
"Amarah?
Apa maksud dari ucapan mu Maharesi? Aku sama sekali tidak mengerti..", Jaka Umbaran menatap wajah tua Maharesi Dhanudara. Dalam keremangan cahaya bulan yang lewat purnama, wajah pertapa tua itu nampak teduh selayaknya seorang bijak dalam menjalani kehidupan.
Hehehehe...
"Begini, Pendekar Gunung Lawu..
Setiap manusia pasti memiliki rasa marah di dalam tubuh nya. Bahkan itu juga berlaku pada wujud manusia yang menjadi awatara Dewa Wisnu. Prabu Ramawijaya dan Maharaja Shri Krishna adalah contohnya yang nyata. Mereka masih memiliki rasa murka terhadap lingkungan dan manusia meskipun jelas-jelas merupakan awatara Dewa Wisnu yang suci.
Sama seperti mereka, kau juga harus mulai belajar untuk mengendalikan nafsu duniawi mu mulai dari sekarang. Karena sifat alami Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta juga bisa berubah menjadi penghancur alam semesta jika dalam keadaan marah. Bahkan akan lebih mengerikan Dewa Wisnu daripada Sang Siwa sendiri kala sang pemelihara alam semesta dilanda kemarahan", ucap Maharesi Dhanudara sembari tersenyum tipis pada Jaka Umbaran.
"Kau tentu bingung bukan mengapa aku menerangkan tentang hal ini kepada mu?
Begini Jaka Umbaran, saat kekuatan mu sebagai awatara Dewa Wisnu di bangkitkan dengan munculnya Cakra Bhaswara tadi, maka ada kekuatan lain yang akan turut bangkit dari dalam tubuh mu. Meskipun sekarang ini dia tidak menyatu dengan tubuh mu, suatu saat ia pasti akan kembali pada tuan nya karena mereka memang sudah di takdirkan untuk menjadi satu kesatuan selamanya", imbuh Maharesi Dhanudara segera.
"Terimakasih atas pencerahannya, Maharesi Dhanudara..
Meskipun belum sepenuhnya aku mampu memahami setiap petuah dan petunjuk yang kau berikan, tapi aku akan selalu mengingatnya dalam langkah perjalanan hidup ku", balas Jaka Umbaran sembari membungkuk hormat kepada lelaki sepuh itu.
"Hehehehe..
Aku akan memberikan sebuah petunjuk pada mu, Pendekar Gunung Lawu. Kau akan menemukan jati diri mu yang sebenarnya di timur Gunung Wilis. Ingat baik-baik kata-kata ku ini. Setelah kau menyelesaikan topo ngrame mu, carilah apa yang menjadi tujuan hidup mu di timur Gunung Wilis", setelah berkata demikian, Maharesi Dhanudara segera melesat cepat bagaikan terbang ke arah Pertapaan Gunung Ungaran. Tanpa menunggu lama lagi, Jaka Umbaran segera mengikuti langkah sang pimpinan utama Pertapaan Gunung Ungaran itu meskipun dia masih menyimpan sejumlah besar pertanyaan yang berhubungan dengan pesan-pesan dari lelaki tua itu.
Malam semakin larut. Sesampainya di Pertapaan Gunung Ungaran, Jaka Umbaran yang masih bingung dengan berbagai pertanyaan mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh Maharesi Dhanudara, memilih untuk segera kembali ke kamar tidur nya. Begitu sampai di sana, sang pendekar muda langsung tenggelam dalam lautan semedi yang menjadi pilihan utama bagi nya untuk menenangkan diri.
Cericit burung berkicau di ranting pohon cempaka yang tumbuh di dekat kamar tidur Jaka Umbaran yang beriringan dengan kokok ayam jantan bersahutan, sanggup membuat Jaka Umbaran tersadar dari semedi nya. Pendekar muda ini langsung memutar kedua telapak tangannya yang baru saja memegang lutut. Dia langsung menghela nafas panjang sebelum membuka mata nya.
Aroma wangi wedang jahe tercium oleh hidung Jaka Umbaran. Pendekar muda ini langsung bangkit dari tempat semedi nya dan bergegas keluar dari dalam kamar. Begitu pintu kamar terbuka, Niluh Wuni sedang meletakkan secangkir wedang jahe dan sepiring pala kependem kukus diatas meja kecil yang ada di sudut ruangan.
"Wah benar-benar calon istri idaman. Sepagi ini kau sudah menyiapkan sarapan pagi. Kebetulan sekali aku sedang lapar.
