
Semua orang mengangguk mengerti mendengar perintah dari sang pimpinan rombongan. Maka mereka pun memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat di dalam kamar tidur mereka masing-masing.
Hanya Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya saja yang bersemedi mengheningkan cipta sambil terus mengucapkan mantra pemujaan hingga siang berubah menjadi malam.
Ratusan ekor kelelawar terbang bergerombol dari arah hutan saat matahari terbenam di langit barat. Meskipun hanya berbekal semburat jingga di langit, namun itu sudah cukup untuk melihat keriuhan mereka mencari makan.
Di kediaman Ki Martoloyo yang terletak tak jauh dari Istana Kadipaten Kanjuruhan, sang empunya rumah terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia bengong menatap ke arah langit malam yang gelap seperti sedang bicara dengan mereka.
Seorang perempuan bertubuh sintal dengan pakaian yang terlihat kekecilan langsung mendekati Ki Martoloyo. Kemben hitam yang dia kenakan seolah tak mampu menampung buah dadanya yang montok. Selain itu juga jarit bercorak batik tulis yang sepertinya berasal dari Kota Kadipaten Kalingga, sengaja dipakai sedikit naik ke atas hingga memamerkan keindahan lekuk paha nya yang mulus. Tampilan bak seorang wanita nakal ini memang sesuai dengan pekerjaan perempuan cantik itu yang bekerja sebagai seorang pelacur di Kota Kanjuruhan.
"Juragan, kenapa kau tidak semangat untuk menggeluti tubuh Cempaka? Biasanya kalau aku datang, aku pasti akan puas dengan permainan mu.
Ini baru sekali, kau sudah bersikap seperti ini. Apa Cempaka sudah tidak menarik lagi bagi juragan?", ucap si perempuan cantik berbaju minim itu seperti sedang merajuk meskipun nyatanya dia sedang menggoda lelaki paruh baya bertubuh gempal yang sedang telanjang dada ini.
"Bicara apa kau ini Cempaka?
Hehehehe, kau selalu mampu untuk aku puas setelah bercinta dengan mu. Hanya saja saat ini aku sedang kepikiran terus dengan istri ku yang kabur dari rumah", ucap Ki Martoloyo sembari tersenyum lebar.
"Ah perempuan tua itu apa lagi yang mau diharapkan?
Di bandingkan dengan Cempaka yang jauh lebih muda, dia tidak akan menang. Sudah jangan dipikirkan lagi, Juragan. Kita habiskan malam ini dengan bersenang-senang. Tidak perlu memikirkan perempuan tua itu..", Cempaka, sang primadona baru tempat pelacuran milik Ki Wongso di timur Kota Kadipaten Kanjuruhan ini segera meraih bumbung bambu berisi arak nira aren dan menuangkannya dalam cangkir di meja samping Ki Martoloyo.
Melihat itu, Ki Martoloyo pun tersenyum penuh arti. Dia langsung menyambar cangkir berisi arak nira aren itu dan menenggak nya. Rasa asam bercampur dengan manis dan sedikit pahit langsung menyerang leher Ki Martoloyo. Ini memang arak nira aren terbaik yang di datangkan langsung dari Lamajang.
Gllukkkk gllukkkk gllukkkk...
Aaahhhhhh...!!!!!
"Enak sekali, arak ini memang yang paling jempolan. Tak sia-sia beli mahal-mahal", ucap Ki Martoloyo sembari tersenyum puas. Pengaruh arak nira aren ini memang membuat kepala sedikit pusing akan tetapi mampu menambah gairah bercinta. Melihat tubuh Cempaka si primadona pelacur di timur Kota Kadipaten Kanjuruhan dengan pakaian minim nya, Ki Martoloyo meleletkan lidahnya pada bibir lalu langsung menubruk tubuh sintal itu dan langsung menggelutinya.
Suara riuh dengusan nafas bercampur aduk dengan jeritan keras Cempaka yang mengerang nikmat cukup keras terdengar hingga ke pintu depan. Ini membuat empat orang centeng yang berjaga di tempat itu langsung tersenyum tipis.
"Wah seperti nya juragan kita main lagi sama si Cempaka itu. Aku juga jadi pengen untuk merasakan kehangatan tubuhnya yang montok", ucap seorang lelaki bertubuh kekar dengan ikat kepala berwarna ungu pucat.
"Heh, memangnya kamu punya uang berapa Ndar?
Apa kau tahu bahwa sekali bercinta dengan Cempaka, 20 kepeng perak mesti kita keluarkan? Itu adalah bayaran kita bekerja di sini selama satu purnama", ujar kawan nya sambil merentangkan jari jemari tangannya ke depan wajah si lelaki bertubuh kekar itu segera.
__ADS_1
"Hah?! Semahal itu?
Uang sejumlah itu bisa untuk makan kenyang selama 1 purnama loh", ujar si Gendar sang centeng Ki Martoloyo.
"Makanya kalau kantong kepeng mu masih tipis, jangan suka jajan sama perempuan nakal. Mendingan duitnya kau pakai untuk makan dan kebutuhan lainnya. Daripada menuruti nafsu sesaat saja", ujar seorang centeng yang paling tua diantara mereka.
Saat para centeng Ki Martoloyo masih asyik membicarakan tentang Cempaka si pelacur primadona dari pinggir kota, tiba-tiba..
Jlleeeegggg jlleeeegggg jlleeeegggg!!!
