
"Apa syaratnya, Nakmas Pangeran? Cepat katakan, jangan buat biyung mu ini penasaran", ucap Ratu Dyah Chandrakirana yang tak sabar menunggu jawaban dari sang putra. Ucapan nya seolah mewakili perasaan semua orang yang ada di tempat itu.
"Sabar dulu Kanjeng Biyung, ada yang mesti saya tanyakan dulu pada Kanjeng Romo Prabu Bameswara.
Kanjeng Romo Prabu, apakah Romo Prabu mendengar tentang adanya pergolakan politik di Paguhan yang berujung pada pergantian pucuk kepemimpinan disana?", Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya segera menoleh ke arah sang ayahanda tercinta.
"Tentu saja aku tahu, semua itu tidak luput dari perhatian ku Nakmas Pangeran.
Lantas kenapa ini kau tanyakan? Apa ada hubungannya dengan syarat yang kau minta?", tanya Prabu Bameswara segera.
"Kanjeng Romo Prabu sungguh jeli sekali melihat arah pembicaraan saya.
Begini ceritanya Kanjeng Romo. Penguasa baru Kadipaten Paguhan sekarang, Adipati Prabhaswara, adalah orang yang memang berhak atas tahta Kadipaten Paguhan karena dia merupakan satu-satunya putra Adipati Lokananta yang masih hidup. Sedangkan Adipati Lokawijaya yang baru saja di gulingkan hanyalah anak haram dari istri Adipati Lokananta yang selingkuh dengan Patih Pandusena. Harap Kanjeng Romo Prabu Bameswara bijak menyikapi hal ini.
Sedangkan syarat saya untuk menerima hadiah ini adalah saya ingin meminang Dewi Rengganis putri dari Adipati Prabhaswara sesuai dengan janji saya kepada nya ketika meninggalkan Dewi Rengganis di Paguhan tempo hari. Saya tidak ingin menjadi orang yang tidak menepati janji.
Jika syarat ini diterima, saya akan senang sekali untuk menerima hadiah sayembara ini namun jika syarat ini tidak bisa di terima, mohon maaf jika terpaksa saya harus menolak. Sekarang semua terserah pada Nimas Dyah Pandan Wangi", ucap Jaka Umbaran sembari menghela nafas panjang mengakhiri ceritanya sekaligus syarat yang mesti dilakukan oleh pihak Istana Kadipaten Lewa. Mata semua orang langsung tertuju pada Dyah Pandan Wangi yang duduk bersimpuh di samping Adipati Wangsakerta.
"Pandan Wangi, bagaimana menurut mu?
Romo hanya bisa berharap agar kau bisa bijak dalam memutuskan nasib mu sendiri", ucap Adipati Wangsakerta segera. Mendengar pertanyaan itu, Dyah Pandan Wangi dengan anggun memberikan hormat kepada Prabu Bameswara sebelum berbicara.
"Kalau itu yang menjadi syarat mutlak dari Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, Pandan Wangi tidak keberatan.
Menjadi seorang anak punya tugas untuk mengangkat martabat keluarga. Jika jalan ini adalah jalan terbaik untuk keluarga Kadipaten Lewa, maka Pandan Wangi siap untuk melakukan nya ", mendengar jawaban Dyah Pandan Wangi itu, Adipati Wangsakerta langsung menghela nafas lega sembari tersenyum lebar. Bagaimanapun juga, bisa berbesan dengan keluarga Kerajaan Panjalu merupakan impian setiap kepala daerah sebab dengan menjalin ikatan kekeluargaan dengan Istana Kotaraja Daha, maka derajat mereka pun pasti akan naik dan di hormati oleh para pejabat negara yang lain. Ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Adipati Wangsakerta.
"Kalau begitu, secepatnya mohon Gusti Prabu Bameswara mengundang Adipati baru Paguhan itu ke Istana Kotaraja Daha untuk melangsungkan pernikahan antara Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya dengan putri dari Paguhan.
Pada hari yang sama pula, Gusti Pangeran pun juga harus menikahi putri hamba sebagai tanda pembuktian janji nya saat ini. Bukankah begitu, Gusti Prabu?", ucap Adipati Wangsakerta sembari tersenyum penuh arti.
"Ya, tentu saja Adipati Lewa...
Esok pagi, aku akan pulang ke Kotaraja Daha. Sesampainya di sana, aku akan mengutus seorang bawahan untuk memanggil Adipati Paguhan berikut putri nya. Saat yang sama pula, kau juga harus datang bersama calon menantu ku ini", jawab Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara yang langsung disambut dengan senyum lebar dari setiap orang.
Setelah acara ini rampung, Adipati Wangsakerta segera mengantar rombongan Istana Kotaraja Daha ke balai tamu kehormatan yang disediakan untuk bermalam rombongan itu. Sebuah bangunan megah yang dibangun di dekat taman sari keraton ini, nampak kokoh berdiri. Di sanalah, rombongan Prabu Bameswara menghabiskan malam.
