JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Nawala


__ADS_3

Ki Sempani langsung menghela nafas berat sebelum mulai berbicara.


"Sebenarnya, rencana besar Lembah Hantu adalah membantu Istana Kotaraja Kahuripan untuk....


Uhukkk hoooeeeeggggh...!!"


Belum sempat Ki Sempani mengatakan semua yang dia ketahui, tiba-tiba saja dia batuk dan langsung memuntahkan darah segar. Tentu saja ini mengagetkan semua orang. Resi Simharaja segera melesat ke samping Jaka Umbaran.


Melihat Ki Sempani kejang-kejang, lelaki tua bekas raja siluman Alas Roban ini mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia sepertinya lupa-lupa ingat dengan hal semacam ini. Setelah kejang-kejang sebentar, Ki Sempani langsung terkulai lemas. Jaka Umbaran segera memeriksa denyut nadi nya. Rupanya Ki Sempani sudah tidak bernyawa lagi.


"Bajingan tengik!


Bagaimana mungkin ilmu sesat seperti ini masih ada di dunia ini?", maki Resi Simharaja sedikit lantang. Sedangkan Ki Widangkoro langsung tertunduk lesu melihat ke arah kawannya yang kini terbujur menjadi mayat.


"Apa maksud dari ucapan mu, Resi? Apa kau tahu apa yang terjadi pada orang tua ini?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Ini adalah Sihir Pengunci Jiwa. Sebuah ilmu sihir hitam kuno yang digunakan untuk membuat seseorang menjadi budak tanpa bisa berkhianat sedikitpun. Ini adalah ilmu sesat terlarang yang bisa digunakan untuk mengikat kesetiaan seseorang. Orang yang berani berkhianat akan langsung tewas seketika saat dia berkhianat dengan jantung hancur.


Setelah sekian lama, baru kali ini aku melihatnya masih ada. Aku kira ilmu biadab ini sudah musnah ratusan tahun silam. Rupanya masih ada yang bisa melakukannya. Ini tak boleh dibiarkan begitu saja", ucap Resi Simharaja segera.


Semua orang langsung saling berpandangan mendengar penjelasan tentang ilmu ini. Jaka Umbaran pun segera menoleh ke arah Ki Widangkoro yang masih tertunduk lesu melihat kematian kawan karibnya.


"Apa tubuh mu juga di pasangi Sihir Pengunci Jiwa ini?", tanya Jaka Umbaran segera. Ki Widangkoro hanya mengangguk saja tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Resi Simharaja, apa tidak ada cara untuk melepaskan sihir itu dari tubuh orang yang dipasangi nya?", Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Simharaja.


"Tidak ada Ndoro Umbaran..


Kecuali ada tabib sakti yang bisa membuka segel itu, orang yang terkena baru bisa selamat", ucap Resi Simharaja seraya menghela nafas panjang.


"Nyai Paricara bisa melakukan hal itu, Ndoro Umbaran", sahut Secawiguna yang langsung membuat Jaka Umbaran mengerutkan keningnya dalam-dalam karena merasa sudah menemukan penyebab hilangnya Nyai Paricara. Ini tak luput dari perhatian para pengikutnya.


"Ada apa Ndoro Pendekar? Ada sesuatu yang mengganjal pikiran Ndoro?", tanya Gendol segera.


"Tidak ada. Hanya saja aku merasa bahwa masalah ini berkaitan erat dengan hilangnya Nyai Paricara, Ndol..


Dari omongan Secawiguna tadi, kita bisa menghubungkan masalah ini. Hanya saja, kita masih perlu mencari tahu tentang keberadaan Nyai Paricara di Istana Kadipaten Matahun", ucap Jaka Umbaran sembari berbalik badan dan melangkah menuju ke arah kudanya. Besur pun langsung berteriak keras.


"Lantas bagaimana dengan dia, Ndoro Umbaran?


Apa kita akan melepaskan nya begitu saja?", mendengar pertanyaan Besur, Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Ki Widangkoro yang masih bersimpuh di samping mayat Ki Sempani.

__ADS_1


"Lepaskan saja dia..


Aku tidak mau nyawa manusia melayang sia-sia karena sihir keji dalam tubuhnya. Masalah rencana besar Istana Kotaraja Kahuripan, kita bisa mencari berita nya lain waktu. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam Kota Kadipaten Matahun", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.