Suami mu kelak pasti akan sangat beruntung bisa mendapatkan kamu, Wuni", ucap Jaka Umbaran sambil menyambar sepotong uwi manis yang masih mengepulkan uap panas di atas meja.
"Huh lagak mu memuji, padahal kau hanya ingin makan saja. Dasar jorok, belum cuci muka sudah makan lebih dulu", omel Niluh Wuni yang membuat Jaka Umbaran terkekeh kecil.
"Iya-iya, aku cuci muka dulu. Tidak perlu marah-marah begitu. Awas kalau kebanyakan marah, nanti kau sulit jodoh dan jadi perawan tua loh hahahaha", seloroh Jaka Umbaran yang membuat Niluh Wuni langsung naik pitam. Dia langsung menyambar sepotong uwi manis dan melemparkannya ke arah pemuda tampan itu.
Whhhuuuggghhhh!!
Dengan sigap, Jaka Umbaran menangkap nya dan tertawa-tawa sambil bergegas keluar dari dalam ruangan itu menuju ke arah sebuah sendang kecil yang terletak tak jauh dari Pertapaan Gunung Ungaran.
Selama dua hari rombongan Perguruan Bukit Katong tinggal di Pertapaan Gunung Ungaran, setiap malam Maharesi Dhanudara terus mengajari Jaka Umbaran untuk mempelajari segala hal tentang awatara Dewa Wisnu yang kini telah diketahui ada dalam diri pemuda tampan itu. Selain cara mengendalikan Cakra Bhaswara, beberapa petunjuk tentang beberapa ilmu kesaktian dan senjata yang akan menjadi hak milik dari awatara Dewa Wisnu diberikan oleh Maharesi Dhanudara.
Pada hari ketiga, setelah Sadewa merasa keadaan seluruh rombongan itu telah membaik, maka dia memutuskan untuk meneruskan perjalanan karena mereka tidak punya banyak waktu untuk bersantai karena pertemuan para pendekar dunia persilatan telah semakin dekat.
"Berhati-hatilah dalam perjalanan, wahai para murid Resi Mpu Hanggabhaya..
__ADS_1
Semoga Hyang Agung selalu melindungi setiap langkah yang kalian ambil di perjalanan ini", ucap Maharesi Dhanudara sembari membungkukkan badannya setelah Sadewa dan kawan-kawannya berpamitan pada pimpinan Pertapaan Gunung Ungaran.
"Terimakasih atas doanya, Maharesi..
Kami mohon pamit..", Sadewa membalas dengan membungkukkan badannya sebelum berbalik badan dan melangkah menuju ke arah kuda tunggangannya yang sudah di siapkan sebelumnya. Setelah itu, dia bersama para murid Perguruan Bukit Katong pun segera menggebrak kuda tunggangan mereka menuruni jalan setapak ke arah Utara.
Maharesi Dhanudara terus memandangi kepergian mereka semua hingga mereka menghilang di balik tikungan bukit.
Rombongan Perguruan Bukit Katong terus memacu kuda mereka ke arah Utara. Melewati jalan setapak yang membelah hutan lebat di kaki Gunung Ungaran, mereka meninggalkan wilayah Pakuwon Ungaran. Saat matahari hampir di atas kepala, mereka memasuki wilayah pinggiran Kota Kadipaten Kembang Kuning.
"Tak ku sangka kalau Kita Kembang Kuning seramai ini ya? Jauh lebih ramai daripada kota-kota pakuwon yang kita lewati", ujar Jaka Umbaran segera. Mereka menjalankan kudanya dengan perlahan karena ada aturan yang berlaku di Kota Kadipaten Kembang Kuning yakni di larang menjalankan kuda dengan kecepatan tinggi terkecuali para prajurit ataupun para pejabat. Mereka yang melanggar aturan ini, akan di hukum dengan membayar denda sebesar 5 kepeng perak.
"Tentu saja akan lebih ramai dari tempat lain..
Apalagi sejak pembukaan Pelabuhan Tanjung Salaka, banyak orang asing yang singgah di tempat ini. Sekarang kota ini tak kalah makmur jika di bandingkan dengan Kalingga ataupun Kambang Putih", jawab Sadewa sembari tersenyum.
