JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Nama Besar


__ADS_3

Semua penjaga rumah Ki Lurah Wanua Banjararum, Mpu Rino, langsung bersiap siaga. Senjata yang tergenggam erat di tangan semakin diperkuat genggamannya, bersiap untuk menghadapi penebar ketakutan masyarakat Wanua Banjararum itu.


Ki Barjo, dukun desa, langsung bergegas maju bersama beberapa orang pendekar sewaan Ki Lurah Mpu Rino. Lelaki tua berjanggut panjang dengan pakaian serba hitam itu terlihat menggenggam garam yang sudah ia mantrai sebelumnya.


"Setan alas! Disini bukan alam mu! Kembalilah kau ke tempat mu jahanam..!!", teriak Ki Barjo sambil melemparkan garam di tangan nya ke arah sosok bayangan hitam itu segera.


Shhhrrrreeeeettttth!


Thassshh thassshh thhaaaassshhhh!


Ledakan kecil terdengar saat garam yang sudah di mantrai dengan japamantra itu mengenai tubuh sosok bayangan hitam dari pinggir Kali Progo ini. Namun, sepertinya itu tidak berpengaruh apa-apa pada sosok makhluk siluman ini.


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!


Hanya terdengar suara geraman keras saja dari sosok makhluk hitam menyeramkan ini. Cahaya rembulan yang temaram di langit tak mampu membuat pandangan mata semua orang bisa melihat jelas sosok hitam besar itu. Akan tetapi bau amis seperti ikan dan mata yang memancarkan cahaya merah dengan sekujur tubuh dibalut akar hitam seperti untaian kawat bisa dengan jelas terlihat oleh mata mereka semua.


Melihat mahkluk menyeramkan ini tak mampu dilukai oleh sarana andalannya, Ki Barjo si dukun desa langsung memberi isyarat kepada para pendekar sewaan untuk bergerak maju. Senjata mereka yang telah di olesi darah ayam hitam mulus atau ayam cemani, langsung terayun ke arah makhluk menyeramkan ini. Asal tahu saja, darah ayam hitam mulus atau ayam cemani memiliki daya linuwih yang bisa digunakan untuk membunuh siluman.


Shhhrrrreeeeettttth!


Satu tebasan pedang pendekar sewaan itu langsung menciptakan sebuah luka pada lengan kiri siluman sungai ini. Makhluk menyeramkan ini pun sadar bahwa senjata manusia biasa yang biasanya tak mampu menggores kulit nya kini bisa menciptakan luka sayat di tubuhnya. Dia pun segera menghindari serangan para pendekar sewaan itu sambil menyerang balik dengan kuku tangan nya yang panjang dan tajam


Dua tebasan pedang mengarah ke kepala sedangkan satu tebasan golok menyasar ke arah kaki. Makhluk halus ini dengan baik melompat menghindari sambil mengayunkan cakar tangan nya yang berwarna hitam.


Shhrrraaakkkkkhh shhrrraaakkkkkhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Dua pendekar sewaan itu langsung terjungkal menyusruk tanah dengan punggung robek terkena cakaran si makhluk hitam. Gerakannya sungguh cepat hingga sulit untuk melihatnya dengan jelas. Kegelapan malam memang menyulitkan pandangan mata semua orang.


Di saat itu pula Ki Barjo si dukun desa langsung keris pusaka di pinggangnya. Keris Carang Soka, pusaka andalannya berlekuk 9 itu langsung menebarkan aroma amis darah dengan cahaya hijau redup berhawa dingin. Inilah yang menjadi piandel Ki Barjo sebagai dukun desa yang cukup dikenal sebagai penolong di beberapa wilayah sekitar Wanua Banjararum. Ki Barjo segera melompat ke arah dedemit branjangkawat, dengan tusukan lurus mengancam dada.


Shhhrrrreeeeettttth!!


Branjangkawat melompat mundur ke belakang namun tangan kirinya mengibas cepat kearah Ki Barjo. Akar hitam seperti untaian kawat langsung melesat cepat kearah Ki Barjo dan langsung membelit tubuh lelaki tua itu. Sekuat tenaga Ki Barjo mencoba untuk melepaskan diri namun justru belitan akar hitam itu semakin erat mengikat tubuhnya.


"Setan laknat! Cepat lepaskan aku..!", teriak Ki Barjo sembari meronta dari jeratan akar branjangkawat namun semakin dia meronta, ikatan akar hitam itu malah semakin erat mengikatnya. Para penduduk yang bersiaga, tak berani untuk menolong Ki Barjo yang mulai tercekik lehernya.


