JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Melawan Prabu Tirtabawana ( bagian 2 ) - Pengorbanan Resi Simharaja


__ADS_3

Prabu Tirtabawana segera menyilangkan kedua tangannya ke depan dada. Mata penguasa Alas Purwo ini terpejam rapat. Bersamaan dengan itu, dari balik punggungnya seketika bermunculan sosok manusia setengah ikan yang satu persatu terus bertambah hingga mencapai ratusan jumlahnya. Kesemuanya memegang aneka senjata. Mereka menatap tajam ke arah Jaka Umbaran seolah menatap mangsa.


"Ajian Bala Sayuta...!!!


Sejak kapan keparat ini menguasai ilmu kanuragan langka ini? Bajingan, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya dalam bahaya..", gumam Resi Simharaja sembari terus menatap ke arah arena pertarungan.


Harimau memang tidak begitu suka dengan air. Ini adalah sifat alamiah mereka sekalipun telah menjadi siluman. Begitu juga dengan Resi Simharaja. Dia begitu benci dengan Prabu Tirtabawana karena penguasa Kerajaan Siluman Alas Purwo ini merupakan penjelmaan dari ikan lele.


Konon, ikan lele bertapa di dalam Kali Sunglon Ombo hingga ratusan tahun lamanya lalu menjelma menjadi siluman ikan lele. Setelah itu, Prabu Tirtabawana kemudian bertapa lagi di Gunung Kucur sebelum akhirnya mampu merubah wujudnya seperti seorang manusia. Seiring berjalannya waktu, kemampuan beladiri yang di miliki oleh Prabu Tirtabawana semakin tinggi hingga mampu menahan serangan dari Istana Siluman Laut Selatan. Inipun langsung membuat Alas Purwo menjadi salah dari kelima kerajaan siluman terkuat di Tanah Jawadwipa.


Permusuhan nya dengan Alas Roban pun karena mereka memperebutkan seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke Arcapada yang bernama Dewi Prabawati. Dalam persaingan ini, keduanya gagal mendapatkan hati perempuan cantik itu karena dia memilih untuk menjadi istri Prabu Dharmawangsa, penguasa Kerajaan Medang Kamulan dari Dinasti Isyana.


Meskipun sama-sama menelan kegagalan dalam percintaan, namun permusuhan antara mereka tetap ada hingga saat ini. Inilah alasan mengapa Resi Simharaja terlihat lain air mukanya saat harus menemui Prabu Tirtabawana di Alas Purwo.


Ratusan manusia setengah ikan langsung mengepung Jaka Umbaran dari berbagai penjuru. Kemudian mereka bergerak cepat dalam penjara air Ajian Banyu Alas ciptaan Prabu Tirtabawana ke arah Jaka Umbaran. Pertarungan sengit pun segera terjadi.


Dua orang manusia setengah ikan langsung menyabetkan pedangnya ke arah Jaka Umbaran dari kiri dan kanan.


Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!


Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya pun segera melompat ke atas menghindari sabetan pedang keduanya. Ini dimanfaatkan oleh beberapa orang manusia setengah ikan untuk melemparkan tali yang ujung nya berbentuk seperti kail pancing ikan ke arah sang pangeran muda dari Kadiri.


Whhhuuuggghhhh whuuuggghh!!


Ikatan tali mereka langsung membelenggu tubuh Jaka Umbaran. Tak berhenti sampai disitu, keempat orang manusia setengah ikan lainnya langsung melemparkan tali yang sama ke tubuh Jaka Umbaran yang terbelenggu hingga ikatan tali mereka semakin kuat mengikat sang Pendekar Gunung Lawu.


Melihat Jaka Umbaran telah terikat oleh tali, Prabu Tirtabawana menyeringai lebar.


"Hahahaha, sekarang kau tidak akan pernah bisa lepas dari ikatan tali itu, Pangeran Daha. Mampuslah kau sekarang..


Para manusia setengah ikan, bunuh dia!!", Prabu Tirtabawana segera mengayunkan tangan kanannya ke depan sebagai isyarat kepada para manusia setengah ikan itu untuk menggunakan senjata mereka guna merajam tubuh Jaka Umbaran.


