JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Melawan Prabu Tirtabawana ( bagian 1 )


__ADS_3

HAAHHHHHHHHHH?!!!


Betapa terkejutnya Patih Krendaseba mendengar ucapan Resi Simharaja. Ini adalah suatu kejadian besar yang sedang terjadi di depan mata nya dan dia sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini.


Kebimbangan segera melanda hati Patih Kerajaan Siluman Alas Purwo ini. Betapa pelik nya permasalahan tersebut. Di satu sisi, Putri Buanadewi adalah junjungan nya sekaligus calon ratu masa depan kerajaan siluman ini namun di sisi lain Putri Buanadewi adalah orang yang berdosa besar karena telah menaburkan kutuk pasu pada yang bukan sesamanya.


"Kenapa kau diam, putri dari raja siluman Alas Roban? Kau kehilangan kata-kata bijak mu atau kau tidak berani mengakui kesalahan?", hardik Resi Simharaja keras.


"A-aku aku...", Putri Buanadewi tak mampu melanjutkan omongan nya. Saat itulah, tiba-tiba..


"Heh Raja Siluman Alas Roban!


Ini bukan tempat mu dan jangan melampaui batas!!"


Bersamaan dengan itu, sesosok lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal dan janggut lebat muncul dengan diikuti oleh gelombang air yang keluar dari dalam istana. Air ini seolah memiliki nyawa dan bergerak membentuk sebuah kursi air yang indah dan menjadi tempat duduk bagi sosok lelaki bertubuh kekar dengan mahkota yang terbuat dari emas berkilauan itu.


"Tirtabawana...


Akhirnya kau muncul juga. Lama sekali aku tidak melihat orang tua seperti mu masih main air seperti seorang anak kecil", Resi Simharaja menyeringai lebar menatap ke arah sosok lelaki yang tak lain adalah Prabu Tirtabawana, raja siluman Alas Purwo sekaligus penguasa hutan yang terlihat di ujung timur Pulau Jawa ini.


"Mulut mu tetap saja liar seperti tidak pernah diajari tata krama, macan tua!


Kalau kau memang jagoan, ayo kita adu kesaktian ", tantang Prabu Tirtabawana sang raja siluman Alas Purwo segera.


Huhhhhh...


"Kalau aku tidak sedang bersama dengan majikan ku, aku pasti meladeni omong besar mu, tukang main air!


Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, silahkan bicara. Kalau aku yang terus bicara dengan si tukang main air ini, sebentar lagi tempat ini pasti akan menjadi medan pertarungan", ucap Resi Simharaja sembari menoleh ke arah Jaka Umbaran.


"Terus terang saja, raja siluman Alas Purwo..


Kedatangan kami kemari adalah untuk meminta Air Prawitasari yang kau miliki. Ini untuk mengobati kutuk pasu yang telah di terima oleh ayah ku Kanjeng Romo Prabu Bameswara setelah dia membunuh Mpu Mangiran atau yang lebih dikenal sebagai Si Iblis Berwajah Setengah Dewa. Karena Ajian Waringin Sungsang, kutuk pasu yang di derita oleh Mpu Mangiran berpindah kepada ayah ku. Karena kutuk pasu itu berasal dari Alas Purwo, maka kau wajib untuk membantu ku Raja Siluman Alas Purwo ", ucap Jaka Umbaran segera.


"Ini adalah daerah kekuasaan ku, Pangeran Daha. Kau tidak punya kuasa untuk memerintah ku.


Kalau aku menolak untuk memberikannya, kau mau apa??", Prabu Tirtabawana mendelik kereng pada Jaka Umbaran.

__ADS_1


"Maka aku tidak akan segan-segan untuk mengobrak-abrik kerajaan mu ini!", ancam Jaka Umbaran dengan penuh ketegasan.


Para siluman penghuni kerajaan siluman di ujung timur Pulau Jawa ini saling berpandangan sejenak mendengar ancaman sang pangeran muda. Selama ini tidak satupun manusia bisa datang dan pergi seenaknya di kerajaan mereka, dan kini ada seorang anak manusia yang mengancam keberadaan mereka. Tentu saja mereka semua tidak akan bisa tinggal diam saja.


Seorang siluman serigala yang berdiri di samping kanan Jaka Umbaran, mendengus keras sembari melompat ke arah sang pangeran muda. Dia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menggigit leher putra mahkota Kerajaan Panjalu itu.


Aaaauuuuuuuuuwwwwww!!


Jaka Umbaran yang sama sekali tidak mengendurkan sedikitpun kewaspadaan nya, diam-diam telah merapal mantra Ajian Brajamusti. Saat terkaman siluman serigala itu datang, dia menggeser posisi tubuhnya sedikit lalu menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru terang ke perut siluman serigala itu.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!


Blllaaammmmmmmm!!!!


Tubuh siluman serigala itu langsung mencelat jauh dan menghantam sebuah tiang bangunan yang berada tak jauh dari depan gapura pintu istana. Tubuhnya mengejang sebentar sebelum diam untuk selamanya. Setelah itu, tubuhnya berubah menjadi abu hitam yang kemudian hilang ditiup angin yang datang entah darimana.


Kematian siluman serigala yang merupakan salah satu prajurit kerajaan siluman terkuat di Tanah Jawadwipa ini sontak membuat semua siluman yang ada di tempat itu langsung mundur selangkah ke belakang. Membunuh siluman serigala itu bukanlah perkara mudah dan pangeran muda dari Kadiri ini mampu menghabisi nya dalam satu pukulan. Ini berarti bahwa pemuda ini bukanlah pendekar sembarangan.


