
Makhluk hitam menyeramkan yang merupakan perwujudan dari bergabungnya manusia dan iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata menggeram dingin melihat upaya nya untuk menjatuhkan Jaka Umbaran dengan beberapa siluman rendahan yang di panggil nya justru di hadapi lawan dengan memanggil makhluk sejenis.
Dia tahu bahwa siluman rendahan yang di lepaskan nya bukan tandingan yang sepadan dengan kemampuan makhluk panggilan Jaka Umbaran. Kera besar berbulu merah dan harimau putih besar itu adalah para raja siluman yang memiliki kesaktian luar biasa yang akan dengan mudah menghabisi para siluman rendahan panggilannya.
'Bocah ini rupanya memiliki prewangan yang hebat. Terpaksa aku harus mengerahkan seluruh kemampuan ku jika tidak ingin terbunuh oleh nya'
Makhluk hitam menyeramkan ini langsung menyatukan kedua tangan nya. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Jaka Umbaran yang sedang melesat cepat kearah nya pun langsung tertarik dalam bidang merah dan hitam yang memunculkan api yang berkobar hebat.
'Setan alas.. Ini ada dimana?'
Di tengah kebingungan nya sedang ada dimana, tiba-tiba muncul sosok makhluk menyeramkan jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata itu di hadapannya.
"Ehehehehehehe..
Bocah keparat, ini adalah Alam Neraka Perut Bumi. Aku menarik mu kesin untuk membunuh mu. Tak satupun manusia yang sanggup bertahan hidup di tempat ini karena ini adalah wilayah kekuasaan ku. Bersiaplah untuk mati!"
Selepas berkata demikian, makhluk setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata itu segera melesat cepat kearah Jaka Umbaran. Dengan kepalan tangan kanan sebesar buah kelapa, dia menghantam ke arah Sang Pendekar Gunung Lawu. Tak punya kesempatan untuk menghindar, Jaka Umbaran segera menyilangkan kedua tangannya untuk menahan hantaman lawan.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Tubuh pendekar muda ini sampai tersurut mundur beberapa tombak jauhnya ke belakang saking kuatnya tenaga pukulan keras makhluk menyeramkan ini. Untung saja, Ajian Bandung Bondowoso yang dimilikinya masih mampu melindungi tubuhnya dengan sempurna.
"Rupanya kau punya ilmu pertahanan tubuh yang tinggi. Kita lihat saja sampai sejauh mana ilmu itu bisa melindungi tubuh mu dari serangan ku!!", ucap makhluk setengah iblis ini sembari melesat cepat kearah Jaka Umbaran dengan kembali mengayunkan kepalan tangannya bertubi-tubi kearah sang pendekar muda.
Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Makhluk menyeramkan itu terus-menerus menggempur pertahanan tubuh Jaka Umbaran dengan serangan cepat dari segala penjuru arah. Meskipun Jaka Umbaran mesti terlempar kesana-kemari tanpa bisa membalas, namun nyatanya tubuhnya sama sekali tidak terluka sedikitpun.
Hooosshhh hooosshhh hooosshhh!!
Menyerang membabi-buta seperti itu, nyatanya juga menguras tenaga dalam yang dimiliki oleh makhluk menyeramkan ini. Dia harus ngos-ngosan mengatur nafasnya setelah lebih dari 200 pukulan dan tendangan di lepaskan pada Jaka Umbaran. Ajian Bandung Bondowoso yang di miliki oleh Jaka Umbaran memang mengagumkan.
'Bajingan kecil ini...
Hooosshhh, kalau aku terus-terusan begini bisa-bisa aku sendiri yang mampus kehabisan tenaga. Aku harus segera membunuh nya', batin makhluk setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata.
Dia segera melompat menjauh dari Jaka Umbaran. Sesampainya di tempat yang diinginkan, makhluk menyeramkan itu segera merentangkan kedua tangannya.
"Oh api yang memusnahkan seluruh semesta..
Oh kegelapan yang mendekap erat jagat raya..
Aku memanggil kalian untuk mengikuti perintah ku. Musnahkan bocah itu!!"
Tiba-tiba di kedua tangan makhluk menyeramkan itu muncul kobaran api kehitaman yang sangat panas. Bahkan kobaran api di sekitar tempat pertarungan sengit antara Jaka Umbaran dan makhluk setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata ini terasa tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
Jaka Umbaran pun segera mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki karena tahu bahwa lawan sudah mengeluarkan ilmu kanuragan pamungkas milik nya. Cahaya kuning keemasan pun semakin terang membungkus tubuh sang pendekar. Setelah itu ia segera menendang sebuah batu besar seukuran kerbau yang ada di dekat sang pendekar muda itu.
Dhhaaaassshhh..
Whhhuuuggghhhh!!
