
Besur bersungut-sungut sembari melemparkan potongan kayu kering ke perapian yang mulai mengecil apinya. Meskipun sudah menggasak beberapa jagung bakar, tapi ternyata dia masih juga menggerutu tidak karuan.
"Kau kenapa Sur? Bibir mu kog lancip begitu?", tanya Gendol yang sibuk membolak-balik jagung muda diatas perapian.
"Kita disuruh berjaga-jaga, eh Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya malah asyik dengan istri-istrinya. Ini sungguh tidak adil", jawab Besur sembari terus menyumpalkan jagung muda bakar yang masih mengepulkan uap panas itu ke mulutnya.
"Lha namanya kita juga abdi dalem, jadi ya harus sendiko dawuh sama perintah. Tidak boleh protes karena ini sudah menjadi tanggung jawab kita selaku abdi dalem Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.
Nanti kalau sudah naik pangkat sebagai Demung atau Tumenggung, tentu saja kita tidak akan bertugas seperti ini lagi. Jadi, jalani saja prosesnya dan nikmati. Semua akan indah pada waktunya", ucap Gendol dengan santainya.
Mendengar jawaban itu, Besur melongo. Bahkan jagung bakar nya sampai jatuh ke tanah halaman samping Istana Katang-katang ini. Tak hanya Besur, Baratwaja pun juga ikut termangu memandangi Si Pendekar Gigi Jarang itu. Harimau putih besar yang sedari tadi hanya tidur bergelung pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pria bertubuh tinggi besar itu.
Sadar sedang menjadi tatapan mata semua orang, Gendol pun langsung menoleh ke arah mereka.
"Kenapa kalian?! Ada yang salah dengan omongan ku?"
"Salah sih tidak, tapi tumben sekali kau bicara benar seperti itu. Makan apa kau Ndol?", tanya Baratwaja segera.
"Sialan kalian..
Aku cuma bicara soal kewajiban kita sebagai abdi dalem, eh malah kalian ejek seperti itu. Benar-benar kawan laknat..", gerutu Gendol yang disambut senyuman oleh Besur dan Baratwaja.
Dari arah samping, Wara Andhira datang membawa nampan berisi beberapa potong singkong rebus dan pisang matang. Sebuah kendi berisi air minum pun juga ada disitu.
"Eh perempuan bertenaga gajah..
Kenapa kau ikut kemari? Bukankah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tidak mewajibkan mu untuk ikut berjaga di sini?", Besur buka suara.
"Sekali sekali bergabung dengan kalian masak tidak boleh?
Lagipula aku masih belum bisa tidur. Ini masih terlalu sore untuk beristirahat", Wara Andhira segera meletakkan nampan berisi makanan ini ke samping Baratwaja. Putra Mapatih Mpu Baprakeswara ini segera mengambil sepotong singkong rebus dan memakannya.
"Jangan-jangan kau iri ya dengan kemesraan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya?
__ADS_1
Uh malam ini dia pasti sedang asyik bercinta dengan salah satu istri nya yang cantik itu", ucapan Besur ini seketika membuat wajah Wara Andhira merona merah, namun perempuan cantik itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun sialnya, arah itu adalah arah kamar tidur Dewi Rengganis. Sayup-sayup terdengar suara rintihan dari tempat itu.
Mendengar itu, entah apa yang sedang di rasakan oleh Wara Andhira, akan tetapi dia semakin memerah wajahnya. Besur pun tak melepaskan kesempatan ini untuk menggojloknya habis-habisan.
"Ehehehehehehehe, kenapa wajah mu memerah begitu, Andhira?
Kau pasti mendengar nya kan? Itu pasti Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sedang bercumbu mesra dengan istri nya. Jangan iri ya? Whehehehehehehe..", Besur terkekeh kecil.
Huhhhhh..
"Si-siapa yang iri? A-aku tidak merasa iri kog", Wara Andhira terbata bata saat berbicara.
"Ah mana mungkin tidak iri? Coba kamu dengarkan suara suara rintihan dari kamar tidur Gusti Putri Dewi Rengganis. Pasti sekarang Gusti Pangeran sedang membelai lembut rambut Gusti Putri, lalu perlahan tangannya meraba-raba bu..... Haaaeeeeeppppphh!!!"
Besur belum selesai berbicara saat sepotong singkong rebus melayang masuk ke dalam mulutnya. Dia hampir saja protes terhadap apa yang terjadi pada nya, namun segera ia urungkan niatnya setelah melihat Wara Andhira mendelik kereng pada nya.
"Mulutmu benar-benar melebihi mulut seorang perempuan. Dasar lelaki mesum..", usai berkata demikian, Wara Andhira melenggang pergi meninggalkan tempat itu segera.
"Sur Besur, kau ini memang pintar mencari gara-gara.
Mereka bertiga ditemani oleh seekor harimau putih besar terus berbincang tentang banyak hal hingga tak terasa tengah malam menjelang tiba. Setelah itu, mereka pun bergantian berjaga di sekitar Istana Katang-katang hingga pagi datang menjelang.
Pagi itu, usai sarapan pagi bersama keempat orang istrinya, Pangeran Mapanji Jayabaya memanggil seluruh pejabat negara di Istana Katang-katang. Ini sudah sesuai dengan aturan yang menyebutkan bahwa jika raja sedang sakit, maka seluruh beban kerja dan kewajibannya akan menjadi tanggung jawab dari putra mahkota.
Di Pendopo Istana Katang-katang, terlihat Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya duduk dengan gagah di singgasana putra mahkota. Di sampingnya, nampak Dewi Rengganis dan Dyah Pandan Wangi yang menemani.
