JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Dedemit Kali Progo


__ADS_3

Dengan petunjuk yang diberikan oleh Gendol, Jaka Umbaran memimpin rombongan kecil itu segera ke arah Kota Kadipaten Bhumi Sambara. Sebentar lagi malam akan segera tiba dan mereka harus mencapai kota itu agar tidak bermalam di hutan.


Bhumi Sambara adalah salah satu kadipaten wilayah pesisir selatan Kerajaan Panjalu. Bersama dengan Paguhan, Wengker, Tanggulangin dan Singhapura, dia adalah salah satu wilayah yang menjadi daerah pesisir yang cukup terpencil. Ombak di Laut Selatan yang tinggi dan tak bisa di layari oleh kapal dagang besar, menyebabkan daerah pesisir selatan kurang diminati oleh para pedagang mancanegara sebagai pelabuhan dagang mereka. Para pedagang mancanegara itu lebih memilih pada jalur pelayaran di Laut Utara atau Laut Jawa yang lebih tenang airnya. Oleh karena itu, wilayah pesisir Utara Kerajaan Panjalu seperti Kalingga, Rajapura, Kembang Kuning, Muria, Lasem dan Matahun memiliki pelabuhan dagang yang cukup ramai dikunjungi oleh para pedagang mancanegara itu. Itu sebabnya, kawasan pesisir Utara lebih makmur dibandingkan dengan kawasan selatan.


Di samping itu juga, meskipun juga menjadi penghasil beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Panjalu kala itu, namun hasil pertanian Kadipaten Bhumi Sambara lebih banyak menghasilkan palawija seperti jagung dan singkong karena sebagian besar wilayahnya terdiri dari tanah perbukitan yang tandus dan berbatu. Hanya sekitar wilayah Kali Progo, Kali Opak dan beberapa anak sungai nya saja yang memiliki lahan pertanian yang subur.


Penguasa Kadipaten Bhumi Sambara adalah Adipati Dadung Amuksa, seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan wajah berkumis tebal dan janggut yang lebat. Penerus tahta Kadipaten Bhumi Sambara ini menjadi penguasa setelah merebut kekuasaan dari tangan putra Adipati Arya Natakusuma yang lemah. Dia masih sepupu Adipati Arya Natakusuma yang memberontak pada akhir masa pemerintahan Prabu Jayengrana dan menggunakan kecacatan politik itu sebagai senjata untuk merebut kekuasaan dari tangan Arya Pancawala, putra Adipati Arya Natakusuma. Pihak Istana Kotaraja Daha pun tidak mau ikut campur dalam urusan ini, karena permasalahan sebelumnya dengan Adipati Arya Natakusuma hingga Dadung Amuksa berhasil meraih kekuasaan hanya dengan sedikit usaha saja. Setelah naik ke tampuk kekuasaan, Dadung Amuksa pun berhasil melenyapkan seluruh keturunan Adipati Arya Natakusuma yang bisa menjadi duri dalam daging bagi pemerintahannya.


Matahari sudah hampir terbenam di langit barat saat Jaka Umbaran dan dua pengikutnya sampai di bantaran Kali Progo. Beberapa orang penduduk Wanua Banjararum mulai menyalakan lampu penerangan rumah yang berisi minyak jarak. Beberapa orang yang tinggal dekat dermaga penyeberangan pun telah kembali ke rumah masing-masing. Para nelayan pencari ikan juga terlihat memanggul hasil tangkapan mereka, bersiap untuk pulang.


"Wah ternyata tidak bisa sampai di Kota Kadipaten Bhumi Sambara, Ndoro Pendekar.


Kita terpaksa harus menginap disini", ujar Gendol sambil menjajarkan kudanya di samping Jaka Umbaran. Matanya celingukan kesana kemari melihat para pekerja perahu penyeberangan mulai mengikat tali pengikat perahu penyeberangan di dermaga.


"Apa boleh buat?


Kau punya kenalan tidak disini? Kalau ada kita bermalam di tempat nya", Jaka Umbaran menatap ke arah Gendol.


"Wah kalau itu tidak ada Ndoro. Coba saja aku tanyakan pada penduduk sekitar tempat ini", setelah berkata demikian, Gendol melompat turun dari kudanya meninggalkan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja di kuda mereka masing-masing.


