JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Arah Yang Sama


__ADS_3

Mendengar ucapan musuh bebuyutannya, Iblis Biru segera tajamkan penglihatan ke arah yang ditunjukkan dengan lirikan mata Setan Merah. Memang ada dua macam tarikan nafas yang samar-samar terasa dari kejauhan. Satu nafas begitu tenang dan satunya lagi nafas yang mirip dengan nafas binatang buas. Kepandaian ilmu perasa yang di asah oleh Iblis Biru selama puluhan tahun benar-benar berguna untuk merasakan kehadiran musuh meskipun mereka tersembunyi dari pandangan mata.


"Selama mereka berdua tidak ikut campur, aku tidak keberatan jika mereka ingin menyaksikan bagaimana aku menghajar mu, setan tua...


Sekarang persiapkan diri mu untuk menyampaikan salam ku pada Dewa Yamadipati!!", Iblis Biru segera merentangkan tangannya lebar-lebar dan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya. Cahaya biru berhawa dingin menyebar di sekeliling kedua lengan sang pendekar tua.


"Tunggu dulu Sanjaya..


Lebih baik aku urus dulu dua tikus pengintip itu sebelum kita lanjutkan pertarungan. Aku tidak nyaman dengan kehadiran mereka", setelah berkata demikian, Tunggulherang Si Setan Merah segera melesat cepat kearah tempat yang dia tuju. Segera ia hantamkan kedua kepalan tangannya ke arah tempat yang menjadi persembunyian Jaka Umbaran dan Resi Simharaja.


"Tikus-tikus pengintip, keluar kalian dari tempat itu..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt.....!!!!!"


Gelombang cahaya tipis merah menyala berhawa menerabas cepat kearah rimbun pepohonan dimana Jaka Umbaran dan Resi Simharaja bersembunyi. Tepat sebelum gelombang cahaya merah menyala menghantam, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Blllaaammmmmmmm!!!


Setelah lolos dari sergapan cepat Tunggulherang Si Setan Merah, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja berhenti di jarak 4 tombak jauhnya dari tempat kedua pendekar tua itu berada.


"Siapa kalian dan mau apa mengintip disini?!", hardik Sanjaya Si Iblis Biru sembari menatap tajam ke arah keduanya.


"Maaf Kisanak..


Pertarungan kalian sungguh riuh. Kami sedang dalam perjalanan menuju ke Kawali, tertarik untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tidak ada maksud lain, kami hanya penasaran untuk melihatnya", ucap Jaka Umbaran dengan santun.


"Apa kau pikir kami percaya dengan semua omongan mu? Kau harus diberi pelajaran!", setelah berkata demikian, Tunggulherang yang baru saja menjejak tanah segera melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya. Cahaya merah menyala berhawa panas mengikuti gerakan tangan sang pendekar sepuh.


Jaka Umbaran dengan tenangnya menyambut kedatangan serangan cepat pendekar tua itu dengan tapak tangan kanan nya yang sudah di lambari Ajian Guntur Saketi.


Blllaaammmmmmmm!!!!

__ADS_1


Tunggulherang Si Setan Merah terpental mundur ke belakang. Dia dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan satu tangan menyangga tubuh meskipun gerakan tubuhnya masih juga tersurut mundur beberapa langkah. Sementara itu, Jaka Umbaran sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Resi Simharaja menggeram keras sembari bersiap untuk maju.


Sanjaya Si Iblis Biru yang menyaksikan itu semua terperanjat kaget.


'Pendekar muda ini mampu menahan hantaman Ajian Setan Api dengan tenang. Bahkan tubuhnya pun tidak bergerak sama sekali dari tempatnya semula. Aku saja harus susah payah menghadapi ajian itu. Siapa pendekar muda ini sebenarnya?'