Hahahaha...

__ADS_1


"Barjo, kau sudah sering mengacaukan rencana majikan ku. Kali ini matilah kau hahahaha", suara aneh terdengar dari siluman branjangkawat ini. Makhluk hitam menyeramkan ini semakin erat mengikat tubuh Ki Barjo.


Ki Lurah Mpu Rino yang tidak bisa menahan diri lagi, langsung melesat ke arah untaian akar hitam seperti kawat itu sambil membabatkan pedang dengan kedua tangan.


Whhhuuuuuuuutttttth..


Thhrraaanggg....!!


Ternyata tebasan pedang Ki Lurah Mpu Rino tak sanggup memotong akar hitam itu. Melihat upaya Ki Lurah Mpu Rino untuk membebaskan Ki Barjo, Siluman Branjangkawat berang bukan main. Dia langsung mengibaskan tangannya. Akar hitam kembali memanjang keluar lalu mengeras seperti besi. Sekejap berikutnya, akar hitam yang kini lebih mirip dengan sapu lidi ini langsung menghempaskan tubuh Ku Lurah Mpu Rino hingga lelaki tua itu terhempas jauh kebelakang. Tubuhnya menimpa beberapa penjaga yang sedang bersiap-siap untuk menyerang.


Setelah berhasil menghalau Ki Lurah Mpu Rino, Branjangkawat kembali menguatkan belitan akar hitam dari tubuhnya yang mengikat Ki Barjo. Nafas dukun desa itu sudah megap-megap tinggal beberapa saat lagi sebelum mati tercekik.


Jaka Umbaran yang melihat kejadian itu, segera menoleh ke arah Resi Simharaja. Bekas raja siluman Alas Roban itu langsung mengangguk mengerti. Dia langsung berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar dan menerkam branjangkawat setelah melompat dari atas pepohonan.


Haaaauuuuummmmmmm!!


Sontak saja, terkaman harimau putih besar itu mampu menjatuhkan branjangkawat. Ki Barjo lolos dari maut setelah ikatan akar hitam branjangkawat lepas dari tubuhnya. Dua orang pendekar sewaan yang masih hidup, langsung memapah tubuh lemas Ki Barjo ke dekat tempat para penjaga berkumpul.


"Ki Barjo, darimana asal harimau putih itu? Apa ini juga termasuk makhluk perewangan mu?", tanya Ki Lurah Mpu Rino sembari menunjuk ke arah harimau putih besar yang sedang bertarung sengit melawan branjangkawat.


"Hosh hooosshhh hooosshhh..


Bu-bukan Ki Lurah. Aku tidak punya perewangan seperti itu. A-aku sendiri tidak tahu darimana asal muasalnya", jawab Ki Barjo sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena baru saja lepas dari belitan akar hitam branjangkawat.


"Aneh sekali!


Setahu ku, di daerah sekitar sini sangat jarang ada harimau berkeliaran apalagi harimau putih besar seperti itu. Di lihat dari sisi manapun, dia bukan macan putih biasa. Dia pasti macan siluman. Tapi siapa yang mengirimkannya kemari?", Ki Lurah Mpu Rino terus menatap ke arah pertarungan antara harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja dengan branjangkawat yang berlangsung sengit.


Branjangkawat terus berupaya keras untuk menangkap harimau putih itu dengan akar hitam nya yang bisa bergerak sesuka hati namun harimau putih besar itu terus bergerak lincah menghindari setiap serangan branjangkawat sembari sesekali mengayunkan cakar nya yang berkuku tajam. Hebatnya, kuku tajam harimau putih besar itu sanggup memotong akar hitam milik branjangkawat ini.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh chhraasshh..


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!


Branjangkawat kembali meraung keras saat akar hitam nya putus disabet kuku tajam harimau putih besar. Namun akar hitam itu kembali tumbuh seperti semula dan kembali digunakan untuk menyerang Resi Simharaja.


Di sela sela gerakan tubuhnya yang lincah, Resi Simharaja melihat ke arah Jaka Umbaran yang masih ada di pucuk pohon rimbun. Melihat sebuah isyarat dari sang majikan, macan putih besar penjelmaan Resi Simharaja mengerti.


