
Seratus orang prajurit di bawah pimpinan Jaka Umbaran segera bergerak ke arah gerbang markas besar Lembah Hantu yang dijaga ketat oleh sekitar 10 orang penjaga. Kesemuanya memakai pakaian warna hitam dengan pelisir baju warna hijau dan memakai ikat kepala hitam. Salah seorang diantara nya, seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal melintang, langsung mencegat Jaka Umbaran dan para pengikutnya.
"Berhenti kalian!
Mau apa orang-orang Perguruan Bukit Kapur datang kemari hah? Apa kalian sudah bosan hidup dan ingin mengantar nyawa kesini hah?", hardik si lelaki bertubuh gempal itu keras.
"Siapa yang mengantar nyawa, masih belum jelas. Tapi satu hal yang pasti, hari ini Lembah Hantu akan banjir darah!
Semuanya, serang mereka!!", perintah Jaka Umbaran yang segera membuat Gendol dan kawan-kawan langsung bergerak cepat sambil mengayunkan senjata mereka masing-masing.
Whuuuggghh thhrraaanggg thhrraaanggg..
Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh!!
Pertarungan sengit pun segera pecah di tempat itu. Namun jumlah para prajurit Matahun yang mencapai ratusan orang, bukan lawan yang seimbang dengan para penjaga. Dalam waktu singkat, empat orang penjaga gerbang markas lembah ini telah roboh bersimbah darah.
Seorang penjaga gerbang segera melompat ke arah kentongan yang ada di dekat tempat mereka dan segera memukulnya dengan cepat sebagai tanda bahaya. Setengah ketakutan, dia memukulnya sekeras mungkin.
Thhhoooongggg thhhoooongggg thhhoooongggg thhhoooongggg....!!!!
Bunyi titir kentongan bertalu-talu langsung terdengar nyaring di depan pintu gerbang markas besar Lembah Hantu. Pintu gerbang pun segera terbuka lebar dan berikutnya puluhan orang berpakaian menyeramkan langsung bermunculan dari sana. Salah satu dari mereka adalah seorang lelaki paruh baya bertubuh tinggi besar namun berkepala botak dengan perut buncit. Ia adalah salah satu sesepuh Lembah Hantu yang berjuluk Hantu Botak.
"Kurang ajar!!
Siapa yang berani membuat masalah dengan Lembah Hantu? Aku akan merobek-robek tubuh nya!!", umpat Si Hantu Botak penuh amarah.
"Banyak bicara!!!", Resi Simharaja yang paling dekat dengan Si Hantu Botak, langsung melesat cepat kearah lelaki tua itu sembari mengayunkan cakar tangan kanannya.
Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!!
Cepatnya gerakan Resi Simharaja membuat Si Hantu Botak terperangah juga. Namun dia segera mengayunkan gada besi besarnya yang berduri tajam memapak serangan cepat Resi Simharaja.
Grrraaaaaakkkkk shhhrriinggg!!!
Gada besi hitam itu langsung memiliki semacam goresan pada permukaannya dengan jumlah 5 buah. Cakar tangan Resi Simharaja memang tajam, apalagi setelah dialiri tenaga dalam tingkat tinggi.
Si Hantu Botak mendengus keras melihat senjata kesayangannya tergores cakar tangan Resi Simharaja. Sembari menjejak tanah dengan keras, dia melompat ke arah Resi Simharaja dengan mengayunkan gada besi hitam itu ke arah kepala sang bekas raja siluman Alas Roban.
"Hancur kepala mu, bajingan!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...."
Gendol yang baru saja menghabisi nyawa salah seorang penjaga gerbang markas Lembah Hantu, berlari cepat kearah Resi Simharaja dan menyilangkan kedua gada kembar nya untuk menahan hantaman Si Hantu Botak.
Bhhhaaaaaaaaangggggggg!!
Gendol sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri saat hantaman keras itu menghajar gada kembar nya. Si Hantu Botak terus menekankan gada besi hitam bergerigi tajam nya untuk menjatuhkan lawan namun Gendol pun tak mau kalah.
__ADS_1
"Macan tua, si botak ini bagian ku. Serahkan saja dia pada ku.
Cepat, bantu Ndoro Pendekar untuk menjebol gerbang ini!", teriak Gendol tanpa menoleh ke arah Resi Simharaja. Bekas raja siluman Alas Roban itu tersenyum tipis sembari mengangguk mengerti sebelum melesat ke arah Jaka Umbaran yang sedang di kepung beberapa orang anggota Lembah Hantu.