Seorang lelaki tua berjanggut pendek putih dengan tubuh sedikit kurus dengan pakaian seadanya, terlihat sedang sibuk mengikat kayu bakar saat Gendol mendekatinya.


"Kisanak, mau tanya..


Daerah sini ada tempat yang bisa digunakan untuk bermalam tidak? Kami pengelana dari jauh, kemalaman sampai disini", tanya Gendol yang membuat lelaki tua itu segera menoleh ke arah Gendol dan menghentikan pekerjaannya.


"Tidak ada penginapan di tempat ini, Kisanak. Adanya di Kota Kadipaten Bhumi Sambara.


Tapi kalau kalian membutuhkan tempat bermalam, kalian bisa di tempat ku. Jika mau, cepatlah. Kalau malam hari tiba, daerah sini tidak aman", ucap lelaki tua itu sembari meneruskan pekerjaannya. Gendol langsung menoleh ke arah Jaka Umbaran dan memberi isyarat jempol tangan sebagai tanda bahwa dia berhasil mendapatkan tempat bermalam.


Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera mengarahkan kuda tunggangan mereka mengikuti langkah lelaki tua itu bersama Gendol. Sembari memanggul kayu bakar, lelaki tua berjanggut pendek itu mengajak mereka bertiga ke sebuah rumah berdinding kayu yang ada di ujung pemukiman penduduk.

__ADS_1


Sesampainya di rumah itu, lelaki tua itu segera meletakkan barang bawaannya di tepi dinding rumah. Setelah itu ia segera melangkah ke pintu rumah sambil mengetuk dengan keras.


"Nyi.. Nyi...!


Buka pintunya.. Ada tamu yang datang kemari. Cepat buka pintu nya", ucap lelaki tua itu sedikit keras. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu.


Cekleekk Krriiieeeeeettttthhhh!!


"Ada apa Ki? Kenapa kau teriak-teriak begitu?", wajah seorang wanita tua dengan keriput menghiasi wajahnya.


"Ini Nyi, ada pengelana dari jauh kemalaman di perjalanan. Mereka membutuhkan tempat bermalam jadi mereka aku ajak kemari.


Sana siapkan air minum untuk mereka..", ucap lelaki tua itu segera. Sejenak sebelum kembali melangkah masuk ke dalam rumah, wanita tua itu menatap ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Setelah yakin bahwa mereka orang baik-baik, perempuan tua itu tak berbicara apa-apa lagi selain mundur ke arah dapur.


Malam itu, Jaka Umbaran dan para pengikutnya menginap di kediaman Ki Wugu, lelaki tua baik hati yang memberikan tumpangan bermalam tanpa membayar pada nya. Istrinya Nyi Seti juga cukup ramah dengan mereka. Bahkan perempuan tua itu langsung menghidangkan makanan untuk mereka bertiga sebagai hidangan makan malam. Ada beberapa potong pisang matang rebus dan ubi jalar rebus berikut wedang jahe untuk menghangatkan badan. Gendol yang sedikit kelaparan, tak henti-hentinya mengunyah ubi jalar manis ini sembari mengobrol dengan mereka.


"Jujur aku penasaran dengan omongan mu tadi Ki..


Ki Wugu dan Nyi Seti saling berpandangan sejenak mendengar pertanyaan Gendol. Sebelum berbicara, lelaki tua berjanggut pendek itu melirik ke arah sela-sela dinding kayu rumah nya.


"Maaf Den Gendol.. Di daerah sini sedang ada dedemit yang mencari mangsa. Korbannya adalah para gadis remaja dan bayi. Kau lihat sendiri bukan kalau perkampungan ini hanya berisi para orang dewasa dan orang tua saja?


Para gadis remaja dan bayi bayi kami terpaksa kami ungsikan ke kediaman Ki Lurah karena disana ada penjaga yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Selain itu, salah satu sesepuh Wanua Banjararum yang juga dukun sakti ikut berjaga di sana jadi kami lebih tenang meskipun anak-anak kami tidak bersama keluarga ", ucap Ki Wugu segera.


Ganti Jaka Umbaran dan Resi Simharaja yang mengerutkan keningnya dalam-dalam karena mendengar penuturan Ki Wugu.