Seperti di sengaja, harimau putih besar itu tertangkap oleh sulur akar branjangkawat. Segera belitan akar hitam itu mengikat tubuh harimau putih besar yang terus meronta sambil mengayunkan cakarnya yang berkuku tajam. Tentu saja ini membuat branjangkawat sang siluman sungai semakin bernafsu untuk membuat harimau putih besar itu tak berdaya. Saat itulah, Jaka Umbaran melesat turun dari atas rimbun pepohonan depan tangan yang di liputi oleh cahaya biru kekuningan yang menyilaukan mata.

__ADS_1


Branjangkawat sempat menoleh ke arah datangnya serangan cepat Jaka Umbaran yang menggunakan Ajian Lebur Saketi namun karena sudah sangat dekat, dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.


Blllaaammmmmmmm!!


HOOOAAARRRRRRGGGGGHHHHH!!!


Branjangkawat sang siluman sungai terpental ke belakang walaupun masih mengikat tubuh harimau putih besar itu. Tak kurang 4 tombak jauhnya dia terpental dari tempat semula. Ikatan akar hitam nya mengendur dan harimau putih besar itu langsung melepaskan diri dari ikatan yang sempat membelenggu nya. Ia langsung berdiri sambil menggoyangkan tubuh nya seolah ingin melemaskan otot-otot tubuh nya yang baru saja terikat. Selepas itu, harimau putih besar itu berjalan mendekati Jaka Umbaran yang juga melangkah mendekati makhluk menyeramkan yang kini terkapar tak berdaya di tanah.


"Hooosshhh hooosshhh hooosshhh..


Anak muda, kau jangan besar kepala dulu karena sudah mengalahkan aku. Majikan ku Kundala sang ksatria Laut Selatan pasti akan membalaskan dendam ku.


Tunggu saja hari itu tii......baaaaa..."


Selepas mengeluarkan ancaman nya, branjangkawat sang siluman sungai terkulai lemas pertanda bahwa dia sudah mati. Sebentar kemudian, tubuh branjangkawat hancur lebur menjadi abu hitam yang kemudian hilang di tiup angin. Meninggalkan sebongkah mustika berwarna hitam legam. Jaka Umbaran segera memungut nya.


Agar tidak menimbulkan ketakutan pada penduduk Wanua Banjararum, Jaka Umbaran segera memberi isyarat kepada harimau putih besar itu untuk pergi. Dengan patuh, harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja itu pun segera melompat ke arah balik rimbun pepohonan dan menghilang dari pandangan mata semua orang. Barulah para penduduk Wanua Banjararum berani mendekati Jaka Umbaran.


"Terimakasih banyak atas bantuan nya, Kisanak Pendekar.


Kalau tidak ada kau, mungkin perkampungan kecil ini sudah hancur karena keganasan siluman sungai itu", ucap Ki Lurah Mpu Rino dengan penuh hormat.


"Aku hanya kebetulan lewat saja, Ki..


Menolong orang yang membutuhkan sudah menjadi bagian tugas dari seorang pendekar jadi Ki Lurah tidak perlu sungkan.


"Ah sungguh sangat berjiwa mulia. Kalau boleh tahu, siapa nama besar Kisanak Pendekar?", lanjut Mpu Rino kemudian.


"Saya Jaka Umbaran. Panggil saja Umbaran", jawab Jaka Umbaran sambil tersenyum.


"Jaka Umbaran? Jaka Umbaran sang Pendekar Gunung Lawu?", tanya salah seorang pendekar sewaan yang masih hidup di samping Ki Lurah Rino.


"Hanya nama julukan. Apalah arti sebuah nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa ini. Masih banyak pendekar yang lebih sakti mandraguna dibandingkan saya.


Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku takut kawan ku yang tinggal di rumah Ki Wugu dan Nyi Seti akan khawatir dengan keselamatan ku", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah kediaman Ki Wugu. Semua orang begitu takjub melihat itu semua.


"Wondo, kau tahu Jaka Umbaran itu siapa?", tanya Ki Barjo yang penasaran dengan sosok pemuda yang telah menyelamatkan mereka.


Wondo, sang pendekar sewaan yang tersisa menghela nafas panjang sebelum berbicara mengenai Jaka Umbaran.

__ADS_1


"Di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, siapa yang tidak pernah dengar nama besar Sang Pendekar Gunung Lawu, Ki Barjo? Dia adalah seorang pendekar muda yang namanya baru saja menggegerkan dunia persilatan setelah membuat Dewa Kalong Merah tak berdaya melawan nya. Yang terpenting lagi, sekarang ini Jaka Umbaran sang Pendekar Gunung Lawu,


Adalah pengatur wilayah tengah.."


__ADS_2