Batu besar seukuran kerbau itu seketika mencelat cepat kearah makhluk hitam menyeramkan yang tengah melayang di udara ini. Namun, sang manusia setengah iblis itu langsung mengibaskan tangannya hingga batu besar seukuran kerbau itu langsung hancur lebur menjadi abu.
Melihat itu, Jaka Umbaran terhenyak sebentar saja lalu kemudian kembali menendang puluhan batu besar di sekitar nya ke arah jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata itu segera. Puluhan batu besar itu langsung meluncur cepat kearah makhluk hitam menyeramkan itu.
"Bocah keparat!!
Apa kau pikir aku akan kalah dengan hantaman batu kerikil kecil seperti ini ha? Kau terlalu naif!!!"
Sembari terus menghancurkan batu batu yang ditendang oleh Jaka Umbaran, makhluk setengah iblis itu meluncur ke arah Jaka Umbaran dengan menghantamkan kepalan tangan yang di liputi oleh api merah kehitaman berhawa panas menyengat ini.
"Api Pemusnah Kahyangan...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!!"
Jaka Umbaran yang sudah mempersiapkan Ajian Guntur Saketi, menyambut kedatangan serangan pamungkas milik lawannya dengan menghantamkan tapak tangan kanan nya.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr..!!
Tubuh Jaka Umbaran mencelat jauh ke belakang. Seteguk darah segar muncrat keluar dari dalam mulutnya. Namun belum sampai dia menyentuh tanah membara ini, tiba-tiba muncul cahaya kuning keemasan huruf sansekerta membentuk sebuah lingkaran besar bergerigi tajam mengelilingi tubuh sang Pendekar Gunung Lawu. Sementara lawannya pun juga terpental mundur beberapa tombak ke belakang langsung kaget setengah mati melihat munculnya cahaya kuning keemasan dari tubuh Jaka Umbaran.
I-itu bukankah senjata Dewa Wisnu? Ba-bagaimana mungkin bisa muncul disini?"
Di tengah keterkejutannya, tubuh Jaka Umbaran tiba-tiba saja melayang dengan mata memancarkan cahaya kuning keemasan. Perlahan dia bergerak mendekati makhluk setengah iblis itu.
"Batara Kala!
Kau rupanya ingin mengobrak-abrik tatanan alam semesta. Sepertinya aku harus memusnahkan mu untuk menentramkan seluruh jagat raya", ucap Jaka Umbaran dengan dua suara berat nan penuh keagungan.
"Ampuni hamba Hyang Wisnu.. Aku tidak berani. Lepaskan hamba, hamba berjanji akan pulang ke tempat asal ku..", makhluk menyeramkan itu langsung berlutut sembari bersujud di hadapan sosok lain Jaka Umbaran yang terlihat begitu agung.
"Lekas lakukan..
Jika tidak, sampai seratus kehidupan, kau akan tetap menjadi arang neraka untuk hukuman semua tindakan bodoh mu ini!", mendengar jawaban itu, makhluk menyeramkan bertanduk itu segera menyembah pada Jaka Umbaran. Kemudian ia menancapkan kukunya di dadanya sendiri lalu menariknya ke arah yang berlawanan.
Brrraaaakkkkkkkkk!!!
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...!!!!
Bersamaan dengan itu, baik Jaka Umbaran maupun Dewa Guru Resi Atmabrata kembali ke tempat semula di lereng bukit Gronggong. Pemisahan antara jiwa Batara Kala dan Dewa Guru Resi Atmabrata telah pula membuat mereka kembali dari Alam Neraka Perut Bumi. Jaka Umbaran yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri segera bangkit dari tempat jatuhnya sedangkan Dewa Guru Resi Atmabrata masih terkapar di tanah.
Kehilangan kekuatan Batara Kala yang sempat bersatu dengan tubuh nya membuat kekuatan Dewa Guru Resi Atmabrata tak lebih dari kemampuan pendekar biasa. Sedangkan luka-luka yang diterima tubuhnya saat pertarungan dengan Jaka Umbaran, kini terasa sangat menyiksanya. Kakek tua bertubuh gempal dan berotot itu terus memuntahkan darah segar.
__ADS_1
Resi Guru Ekajati dan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang menggendong tubuh Dewi Rengganis pun segera mendekati Jaka Umbaran.
"Kau baik-baik saja, Pendekar Gunung Lawu?", tanya Nyai Larasati segera.
"Aku perlu istirahat beberapa hari untuk memulihkan tenaga ku, Nyai.. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Tua bangka itu bukan ancaman lagi", Jaka Umbaran menunjuk ke arah Dewa Guru Resi Atmabrata yang masih terkapar tak berdaya tak jauh dari tempat mereka berada. Mendengar ucapan itu, baik Nyai Larasati maupun Resi Guru Ekajati mengangguk mengerti.