Memang, ratusan orang terlihat berlalu lalang dengan segala kesibukan dan pekerjaan yang dilakukan. Ada yang terlihat sedang menarik gerobak kayu dengan membawa beban yang berat. Ada yang sibuk menawarkan dagangan mereka. Ada pula yang hanya berjalan saja sambil menoleh ke sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.
Niluh Wuni yang tertarik pada seorang penjual makanan di pinggir jalan, langsung menghentikan kuda tunggangannya. Bersama dengan Sekar Kantil, dua orang perempuan muda itu nampak tertarik untuk mencoba makanan kecil yang terbuat dari aneka bahan makanan yang berwarna-warni. Mereka berdua berjongkok di tepi jalan sembari menunggu pesanan mereka di selesaikan.
Jaka Umbaran dan yang lainnya pun turut menghentikan langkah kaki kuda mereka karena mereka juga sedang mencari warung makan di sekitar tempat itu untuk mengisi perut mereka yang mulai kerongkongan setelah berkuda cukup jauh.
Tak di sangka, dari arah timur seorang wanita muda menggebrak kuda tunggangan nya sekencang mungkin. Dari arah belakang nya, terlihat beberapa orang prajurit Kadipaten Kembang Kuning mengejar di belakangnya. Saat yang berbahaya itu, Jaka Umbaran segera melesat cepat melindungi Niluh Wuni dan Sekar Kantil dari terjangan kuda tunggangan gadis muda ini.
Brrruuuuuuuuuukkkhh!!
"Gusti Putriiiiiii....!!!", teriak salah seorang prajurit pengejar itu saking khawatirnya dengan keselamatan perempuan muda itu. Semua orang sudah berpikir bahwa wanita muda yang berpakaian bangsawan ini pasti akan jatuh ke tanah dan menderita beberapa luka di tubuhnya.
Tapi mereka langsung terperangah seketika saat melihat sesosok bayangan berkelebat cepat dan menangkap tubuh perempuan cantik berbaju putri bangsawan itu tepat sebelum dia menghantam tanah. Perempuan cantik itu langsung terdiam beberapa saat lamanya. Mungkin saja dia kaget atau mungkin juga terpana melihat sosok pemuda tampan yang kini jaraknya hanya satu jengkal tangan saja di depan wajahnya.
"Nisanak, kau tidak apa-apa?", tanya si bayangan yang tak lain adalah Jaka Umbaran itu segera.
Ya, tepat sesaat setelah tubuhnya terhantam kerasnya tendangan kaki kuda, Jaka Umbaran yang memiliki Ajian Bandung Bondowoso yang membuat tubuhnya bisa menjadi keras layaknya batu karang, langsung menoleh ke arah perempuan cantik yang terlempar dari atas punggung kuda tunggangan nya. Sekali hentak, tubuh Jaka Umbaran mampu melesat cepat mendahului gerakan tubuh perempuan cantik berbaju bangsawan itu sesaat sebelum dia menyusruk tanah.
Perempuan cantik berbaju bangsawan itu malah melongo melihat ketampanan sang penyelamat nya. Bahkan saat para prajurit Kadipaten Kembang Kuning mengerubuti mereka, dia masih juga bengong melihat sosok pemuda tampan yang kini sedang memegangi pinggangnya yang ramping.
"Hei apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan Gusti Putri Seruni!"
Teriakan keras dari mulut salah seorang prajurit pengejar itu seketika menyadarkan perempuan cantik berbaju kuning ini. Dia buru-buru menoleh ke sekelilingnya dan menyadari situasi yang terjadi saat itu.
Jaka Umbaran segera membantu perempuan cantik yang di panggil dengan sebutan Gusti Putri Seruni ini. Dia pun segera mengambil langkah menjauh selangkah ke belakang.
"Maaf. Aku terpaksa harus berbuat lancang seperti ini. Sekali lagi maafkan aku", Jaka Umbaran segera membungkuk hormat kepada perempuan cantik itu sebelum berbalik badan hendak melangkah meninggalkan tempat itu.
"Tunggu dulu Kisanak..!", ucapan perempuan cantik berbaju bangsawan itu serta merta menghentikan langkah kaki Jaka Umbaran.
"Bukankah aku sudah meminta maaf pada mu? Sekarang apa lagi yang perlu dibicarakan?", ujar Jaka Umbaran seraya membalikkan badannya segera.
__ADS_1
"Bukan begitu, Kisanak..
