
Berita kematian Raden Natawirya di tangan Resi Mpu Rikmasena sontak membuat seluruh penghuni istana terpukul. Meskipun pada akhirnya Resi Mpu Rikmasena juga mati bunuh diri dengan menggunakan pedang Besur, namun dalang sebenarnya masih bebas berkeliaran tanpa beban sedikitpun. Ini yang menjadi perhatian serius Adipati Natanegara.
Bersama dengan Jaka Umbaran dan para pengikutnya sebagai kekuatan utama, para punggawa Istana Kadipaten Matahun mulai menyusun siasat untuk menghadapi orang-orang Lembah Hantu. Malam itu mereka berkumpul di Pendopo Agung Kadipaten Matahun untuk membahas mengenai rencana penyerbuan markas besar Lembah Hantu.
"Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak. Mereka berada di wilayah Kadipaten Hujung Galuh. Jika sampai kita menggunakan nama Kadipaten Matahun, bisa-bisa terjadi perang besar antara Jenggala dan Panjalu", ucap Patih Mpu Kariti sembari menatap ke seluruh orang yang ada di tempat itu.
"Paman Patih benar..
Sekalipun demikian, kita tidak boleh memantik perang antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Jadi rencana besar ini harus benar-benar rapi", timpal Adipati Natanegara segera.
"Karena itu, kita harus menyamar sebagai murid dari salah satu perguruan silat agar tidak menimbulkan kesan pancingan perang.
Patih Mpu Kariti, di wilayah Kadipaten Matahun ini, perguruan silat mana yang memiliki murid banyak?", Jaka Umbaran menatap ke arah Patih Mpu Kariti yang duduk berhadapan dengan nya.
"Hamba rasa, Perguruan Bukit Kapur saja yang memiliki murid banyak, Gusti Pangeran.
Kebetulan saja, pimpinan utama dari Perguruan Bukit Kapur adalah kawan baik hamba. Jadi hamba yakin kalau mereka tidak akan pernah keberatan jika kita meminjam nama mereka untuk menyerbu ke markas besar Lembah Hantu. Apalagi, Mpu Waskita pimpinan Perguruan Bukit Kapur juga memiliki dendam pribadi pada Pangeran Lembah Hantu. Dengan niat kita, pasti dia akan sangat mendukung rencana ini", balas Patih Mpu Kariti sembari menghormat pada Sang Pendekar Gunung Lawu.
"Kalau begitu, siapkan para prajurit pilihan yang memiliki kemampuan beladiri mumpuni untuk ikut serta dalam rencana kita.
Setidaknya siapkan 500 orang untuk berjaga-jaga jika orang-orang Lembah Hantu memiliki jumlah banyak. Juga para perwira prajurit yang berkemampuan tinggi. Kita tidak boleh sedikit pun menyisakan satu orang pun dari mereka untuk mencegah munculnya kembali Lembah Hantu di masa depan", ucap tegas Jaka Umbaran yang langsung membuat para perwira prajurit Matahun mengangguk setuju.
Keesokan paginya, sebanyak 500 orang prajurit pilihan dibariskan di alun-alun Kota Kadipaten Matahun. Namun kali ini mereka tidak menggunakan pakaian ala prajurit, melainkan pakaian para murid Perguruan Bukit Kapur yang khas dengan ikat kepala putih dan baju tanpa lengan berwarna hitam. Mereka pun tidak membawa umbul-umbul bendera hijau bersulam benang emas bergambar gajah yang menjadi lambang kebesaran Kadipaten Matahun akan tetapi membawa bendera hitam bergambar bukit kecil berwarna putih yang merupakan lambang Perguruan Bukit Kapur.
Sedangkan para perwira prajurit Matahun yang ikut pun hanya mengenakan pakaian biasa selayaknya seorang pendekar dunia persilatan. Ada yang bersenjatakan pedang kembar, ada yang memanggul golok besar, ada yang bersenjatakan pedang pendek dan ada pula yang menenteng perisai besi bergerigi tajam sambil memegang palu besar.
Para perwira prajurit Matahun ini sudah siap untuk bertarung habis-habisan melawan orang-orang Lembah Hantu.