Enam orang berpakaian serba hitam dengan memakai penutup wajah muncul di hadapan mereka. Keempat orang centeng Ki Martoloyo ini langsung terkejut bukan main karena mereka tidak melihat kedatangan mereka.
"Hei kalian, siapa kalian ha?!", hardik si centeng yang berbadan besar dengan keras.
Tak ada jawaban dari mereka berenam akan tetapi mereka segera menerjang maju ke arah para penjaga rumah ini. Seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan tubuh kekar dan seorang lagi bertubuh sedikit bogel menerjang ke arah kiri sedangkan dua lainnya yang bertubuh tinggi besar juga seorang lagi yang sepertinya merupakan seorang perempuan merangsek ke arah kanan.
Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh..
Bhhaaaaggg bhhuuuggghhh bhhaaaaggg bhhuuuggghhh...
Hanya dalam hitungan beberapa tarikan nafas, empat orang centeng penjaga rumah Ki Martoloyo sudah tersungkur tak berdaya di tanah. Seorang lelaki bertubuh tegap dan seorang lagi yang terlihat seperti seorang lelaki paruh baya maju ke depan pintu rumah.
"Dia ada di dalam..", ucap lelaki tua itu yang membuat si lelaki bertubuh tegap ini mengangguk mengerti.
Keributan yang baru saja terjadi memantik perhatian dari para centeng yang berjaga di sekitar tempat itu dan mereka pun langsung merangsek ke depan rumah. Mereka langsung mengepung keenam orang berpakaian serba hitam ini.
"Yang di luar, biar kami urus Ndoro..
Tua bangka mesum yang ada di dalam tolong di sikat", ucap si lelaki bertubuh tinggi besar segera. Si lelaki bertubuh tegap yang merupakan pimpinan dari kelompok ini mengangguk cepat dan menendang pintu rumah Ki Martoloyo sekeras mungkin.
Brruuaaaakkkkkkkh!!!
Daun pintu itu terbuka lebar dan kedua orang berpakaian serba hitam itu segera melesat masuk. Para centeng Ki Martoloyo yang dipimpin oleh Ki Wijangsongko, Mendit dan kawan-kawan pun tak mau berdiam diri. Mereka semua langsung bergerak menerjang ke arah keempat orang berpakaian serba hitam itu. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Terbukanya pintu rumah ini juga membuat Ki Martoloyo kaget dan segera menghentikan cumbuan nya pada Cempaka. Pelacur itu bahkan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa busana. Sementara Ki Martoloyo pun langsung menyambar pakaiannya dan segera mengenakan nya.
Setelah itu ia menyambar sebilah keris yang menggantung di dinding rumah dan bergegas menuju ke depan untuk melihat keributan yang terjadi. Namun belum genap sepuluh langkah, dia langsung berhenti seketika setelah melihat dua orang lelaki berpakaian serba hitam berjalan mendekat.
__ADS_1
"Siapa kalian? Dan mau apa membuat keributan di tempat ku ha?", Ki Martoloyo menajamkan penglihatannya pada dua orang berpakaian serba hitam itu. Cahaya lampu minyak jarak yang terpasang di beberapa tiang rumah cukup untuk menerangi seluruh rumah besar itu.
Mendengar pertanyaan itu, sosok lelaki berpakaian serba hitam itu perlahan menarik penutup wajah nya. Mata Ki Martoloyo membelalak lebar tatkala ia melihat siapa sosok lelaki yang ada di hadapannya.
"P-pangeran Mapanji Jayabaya?!!!
Ke-kenapa kau bisa sampai di tempat ini?", tanya Ki Martoloyo dengan gagap.
"Untuk mencabut nyawa mu, hai mata-mata Kerajaan Jenggala!", jawab Jaka Umbaran dengan penuh ancaman.
Sadar bahwa ia kini dalam bahaya besar, Ki Martoloyo langsung berteriak lantang menanggapi centeng centeng nya yang biasanya berjaga di sekitar kediaman nya.
"Wijangsongko! Mendit!
Kemari kalian! Cepat!!", Jaka Umbaran tersenyum penuh arti mendengar teriakan keras dari Ki Martoloyo.
"Tidak perlu repot-repot untuk memanggil anak buah mu. Sudah ada yang mengurus mereka", ucap Jaka Umbaran segera. Mendengar itu, Ki Martoloyo langsung mencabut keris pusaka nya. Segera setelah itu, ia melompat maju ke arah Jaka Umbaran sambil menusukkan keris pusaka itu ke arah perut sang pangeran muda.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Jaka Umbaran hanya menggeser sedikit tubuhnya dan melayangkan sikutan keras ke rusuk lelaki bertubuh gempal dengan perut sedikit buncit ini.
Dhhiiieeeeesssshhh!!
Oooouuuuuuggggghhhhh!!!
Ki Martoloyo langsung terhuyung huyung mundur usai sikutan keras dari Jaka Umbaran telak menghajar rusuk nya. Belum sempat dia berdiri tegak, Resi Simharaja melesat cepat kearah nya sambil melayangkan dengkulan keras pada dada lelaki yang berusia sekitar 4 dasawarsa ini.
Dhhiiieeeeesssshhh!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Ki Martoloyo terpental ke belakang dan menghantam lantai rumahnya dengan keras. Dengkulan keras dari Resi Simharaja ini langsung membuat nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja di hantam balok kayu besar. Dia muntah darah segar.
Melihat itu, Jaka Umbaran sedikit tersenyum tipis sembari berkata,
"Menyerah lah.. Kau bukan lawan kami!"
__ADS_1