
"Dua pedang pusaka itu..
Itu adalah pusaka milik perguruan silat kami yang di curi oleh Malaikat Pembunuh Bermata Iblis. Kembalikan pada kami", ucap seorang pemuda tampan bertubuh kekar dengan pakaian serba kuning sembari menunjuk ke arah Pedang Elang Putih dan Pedang Lobang Neraka di tangan Jaka Umbaran.
Dia adalah Udhayana, putra Resi Mpu Diradameta pimpinan Padepokan Gunung Malabar di kawasan barat wilayah Kadipaten Paguhan. Julukannya adalah Pangeran Kuning Gunung Malabar karena ayahnya yang seorang resi sekaligus pendekar sepuh dunia persilatan sangat di hormati oleh Adipati Lokawijaya, penguasa Kadipaten Paguhan saat ini.
Ketampanan pemuda inilah yang membuat nya tersohor dengan sebutan pangeran meskipun dia bukan orang dari kalangan bangsawan. Konon kabarnya, banyak putri putri bangsawan yang jatuh hati pada Udhayana karena ketampanannya. Selain berilmu tinggi, dia di gadang-gadang akan menjadi menantu dari Adipati Lokawijaya sehingga julukan sebagai pangeran membuat nya punya sikap yang sedikit angkuh dan sombong.
"Apa buktinya jika pusaka ini adalah milik perguruan silat mu, Pangeran Kuning?
Aku tidak melihat nama perguruan mu tertera di atas sarung maupun bilah pedang itu. Jangan mengada-ada..", sahut Dewi Rengganis dengan ketus. Dia sudah lama tidak suka dengan sikap sombong pemuda sok ganteng itu.
"Gadis jelek, jaga mulut tajam mu itu jika kau masih sayang dengan nyawa mu..
Paman Gupalawiya, terangkan kepada mereka. Aku malas bicara dengan perempuan jelek itu", Udhayana menoleh ke arah seorang lelaki paruh baya berpakaian senada dengan nya yang berdiri tak jauh dari tempat nya berdiri. Lelaki paruh baya itu bergegas mendekati mereka.
"Maaf jika kami kurang sopan, Bidadari Angin Selatan..
Tapi yang di ucapkan oleh Pangeran Kuning ini benar adanya. Dua pedang pusaka di tangan pemuda itu adalah milik perguruan kami yang di curi oleh Dewa Maling sepuluh tahun yang lalu. Kami terus melacak keberadaan pencuri durjana itu. Entah bagaimana caranya, kami dengar pedang itu jatuh ke tangan Malaikat Pembunuh Bermata Iblis. Dan sekarang ada di tangan kalian. Tentu saja itu menjadi tanda tanya besar yang harus dijelaskan", ucap lelaki paruh baya yang bernama Mpu Gupalawiya, sesepuh Padepokan Gunung Malabar dengan sopan.
"Aku mendapatkan nya setelah membunuh Malaikat Pembunuh Bermata Iblis. Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan kawan ku ini menjadi saksi mata yang melihat kejadian itu.
Jadi kami tidak mencuri nya dari Malaikat Pembunuh Bermata Iblis", ucap Jaka Umbaran sembari menatap tajam ke arah Udhayana. Dia kurang suka dengan sikap angkuh pemuda ini.
Mendengar jawaban itu, Udhayana pun segera menoleh ke arah Mpu Gupalawiya. Nama besar Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis sebagai pendekar berilmu tinggi cukup terkenal hingga ke wilayah Kadipaten Paguhan yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Galuh Pakuan dan Mandala Tanjung Sengguruh. Mengalahkan pendekar tua itu sampai berhasil membunuhnya, bukanlah perkara yang gampang dilakukan. Ini berarti yang melakukannya haruslah pendekar berilmu tinggi.
"Bidadari Angin Selatan..
Siapa pemuda ini? Apa benar cerita yang baru saja dia katakan?", tanya Mpu Gupalawiya segera. Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera mengangguk cepat.
"Pemuda ini adalah Jaka Umbaran, pengatur wilayah tengah yang baru saja ditasbihkan di Lembah Kali Gung tempo hari, Mpu Gupalawiya.