Resi Simharaja segera mengayunkan kembali cakar tangan kanannya ke arah beberapa lelaki bertubuh kekar yang sedang mengeroyok Jaka Umbaran. Lima larik cahaya putih kehitaman tipis langsung menerabas cepat kearah mereka.
Shhhrraaaakkkkkk..
Chhhrrraaaaaaasssssshhh aaauuuuggggghhhhh!!!
Empat orang yang mengeroyok Jaka Umbaran langsung roboh tatkala lima larik cahaya putih kehitaman tipis itu menghajar punggung mereka. Sebuah sayatan memanjang dari bahu hingga ke pinggang terlihat menganga dan langsung mengeluarkan darah.
"Resi Simharaja, kita harus segera menjebol pintu gerbang ini untuk dapat memanggil para prajurit kita. Bantu aku mengatasi para cecunguk ini!", ucap Jaka Umbaran segera.
"Saya mengerti...", ucap Resi Simharaja yang segera membuat gerakan cepat di sekitar tempat Jaka Umbaran berdiri hingga tak seorang pun dari para anggota Lembah Hantu mampu mendekati sang pangeran muda.
Mulut Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya, segera komat-kamit merapal mantra sambil mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi nya. Perlahan cahaya biru terang berhawa panas menyengat tercipta di kedua telapak tangan nya yang menangkup di depan dada. Secepat mungkin, dia segera menghantamkan kedua tangan nya bergantian ke arah pintu gerbang markas besar Lembah Hantu itu.
"Ajian Brajamusti...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"
Dua larik cahaya biru terang itu secepat kilat melesat ke arah daun pintu gerbang markas besar Lembah Hantu yang terbuat dari kayu tebal. Dan ...
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Begitu pintu gerbang markas besar Lembah Hantu ini hancur, Jaka Umbaran segera menoleh ke arah kanan sambil bersiul kencang.
Shhuuuuiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt....!!!
Isyarat itu segera membuat Senopati Setakuning dan Patih Mpu Kariti yang menunggu kesempatan untuk menyerang, langsung bergerak menuju ke arah pintu gerbang markas Lembah Hantu.
Kedatangan mereka sontak membuat para anggota Lembah Hantu terkejut bukan main. Perang tidak seimbang pun langsung terjadi.
Di dalam Goa Hantu Neraka, seorang lelaki tua berwajah pucat berjanggut panjang berpakaian abu-abu gelap nampak duduk bersila di atas sebuah lempengan batu dengan mata terpejam. Kedua telapak tangannya nampak menangkup di depan dada. Nampaknya dia sedang bersemedi.
Namun semedi nya ini langsung kacau tatkala telinganya yang tajam, mendengar suara ledakan dahsyat beruntun dari gerbang markas besar Lembah Hantu. Dia sangat mengenali bunyi keras itu. Segera dia membuka mata dan turun dari atas tempat semedi. Lalu bergegas keluar menuju ke arah luar goa.
Dari arah bawah, nampak seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam namun terbuat dari kain sutra yang halus, berlari cepat menaiki tangga ke arah pintu goa. Sesampainya di depan mulut goa, lelaki muda yang tak lain adalah Wijayadharma, sang putra Pangeran Lembah Hantu, segera menghormat pada lelaki tua ini.
"Paman Lokeswara, ada orang-orang dari Perguruan Bukit Kapur menyerbu kemari.
Paman harus cepat bertindak sebelum banyak orang-orang kita terbunuh oleh mereka", ucap Wijayadharma segera.
"Kurang ajar! Berani sekali mereka mengacau saat markas besar sedang sedikit penghuninya.
Tapi tunggu, sejak kapan Si keparat Mpu Waskita itu memiliki Ajian Brajamusti? Tua bangka itu memang cukup lumayan ilmu kanuragan nya, tapi untuk ilmu kedigjayaan sekelas Ajian Brajamusti....
__ADS_1
Brengsek, pasti ada yang tidak beres! Ayo kita kesana, Wijayadharma!", Mpu Lokeswara sang wakil pimpinan Lembah Hantu yang menjadi pimpinan sementara selama sang pimpinan utama sedang keluar dari markas karena ada urusan penting dengan Istana Kotaraja Kahuripan, langsung melesat cepat menuruni tangga mulut Goa Hantu Neraka diikuti oleh Wijayadharma.
Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja, keduanya telah sampai dekat pintu gerbang markas besar Lembah Hantu yang telah porak poranda akibat pertempuran. Beberapa bangunan nampak terbakar hebat, sedangkan banyak mayat dari anggota Lembah Hantu terkapar tak bernyawa bergelimpangan dimana-mana. Ini langsung membuat gigi Mpu Lokeswara gemerutuk menahan amarah.