Tunggulherang Si Setan Merah mendengus keras karena sedikit terkejut dengan kemampuan beladiri pemuda tampan ini. Meskipun dia belum sepenuhnya mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki, namun tiga perempat tenaga dalam nya sudah dia keluarkan. Dia berniat untuk bertarung habis-habisan. Namun saat dia hendak kembali bergerak, Sanjaya Si Iblis Biru segera memberi isyarat kepada musuh bebuyutannya itu untuk menahan diri.


"Pendekar muda, kau sungguh luar biasa..


Supaya tidak terjadi kesalahpahaman, jelaskan pada ku siapa nama mu dan darimana asal mu?", ucap Sanjaya Si Iblis Biru segera. Dia begitu penasaran dengan pendekar muda yang ada di depannya ini.


"Saya Jaka Umbaran, Kisanak sekalian..


Asal ku dari Pertapaan Watu Bolong di Gunung Lawu. Kami jauh dari tempat asal karena ada urusan ke Kawali", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.


Kaget kedua pendekar tua itu tatkala Jaka Umbaran menyebut nama nya. Beberapa waktu belakangan ini, nama Jaka Umbaran begitu terkenal di dunia persilatan Tanah Jawadwipa setelah berhasil menjungkalkan Dewa Kalong Merah dalam acara pertemuan para pendekar. Di tambah lagi, berita terbaru yang terkait dengan Jaka Umbaran yang berhasil menghabisi nyawa Dewa Guru Resi Atmabrata dan membongkar rahasia yang dimiliki oleh pimpinan Kedewaguruan Astanaraja itu, membuat nama Jaka Umbaran begitu harum di dunia persilatan wilayah kulon. Berita ini tentu saja sampai juga di telinga kedua pendekar tua dari wilayah tengah Kerajaan Galuh Pakuan ini.


Dan hari ini mereka bertemu dengan Jaka Umbaran dan merasakan langsung kemampuan beladiri pendekar muda yang sedang naik daun ini. Tentu saja keduanya juga bisa mengukur kemampuan beladiri Jaka Umbaran setelah adu ilmu kesaktian baru saja. Jika keduanya bergabung pun belum tentu bisa mengalahkan sang pendekar muda, apalagi seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian putih yang selalu di dekatnya tentu tidak akan tinggal diam jika kawannya di keroyok.


"Ah rupanya ini hanya kesalahpahaman semata. Saat ini rupanya kami sedang berhadapan dengan Pendekar Gunung Lawu yang tersohor..


Maafkan kami yang sudah tua dan kurang mengerti dunia luar. Saya Sanjaya dari Pangandaran. Orang dunia persilatan menjuluki saya sebagai Si Iblis Biru. Kalau dia ini adalah Tunggulherang Si Setan Merah dari Lembah Tak Bernama di wilayah Mandala Subanglarang", ucap Sanjaya dengan sopan.


"Salam kenal Setan Merah dan Iblis Biru..


Tidak perlu begitu sopan dengan bocah yang baru saja turun gunung seperti saya. Sebagai yang lebih muda, seharusnya saya yang lebih sopan kepada generasi sepuh. Kalau tidak keberatan, kami bersama dengan beberapa teman sedang bermalam tak jauh dari sini. Silahkan bergabung jika bersedia", tawar Jaka Umbaran yang langsung membuat Sanjaya Si Iblis Biru menoleh ke arah Tunggulherang. Kakek tua berbaju merah itu mengangguk setuju karena tidak ingin menyinggung perasaan Jaka Umbaran.


Setelah itu, mereka berempat pun segera melesat cepat kearah tempat bermalam rombongan kecil Jaka Umbaran. Betapa terkejutnya Buyut Wangsanaya melihat siapa sosok yang datang bersama Jaka Umbaran dan Resi Simharaja.


"Hohohoho..

__ADS_1


Ternyata kau yang membuat keributan, iblis tua. Sudah hampir mampus tetap saja berulah", ucap Buyut Wangsanaya yang segera membuat Sanjaya Si Iblis Biru mendelik kereng.