Eh itu aku ingin berterimakasih kepada mu karena sudah menolong ku baru saja. Kalau tidak ada pertolongan dari mu, mungkin sekarang aku pasti sudah luka-luka. Aku, Dewi Seruni, putri Adipati Kembang Kuning Dewanata, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mu, pendekar... eh siapa nama mu?", perempuan cantik berbaju bangsawan itu menatap lekat-lekat ke arah sang pendekar muda.
"Umbaran, Jaka Umbaran. Gusti Putri Dewi Seruni bisa memanggil ku dengan nama itu.
Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, hamba mohon undur diri", ucap Jaka Umbaran sembari menghormat sebelum dia hendak melangkahkan kakinya ke arah Niluh Wuni dan Sekar Kantil yang sudah berdiri sejak tadi.
"Tunggu dulu..
Kenapa sih kamu ingin sekali pergi?", mendengar ucapan itu, Jaka Umbaran mulai kesal karena terus menerus di ganggu oleh Dewi Seruni segera menoleh ke arah perempuan cantik itu berada.
Namun puluhan orang prajurit pengejar Dewi Seruni langsung mencabut senjata mereka masing-masing dan mengacungkan nya ke arah Jaka Umbaran. Seorang lelaki bertubuh kekar yang sepertinya merupakan pimpinan regu prajurit itu segera mendelik tajam ke arah sang pendekar muda.
"Gusti Putri Dewi Seruni belum mengijinkan mu pergi, jadi sebaiknya kau tetap berada di tempat mu!", ucap si kepala regu prajurit itu dengan suara penuh ancaman.
"Bekel Wirareja!!
Siapa yang telah memberi mu keberanian untuk menghalangi jalan penyelamat ku ha? Apa di mata mu aku ini bukan putri Adipati Kembang Kuning lagi ya?!!!", hardik keras Dewi Seruni. Perempuan cantik itu benar-benar tidak suka melihat sikap para prajurit yang sewenang-wenang menggunakan kekuasaan.
"Eh maaf Gusti Putri..
Maksud hamba, itu hamba hanya ingin membantu Gusti Putri Dewi Seruni agar pemuda congkak ini tetap di tempat saja. Hanya itu saja..", Bekel Wirareja pucat seketika mendengar omelan Dewi Seruni. Dia tahu, membuat marah putri kedua Adipati Dewanata itu bisa berakibat tidak baik pada kehidupannya.
"Sejak kapan aku bilang butuh bantuan mu. Lekas suruh anak buah mu untuk menghentikan tindakan bodoh mereka kalau tidak, jangan salahkan aku jika bertindak kejam pada kalian semua", ucap Dewi Seruni keras.
Mendengar itu, Bekel Wirareja segera memberi isyarat kepada para prajurit Kadipaten Kembang Kuning untuk menyimpan senjata mereka masing-masing. Setelah itu mereka mundur menjauh hampir 2 tombak jauhnya dari tempat Jaka Umbaran berdiri.
"Maafkan sikap para prajurit Kembang Kuning baru saja, Pendekar Jaka Umbaran. Mereka kadang-kadang suka kelewatan saat bertugas.
Jujur saja, aku ingin berterimakasih kepada mu atas pertolongan mu baru saja. Jika tidak kamu bantu, mungkin saja sekarang aku sudah cacat. Kuda itu baru saja di datangkan dari Jenggala. Aku yang penasaran ingin menaiki nya, ternyata membuat kuda liar itu menggila dan kabur dari dalam istana. Aku nyaris mencelakai kedua orang kawan mu itu andai kau tidak membantu tepat waktu.
Karena itu ijinkan aku berterimakasih kepada mu. Sudilah kiranya kau berkunjung ke Istana Kadipaten Kembang Kuning", Dewi Seruni membungkuk hormat kepada Jaka Umbaran segera.
"Itu hanya pertolongan kecil saja, Gusti Putri. Bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Aku...", belum sempat Jaka Umbaran menyelesaikan omongannya, Sadewa datang dan langsung memotong omongannya.
"Kami berterima kasih atas undangan Gusti Putri. Silahkan tunjukkan jalan, kami akan mengikuti", ucap Sadewa dengan sopan.
"Tapi Adhi Sadewa, kau bilang kita harus secepatnya sampai di Lembah Kali Gung. Kalau di tunda, bukankah itu akan menghambat perjalanan kita?", protes Jaka Umbaran segera.
Sadewa langsung mengedipkan sebelah matanya sambil berkata,
"Kau tenang saja, Kakang Umbaran..
Itu semua bisa diatur.."
__ADS_1