"Kurang ajar!! Orang-orang Perguruan Bukit Kapur, kalian harus membayar semua perbuatan kalian ini dengan nyawa kalian!!!"
Sekali hentak, Mpu Lokeswara sang wakil pimpinan Lembah Hantu langsung melompat tinggi ke udara dan dengan cepat menghantamkan tapak tangan nya bertubi-tubi kearah pertarungan sengit antara para prajurit Kadipaten Matahun dan orang-orang Lembah Hantu.
Whhhuuuuuuuutttttth whhhuuuggghhhh!!
Empat larik cahaya hijau kehitaman berhawa dingin berbau tidak sedap langsung menyebar ke segala arah. Para pengikut Lembah Hantu yang melihat itu segera menjauh untuk menyelamatkan diri.
Sementara itu, Jaka Umbaran yang juga melihat pergerakan sang wakil pimpinan Lembah Hantu seketika itu juga, melenting tinggi ke udara sambil memapak pergerakan cahaya hijau kehitaman itu dengan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna biru terang.
Dhhaaaassshhh blllaaammmmmmmm blllaaammmm blllaaammmmmmmm!!!
Empat ledakan dahsyat beruntun terdengar kembali dari tempat itu. Satu ledakan dahsyat tercipta dari benturan Ajian Brajamusti dan Ajian Tapak Hantu Neraka. Jaka Umbaran segera meluncur turun ke bawah mengikuti pergerakan Mpu Lokeswara.
"Kau bukan orang Perguruan Bukit Kapur. Siapa kau sebenarnya?", tanya Mpu Lokeswara sambil menatap tajam ke arah Jaka Umbaran.
"Siapa aku tidaklah penting. Yang terpenting sekarang adalah Lembah Hantu harus musnah dari muka bumi ini", jawab Jaka Umbaran segera.
"Bangsaaaaaaaaattttt!!
Kau memang harus mampus di tempat ini untuk membayar semua dosa mu bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn!!!", umpat Mpu Lokeswara sambil melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari melayangkan pukulannya ke arah kepala sang pangeran muda.
Adu ilmu silat tangan kosong pun langsung terjadi antara mereka.
Dengan tenang, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera menangkis hantaman tangan Mpu Lokeswara. Sang wakil pimpinan Lembah Hantu itu pun cepat melayangkan serangan susulan dari tangan kiri. Jaka Umbaran pun mundur selangkah ke belakang sedikit merendahkan tubuhnya lalu dengan cepat melayangkan pukulan cepat beruntun ke arah perut Mpu Lokeswara.
Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh..
Oouuugghhhhhh..!!!
Mpu Lokeswara melengguh tertahan sembari terhuyung huyung mundur. Saat itulah, Jaka Umbaran segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kaki kanan ke arah dada lelaki tua berjanggut panjang ini. Mpu Lokeswara masih sempat melihatnya dan dengan cepat menyilangkan kedua tangannya ke depan dada hingga tendangan keras melingkar dari Jaka Umbaran tertahan di kedua tangan Mpu Lokeswara.
Dhhhaaaassshhhh...
Shhhrrrrrruuuuuuuuuukkkkkk!!
Mpu Lokeswara tersurut mundur beberapa tombak ke belakang walaupun berhasil melindungi dadanya dengan kedua siku tangan. Rasa ngilu langsung terasa di kedua tangan lelaki tua itu tanda bahwa lawannya tidak main-main dengan serangan cepat nya.
'Bajingan ini rupanya bukan pendekar muda biasa. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak boleh gegabah jika tidak ingin mati konyol di tangan nya', batin Mpu Lokeswara sambil mengibaskan kedua tangan untuk mengurangi rasa ngilu.
Segera dia menyilangkan kedua tangannya ke depan dada. Cahaya hijau kehitaman semakin terang terlihat menandakan bahwa Mpu Lokeswara mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Tapak Hantu Neraka tahap akhir untuk menghadapi Jaka Umbaran.
Sang pangeran mahkota dari Kotaraja Daha inipun sadar bahwa lawannya ingin mengadu nyawa dengan nya. Maka dia pun tak mau kalah. Mata sang pendekar muda ini terpejam sesaat sebelum manik mata nya memancarkan cahaya kuning keemasan pertanda bahwa dia menggunakan Ajian Bandung Bondowoso. Saat yang bersamaan, tangannya segera merogoh ke samping kiri. Tangan ini seperti merobek udara dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah pedang pusaka bersarung merah yang pernah menjadi pusaka yang menggegerkan dunia persilatan Tanah Jawadwipa sebagai senjata pusaka nomor satu,
__ADS_1
Pedang Naga Api.