Sedangkan para nayaka praja seperti Mahamantri Katrini yang terdiri dari Mahamantri I Halu Mapanji Samya Gunung, Rakryan Rangga Mapanji Amaraha, Rakryan Kanuruhan Mpu Karnikeswara Matanggalaksana, Mapatih Mpu Baprakeswara dan Rakryan Juru Mapanji Kambadaha pun terlihat duduk sesuai dengan urutan kepangkatan masing-masing.
Selain mereka, nampak Tumenggung Mapanji Baguna selaku pimpinan pengamanan Kotaraja Daha, Senopati Agung Sembada dan juga Tumenggung Setawardana selaku pimpinan kelompok telik sandi Pasukan Khusus Lowo Bengi pun turut hadir di tempat itu. Juga beberapa Juru dan Demung seperti Besur, Baratwaja, Wijayaprabhu dan Balarama.
Kesemuanya duduk bersila di tempat mereka masing-masing dengan tenang, menunggu titah sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu.
Hemmmmmmm...
__ADS_1
Terdengar suara dengusan nafas berat dari Pangeran Mapanji Jayabaya seolah ada sebuah beban berat yang kini sedang dia pikul.
"Karena Kanjeng Romo Prabu Bameswara sedang sakit, maka untuk sementara waktu, kendali pemerintahan Kerajaan Panjalu berada di tangan ku. Aku harap kalian semua bisa membantu ku menjalankan roda pemerintahan kerajaan ini dengan baik", ucap Jaka Umbaran mengawali pertemuan pagi hari itu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap kompak semua orang yang ada sembari menyembah pada Pangeran Mapanji Jayabaya.
"Aku sempat mendengar berita bahwa pasukan Kerajaan Jenggala sedang bergerak di sekitar perbatasan Hantang dan Matahun. Dari pasukan telik sandi, apa sudah ada berita yang terbaru?", Jaka Umbaran menatap ke arah Tumenggung Setawardana.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Mata-mata kita telah melaporkan bahwa para prajurit Jenggala sudah bersiaga di sekitar wilayah Hantang tepatnya di Ranu Mendalan. Kata mereka, jumlahnya cukup besar, hampir sekitar 40 ribu orang prajurit.
Sedangkan dari Matahun, sejumlah pergerakan mencurigakan mulai terlihat. Ada beberapa kelompok kecil yang menyamar sebagai petani, mulai bergerak menuju ke arah Kotaraja Daha. Kami sudah memeriksa nya akan tetapi tidak menemukan apa-apa selain beras dan beberapa kain. Tapi kami khawatir, ada yang sudah bergerak lebih dulu ke Kotaraja Daha entah itu lewat jalur sungai ataupun darat. Sejauh ini kami berusaha untuk terus meningkatkan penyelidikan terhadap gelombang pergerakan para petani ini", Tumenggung Setawardana menyembah pada Pangeran Mapanji Jayabaya usai mengakhiri laporannya.
Hemmmmmmm..
"Sepertinya mereka telah mempersiapkan ini dengan matang hingga kita tak bisa mendapatkan barang bukti untuk menanggulangi pergerakan mereka. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah menerapkan penjagaan ketat di sekitar wilayah Kotaraja Daha.
Sedangkan untuk urusan pasukan mereka di Hantang, aku sendiri yang akan memimpin pasukan kita untuk mengusir mereka", titah Jaka Umbaran segera.
"Kami mengerti Gusti Pangeran", ucap semua hadirin sembari menghormat pada sang pangeran mahkota.
"Selain itu, untuk meningkatkan kekuatan tempur kita, aku mengangkat Gendol sebagai Demung, Besur dan Baratwaja sebagai Tumenggung baru dalam keprajuritan Panjalu.
Selanjutnya, Demung Gendol akan bertugas sebagai kepala pengawal pribadi ku. Sedangkan Tumenggung Besur dan Baratwaja akan memimpin pasukan dari Kayuwarajan Kadiri sebagai pasukan cadangan yang akan siap digunakan bila sewaktu-waktu ada serangan mendadak dari Jenggala", mendengar titah sang pangeran mahkota, Gendol pun langsung tersenyum lebar. Begitu juga dengan Besur dan Baratwaja. Ketiganya langsung berjongkok dan menyembah pada Pangeran Mapanji Jayabaya.
"Terimakasih atas kemurahan hati Gusti Pangeran".
Maka hari itu juga, Jaka Umbaran membawa puluhan orang prajurit Panjalu bergerak menuju ke Ranu Mendalan yang ada perbatasan wilayah antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Dalam tatanan perwira tinggi, nampak Tumenggung Besur, Tumenggung Baratwaja dan Demung Gendol terlihat memimpin para prajurit Panjalu yang berjumlah sekitar 50 ribu orang ini di bawah kendali Senopati Agung Sembada. Selain mereka, seekor harimau putih besar dan Wara Andhira juga menyertai perjalanan Jaka Umbaran.
Setelah pasukan besar itu berangkat, Rakryan Kanuruhan Mpu Karnikeswara tersenyum lebar melihat nya. Sebuah rencana besar yang telah dia susun sejak lama, akhirnya bisa segera dilaksanakan.
Sembari mengepalkan tangannya erat-erat, dia menatap ke arah perginya Jaka Umbaran bersama para prajurit Panjalu sambil berkata,
__ADS_1
"Kotaraja Daha sedang kosong. Para singa istana ini telah keluar dari dalam kandang.
Saatnya untuk menjalankan rencana ku!"