Para manusia setengah ikan itu langsung bergerak maju sembari menusukkan senjata mereka masing-masing ke tubuh Jaka Umbaran yang terikat tali tambang berkail pancing.


Whhuugghh whhuuuttthhh!!


Jaka Umbaran segera menggosokkan kaki kanan nya ke tempat dia berdiri sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Bandung Bondowoso miliknya. Dan..

__ADS_1


Thhrraaanggg thhrraaanggg..


Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!


Bunyi nyaring seperti logam keras beradu terdengar saat senjata tajam milik para manusia setengah ikan itu menyentuh kulit Sang Pendekar Gunung Lawu. Melihat itu, mata Prabu Tirtabawana membeliak lebar seakan tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya.


"Ilmu kebal macam apa itu? Kenapa senjata para manusia setengah ikan ku tak sanggup menembus nya?", gumam Prabu Tirtabawana setengah tidak sadar bahwa ia telah memuji kesaktian sang pangeran muda.


Meskipun para manusia setengah ikan kiriman nya terus menerus berusaha untuk menembus pertahanan tubuh Sang Pendekar Gunung Lawu, namun nyatanya itu tidak membuahkan hasil sama sekali.


Jaka Umbaran segera merubah gerakan kuda-kuda ilmu silatnya, dan ganti menarik para manusia setengah ikan yang mengikatnya. Perlahan para manusia setengah ikan yang bertugas sebagai pengekang pergerakan Jaka Umbaran mulai kelimpungan mempertahankan tali mereka. Saat Jaka Umbaran berhasil memutar tubuhnya, 8 orang manusia setengah ikan itu ikut tertarik ke arah Jaka Umbaran.


Saat itulah, Jaka Umbaran segera melayangkan tendangan keras beruntun ke arah mereka.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Delapan orang manusia setengah ikan itu meraung keras saat tubuh mereka terlempar usai tendangan keras Jaka Umbaran menghajar tubuh mereka masing-masing. Setelah itu dengan cepat Jaka Umbaran segera melepaskan diri dari tali tambang yang membelenggunya.


Thhrraaanggg thhrraaanggg!!!


Prabu Tirtabawana menggeram keras saat melihat Jaka Umbaran mulai membantai para manusia setengah ikan itu dengan Keris Pulanggeni di tangan kanannya. Tak ingin Jaka Umbaran lolos begitu saja tanpa terluka sedikitpun, Prabu Tirtabawana pun segera mengangkat tangan kanannya sambil mulutnya komat-kamit merapal mantra.


Tiba-tiba saja pergerakan para manusia setengah ikan ini berhenti dan tubuh mereka mulai berwarna merah menyala. Mereka semua langsung saling berpegangan tangan satu sama lain membentuk sebuah pagar di sekeliling tempat Jaka Umbaran berada. Resi Simharaja kaget bukan main melihat hal ini.


"Celaka! Tukang main air itu akan meledakkan Ajian Bala Sayuta nya! Ini gawat!!!"


Segera dia melesat masuk ke dalam penjara air Ajian Banyu Alas ini sambil menahan nafas. Setelah itu, ia memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada dahi. Cahaya putih kemerahan menyebar luas ke sekeliling tubuhnya termasuk melindungi tubuh Jaka Umbaran.


Tubuh manusia setengah ikan itu semakin memerah dan terus memerah seperti cahaya matahari di kala senja dan....


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar. Penjara air Ajian Banyu Alas pun ikut pecah akibat ledakan mahadahsyat ini. Asap tebal dan uap air yang mengepul menutupi seluruh tempat dimana Jaka Umbaran dan Resi Simharaja berada. Prabu Tirtabawana pun tersenyum penuh kemenangan karena yakin bahwa Jaka Umbaran dan Resi Simharaja telah menemui ajal.


Saat asap tebal dan uap air itu menghilang dari pandangan mata, Prabu Tirtabawana terkejut bukan main tatkala ia melihat Jaka Umbaran masih hidup sambil memegang seekor anak harimau putih yang terlihat seperti sedang tertidur pulas.

