
Dewi Rengganis terdiam mendengar jawaban sang guru. Bagaimanapun, dia masih sangat muda saat Prabhaswara terpaksa menitipkannya kepada Nyai Larasati. Ingatan tentang kehidupan masa lalu nya pun hanya samar-samar, bahkan sosok wanita yang telah melahirkannya pun tak bisa di ingat nya dengan pasti. Hanya sebuah kalung perak berbandul liontin emas berukir bunga cempaka saja yang tersisa dari kenangan sang ibu yang telah tiada. Sedangkan sosok ayah yang meninggalkan pada Nyai Larasati untuk di asuh, hanya samar-samar saja dalam ingatan. Dia hanya ingat bahwa ayahnya adalah seorang lelaki tampan dengan kumis tebal dan tatapan mata yang teduh.
Lama Dewi Rengganis menatap wajah tua Prabhaswara. Dia terus berupaya untuk mencari kesamaan antara sosok lelaki paruh baya di depan nya itu dengan ayah yang ada dalam ingatan nya. Tiba-tiba saja, air mata mengembang di pelupuk mata Dewi Rengganis yang kemudian segera tumpah menjadi bulir-bulir air mata.
"Kanjeng Romo....!!!"
Dewi Rengganis segera menubruk tubuh kekar Prabhaswara. Meskipun sudah berumur, namun sosoknya masih tetap seperti saat masih muda dulu. Prabhaswara langsung menyambut pelukan kerinduan dari sang putri yang telah lama ia tinggalkan.
"Putri ku...
Maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu hingga kau tumbuh dewasa seperti ini..", ucap Prabhaswara sambil mendekap erat putri semata wayangnya itu. Tak terasa air mata mengalir dari sudut mata lelaki paruh baya ini. Ada kerinduan bertahun-tahun lamanya yang terpaksa harus dia tahan agar sang putri selamat tanpa merasakan penderitaan yang dialaminya.
Dewi Rengganis tak menjawab omongan sang ayah, namun terus sesenggukan sambil memeluk tubuh ayahnya. Ada berjuta perasaan yang seakan ingin dia ungkapkan untuk sang ayah, namun dia tak mampu mengungkapkan. Hanya air mata saja yang terus mengalir keluar.
Pemandangan mengharukan itu membuat semua orang terdiam tanpa bicara sepatah katapun. Jaka Umbaran, Nyai Larasati dan Resi Simharaja seolah memberikan ruang tersendiri bagi ayah dan anak itu untuk melepas rindu setelah hampir 15 tahun tidak bertemu.
Setelah cukup menumpahkan segala kerinduan di hati nya, Prabhaswara segera melepaskan pelukan sang putri. Lelaki paruh baya itu menatap wajah cantik putrinya yang cantik meskipun penuh dengan bekas air mata di pipi. Sambil tersenyum penuh arti, Prabhaswara segera mengusap sisa air mata yang masih terlihat di sudut mata putri s semata wayangnya.
"Kau sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, Rengganis. Mirip sekali dengan ibu mu", ucap Prabhaswara sambil tersenyum tipis.
"Kanjeng Romo kenapa meninggalkan ku sendirian bersama guru? Apa kanjeng romo tidak sayang dengan ku? Hiks.."
Mendengar jawaban itu, Prabhaswara menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kau jangan salah sangka. Aku terpaksa menitipkan mu pada Larasati agar kau bisa selamat dari pengejaran para prajurit Kadipaten Paguhan terhadap aku dan keluarga ku. Ibu mu harus kehilangan nyawa demi menyelamatkan mu. Aku yang tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan mu, terpaksa meninggalkan mu untuk di rawat oleh Larasati meskipun aku sangat menyayangimu mu anak ku.
Nanti saja, akan ku ceritakan semuanya pada mu. Romo berjanji akan mengatakan semua hal yang ingin kamu ketahui. Sekarang lihatlah, semua orang sedang menunggu kita", ucap Prabhaswara segera. Dewi Rengganis pun seketika itu juga tersadar bahwa bukan hanya ia dan ayahnya yang ada di tempat itu.
"Larasati..