Semua yang dikatakan oleh Jaka Umbaran benar adanya. Jika kalian sempat mendengar ledakan dahsyat baru saja, itu adalah benturan ilmu kanuragan nya dengan Malaikat Pembunuh Bermata Iblis. Dan hasilnya, kalian lihat sendiri potongan daging dan tubuh yang bertebaran di tempat ini. Itu adalah bagian tubuh Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis", Nyai Larasati segera merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Melihat itu, Udhayana dan Mpu Gupalawiya pun segera melihat sekeliling tempat itu dan melihat beberapa potongan tubuh manusia tersebar ke segala arah. Salah satu bagian yang utuh hanyalah potongan kepala yang menancap pada ranting pohon krombang dan Mpu Gupalawiya yang mengenali potongan kepala itu segera sadar bahwa omongan Nyai Larasati sama sekali tidak berdusta.
Sadar bahwa kini mereka sedang berhadapan dengan dua pengatur wilayah dunia persilatan yang tersohor setelah acara pertemuan para pendekar dunia persilatan di Lembah Kali Gung, sikap Udhayana dan Mpu Gupalawiya langsung berubah. Meskipun mereka tidak berangkat kesana karena satu dan lain hal, namun berita terkait dengan pemilihan pengatur wilayah baru dunia persilatan juga mereka dengar.
"Kalau begitu, maafkan kami yang berlaku tidak sopan kepada kalian baru saja, Bidadari Angin Selatan.
Apakah ada cara supaya kedua pedang pusaka itu kembali ke perguruan kami? Kami bersedia untuk membayar berapapun yang kalian minta agar mau melepaskan pedang itu ke tangan kami", ucap Mpu Gupalawiya segera.
Mendengar perkataan itu, Nyai Larasati segera menoleh ke arah Jaka Umbaran segera.
"Bagaimana Pendekar Gunung Lawu? Apa kau bersedia untuk menjual pedang itu pada mereka?", tanya Nyai Larasati segera.
"Kalau perguruan kalian memang pemilik sah dari dua pedang ini, aku tidak keberatan jika harus menyerahkan nya pada kalian. Syarat nya cukup mudah, minta saja guru kalian untuk mengambilnya di kediaman Nyai Larasati dengan membawa sepuluh kepeng emas, 20 kepeng perak dan 30 kepeng tembaga beserta sepasang kerbau", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.
"Baiklah jika itu yang menjadi keinginan mu, Pendekar Gunung Lawu.
Akan ku sampaikan pada guru Resi Mpu Diradameta pimpinan Padepokan Gunung Malabar. Tunggu kami di Lembah Anggrek Jingga", ucap Mpu Gupalawiya sembari menghormat.
"Mengapa tidak kita rampas saja dua pedang pusaka itu Paman?
Aku gerah sekali melihat sikap perempuan sok cantik itu tadi", ucap Udhayana dengan suara penuh amarah.
"Jangan bodoh, Pangeran Kuning..
Mereka bukan orang sembarangan. Aku saja belum tentu bisa mengalahkan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan. Sedangkan Jaka Umbaran juga bukan lawan yang seimbang dengan mu. Kita harus sabar jikalau kita ingin mendapatkan Pedang Elang Putih dan Pedang Lobang Neraka itu. Sebaiknya kita segera pulang ke Gunung Malabar untuk melapor pada Kakang Resi Mpu Diradameta. Biar dia yang memutuskan apa yang seharusnya dilakukan. Mari pangeran.."
Keduanya segera melesat cepat kearah Utara. Keduanya ingin secepatnya sampai di lereng Gunung Malabar untuk melaporkan apa yang terjadi. Dalam sekejap mata, tubuh dua orang berpakaian serba kuning itu telah menghilang di telan rimbunnya pohon tarum yang sedang berbunga lebat.
Perahu penyeberangan membelah riak gelombang sungai Citanduy yang berair keruh. Sisa luapan air kemarin masih terlihat dari bekas lumpur yang menutupi dedaunan semak perdu di pinggir sungai. Tak jauh dari perahu, kawanan burung belibis sedang asyik berenang sambil sesekali mencelupkan kepalanya ke dalam air. Sedangkan di pepohonan buah-buahan liar di tepi sungai, terlihat sekawanan monyet sedang asyik bergelantungan di ujung dahan pohon sambil mengunyah buah. Pemandangan ini sanggup membuat Jaka Umbaran tersenyum penuh arti.
Begitu perahu penyeberangan berlabuh di dermaga, rombongan kecil Jaka Umbaran segera turun sambil menuntun kudanya masing-masing. Sesuai kesepakatan semula, Jaka Umbaran membayar 2 kepeng perak dan 8 kepeng tembaga. 2 kepeng perak untuk upah menyeberangkan mereka berempat sedangkan 8 kepeng tembaga menjadi biaya penyeberangan keempat kuda tunggangan mereka.