__ADS_1


Rupanya Resi Simharaja mengorbankan seluruh kesaktian yang dia miliki untuk membuat pagar pelindung untuk Jaka Umbaran ditengah ledakan dahsyat Ajian Bala Sayuta. Akibatnya, dia kehilangan hampir seluruh hasil tapa brata nya yang menyebabkan dia kembali ke bentuknya semula meskipun dalam ukuran anak-anak.


Jaka Umbaran perlahan menurunkan tubuh Resi Simharaja ke tanah lalu menatap tajam ke arah Prabu Tirtabawana dengan penuh kemarahan. Melihat keadaan Resi Simharaja yang seperti ini, sudah cukup membuat Sang Yuwaraja Panjalu ini murka.


"Prabu Tirtabawana!!


Aku sudah cukup bersabar menghadapi ulah mu yang hanya ingin melindungi putri mu dari kesalahan yang telah dia perbuat! Akan tetapi, kau sudah membuat pengawal setia ku menjadi seperti ini, aku akan membuat kau sama menderita nya dengan dia!!"


Perlahan wujud Jaka Umbaran berubah menjadi sesosok berkulit biru terang dengan mahkota berkilau kuning keemasan. Tangannya berubah menjadi 4 yang masing masing memegang sebuah senjata seperti terompet sangkakala dari kulit kerang, sebuah gada, sebuah bunga putih dengan beberapa kelopak bawah berwarna merah dan sebuah roda bergerigi tajam yang terus berputar di telunjuk tangan kanannya.


Prabu Tirtabawana terkejut melihat perubahan wujud ini. Dia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dengan berani sombong di hadapan Jaka Umbaran. Tanpa pikir panjang, Prabu Tirtabawana segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Lari adalah pilihan terbaik bagi nya saat ini.


Namun secepat apapun ia berlari, sosok agung berkulit biru terang itu seperti tak jauh dari dirinya meskipun dia hanya melangkahkan kakinya biasa saja mengejar Prabu Tirtabawana.


Setelah tiga langkah kaki sang sosok agung berkulit biru terang itu, roda bergerigi tajam nya melesat cepat kearah Prabu Tirtabawana. Penguasa Alas Purwo ini berusaha berkelit menghindari hantaman Cakra Bhaswara namun dia terlambat sedikit hingga roda bergerigi tajam yang berwarna kuning keemasan itu langsung memotong lengan kiri nya.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Prabu Tirtabawana meraung keras saat Cakra Bhaswara memotong lengan kiri nya. Biasanya, jika ada bagian tubuh nya yang terpisah dari badan, bagian tubuh ini akan tumbuh kembali seperti semula. Namun saat ini hal itu tidak terjadi.


Akibat kehilangan lengan kiri nya, tubuh Prabu Tirtabawana limbung dan jatuh menyusruk tanah. Saat ia berbalik badan dan bermaksud untuk melanjutkan pelariannya, sosok agung berkulit biru terang itu telah muncul di hadapan nya dan langsung menginjak dada Prabu Tirtabawana.


"A-ampuni hamba, Hyang Wisnu..


Hamba bersalah atas kebodohan hamba. Mohon ampunan nya, wahai Sang Pemelihara Alam Semesta!", hiba Prabu Tirtabawana sembari berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dari tekanan kaki kanan sosok agung berkulit biru terang ini.


"Setelah kau kalah, kau baru sadar dengan kesalahan mu, Prabu Tirtabawana?!


Menggelikan sekali..", ucap sosok agung berkulit biru terang penjelmaan Jaka Umbaran ini segera.


Tiba-tiba saja, Prabu Tirtabawana segera teringat akan tujuan dari kedatangan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja ke Kerajaan Siluman Alas Purwo. Dia pun langsung berkata,


"Sebagai ganti nyawa hamba, akan hamba berikan Air Prawitasari untuk Hyang Wisnu.


Mohon ampunan nya..."

__ADS_1


__ADS_2