
Sekelebat bayangan hitam melesat cepat ke depan para penghadang bertopeng gagak separuh wajah. Saking kuatnya tenaga dalam yang dimiliki nya, para anggota Gerombolan Gagak Hitam itu sampai terpental dari jalannya. Saat bayangan berkelebat cepat itu mendarat, dia seperti sengaja menghentakkan kakinya ke tanah dengan sedikit keras yang langsung menciptakan gelombang getaran kuat di sekeliling tempat ia berdiri.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Kedatangan bayangan hitam yang muncul tiba-tiba itu tak lain adalah seorang lelaki bertubuh kekar dengan topeng burung gagak separuh wajah berhias ukiran emas berdiri menatap ke arah para pendekar pimpinan Akuwu Sukowati. Di punggungnya ada sepasang pedang yang melengkung bulan sabit tersandang, sedangkan di kedua sisi pinggang nya, ada pula sepasang pedang yang berukuran lebih pendek tergantung. Pakaian nya yang serba hitam ditambah dengan rambutnya yang gondrong tanpa digelung terlihat berkibar di tiup angin.
Ya, lelaki berpakaian serba hitam dengan kumis tebal melintang di pipi itu adalah sang pimpinan Gerombolan Gagak Hitam yang namanya sedang menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat wilayah Kadipaten Lewa khususnya dan Kerajaan Panjalu umumnya, Gagak Hitam Lengan Seribu.
Belum lama ini, sekitar 5 warsa kemunculannya di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, Gagak Hitam Lengan Seribu langsung mengejutkan banyak orang. Secara terus menerus, Gagak Hitam Lengan Seribu menciptakan sebuah kerusuhan di wilayah tengah Kerajaan Panjalu. Meskipun tidak sampai mengancam istana negara, namun sepak terjangnya telah lama diamati oleh punggawa Istana Kotaraja Daha. Beberapa telik sandi negara yakni Pasukan khusus Lowo Bengi terus mengawasi pergerakan Gagak Hitam Lengan Seribu.
Nama asli Gagak Hitam Lengan Seribu adalah Jiwandana. Sekitar 20 tahun yang lalu, dia adalah murid satu-satunya dari Dewa Pertapa Tanpa Tanding, Maharesi Siwamurti, dari Pertapaan Watu Bolong di Gunung Lawu. Jiwandana yang tergila-gila dengan ilmu kesaktian, terus menimba ilmu kanuragan tingkat tinggi dari sang guru. Namun, dia kurang sabar dengan cara Maharesi Siwamurti yang menurunkan ilmu beladiri nya setahap demi setahap. Hingga pada suatu hari, kala Maharesi Siwamurti sedang keluar dari dalam pertapaan, Jiwandana menggeledah seisi ruang istirahat gurunya dan menemukan sebuah kitab yang berisi tentang ilmu beladiri berpedang yang telah lama ia dambakan, Ilmu Pedang Lengan Seribu.
Usai berhasil mendapatkan apa yang dia cari, Jiwandana meninggalkan Pertapaan Watu Bolong dengan keadaan porak poranda. Saat Maharesi Siwamurti melihat amburadulnya ruang istirahat nya setelah ia kembali dari kepentingan pribadi nya, dia bergegas memeriksa keberadaan Kitab Ilmu Pedang Lengan Seribu dan mendapati bahwa benda itu telah raib. Dia lalu mencari keberadaan Jiwandana, namun tak jua menemukan keberadaan murid satu-satunya itu hingga ia langsung sadar bahwa pelaku pencurian Kitab Ilmu Pedang Lengan Seribu adalah muridnya sendiri.
Selepas itu, Maharesi Siwamurti mencari keberadaan Jiwandana hingga ke daerah asalnya di Gelang-gelang namun Jiwandana seolah menghilang di telan bumi. Akhirnya, tepat pada hari dimana Jaka Umbaran di culik, Maharesi Siwamurti menemukan Jiwandana sang murid murtad itu sedang bertapa di kawasan hutan dekat perbatasan Kadipaten Selopenangkep dan Singhapura.
Maharesi Siwamurti menghajar Jiwandana habis-habisan hingga sekarat. Tak tega untuk menghabisi nyawa sang mantan murid, Maharesi Siwamurti meninggalkan nya di tempat itu dalam keadaan setengah mati lalu pulang ke Pertapaan Watu Bolong di Gunung Lawu.
Jiwandana yang hampir mati, akhirnya diselamatkan oleh Nini Gagak Selatan, seorang wanita tua pendekar golongan hitam yang cukup punya nama besar di kawasan Selopenangkep wilayah selatan. Hampir 3 purnama Nini Gagak Selatan berjuang keras menyelematkan Jiwandana. Namun karena kelelahan yang luar biasa setelah berjuang tanpa lelah, akhirnya Nini Gagak Selatan meninggal dunia usai menyalurkan tenaga dalam nya yang terakhir pada Jiwandana.