Bersama dengan itu, Pancer berubah menjadi cahaya merah yang kemudian masuk ke dalam cincin pusaka di jari manis sang pendekar muda. Sedangkan Resi Simharaja yang berubah wujud nya menjadi seekor harimau putih besar masih tetap mempertahankan wujudnya seperti itu kala mereka mulai melangkah meninggalkan kaki Bukit Gronggong.
"Tunggu !!
Kalian semua tidak ada yang boleh pergi dari tempat ini. Kalian semua harus mati di tangan ku!!"
Teriakan keras tiba-tiba dari arah belakang membuat Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya segera menoleh ke sumber suara. Dewa Guru Resi Atmabrata berdiri sambil sempoyongan menahan tubuhnya yang sudah lemah tak berdaya.
Di saat yang bersamaan, muncul puluhan orang murid Kedewaguruan Astanaraja mengepung tempat itu. Semuanya terlihat bersiap untuk menyerang Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya setelah Dewa Guru Resi Atmabrata memberikan isyarat kepada para murid Kedewaguruan Astanaraja untuk maju.
Geram dengan ulah manusia tak tahu diri ini, Jaka Umbaran yang semula ingin mengampuni nyawa Dewa Guru Resi Atmabrata mendengus dingin sembari mengibaskan jari telunjuk nya ke arah kepala Dewa Guru Resi Atmabrata. Seberkas cahaya putih kebiruan melesat cepat kearah dahi lelaki tua itu segera.
Cllaaaaaassshhhhh!!
Aaauuuuggggghhhhh...!!!
Dewa Guru Resi Atmabrata meraung keras saat cahaya putih kebiruan kecil yang keluar dari telunjuk tangan kanan Jaka Umbaran menembus dahi hingga ke tengkuk. Dia langsung roboh dengan kepala bolong dan isi kepala berhamburan. Dia tewas mengenaskan.
"Dasar banyak omong!!", gumam Jaka Umbaran sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada. Puluhan orang murid Kedewaguruan Astanaraja yang melihat guru besar sekaligus pimpinan Kedewaguruan Astanaraja itu tewas dengan mudah, langsung mundur selangkah ke belakang. Mereka langsung sadar bahwa mereka bukan lawan yang sebanding dengan para pendekar di hadapannya.
"Apa kalian semua ingin bernasib sama dengan tua bangka ini?!
Dengarkan aku baik-baik. Dewa Guru Resi Atmabrata bersekutu dengan iblis dan menjadikan para perempuan muda sebagai tumbal persembahan. Para perempuan yang ada disana adalah saksi mata nya. Aku Resi Guru Ekajati dari Pertapaan Gunung Cakrabuana, pengatur wilayah barat, di bantu oleh Jaka Umbaran sang Pendekar Gunung Lawu, pengatur wilayah tengah dan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan sang pengatur wilayah selatan terpaksa harus menjatuhkan hukuman mati bagi pimpinan kalian.
Selanjutnya, apa kalian ingin membela orang tua sesat ini?", ucap Resi Guru Ekajati sembari mengedarkan pandangannya ke arah para murid Kedewaguruan Astanaraja yang berdiri mengepung tempat itu.
Wakil pimpinan sekaligus pengajar Kedewaguruan Astanaraja, Resi Guru Ragajaya yang ada di antara para murid langsung maju ke arah Resi Guru Ekajati, Nyai Larasati dan Jaka Umbaran serta harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja. Sebelum bicara, ia terlebih dahulu membungkuk hormat kepada Resi Guru Ekajati yang kini menjadi pendekar paling dihormati di wilayah barat.
"Sudah lama kami berdiam diri saja melihat ulah pimpinan karena kami tak kuasa untuk melawannya. Hari ini Kedewaguruan Astanaraja terlepas dari cengkeraman tangan besi nya itu adalah anugerah dari Sang Hyang Akarya Jagat.
Kami tidak menyalahkan mu, pengatur wilayah barat", ucap Resi Guru Ragajaya dengan penuh hormat.
Setelah mendengar jawaban itu, rombongan kecil itu segera meninggalkan tempat itu bersama para perempuan muda yang mereka bebaskan. Setelah cukup jauh mereka meninggalkan lereng bukit Gronggong, Jaka Umbaran segera bertanya kepada Resi Guru Ekajati yang berjalan paling depan.
"Resi Guru, kita mau kemana? Maaf jika aku bertanya demikian. Dewi Rengganis masih belum sadarkan diri dan Nyai Larasati masih belum punya cara untuk menyadarkan murid nya"
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Resi Guru Ekajati sesaat sebelum dia melirik ke arah Rengganis yang masih pingsan di gendongan sang guru.
"Hanya satu tempat saja yang bisa kita datangi untuk menyembuhkan Dewi Rengganis, Pendekar Gunung Lawu.
__ADS_1
Wanua Jalaksana.."