Rombongan Jaka Umbaran segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan Ki Widangkoro bersimpuh di samping mayat Ki Sempani. Para pengikutnya sudah terbunuh oleh para pengikut Jaka Umbaran. Lelaki tua bermata juling itu segera menatap ke arah perginya Jaka Umbaran dan kawan-kawan dengan penuh dendam.


"Suatu hari nanti, dendam ini akan ku buat perhitungan dengan mu, pendekar muda.


Tunggu saja.."


*****


"Gusti Adipati, mohon maaf jika hamba bersikap lancang dengan menghadap tanpa di panggil.


Ada utusan dari Kotaraja Daha yang ingin bertemu..", ucap seorang kepala regu prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Paguhan setelah menyembah pada Adipati Prabhaswara.


Saat itu memang sedang ada pisowanan rutin sepekan sekali di Pendopo Agung Kadipaten Paguhan. Adipati Prabhaswara segera mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat kepada sang kepala regu prajurit.


"Persilahkan dia untuk masuk", ucap Adipati Prabhaswara segera.


"Daulat Gusti Adipati", setelah berkata demikian, kepala regu prajurit itu segera menghormat sebelum berbalik badan dan melangkah keluar dari dalam Pendopo Agung. Tak lama kemudian dia kembali bersama seorang perwira tinggi prajurit Panjalu, Tumenggung Mapanji Baguna. Asal tahu saja, Tumenggung Mapanji Baguna adalah putra dari Panji Manggala Seta, Bupati Gelang-gelang yang juga merupakan adik Prabu Bameswara lain ibu.


Tumenggung Mapanji Baguna segera menghormat pada sang penguasa Kadipaten Paguhan itu sebelum duduk bersila di lantai pendopo.


"Saya Tumenggung Mapanji Baguna, utusan khusus Prabu Bameswara. Datang ke tempat ini karena hendak menyampaikan nawala dari Yang Mulia Maharaja Panjalu Prabu Sri Bameswara", ucap Tumenggung Mapanji Baguna segera. Seorang pengalasan yang ada di belakangnya segera menyerahkan kantong kain warna biru pada sang perwira tinggi yang kemudian menghaturkan nya pada Adipati Prabhaswara.


Mpu Wiritanaya sang warangka praja Paguhan pun segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil kantong kain itu lalu menyerahkannya kepada sang penguasa Kadipaten Paguhan. Segera Adipati Prabhaswara membukanya. Senyum lebar terukir di wajah sang adipati tatkala ia membaca aksara Jawa Kuno yang tertera di atas lembaran daun lontar itu.


"Aku telah membaca surat dari Gusti Prabu Bameswara ini, wahai utusan dari Daha.


Kalian sudah melakukan perjalanan jauh kemari. Aku minta agar kalian beristirahat barang sehari dua hari di istana Kadipaten Paguhan ini.


Penjaga, antar utusan dari Daha ini untuk beristirahat di balai tamu kehormatan..", perintah dari sang penguasa Kadipaten Paguhan itu segera.


Tumenggung Mapanji Baguna segera menghormat pada Adipati Prabhaswara sebelum mengikuti langkah sang prajurit penjaga istana menuju ke arah yang dimaksud. Sebentar kemudian mereka telah menghilang di balik tembok istana.


Melihat Tumenggung Mapanji Baguna telah pergi, Mpu Wiritanaya yang ada di tempat nya langsung menghormat pada sang penguasa Kadipaten Paguhan.


"Ada masalah apa hingga Gusti Prabu Bameswara mengirim utusannya kemari, Gusti Adipati? Apakah ini ada kaitannya dengan penguasaan kita pada Kadipaten Paguhan?", tanya Mpu Wiritanaya segera.


"Hal itu memang benar adanya, Paman Patih. Gusti Maharaja Sri Bameswara memang ingin aku menghadap ke Daha agar menjelaskan sendiri apa yang terjadi pada Paguhan.

__ADS_1


Itu adalah masalah yang pertama. Sedangkan yang kedua, Gusti Prabu Bameswara juga ingin berbesan dengan keluarga Istana Paguhan dengan menjodohkan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya dengan putri ku Dewi Rengganis", urai Adipati Prabhaswara sembari tersenyum lebar.