Untuk mengenang jasa Nini Gagak Selatan, Jiwandana mengenakan topeng burung gagak separuh wajah milik perempuan tua itu dan memulai sepak terjangnya di dunia persilatan Tanah Jawadwipa sebagai Gagak Hitam Lengan Seribu. Dia kemudian mengacak-acak Istana Pakuwon Janti, merampok rombongan pedagang yang hendak mengantar barang ke Gelang-gelang, memperkosa seorang putri pejabat Kadipaten Anjuk Ladang dan masih banyak lagi perbuatan bejatnya yang menciptakan keresahan di kalangan masyarakat Kerajaan Panjalu. Pendek kata, ia adalah buronan paling dicari oleh beberapa pucuk pimpinan Kadipaten di wilayah Kerajaan Panjalu.
Melihat kemunculan Si Gagak Hitam Lengan Seribu, Akuwu Sukowati Mpu Winarka yang baru saja melompat turun dari kuda tunggangan nya, langsung melangkah maju.
"Aku Mpu Winarka, Akuwu Sukowati..
Atas nama pemerintah Kadipaten Lewa, aku harus membawa mu hidup atau mati. Menyerah sekarang, mungkin Gusti Adipati Wangsakerta akan mengampuni mu", ucap Akuwu Mpu Narpati tegas.
"Menyerah? Hahahaha...
Kau sungguh lucu, Akuwu Sukowati. Jangankan Adipati Wangsakerta, Prabu Bameswara yang kemari pun aku tidak akan tunduk. Aku Gagak Hitam Lengan Seribu, bukan pengecut yang takut pada pemerintah manapun.
Anak buah ku, bunuh mereka semua!!", Gagak Hitam Lengan Seribu langsung mengayunkan tangan nya ke depan sebagai isyarat untuk para pengikutnya maju. Ratusan orang berpakaian serba hitam yang sedari tadi diam menunggu perintah, langsung menerjang maju ke arah para pendekar peserta sayembara itu dengan senjata terhunus. Pertempuran pun segera terjadi.
Tirtonolo si Pendekar Golok Serigala Perak yang bernafsu untuk memenangkan sayembara, langsung mencabut senjata andalannya dan melesat cepat kearah Si Gagak Hitam Lengan Seribu.
"Burung busuk, kau adalah jalan ku menuju ke istana Kadipaten Lewa! Serahkan kepala mu!", teriak Tirtonolo sembari mengayunkan senjatanya ke arah Si Gagak Hitam Lengan Seribu. Namun, belum sampai dia beradu senjata dengan Gagak Hitam Lengan Seribu, seorang lelaki bertubuh gempal yang memakai pakaian warna hitam langsung mengayunkan sebuah gada menangkis sabetan senjata Tirtonolo.
Thhrraaanggg!!!
__ADS_1
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Tirtonolo merubah gerakan tubuhnya dan hendak menerjang Si Gagak Hitam Lengan Seribu yang masih berdiri di tempatnya semula namun lagi-lagi di badan gempal bersenjata gada itu menghalangi jalan nya dengan mengayunkan gada besi besarnya.
Whhhuuuggghhhh bhhuuuuummmmmmhh!
Dengan penuh amarah, Tirtonolo yang merasa dirinya diganggu oleh si lelaki gempal bersenjata gada itu langsung melayangkan serangan cepat bertubi-tubi kearah orang itu.
Thhrraaanggg thhrraaanggg..!!
Rupanya kemampuan beladiri si lelaki bertubuh gempal bersenjata gada itu tidak bisa di anggap enteng. Dia terus menerus mampu menahan setiap serangan cepat Tirtonolo sembari sesekali mengayunkan gada besi nya ke arah badan murid Padepokan Bukit Asam itu.
Sementara Tirtonolo dibuat sibuk oleh si lelaki bertubuh gempal bersenjata gada, Mpu Winarka sang Akuwu Sukowati melesat cepat kearah Si Gagak Hitam Lengan Seribu sembari mengayunkan keris di tangan kanannya.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Si Gagak Hitam Lengan Seribu pun hanya menggeser sedikit tubuhnya hingga tusukan keris itu hanya menyambar angin sejengkal di samping tubuhnya. Lelaki bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam itu segera memutar tubuhnya dan melayangkan sikutnya ke arah punggung sang Akuwu.
Dhheeeeeppppppphhh...
Oooouuuuuuggggghhhhh!!
Akuwu Mpu Winarka melenguh tertahan sembari melakukan gerakan guling ke depan dan setelah berhenti, dia kembali menerjang maju ke arah Gagak Hitam Lengan Seribu. Secepat kilat, dia kembali menusukkan kerisnya ke arah dada lawan. Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu kembali berkelit namun rupanya itu yang diharapkan oleh Mpu Winarka. Akuwu Sukowati ini langsung melayangkan pukulan keras ke arah dada dengan tangan kiri nya yang di lambari tenaga dalam. Tak ada ruang untuk berkelit, Gagak Hitam Lengan Seribu langsung menyilangkan tangannya menghadang serangan.