__ADS_1
Waktu terus bergulir tanpa henti, seolah tidak lelah menapak perubahan jaman. Sore berganti senja dan senja pun segera digantikan dengan malam yang gelap dan dingin. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dari lereng Gunung Lawu, menjadi peneduh hati setiap insan manusia yang sedang dilanda asmara.
Sejak persetujuan pernikahan mereka dinyatakan, Dyah Pandan Wangi terus memikirkan sang lelaki yang akan menjadi pendamping hidup nya itu. Saat perjamuan besar di sasana boga Istana Kadipaten Lewa, sang sekar kedaton Istana Kadipaten Lewa ini terus berulang kali mencuri pandang ke arah sang calon suami. Pria tampan nan rupawan itu pun sesekali membalas lirikan mata Dyah Pandan Wangi hingga mata mereka beradu pandang.
Setiap adu pandang dalam lirikan mata yang hanya berlangsung beberapa saat saja, degup jantung perempuan cantik itu menjadi lebih kencang. Ada desiran aneh yang tidak pernah ia rasa sebelum nya saat melihat sosok lelaki manapun. Dan ini sangat membuat perasaan sang putri gundah gulana.
"Ada apa to Gusti Putri? Dari tadi hamba perhatikan kog seperti gelisah begitu?", tanya Pariti, emban pengasuh Dyah Pandan Wangi yang telah puluhan tahun mengabdi di Istana Kadipaten Lewa. Perempuan paruh baya itu terlihat sedang memijit kaki Dyah Pandan Wangi yang bersandar pada tiang penyangga ranjang tidur nya.
"Aku bingung dengan diriku sendiri, Bibi Pariti..
Pikiran ku terus saja terpaku pada sosok Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Setiap mata ku ingin ku pejamkan, sosoknya selalu hadir dalam kepala ku. Ada apa dengan diriku ini? Padahal ini kali pertama aku berjumpa dengan nya", ucap Dyah Pandan Wangi sembari menatap sayu ke arah emban pengasuh nya itu.
"Gusti Putri sudah dewasa, jadi wajar jika merasakan hal seperti itu. Semua orang pasti mengalami nya loh. Itu adalah cinta pada pandangan pertama", Pariti tersenyum penuh arti.
"Maksudnya itu bagaimana sih Bibi? Aku tidak mengerti sama sekali", tutur polos Dyah Pandan Wangi.
"Ya namanya perjalanan hidup, pasti akan menemukan tambatan hati to Gusti.. Gusti Putri akan merasa nyaman bila ada di dekatnya, tak ingin pisah walaupun sebentar juga selalu ingin mengabdikan diri pada orang itu, itulah yang dinamakan cinta Gusti Putri..
Setiap insan pasti akan pernah merasakannya. Ada yang gagal menjalani nya, ada juga yang berhasil dan hidup bahagia bersama sang pujaan hati. Gusti Putri ini termasuk orang yang beruntung loh, wong calon suaminya adalah seorang pangeran tampan. Putra mahkota malahan. Hamba yakin kelak Gusti Putri akan bahagia bersama Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", ucap bijak Pariti sambil tersenyum penuh arti.
Bagaimana caranya aku harus menerima kenyataan pahit itu dan bisa hidup bahagia?", kembali Dyah Pandan Wangi menghela nafas panjang.
"Kuncinya cuma dua, Gusti Putri. Ikhlas dan sabar. Jika Gusti Putri bisa menjalankan keduanya, hamba yakin bahwa kebahagiaan akan menjadi milik Gusti Putri Dyah Pandan Wangi", mendekati petuah bijak dari Pariti sang emban pengasuh nya, senyum lebar terukir di wajah cantik Dyah Pandan Wangi. Dia semakin yakin dengan perasaan cintanya yang kini telah ditambatkan pada Sang Pangeran Mahkota Kerajaan Panjalu.
Malam terus bergerak menuju akhir. Menjelang pagi tiba, hujan deras tiba-tiba mengguyur kawasan Kota Kadipaten Lewa. Musim penghujan yang mulai datang, membuat seluruh wilayah Kerajaan Panjalu sering terjadi hujan deras.
Sampai pagi tiba pun, hujan deras masih juga belum ada tanda-tanda mereda, seolah-olah ingin menumpahkan seisi langit ke kawasan yang berada di antara kedua kaki gunung yang menjulang tinggi ini.
Resi Simharaja terus memandangi rinai hujan deras dari bawah atap serambi tempat bermalam nya. Lelaki paruh baya bertubuh kekar itu segera mengernyitkan keningnya dalam-dalam saat melihat Gendol masuk ke dalam serambi sambil membawa daun pisang sebagai payung. Lelaki bertubuh tinggi besar ini segera mengibaskan pakaiannya yang basah terkena air hujan.