Adipati Natanegara sendiri tidak ikut dalam persiapan penyerbuan itu, karena khawatir akan serangan dadakan ke istana. Hanya Patih Mpu Kariti saja yang mengikuti gerakan ini.
Jaka Umbaran muncul dari balik pintu samping istana Kadipaten Matahun dan melangkah menuju ke arah para barisan prajurit yang sedang menyamar. Tak ada yang istimewa dari penampilannya, hanya mengenakan baju tanpa lengan berwarna biru tua seperti kebiasaannya saat berkelana di dunia persilatan. Keempat orang pengawalnya : Gendol, Besur, Baratwaja dan Resi Simharaja pun tetap dengan pakaian mereka yang sederhana. Sedangkan para prajurit pengawal tugas nya mengenakan pakaian serupa dengan para prajurit Matahun.
Di pimpin oleh pimpinan prajurit Matahun, Senopati Setakuning, yang hapal betul jalan menuju ke arah markas Lembah sebagai penunjuk arah, mereka bergerak cepat dengan kuda pilihan menuju ke arah timur laut. Debu-debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda kuda mereka mencecah jalanan.
__ADS_1
Setelah cukup lama berkuda, mereka sampai di tepi hutan kecil yang menjadi tapal batas wilayah Kadipaten Matahun dan Kadipaten Hujung Galuh.
"Di ujung hutan kecil ini, adalah markas besar Lembah Hantu. Hutan kecil ini cukup angker karena banyak sekali hal aneh yang ada di tempat ini. Kita harus berhati-hati jika ingin sampai kesana", ucap Senopati Setakuning sebelum mereka mulai memasuki hutan kecil itu. Jaka Umbaran mengangguk mengerti.
Perlahan mereka memasuki hutan kecil yang lebat ini. Karena jalan yang bisa di lewati hanya jalan setapak yang hanya cukup untuk satu ekor kuda, akhirnya mereka membuat para prajurit Matahun berjalan satu persatu seperti seekor lipan yang berjalan lambat. Suasana hutan kecil ini memang menakutkan. Tak ada suara burung berkicau seperti kebanyakan hutan pada umumnya, hanya sesekali terdengar suara kera liar menjerit-jerit dari kejauhan. Dan ini cukup menakutkan.
Semakin mereka masuk ke dalam hutan kecil itu, muncul kabut yang menyelimuti seluruh hutan kecil ini. Semakin ke dalam, kabut yang menyelimuti seluruh tempat itu semakin pekat hingga jarak pandang pun menjadi sangat terbatas.
Setelah cukup jauh mereka memasuki hutan kecil itu, tiba-tiba...
Hehehehehehehehe.....
Terdengar suara tawa bergema yang membuat Senopati Setakuning menghentikan langkah kaki kuda nya. Semua orang yang ada di belakangnya pun juga ikut menghentikan langkah mereka.
"Setan alas! Keluar kau, tunjukkan wujud mu! Jangan cuma ketawa untuk menakuti orang!", ucap Senopati Setakuning keras.
"Kalian memasuki wilayah ku!
Jaka Umbaran yang berkuda di belakang Senopati Setakuning, diam-diam mengusap cincin bermata merah di jari manisnya. Asap putih muncul dari dalam cincin pusaka itu yang menjelma menjadi seekor kera besar berbulu merah.
"Majikan memanggil hamba. Ada perintah untuk hamba?", ucap kera besar berbulu merah yang hanya bisa dilihat oleh Jaka Umbaran ini. Ya, dia adalah Pancer. Siluman kera besar dari Gunung Lawu yang menjadi taklukan Jaka Umbaran di awal petualangan nya.
"Singkirkan apapun yang mencoba menghalangi jalan kami. Berangkatlah..", mendengar jawaban itu, Pancer si siluman kera besar berbulu merah itu langsung menghormat sebelum dia melesat ke arah selatan.
Tiba-tiba saja terdengar suara keras seperti orang sedang bertarung sengit.
Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh..
Bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh!!!!
Beberapa dentuman keras sempat terdengar beberapa kali sebelum menghilang dengan sendirinya. Tentu saja ini menambah ketakutan mereka bahkan untuk yang tidak takut pada hantu sekalipun.