Tubuh Jiwandana tersurut mundur beberapa langkah. Lelaki bertubuh kekar itu mendengus keras sembari menatap tajam ke arah Mpu Winarka.
"Kau boleh juga, Akuwu Sukowati..
Baru kali ini ada pejabat pemerintahan yang bisa menyentuh kulit ku. Tapi itu juga akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Bersiaplah untuk mati!!".
Selepas berkata demikian, Si Gagak Hitam Lengan Seribu perlahan mencabut sepasang pedang melengkung seperti bulan sabit di punggungnya dan memegangnya dengan kedua tangan. Lalu dengan cepat ia memutar kedua tangan nya yang memegang pedang sebelum melesat cepat kearah Akuwu Sukowati.
Melihat itu, Akuwu Sukowati yang pernah mendengar kehebatan ilmu berpedang Si Gagak Hitam Lengan Seribu terkesiap juga dan mundur beberapa langkah. Dia langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada telapak tangan kiri sembari memegang erat gagang keris di tangan kanannya.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!
Putaran pedang yang cepat di tangan Gagak Hitam Lengan Seribu membuat nya seolah memiliki jumlah lengan yang mencapai ratusan buah. Serangan cepat itu sedapat mungkin di tangkis oleh Mpu Winarka sembari melangkah mundur selangkah demi selangkah.
Thhrraaanggg thhrraaanggg thhrraaanggg!!!
Satu tebasan pedang melengkung milik Si Gagak Hitam Lengan Seribu lolos dari tangkisan Mpu Winarka. Dan langsung merobek daging lengan kanan atas penguasa Pakuwon Sukowati itu.
__ADS_1
Chhhrrraaaaaaasssssshhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Mpu Winarka menjerit keras kala sabetan pedang melengkung Gagak Hitam Lengan Seribu nyaris memutus lengannya. Namun dia segera melompat mundur sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna hijau redup berhawa dingin ke arah pimpinan Gerombolan Gagak Hitam itu sebelum lawan melanjutkan serangan mautnya.
Whhhuuuuuuuutttttth...
Selarik cahaya hijau redup berhawa dingin menerabas cepat kearah Gagak Hitam Lengan Seribu. Tak mungkin lagi menghindar, dia langsung menyilangkan kedua pedangnya untuk menahan hantaman ilmu kesaktian Akuwu Sukowati.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar. Si Gagak Hitam Lengan Seribu tersurut mundur hampir 3 tombak jauhnya sedangkan Mpu Winarka yang berhasil menjauh, langsung menotok beberapa jalan darah nya untuk menghentikan darah yang mengucur deras dari luka yang dia alami.
"Hahahaha, cuma segini kemampuan beladiri mu mau menangkap ku, Akuwu Sukowati?
Phhuuuiiiiiihhhhh...!
Aku akan pastikan bahwa hari ini Dewa Yamadipati menerima kedatangan mu di neraka!!", usai berkata seperti itu, Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu kembali melesat cepat dengan jurus pamungkas Ilmu Pedang Lengan Seribu andalannya ke arah Mpu Winarka yang sedang kerepotan menghentikan luka nya yang terus mengeluarkan darah segar.
"Mampus kau, pejabat tolol!!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"
Ratusan tangan yang memegang pedang melengkung bercahaya merah menyala berhawa panas langsung mengarah ke kepala Mpu Winarka yang buyar konsentrasi nya. Saat yang genting itu, sebuah bayangan kuning keemasan berkelebat cepat menghadang laju serangan maut Gagak Hitam Lengan Seribu.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh...
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Gelombang kejut besar langsung berpendar cepat ke segala arah. Siapapun yang tidak siap untuk bertahan, tak terkecuali anggota Gerombolan Gagak Hitam maupun pendekar peserta sayembara langsung tersapu oleh gelombang kejut besar ini. Hanya beberapa orang saja yang mampu berdiri tegak di tempatnya.
Si Gagak Hitam Lengan Seribu yang tak siap dengan hadangan cepat itu, langsung terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Namun dia segera bangkit dari tempat jatuhnya meskipun ada darah yang meleleh keluar dari sudut mulutnya. Dia langsung mendelik tajam ke arah sesosok pemuda tampan berpakaian biru tua yang berdiri tegak dengan tubuh berselimut cahaya kuning keemasan tipis.
Tak hanya Gagak Hitam Lengan Seribu yang terkesima melihat kejadian itu. Sepasang pendekar bercaping bambu tirai hitam itu juga nampak kaget melihat nya. Si caping bambu bertirai hitam perempuan langsung menoleh ke arah pasangannya yang berdiri di samping nya itu sembari berkata,
"Kakang...
Apa itu juga Ajian Tameng Waja?"
__ADS_1