
Jaka Umbaran tak segera meloloskan Pedang Naga Api dari sarungnya meskipun Mpu Lokeswara telah melesat ke arah nya sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna hijau kehitaman. Dia pun sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri saat hantaman tapak tangan kanan Mpu Lokeswara menghantam dada nya.
"Modar kowe bocah keparat..
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!!"
Mpu Lokeswara sedikit bingung karena melihat Jaka Umbaran justru tersenyum tipis tatkala hantaman Ajian Tapak Hantu Neraka miliknya menghantam telak dada sang pangeran muda.
Blllaaammmmmmmm..!!
Asap tebal berhawa dingin mengepul dari tubuh Jaka Umbaran. Mpu Lokeswara melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Senyum lebar terukir di wajah tua nya yang keriput. Dalam keyakinannya, ia sudah bisa memastikan kematian lawan. Selama ini, hanya beberapa orang pendekar saja yang masih hidup setelah menerima hantaman Ajian Tapak Hantu Neraka tahap akhir miliknya. Itupun dalam keadaan luka dalam parah.
Perlahan asap tebal itu menghilang bersamaan dengan hilangnya senyuman lebar yang tersungging di bibir Mpu Lokeswara sang wakil pimpinan Lembah Hantu. Bahkan kini senyuman lebar nya berganti menjadi tatapan mata terbelalak lebar tatkala ia melihat Jaka Umbaran masih berdiri kokoh di tempatnya semula. Bahkan sang pangeran muda ini nampak tersenyum lebar.
"Bajingan tengik!
Rupanya kau memiliki ilmu kekebalan tubuh yang lumayan. Jangan besar kepala dulu anak muda. Ilmu kanuragan pamungkas ku pasti mampu menjebol ilmu kekebalan tubuh mu!!", maki Mpu Lokeswara yang tersulut emosi nya melihat senyuman lebar tersungging di wajah tampan Mapanji Jayabaya. Dia menganggap itu sebagai bentuk hinaan pada ilmu kanuragan nya.
Segera dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping kiri dan kanan tubuhnya. Matanya nyalang berkilat penuh murka menatap Jaka Umbaran. Tiba-tiba cuaca yang cerah berubah kelam dengan munculnya awan hitam yang berputar di sekitar tempat Mpu Lokeswara. Dua kilatan petir menyambar di kedua telapak tangan Mpu Lokeswara yang kemudian berkumpul di sana. Dari mata pusaran arus awan hitam, hawa dingin pekat yang memunculkan bayangan tengkorak manusia seperti hantu turun ke tubuh Mpu Lokeswara. Perlahan bayangan tengkorak manusia itu satu persatu masuk ke dalam tubuh Mpu Lokeswara lewat mulutnya.
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!
Lelaki tua berjanggut panjang terus meraung keras seperti merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Kilatan petir yang berkumpul di kedua telapak tangannya pun membesar namun dengan putaran asap hitam pekat berbau mayat manusia. Ini adalah kedigdayaan Ajian Bledek Gondhomayit yang menjadi ilmu puncak dari Lembah Hantu, yang merupakan gabungan dari roh arwah penasaran dan kekuatan petir dari neraka.
Setelah seluruh hawa iblis masuk ke dalam tubuh nya, Mpu Lokeswara menyeringai lebar menatap ke arah Jaka Umbaran dengan mata merah menyala seperti mata seorang iblis dari neraka. Sepasang tanduk pendek melengkung ke depan seperti tanduk seorang iblis
Hehehehe...
"Anak muda, kau beruntung bisa melihat wujud Ajian Bledek Gondhomayit ku. Kau bisa menceritakan tentang ini di neraka nanti.
Matilah kau, bocah keparat!!", usai berkata demikian, Mpu Lokeswara langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya sembari menghantamkan kepalan tangannya yang di selimuti cahaya putih kebiruan bercampur dengan aura hitam pekat berbau mayat manusia itu ke arah sang pangeran muda.
Jaka Umbaran mengerahkan seluruh tenaga dalam nya hingga tubuhnya berselimut cahaya kuning keemasan dari Ajian Bandung Bondowoso.
