.
"Mohon ampun Guru jika saya mengganggu tapi ini berita penting jadi terpaksa saya memberanikan diri untuk memaksa masuk kemari.
Tadi sewaktu saya lewat di depan tenda tempat tinggal sementara Nyai Larasati dan muridnya, ada ribut-ribut jadi saya mendekat. Murid penjaga bilang Nini Dewi Rengganis telah di culik", laporan Wanaperih seperti sebuah petir yang menyambar di siang bolong di telinga semua orang.
APPAAAAAAAAAAAA????!!!!
"Bagaimana itu bisa terjadi ha? Cepat jelaskan apa yang terjadi?!", ucap Mpu Dirgo segera.
"Siapa yang mengatakan itu? Aku sama sekali tidak memanggil para murid yang ku tugaskan untuk berjaga", tanya Mpu Dirgo cepat.
"Dia adalah Sena, wakil pimpinan rombongan Perguruan Pedang Keadilan", mendengar uraian Wanaperih, semua orang langsung menduga bahwa Sena dari Perguruan Pedang Keadilan terlibat dalam masalah ini.
"Di dalam tenda peristirahatan Nyai Larasati, kami melihat bekas pertarungan. Sepertinya Nini Dewi Rengganis sempat melawan saat hendak diculik. Dan kami menemukan ini di dalam tenda itu ", Wanaperih segera menghaturkan sebuah jarum berwarna hitam kepada Pendekar Golok Sakti.
Resi Guru Ekajati yang paham dengan ilmu pengobatan, seketika itu juga mengetahui bahwa ini adalah jarum beracun.
Hemmmmmmm..
"Jarum beracun..
__ADS_1
Ini jarum yang mengandung semacam racun keji dari campuran racun kumbang emas dan kerak perak", ucap Resi Guru Ekajati menerangkan tentang racun yang ada di jarum berwarna hitam itu.
"Bu-bukankah ini adalah senjata Ratu Racun Pembunuh?", ucap Nyai Larasati terbata-bata. Kini ia begitu khawatir dengan keselamatan murid semata wayangnya. Ratu Racun Pembunuh terkenal kejam dan tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa lawannya. Nyai Larasati takut bahwa orang yang dia duga sebagai penculik itu akan tega membunuh Dewi Rengganis.
"Orang dari Perguruan Kelelawar Merah dan Ratu Racun Pembunuh? Sepertinya ini sudah di atur sebelumnya.
Semuanya, bagaimana jika berbagi tugas. Aku dan Dewi Kembang Bulan akan mengejar Perguruan Pedang Keadilan, sedangkan Resi Ekajati dan Nyai Larasati memburu Ratu Racun Pembunuh? Bagaimanapun juga, ini adalah aib tersendiri bagi Perguruan Golok Sakti karena teledor menjaga tamu nya", ucap Mpu Dirgo segera. Dewi Kembang Bulan, Resi Guru Ekajati dan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan mengangguk setuju dengan usulan Mpu Dirgo.
"Aku juga ikut..
Meskipun masalah ini tidak ada hubungannya dengan ku tapi Nini Rengganis dan aku kebetulan berkawan baik. Menolongnya adalah kewajiban bagi ku", potong Jaka Umbaran segera.
"Semakin banyak kepala, semakin banyak pula tenaga yang membantu", ucap Mpu Dirgo menyambut baik keinginan Jaka Umbaran untuk bergabung dalam kelompok pencarian sang murid Bidadari Angin Selatan.
Mereka pun segera keluar dari dalam balai utama. Di luar ruangan besar itu, kehebohan terjadi. Baik para murid Perguruan Bukit Katong, Perguruan Golok Sakti maupun beberapa orang pendekar yang masih tinggal menunggu kedatangan mereka berlima.
"Semua orang, dengarkan aku..
Murid Nyai Larasati yang bernama Dewi Rengganis telah di culik. Ada dua orang yang di duga menjadi pelaku nya. Kami berlima akan mengejarnya. Mohon para pendekar sekalian untuk tetap disini sampai kami kembali", ujar Mpu Dirgo segera. Bersama dengan Dewi Kembang Bulan, Mpu Dirgo segera melesat cepat kearah timur sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh saksi mata yang melihat perginya para murid Perguruan Pedang Keadilan.
"Aku ikut, Ndoro Umbaran..
Hidung ku bisa mencium bau badan seseorang meski jaraknya ribuan tombak jauhnya", ucap Resi Simharaja sembari menghormat pada Jaka Umbaran.
"Baik, kau boleh ikut Resi Simharaja.
Untuk yang lainnya, aku persilahkan untuk menunggu kedatangan kami. Jika terlalu lama, kalian boleh lebih dulu pulang ke Bukit Katong. Aku permisi dulu", setelah mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang Perguruan Bukit Katong, Jaka Umbaran langsung melesat cepat kearah barat bersama dengan Resi Guru Ekajati dan Resi Simharaja. Dalam waktu singkat, ketiganya telah menghilang dari pandangan mata semua orang.
Sementara itu, di barat laut Lembah Kali Gung tepatnya di wilayah hutan selatan Kota Kadipaten Rajapura yang rimbun pepohonan mengitari bantaran Kali Pemali, sesosok bayangan berpakaian serba hitam terlihat mendarat di samping sebuah batu besar dekat pohon beringin yang rindang. Dia nampak memanggul satu bungkusan kain panjang warna hitam di pundaknya. Dia segera meletakkan benda yang dibawa nya ke samping batu besar itu sembari mengusap keringat yang membasahi dahinya,
"Aku rasa aku sudah cukup jauh dari jangkauan mereka. Sebaiknya aku beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ku.
__ADS_1
Huuuuffffffffff sial..
Kenapa harus aku yang membawa benda ini?"