Dewi Rengganis dan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang kini telah menjadi permaisuri Paguhan dengan nama Ratu Larasati terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Dewi Rengganis pun langsung menghormat pada sang ayahanda.


"Mohon maaf Kanjeng Romo Adipati.


Saya tidak sudi dijodohkan dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Saya sudah janji dengan Kakang Jaka Umbaran untuk setia menunggu kedatangan nya kemari", ucap Dewi Rengganis dengan nada penuh ketidaksukaan.


"Hehehehe, aku sudah menduga bahwa kau akan melakukannya, putri ku..


Tapi taukah kamu bahwa Jaka Umbaran yang sedang kau tunggu disini adalah orang yang ingin dijodohkan oleh Prabu Bameswara tadi?", ucap Adipati Prabhaswara sembari terkekeh kecil melihat sikap Dewi Rengganis.


"Apa maksud dari ucapan Kanjeng Romo?


Apakah Kakang Jaka Umbaran itu adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya?", tanya Dewi Rengganis segera.


"Kau benar sekali Putri ku..


Jaka Umbaran adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Dia adalah putra mahkota Kerajaan Panjalu yang pernah menggegerkan dunia karena penculikan nya. Ini semua sudah aku duga sebelumnya bahwa pemuda itu bukanlah pendekar biasa. Dia memiliki aura yang berbeda dengan kebanyakan orang. Kau beruntung bisa mendapatkan hati nya", wajah cantik Dewi Rengganis langsung memerah mendengar kata-kata sang ayah.


Semua punggawa Istana Kadipaten Paguhan kaget bercampur gembira mendengar kata-kata Adipati Prabhaswara. Bagaimanapun juga, berbesanan dengan Istana Kotaraja Daha akan membuat kedudukan sebagai mertua raja muda Panjalu meningkat tinggi. Ini adalah berkah bagi mereka.


Adipati Prabhaswara segera memerintahkan kepada para punggawa Istana Kadipaten Paguhan untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin untuk keberangkatan mereka ke Kotaraja Daha.


****


Adipati Natanegara tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Jaka Umbaran kala mendengar laporan dari para prajurit penjaga gerbang istana. Dia segera setengah berlari menuju ke arah pintu gerbang istana di dampingi oleh Patih Kariti dan para punggawa Istana Kadipaten Matahun.


"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.


Mohon maaf jika hamba tidak menyambut kedatangan Gusti Pangeran sebagaimana mestinya", ucap Adipati Natanegara sembari menyembah pada Mapanji Jayabaya.


"Sudahlah, tak perlu berlebihan seperti itu Adipati Natanegara. Aku datang kemari juga atas perintah dari Kanjeng Romo Prabu Bameswara", ucap Jaka Umbaran sembari memberikan isyarat agar Adipati Natanegara bangkit dari tempat berjongkok nya.


"Kalau begitu, silahkan masuk ke dalam istana Gusti Pangeran. Kita bicara di dalam saja. Mari silahkan.. ", ucap Adipati Natanegara segera.


Setelah itu, mereka semua segera melangkah masuk ke dalam Istana Kadipaten Matahun bersama-sama. Di ruang pribadi adipati, semuanya duduk bersila di lantai tempat itu.


"Kedatangan ku kali ini atas perintah dari Kanjeng Romo Prabu Bameswara untuk mengantarkan nawala ini, Adipati Natanegara", Jaka Umbaran membuka percakapan sembari mengulurkan sepucuk surat dalam kantong kain biru. Sang penguasa Kadipaten Matahun ini segera menerima nya dengan kedua tangannya.


"Selain itu, aku juga ada hal yang ingin ku tanyakan kepada mu, wahai penguasa Kadipaten Matahun", imbuh Jaka Umbaran seraya menatap ke arah Adipati Natanegara. Pria paruh baya bertubuh gempal itu segera menghormat sebelum mulai berbicara.

__ADS_1


"Apakah itu, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya? Mohon dijelaskan..", mendengar itu, Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Secawiguna yang duduk di belakangnya. Lalu kembali menatap ke arah Adipati Natanegara sambil bertanya,


"Dimana Nyai Paricara..?"


__ADS_2