"Main hujan-hujanan Ndol? Masa kecil mu kurang bahagia?", celetuk Resi Simharaja yang seketika membuat Gendol melotot ke arah nya.
"Main hujan-hujanan gundul mu itu, Macan Tua!!
Kalau tidak ada perintah dari Ndoro Pendekar eh maksudnya Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, mana mungkin aku mau kemari lari-larian di tengah derasnya hujan begini? Enak saja", ujar Gendol sambil terus mengomel tidak karuan.
__ADS_1
"Memang apa perintah dari Gusti Pangeran, Ndol?", tanya Resi Simharaja segera.
"Mau tahu saja urusan orang lain..
Siap-siap aja, setelah hujan reda, kita berangkat ke Kotaraja Daha", selepas berkata demikian, Gendol segera melangkah pergi menuju ke arah lorong yang menuju ke belakang. Tak lama kemudian, dia sudah menghilang di balik pintu.
"Dasar aneh...."
Menjelang waktu sepenggal matahari naik di langit timur, hujan deras ini mereda dan tak lama kemudian, matahari pagi muncul bersinar menerangi seisi bumi. Meskipun tidak secerah biasanya, namun cukup menghangatkan udara di sekitar Kota Kadipaten Lewa. Meskipun banyak air yang masih menggenang di beberapa tempat, namun itu tidak menghalangi niat Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana untuk segera pulang ke Istana Kotaraja Daha.
Keberangkatan mereka ke arah Daha diantar oleh Dyah Pandan Wangi dan keluarga besar Adipati Wangsakerta hingga ke pintu gerbang istana. Mantri Narmada dan Tumenggung Ugrasena pun di tugas untuk mengawal rombongan sang raja, menggantikan posisi Akuwu Mpu Winarka. Sebanyak 100 orang prajurit pilihan dijadikan sebagai pengawal rombongan itu hingga ke Kotaraja Daha.
Dyah Pandan Wangi terus menatap ke arah rombongan itu yang bergerak menuju ke arah timur. Dia terus menunggu mereka hingga menghilang di balik keramaian jalanan Kota Kadipaten Lewa.
"Bersabarlah sebentar, Pandan Wangi..
Aku yakin, kelak kau lah yang akan menjadi ibu dari penerus tahta Kerajaan Panjalu. Kejayaan besar keluarga kita tergantung pada mu", ucap Adipati Wangsakerta sembari menepuk pundak putri tercantik nya itu dengan tersenyum lebar. Dyah Pandan Wangi hanya mengangguk saja tanpa berbicara sepatah katapun.
Selepas meninggalkan Kota Kadipaten Lewa, rombongan Prabu Bameswara bergerak menuju ke arah Kadipaten Anjuk Ladang yang terletak di timur Kadipaten Lewa. Munculnya rombongan yang terdiri dari para prajurit ini sontak memantik perhatian dari para penduduk di sepanjang jalan yang mereka lewati. Semuanya menghormat pada rombongan itu karena melihat lambang Istana Kotaraja Daha terpampang jelas di bendera yang di bawa oleh prajurit yang paling depan.
Setelah hampir setengah hari melakukan perjalanan jauh, melewati puluhan wanua dan pakuwon di Kadipaten Lewa, rombongan itu memasuki wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Sebuah bukit yang terlihat tinggi menjulang ke langit dengan rimbunnya pepohonan hijau, terpampang di depan.
Namun di kaki bukit yang menjulang tinggi ini, sebuah pemandangan yang tak biasa sedang terjadi. Ratusan orang berpakaian putih dan hitam legam terlihat sedang sibuk bertarung satu sama lain. Bahkan beberapa orang tua yang sepertinya merupakan pimpinan dari dua kelompok besar itu pun sedang beradu kesaktian. Tentu saja ini membuat perjalanan mereka terhenti seketika.
Jaka Umbaran yang tidak ikut dalam kereta kuda yang di tumpangi oleh Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana dan memilih untuk naik kuda nya, seketika menepak punggung kuda tunggangan nya lalu melesat cepat kearah pertarungan sengit antara dua kelompok besar itu sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya.
Whhhuuuuuuuutttttth...
Blllaaammmmmmmm!!!
Pimpinan dua kelompok besar yang melihat datangnya serangan itu, langsung menjauh dari lawan mereka masing-masing hingga pertarungan sengit itupun terhenti seketika. Mereka pun segera menoleh ke arah Jaka Umbaran yang melompat turun ke arah mereka disusul dengan Gendol, Besur, Baratwaja dan Resi Simharaja.
Sembari menatap tajam ke arah mereka, Jaka Umbaran pun segera bertanya,
"Apa yang sedang kalian lakukan?!"
__ADS_1