Besur dan Baratwaja terlihat cukup waspada dengan tempat ini. Gendol langsung memegang erat gagang senjata andalannya sedangkan Resi Simharaja terus menatap ke arah Jaka Umbaran yang masih terlihat tenang.
__ADS_1
Perlahan kabut tebal yang menutupi jalan setapak di tengah hutan kecil angker ini menghilang bersamaan dengan munculnya kembali Pancer si siluman kera besar berbulu merah di samping Jaka Umbaran.
"Sudah hamba bereskan Majikan. Hanya genderuwo yang ingin di hajar saja.
Apa ada tugas lain untuk hamba?", tanya Pancer sambil menghormat pada sang pangeran muda.
"Sudah cukup, terimakasih atas bantuan mu Pancer..
Kau boleh beristirahat kembali di tempat mu", ucap Jaka Umbaran segera. Pancer si siluman kera besar berbulu merah itu pun segera menghormat pada Jaka Umbaran sebelum berubah kembali menjadi asap putih yang perlahan masuk ke dalam cincin pusaka bermata merah di jari manis Jaka Umbaran.
Setelah kabut putih itu menghilang, perjalanan mereka dilanjutkan kembali. Tak lama kemudian, hutan kecil itu berakhir dan sebuah lembah yang menghijau di bantaran Sungai Wulayu terhampar di depan mata. Beberapa tempat terlihat biasa-biasa saja seperti kebanyakan lembah sungai pada umumnya, namun di sisi timur lembah ini nampak sebuah bukit batu kecil dengan sebuah goa dengan bentuk mirip dengan tampang mahkluk menyeramkan. Mulut goa ini bahkan terlihat jelas dari jarak yang jauh.
Senopati Setakuning segera mengangkat tangan kanannya hingga seluruh pengikutnya menghentikan langkah kaki kuda mereka. Sang pimpinan utama prajurit Matahun ini langsung melompat turun dari kuda tunggangan nya. Setelah itu ia segera mendekati Jaka Umbaran.
"Kita sudah sampai di Lembah Hantu, Gusti Pangeran.
Dari berita yang hamba dapatkan, bukit kecil dengan goa itu adalah markas besar mereka", ujar Senopati Setakuning sembari menghormat.
Hemmmmmmm...
"Kalau begitu, kita tidak harus berhati-hati. Semua nya, kuda tunggangan kita tambatkan disini. Dari sini kita akan berjalan kaki menuju ke arah markas besar Lembah Hantu", perintah Jaka Umbaran yang segera memberikan ke 500 lebih prajurit yang sedang menyamar sebagai murid Perguruan Bukit Kapur ini mengangguk mengerti. Mereka pun segera bergegas mengikuti langkah sang pimpinan dan menyembunyikan kuda-kuda mereka di balik rimbun pepohonan di sekitar tempat itu.
Semuanya lantas bergerak cepat dalam diam menuju ke arah Lembah Hantu. Dalam waktu singkat, mereka berhasil mendekati markas besar Lembah Hantu namun menghentikan langkah mereka usai melihat beberapa orang penjaga terlihat sedang berkeliaran di sekitar pintu pagar markas besar Lembah Hantu yang berpagar kayu gelondongan sebesar betis orang dewasa.
"Gusti Pangeran, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tempat ini dijaga ketat oleh para pengawal itu", ucap Senopati Setakuning segera.
"Bagi pasukan menjadi 3 bagian. Kau pimpin pasukan untuk memutar ke kanan dan kau Patih Mpu Kariti juga perwira yang bersenjata golok besar itu ke kiri. Aku akan langsung membuat kekacauan di pintu gerbang markas besar mereka.
Saat pasukan besar mereka datang, kalian berdua maju dari dua sisi yang berbeda. Kalian mengerti?", Jaka Umbaran segera menatap ke arah Patih Mpu Kariti, Senopati Setakuning dan Tumenggung Margana itu segera.
Dua orang perwira tinggi prajurit Kadipaten Matahun dan Patih Mpu Kariti langsung menghormat pada Jaka Umbaran sembari berkata,
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran.."
__ADS_1