Kalian semua mau kemana? Aku ingin berbincang dengan mu tapi tidak disini", ujar Prabhaswara sembari menatap ke arah Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang masih berdiri mematung melihat suasana yang haru biru itu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku berniat pulang ke Lembah Anggrek Jingga di barat Kali Serayu, Kakang Prabhaswara.
Tapi kalau kau masih ingin bersama dengan putri mu, aku tidak akan keberatan jika harus ikut dengan tujuan mu", balas Nyai Larasati segera.
Hemmmmmmm..
Sebaiknya memang kita kesana saja. Lebih aman dibandingkan dengan tempat ini. Sebelum senja kita bisa sampai di Lembah Anggrek Jingga kalau segera berangkat sekarang", jawab Prabhaswara sembari mengangguk mengerti.
"Oh iya, perkenalkan ini adalah Jaka Umbaran dan pengiring setia nya, Resi Simharaja. Mereka berdua sudah bersama dengan aku dan Rengganis sejak di Lembah Kali Gung.
Kebetulan juga dia pernah menyelamatkan nyawa putri mu. Jadi kau harus juga baik pada nya", Nyai Larasati tersenyum penuh arti. Melihat itu, Prabhaswara melirik ke arah Dewi Rengganis. Melihat wajah cantik Rengganis yang tersipu malu, lelaki paruh baya itu langsung paham bahwa ada hubungan istimewa antara putrinya dan pemuda tampan berbaju coklat tua ini.
Hemmmmmmm..
"Apakah kau Jaka Umbaran yang kemarin telah mengalahkan Dewa Kalong Merah, anak muda?", tanya Prabhaswara segera. Rupanya berita terkait pemilihan pengatur wilayah dunia persilatan telah menyebar luas di seluruh penjuru Tanah Jawadwipa.
"Saya hanya beruntung saja Paman Prabhaswara. Kebetulan saja Dewa Kalong Merah sedikit lengah dan kurang waspada, jadi saya bisa menjatuhkannya", jawab Jaka Umbaran dengan rendah hati.
Ayo kita segera ke kediaman Larasati. Mumpung hari masih siang.."
Kini dengan tambahan Prabhaswara, rombongan kecil itu kembali melanjutkan perjalanan. Prabhaswara berkuda bersama dengan sang putri. Mereka berlima pun segera bergegas menuju ke arah timur.
Setelah melewati beberapa wanua dan Pakuwon di wilayah Kadipaten Paguhan, menjelang sore hari mereka berlima sampai di bantaran Kali Serayu yang dinamakan Lembah Anggrek Jingga yang menjadi tempat tinggal Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang kini menjadi pengatur wilayah selatan dunia persilatan.
Mereka segera memasuki sebuah rumah kayu yang berpagar kayu gelondongan sebesar lengan orang dewasa. Rumah berdinding kayu dengan atap dari alang-alang kering dan sirap aren ini nampak bersih dan tak berdebu meskipun beberapa bulan telah ditinggalkan oleh Nyai Larasati dan Dewi Rengganis. Beberapa tumbuhan dan bebungaan yang di tanam masih nampak segar. Di tempat inilah Dewi Rengganis menghabiskan waktu masa kecil nya di bawah asuhan Nyai Larasati.
Seorang wanita muda dengan pakaian serba pas-pasan berjalan mendekat sembari menggendong kayu bakar nampak muncul dari samping rumah. Melihat kedatangan nya, Nyai Larasati tersenyum lebar.
"Sari ..
Rupanya kau yang merawat rumah ku selama aku tidak ada. Apa Bendol yang meminta mu melakukannya?", tanya Nyai Larasati segera.
__ADS_1
"Hehehehe, saya tidak di perintah oleh Juragan Bendol Nyai..
Nyai sudah banyak membantu ku dan para penduduk di luar lembah ini jadi sudah sepantasnya jika saya juga membantu Nyai kembali meskipun hanya dengan tenaga kasar yang saya miliki. Lagipula, saya sudah tidak punya siapa-siapa, jadi tidak salahnya jika saya tinggal sementara di tempat mu ini kan Nyai?", ujar perempuan muda yang bernama Sari itu.
"Kapan pun kau mau, kau boleh ikut tinggal di sini, Sari..