"Eh Tangan Buntung, apa kau ingin kehilangan satu-satunya lengan mu itu ha?


Walaupun kau pernah menyelamatkan nyawa ku tapi jangan kira aku tidak tega untuk membuntungi satu tangan mu itu jika kau bicara seenak perut mu", mendengar ucapan pedas dari Iblis Biru, Buyut Wangsanaya pun terpancing emosi nya.


"Coba saja kalau kau bisa!!


Apa kau pikir aku takut dengan Ajian Gunung Runtuh mu itu Iblis Tua?", balas Buyut Wangsanaya segera.


"Hei hei hei.. Kalian ini kawan lama, kenapa harus saling ancam begitu? Bukankah seharusnya kalian berdua berbincang dengan tenang?", Tunggulherang Si Setan Merah mencoba untuk menengahi perdebatan antara Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu dengan Sanjaya Si Iblis Biru. Kedua orang tua itu langsung menoleh ke arah Tunggulherang sambil berbarengan berkata, " DIAM KAU!!!"


Menyadari bahwa pembicaraan mereka menjadi memanas, Jaka Umbaran tak bisa tinggal diam.


"Ehemmm ehheemmmm...


Semuanya tolong tenang. Kita semua disini karena ingin beristirahat bersama. Jadi aku minta semua pihak bisa menahan diri untuk tidak ribut karena masalah omongan".


Mendengar ucapan Jaka Umbaran ini, mereka bertiga yang sempat bersitegang akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan kemarahan masing-masing. Melihat itu, Jaka Umbaran tersenyum penuh arti sedangkan Nyai Larasati dan Dewi Rengganis menarik nafas lega karena keributan antar pendekar sepuh itu bisa menjadi malapetaka jika tidak segera ditangani.


Setelah itu mereka duduk bersama melingkari api unggun yang berkobar membakar ranting kayu kering.


"Saya masih belum mengerti, kenapa Aki Sanjaya dan Aki Tunggulherang sampai bertemu di tempat ini. Kalau boleh tahu bisakah kalian menceritakan sedikit kepada ku?", ucap Jaka Umbaran memecah keheningan antara mereka.


Satu persatu mulai membuka suara. Ternyata mereka berdua mendapat undangan dari Mangkubumi Ranayasa untuk membantu penjagaan di seputar Kawali karena ada desas-desus bahwa Kawali tengah diincar oleh pemberontakan yang di dalangi Raja Mandala Tanjung Sengguruh, Prabu Hyang Linggakancana, putra mantu Prabu Langlangbumi yang memperistri putri sang raja dari selir nya, yang ingin merebut kekuasaan dari Kawali. Beberapa pendekar berilmu tinggi lainnya konon kabarnya juga telah diundang untuk membantu Kotaraja Kawali. Tak sengaja keduanya bertemu di tempat itu dan akhirnya mengadu ilmu kesaktian setelah saling olok olok terhadap ilmu kanuragan yang dimiliki oleh lawannya.


"Apa Pendekar Gunung Lawu juga diundang untuk hadir di Kotaraja Kawali seperti kami?", tanya Sanjaya Si Iblis Biru setelah merampungkan ceritanya.


"Kami tidak tahu, Aki Sanjaya. Kebetulan saja, kami sedang dalam perjalanan menuju Kawali atas undangan Gusti Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri untuk mengobati putrinya yang sedang sakit. Urusan pemberontakan itu kami malah tidak tahu menahu sama sekali", ucap Jaka Umbaran sembari melemparkan potongan kayu kering ke perapian yang mulai mengecil.


Hemmmmmmm..

__ADS_1


"Istana Kawali memang dalam masalah besar. Konon kabarnya, para prajurit Mandala Tanjung Sengguruh menyaru dalam rombongan pemberontak yang dipimpin oleh seorang pendekar pilih tanding yang berasal dari selatan Gunung Galunggung.Namanya adalah,


Si Jerangkong Hitam"


__ADS_2