Prabu Tirtabawana yang semula bersikap jumawa pada Jaka Umbaran pun terkesiap kaget juga melihat kemampuan beladiri yang di miliki oleh pangeran Daha ini.


Pemuda ini memiliki kemampuan untuk membunuh siluman seperti ku. Aku tidak boleh lengah sedikit pun jika harus menghadapinya', batin Prabu Tirtabawana.


Usai menghabisi siluman serigala itu, Jaka Umbaran menoleh ke arah Prabu Tirtabawana, Putri Buanadewi dan Patih Krendaseba. Tatapan matanya yang dingin dan tajam ibarat tatapan mata seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawa siapapun yang dikehendakinya.


"Apa jawaban mu sekarang, Raja Siluman Alas Purwo?!"


Suara berat nan berwibawa dari Jaka Umbaran itu terdengar seperti suara guntur yang menggelegar memecah keheningan di Kerajaan Siluman Alas Purwo.


"Aku tetap tidak bisa memberikan Air Prawitasari itu kepada mu, Pangeran Daha. Karena Air Prawitasari adalah penyangga kehidupan di Kerajaan Siluman Alas Purwo dan aku tidak mau mengorbankan seluruh siluman di tempat ini hanya untuk kepentingan pribadi mu", ucap Prabu Tirtabawana segera.


"Kalau begitu, bersiaplah untuk menghadapi kehancuran!!"


Setelah berkata demikian, Jaka Umbaran memejamkan matanya sebentar. Saat mata nya terbuka kembali, sekilas ada cahaya kuning keemasan yang berpendar pada manik mata Sang Pendekar Gunung Lawu ini. Di samping itu, kedua kepalan tangannya pun memancarkan cahaya biru terang Ajian Brajamusti. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah Prabu Tirtabawana sambil menghantamkan kepalan tangannya ke arah nya.


Whhhuuuuuuuutttttth whhuuthhhh!!


Dua cahaya biru terang berhawa panas menyengat menerabas cepat kearah sang penguasa Kerajaan Siluman Alas Purwo. Melihat itu, Prabu Tirtabawana segera mengangkat kedua tangannya ke depan. Air yang menjadi tempat duduknya bergerak cepat menghadang laju pergerakan cahaya biru terang Ajian Brajamusti. Sebuah perisai tebal dari air tercipta di depan Prabu Tirtabawana.

__ADS_1


Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm!


Benteng pertahanan yang terbuat dari air langsung hancur begitu cahaya biru terang Ajian Brajamusti menghantam. Patih Krendaseba pun segera menarik tangan Putri Buanadewi dan melesat menjauhi tempat pertarungan. Sedangkan Prabu Tirtabawana melompat mundur sembari terus menggerakkan tangannya menciptakan benteng pertahanan dari air.


Blllaaammmm blllaaammmmmmmm blllaaammmm dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Tempat itu terus berguncang hebat saat Jaka Umbaran terus menerus menghantamkan tapak tangan nya bergantian ke arah Prabu Tirtabawana.


Sadar bahwa tempat itu mungkin akan segera hancur, Prabu Tirtabawana segera memutar kedua tangan nya. Bersamaan dengan itu, sebuah banjir besar dengan air keruh kecoklatan mengepung Jaka Umbaran. Resi Simharaja yang ada di luar kepungan air keruh kecoklatan ini langsung berteriak lantang.


"Gusti Pangeran, mustika siluman ikan hiu..!!"


Mendengar teriakan keras dari Resi Simharaja, Jaka Umbaran segera merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan sebuah batu mustika berwarna hitam kebiruan. Segera dia memasukkan batu mustika itu. Perlahan bilur hitam kebiruan membentuk sebuah pola aneh di tubuh putra mahkota Kerajaan Panjalu itu. Selanjutnya, saat air keruh kecoklatan Ajian Banyu Alas menutup arena pertarungan, Jaka Umbaran bisa bernafas meskipun dia berada di dalam air.


Prabu Tirtabawana terkejut bukan main melihat itu semua.


"Mustika siluman ikan hiu?


Pangeran muda ini memiliki banyak sekali cara untuk bertahan hidup. Bajingan, aku harus cepat membunuh nya", gumam Prabu Tirtabawana.


Di dalam air keruh kecoklatan ini, Prabu Tirtabawana segera menangkupkan kedua telapak tangan hingga muncul gelembung gelembung udara yang kemudian berubah menjadi seekor ikan lele aneh yang memiliki gigi tajam. Segera dia mengibaskan tangannya dan ratusan ekor ikan lele aneh raksasa itu langsung berenang cepat kearah Jaka Umbaran.


Melihat itu semua, Jaka Umbaran tidak tinggal diam begitu saja. Kedua telapak tangannya bersatu di depan dada dan sekejap mata kemudian, muncul sebuah keris pusaka yang memancarkan cahaya merah menyala berhawa panas menyengat. Ini adalah Keris Pulanggeni, pusaka pemberian sang guru Maharesi Siwamurti.


Saat ratusan ekor ikan lele aneh raksasa itu menyerang, dengan cepat ia menusukkan keris pusaka nya ke arah mereka.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh chhraasshh!!!


Puuuffffffffffh!


Saat Keris Pulanggeni menusuk tubuh ikan-ikan lele aneh raksasa itu, tubuh mereka pun langsung hancur seketika seperti sebuah gelembung udara yang tertusuk duri tajam.


Melihat semua hewan ciptaan nya berhasil di bantai oleh Jaka Umbaran, Prabu Tirtabawana mendengus keras. Dia dengan cepat memutar kembali kedua telapak tangannya yang terentang lebar di samping tubuhnya sambil berkata,


"Jangan sombong dulu, Pangeran Daha..


Ini belum selesai..."

__ADS_1


__ADS_2