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm..
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr.....!!!!!!
Ledakan mahadahsyat terdengar saat hantaman kepalan tangan kanan Mpu Lokeswara sang wakil pimpinan Lembah Hantu menghajar dada Mapanji Jayabaya. Namun Jaka Umbaran hanya terdorong mundur selangkah saja ke belakang namun dia tidak terluka sama sekali.
__ADS_1
Melihat hal itu, Mpu Lokeswara menggeram murka sembari melayangkan pukulan keras nya bertubi-tubi kearah sang pangeran muda.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr..!!!
Jaka Umbaran terdorong mundur beberapa langkah ke belakang usai ledakan mahadahsyat kembali terdengar. Mpu Lokeswara yang semakin terpancing emosi, terus melayangkan pukulan bertubi-tubi kearah sang pendekar muda tanpa menyadari kalau Jaka Umbaran menggenggam gagang sebilah pedang bersarung merah di tangan kirinya.
Saat pukulan keras berlapis Ajian Bledek Gondhomayit dari Mpu Lokeswara berikut nya datang, Mapanji Jayabaya segera mencabut Pedang Naga Api lalu dengan secepat mungkin dia menebaskan pedangnya kearah dada Mpu Lokeswara.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh...
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Mpu Lokeswara sang wakil pimpinan Lembah Hantu menjerit keras saat Pedang Naga Api yang memiliki pamor merah dengan cahaya cahaya merah menyala berhawa panas menyengat ini memotong lengan kiri nya yang melayangkan pukulan keras berlapis Ajian Bledek Gondhomayit. Seketika tangan kiri itu putus dan jatuh ke tanah. Mpu Lokeswara terhuyung-huyung mundur beberapa langkah ke belakang.
Jaka Umbaran memutar tubuhnya dengan cepat lalu dia dengan cepat ia kembali menebaskan pedangnya kearah Mpu Lokeswara yang terhuyung huyung mundur sembari merasakan sakit yang luar biasa pada lukanya.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh chhrrraaaakkk..
Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwwwh!!
Jaka Umbaran menghela nafas panjang usai mengakhiri pertarungan sengit antara dia dan Mpu Lokeswara. Dia kemudian menoleh ke arah Wijayadharma yang ketakutan setengah mati melihat tatapan mata Jaka Umbaran dari kejadian. Dengan senyuman lebar, Jaka Umbaran membuat gerakan bibir yang dibaca oleh Wijayadharma sebagai kata-kata 'ka-u be-ri-kut-nya'.
Secepat kilat, Wijayadharma bergegas meninggalkan tempat itu menuju ke arah sebuah bangunan di belakang tempat tinggalnya. Dia segera mencabut pedang di pinggangnya dan buru-buru melepaskan rantai sebuah ruang tahanan. Segera dia melepaskan ikatan yang mengikat tubuh seorang perempuan muda yang cantik dengan pakaian awut-awutan yang terikat pada sebuah tiang ruang tahanan ini.
"Mau apa kau? Cepat lepaskan aku bajingan!!", maki perempuan muda cantik itu ketus.
"Aku akan melepaskan mu tapi nanti setelah aku bisa lolos dari malaikat maut itu.
Sekarang diamlah dan jangan banyak bicara atau aku terpaksa harus menyumpal mulut mu itu dengan kain", bentak Wijayadharma segera
Segera Wijayadharma menggelandang sosok perempuan berparas cantik itu keluar dari dalam tahanan di belakang rumah kediamannya. Dia berusaha keras untuk menyembunyikan keberadaan sosok perempuan muda cantik yang tak lain adalah Nyai Paricara sang tabib sakti yang selama ini hilang dari pantauan Secawiguna.
Namun saat Wijayadharma keluar dari dalam tahanan ini, perbuatannya itu di ketahui oleh Secawiguna yang mencoba mencari keberadaan majikannya di sekitar tempat itu.
"Hai bajingan, lepaskan majikan ku!!", teriak Secawiguna yang membuat Wijayadharma dan Nyai Paricara menoleh ke arah nya. Melihat itu, Wijayadharma segera menempelkan pedangnya ke leher Nyai Paricara.