Kalau kau memang ingin ikut tinggal, bantulah aku menyiapkan air minum untuk para tamu ku ini. Kau bersedia, bukan?", mendengar jawaban itu, Sari langsung mengangguk mengerti sambil tersenyum lebar. Gadis desa itu segera meletakkan ikatan kayu bakar di punggungnya dan bergegas menuju ke arah dapur. Sementara itu Jaka Umbaran dan kawan-kawan melangkah ke serambi kediaman Nyai Larasati bersama-sama.
Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Sari segera sibuk menyiapkan makanan untuk makan malam mereka sedangkan Jaka Umbaran, Prabhaswara dan Resi Simharaja duduk berbincang di serambi rumah.
"Maaf jika saya lancang, Paman Prabhaswara.
Kebetulan kita bertemu jadi saya bisa menyampaikan sebuah amanat dari seorang kawan", Jaka Umbaran segera mengeluarkan kantong kain hitam dari balik bajunya dan memberikan nya pada Prabhaswara.
"Apa ini Pendekar Gunung Lawu?", tanya Prabhaswara keheranan sembari menerima benda yang diberikan oleh Jaka Umbaran.
"Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang bernama Mpu Wanakerta. Lelaki tua itu dalam keadaan sekarat mengatakan bahwa Paman Prabhaswara adalah putra kandung Adipati Lokananta. Kata beliau sebelum ajalnya, benda itu adalah bukti bahwa Paman Prabhaswara lebih berhak atas tahta Kadipaten Paguhan daripada Adipati Lokawijaya", ucap Jaka Umbaran segera. Mendengar ucapan itu, Prabhaswara tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia segera membuka kantong kain hitam itu dan menemukan sepucuk surat yang tertulis di atas daun lontar.
Dalam surat yang tertulis atas nama Ratu Banuwati permaisuri Adipati Lokananta, memberitahukan kepada Patih Pandusena bahwa dia sedang hamil setelah menghabiskan malam bersama dengan nya saat Adipati Lokananta sedang dalam pisowanan agung tahunan di Kotaraja Daha. Ini adalah bukti kuat bahwa Adipati Lokawijaya bukan anak sah Adipati Lokananta, melainkan anak haram hasil hubungan gelap dengan Patih Pandusena. Setelah membaca surat ini, Prabhaswara langsung mengerti mengapa Patih Pandusena menyingkirkan semua keturunan Adipati Lokananta setelah mendiang sang Adipati tutup usia. Rupanya dia ingin mendudukkan anak haram nya sebagai penguasa Kadipaten Paguhan.
"Keparat Pandusena, keparat Lokawijaya..!!
Kalian berdua harus menanggung hukuman atas semua perbuatan jahat kalian. Aku Prabhaswara, putra sah Kanjeng Romo Adipati Lokananta akan menuntut balas atas kematian saudara-saudara ku dan perlakuan jahat kalian berdua selama bertahun-tahun.
Akhirnya, aku mendapatkan satu lagi bukti kuat bahwa aku harus segera merebut kembali tahta Kadipaten Paguhan. Terimakasih banyak atas bantuan mu, Jaka Umbaran", ucap Prabhaswara seraya menggenggam erat surat di tangan nya itu.
"Maksud Paman Prabhaswara apa? Maaf aku kurang mengerti", Jaka Umbaran menatap wajah tampan penuh kedewasaan Prabhaswara segera. Mendengar pertanyaan itu, Prabhaswara menghela nafas berat sebelum berbicara dengan nada suara rendah,
"Sebenarnya, tujuan ku mencari keberadaan Rengganis adalah sebagai bagian dari rencana besar ku. Bersama dengan Mpu Wiritanaya dari wilayah Pakuwon Panjer, aku sudah menyusun kekuatan untuk melawan ketidakadilan yang di alami oleh para penduduk Kadipaten Paguhan sekarang ini. Namun sebelum itu terjadi, aku ingin bertemu dengan putri ku Rengganis. Kebetulan saja, aku yang baru kembali dari Pakuwon Kawunganten ingin ke arah Utara untuk mencari dukungan dari masyarakat barat Paguhan, malah melihat Larasati bersama dengan mu jadi aku memutuskan untuk mengikuti kalian.
Asal kau tahu saja, Pendekar Gunung Lawu,
__ADS_1
Aku akan memberontak pada Adipati Lokawijaya.."