Kecantikan Dewi Rengganis memantik perhatian dari beberapa orang yang mereka temui di tepian Sungai Citanduy. Beberapa terang-terangan terlihat begitu tertarik pada perempuan cantik itu, sedangkan yang lain hanya berani melirik saja karena melihat ada seorang pemuda tampan dan gagah yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Salah seorang diantara mereka adalah seorang lelaki yang mengenakan caping bertutup kain hitam tipis tembus pandang. Lelaki yang berdandan seperti seorang pendekar itu terus memperhatikan Dewi Rengganis yang mulai berani menggelayut manja di lengan kiri Jaka Umbaran.
Setelah rombongan Jaka Umbaran meninggalkan tempat itu menuju ke arah timur dengan menaiki kuda mereka masing-masing, si lelaki bertudung caping tirai hitam itu segera mengekori mereka dari kejauhan.
Namun yang di luar perhitungan nya, ada Resi Simharaja dalam rombongan kecil itu. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu beberapa kali melirik ke arah belakang. Rupanya pancaran tenaga dalam yang keluar dari tubuh lelaki bertudung caping tirai hitam itu saat mengerahkan tenaga dalam nya untuk ilmu meringankan tubuh, bisa di rasakan oleh bekas Raja Siluman Alas Roban ini.
Jaka Umbaran yang berkuda di samping Resi Simharaja, tersenyum tipis melihat itu semua.
"Apa kau juga merasakan seseorang sedang mengikuti kita, Resi Simharaja?", tanya Jaka Umbaran sembari terus memacu kuda tunggangannya.
"Iya Ndoro Umbaran..
Bagaimana sebaiknya? Kita hadang atau biarkan saja?", Resi Simharaja menatap ke arah Jaka Umbaran.
"Biarkan saja.. Kalau dia ingin berniat buruk, tinggal kita lawan. Sudah jangan pedulikan orang itu. Kita harus segera sampai di Lembah Anggrek Jingga sebelum senja tiba. Kata Rengganis, kita masih harus menempuh perjalanan setengah hari lebih dengan berkuda", setelah berkata begitu, Jaka Umbaran menggebrak tali kekang kudanya hingga kuda berbulu coklat kehitaman itupun langsung melesat cepat kearah timur.
Setelah melewati Wanua Pegadingan, mereka terus memacu kuda mereka ke arah timur. Di barat wilayah perbukitan Karanggintung, Jaka Umbaran sengaja mempercepat kudanya. Segera ia memberitahu rencana nya untuk menjebak si penguntit yang terus mengikuti mereka sejak tadi. Di kaki bukit, dia segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di cabang pohon besar yang ada di sana. Sementara itu, kudanya terus berlari bersama dengan rombongan.
Sesuai dengan dugaan nya, si penguntit yang telah mengikuti mereka sejak dari pinggiran Sungai Citanduy terus mengikuti mereka. Begitu lelaki bercaping tirai hitam itu melintas di bawah tempatnya bersembunyi, Jaka Umbaran segera meluncur turun sembari melayangkan tendangan keras kearah punggung nya. Desiran angin dingin yang mengikuti, membuat lelaki bercaping tirai hitam itu segera menjatuhkan diri untuk menghindar.
Ia lolos dari sergapan cepat Jaka Umbaran yang kemudian mendarat di hadapannya. Bersamaan dengan itu, Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Resi Simharaja juga muncul dari belakang. Ini membuat lelaki bertubuh gempal dengan caping bambu bertirai hitam itu terkepung oleh mereka.
"Katakan, siapa kau dan apa mau mu mengikuti kami?", tanya Nyai Larasati segera. Lelaki bertubuh gempal itu terdengar menghela nafas panjang sebelum perlahan melepaskan caping tirai hitam yang menutupi seluruh wajahnya. Nyai Larasati terkejut bukan main melihat siapa sosok orang di balik caping tirai hitam itu.
"Prabhaswara? Benarkah ini kau?", tanya Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera.
"Benar Larasati. Ini aku, Prabhaswara sahabat mu. Lama kita tidak jumpa", ucap lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal yang sebagian telah memutih karena bercampur uban.
Dewi Rengganis yang berdiri di samping nya lamat-lamat mengenali suara berat pria paruh baya itu. Dia langsung menoleh ke arah gurunya.
"Guru, siapa lelaki ini? Kenapa aku tidak merasa asing dengan nya?", tanya Dewi Rengganis segera. Mendengar pertanyaan itu, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera tersenyum simpul sebelum berkata,
"Dia adalah ayah mu.."
__ADS_1