"Diam kau atau perempuan ini mampus di tangan ku", ucap Wijayadharma segera.
__ADS_1
"Bangsat keji! Cepat lepaskan majikan ku, kau tidak punya kesempatan lagi untuk pergi dari tempat ini!", kembali Secawiguna berteriak lantang.
"Huh, dasar pembantu tengik!
Rupanya kau lebih suka melihat majikan mu mati daripada diam. Baik, akan ku kabulkan permintaan mu!", ucap Wijayadharma sembari berniat untuk menggorok leher Nyai Paricara. Perempuan muda cantik dengan paras mirip seperti perempuan asing dari negeri seberang ini langsung memejamkan matanya rapat-rapat karena dia yakin pasti akan mati.
Pada saat yang genting itu, tiba-tiba saja sebuah bayangan berkelebat cepat dan melepaskan tembakan cahaya putih kebiruan sebesar jempol tangan kearah telapak tangan Wijayadharma sang putra Pangeran Lembah Hantu itu.
Cllaaaaaassshhhhh.. Clllaaaaaaarrrrrh..
Aaaarrrgggggghhhhh....!!!!
Wijayadharma menjerit keras tatkala telapak tangannya yang memegang pedang bolong tembus pandang sebesar biji nangka. Pedangnya langsung terlepas dari genggaman. Nyai Paricara langsung sadar bahwa penyandera sedang dalam masalah dan secepat mungkin dia melayangkan sikutan keras ke rusuk lelaki muda berpakaian serba mewah ini.
Bhhhuuuuuuggggh...
Oouuugghhhhhh!!
Seketika itu juga, Wijayadharma terhuyung huyung mundur beberapa langkah ke belakang. Nyai Paricara langsung berlari cepat menuju ke arah sosok lelaki muda tampan bertubuh tegap yang telah menyelamatkan nyawa nya. Drama penculikan Nyai Paricara telah berakhir hari itu juga.
"Aaaarrrgggggghhhhh.. Bajingan keparat! Ayah ku pasti akan membalaskan dendam ku ini keparat! Kau pasti mati, kau pasti mati!!", sumpah serapah terdengar dari mulut Wijayadharma sembari terus meraung-raung kesakitan karena telapak tangan kanannya yang hancur akibat dari serangan Ajian Jari Saketi milik Jaka Umbaran.
"Aku tidak keberatan menunggu pembalasan dendam ayah mu. Waktunya mengirim kau ke neraka!", ucap Jaka Umbaran segera.
Pucat muka Wijayadharma mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jaka Umbaran.
"T-tunggu dulu.. Aku hanya bercanda soal tadi.. Ampuni nyawa ku, Pendekar. Aku akan memberikan semua harta Lembah Hantu untuk mu. Tapi tolong jangan bun....
Aaaarrrgggggghhhhh!!!"
Belum sempat Wijayadharma menyelesaikan omongannya, sebuah cahaya putih kebiruan melesat cepat kearah dahinya. Cahaya putih kebiruan itu segera menghancurkan isi kepalanya. Sekejap berikutnya, Wijayadharma sang putra Pangeran Lembah Hantu yang kelak menjadi penerus kepemimpinan tempat itu, roboh ke tanah dengan otak berhamburan kemana-mana.
Nyai Paricara langsung menghela nafas lega setelah melihat kematian lelaki brengsek yang sudah menculiknya dari tempat pengasingan Raden Natawirya dan nyaris memperkosa nya itu. Dia langsung menatap kagum pada sosok Jaka Umbaran yang berdiri gagah di depan nya.
Dari arah belakang, Besur mendekati sang pangeran muda dan langsung menghormat pada nya.
"Ndoro Umbaran, semua anggota Lembah Hantu sudah berhasil kita tumpas. Bagaimana langkah kita selanjutnya?", tanya Besur segera.
Jaka Umbaran mengedarkan pandangannya ke bangunan di sekeliling tempatnya berdiri. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera berkata,
__ADS_1
"Hancurkan tempat terkutuk ini..!!"