"Memang dedemit apa yang mencari korban jiwa dengan cara seperti itu, Ki Wugu?", tanya Jaka Umbaran yang langsung penasaran.


"Kata Ki Barjo, sesepuh Wanua Banjararum yang juga dukun sakti itu, dedemit itu adalah branjangkawat Den Umbaran..


Makanya selepas petang hari datang, kami semua di larang untuk berkeliaran di luar rumah. Takut jika ketemu sama dedemit itu dan menjadi korban nya hiiiiiiiii...", Ki Wugu yang polos bergidik ngeri membayangkan jika sampai dia bertemu dengan dedemit yang menghantui para penduduk Wanua Banjararum ini.

__ADS_1


Belum sempat Jaka Umbaran menanggapi omongan lelaki tua itu, tiba-tiba...


Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwwwh!!


Lolongan panjang serigala terdengar dari hutan di utara wanua Banjararum. Suara menyeramkan itu langsung mengejutkan semua orang. Lolongan serigala itu terdengar bersahutan seakan menandakan bahwa ada sesuatu yang ghaib sedang terjadi. Setelah itu, udara terasa semakin dingin bersamaan dengan munculnya kabut tebal yang turun menutupi seluruh tempat itu. Membuat suasana terasa semakin menakutkan.


Resi Simharaja mengendus-endus seperti sedang membaui sesuatu. Setelah yakin dengan apa yang sedang terjadi, dia menatap ke arah Jaka Umbaran. Melihat Resi Simharaja memberikan isyarat tentang sesuatu, Jaka Umbaran segera mengangguk mengerti.


"Ki Wugu dan Nyi Seti, aku ijin keluar sebentar. Ada sesuatu yang perlu aku lihat.


Ndol, kau tinggal saja di sini", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera bangkit dari tempat duduknya.


"Mau kemana Den Umbaran? Sebaiknya jangan keluar rumah. Sangat berbahaya Den, takutnya nanti ketemu dengan branjangkawat", tanya Nyi Seti segera dengan harapan agar Jaka Umbaran mengurungkan niatnya untuk keluar rumah.


"Nyi Seti tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Kalau boleh tahu, dimana letak kediaman lurah Wanua Banjararum?", mendengar pertanyaan Jaka Umbaran, Ki Wugu segera menunjuk ke arah selatan.


"Ikuti jalan ini lurus ke selatan.


Nanti ketemu dengan rumah besar dengan pendopo, itu rumah Ki Lurah. Sekitar 200 tombak jauhnya dari sini", sahut Ki Wugu segera.


"Kalau begitu, kalian tunggu saja kami kembali. Ndol, ingat pesan ku", Gendol mengangguk mengerti. Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera melangkah keluar rumah dimana Ki Wugu yang ketakutan langsung menutup pintu rumah rapat-rapat.


Dengan satu hentakan keras di tanah, tubuh Jaka Umbaran melenting tinggi ke udara. Bersama dengan Resi Simharaja, mereka melesat cepat diantara atap-atap rumah penduduk Wanua Banjararum menuju ke arah selatan.


Hanya dalam hitungan kejap mata saja, keduanya telah mendarat di pucuk pohon rimbun yang berhadapan dengan rumah besar yang ditunjukkan oleh Ki Wugu. Dengan tatapan mata yang tajam, keduanya mengamati situasi di sekitar tempat itu.


Di sekeliling tempat tinggal Lurah Wanua Banjararum, puluhan orang bersenjata nampak tegang melihat sekeliling tempat mereka. Sepertinya mereka sedang dilanda kepanikan setelah suara lolongan serigala bersahutan yang selalu menjadi isyarat kedatangan dedemit pengacau keamanan Wanua Banjararum muncul. Mereka adalah para penduduk desa bersama beberapa pendekar sewaan yang sengaja di datangkan untuk membantu masyarakat.


Dari arah timur tepatnya dari pinggiran Kali Progo yang berjarak sekitar 100 depa dari rumah Lurah Wanua Banjararum, sesosok bayangan hitam muncul membelah kabut tebal yang menutupi kawasan ini. Salah seorang diantara penduduk yang melihat itu, langsung berteriak lantang,


"Dedemit itu sudah muncul..!!!"

__ADS_1


__ADS_2