JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Wiku Pembasmi Siluman 2


__ADS_3

Sadewa , Locana dan Surtikanti langsung terperangah seketika saat mendengar nama Wiku Pembasmi Siluman disebut. Mereka sudah lama mendengar nama besar itu yang malang melintang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa sebagai pendeta pertapa yang kerap berburu keberadaan siluman yang dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan manusia.


Sudah sejak lama, Wiku Pembasmi Siluman menjadi pendeta agama Buddha yang tersohor di kalangan masyarakat Jawadwipa khususnya di wilayah Kerajaan Panjalu meskipun masyarakat kerajaan lain seperti Galuh Pakuan, Jenggala maupun Blambangan mengenal nama mereka. Sepak terjangnya dalam memburu para hantu dan siluman yang ada di seluruh Tanah Jawadwipa sudah tidak diragukan lagi.


Walaupun Wiku Jinaloka dan Wiku Dhammayekti yang datang dari negeri tetangga yakni Sriwijaya yang menjadi negara besar di wilayah barat Nusantara, namun keduanya bisa di terima dengan baik karena sering menolong masyarakat dari gangguan makhluk halus seperti hantu dan siluman. Hingga tak satupun orang yang berani untuk mengganggunya walaupun datang dari negeri manca.


Konon katanya, mereka pernah mengalahkan siluman yang pernah membuat kekacauan di Saunggalah yang tidak mampu dihadapi oleh dukun terhebat Istana Saunggalah sekalipun hingga Prabu Langlangbumi waktu itu sangat berterimakasih atas bantuan yang mereka berikan. Atas jasa mereka, mereka yang baru datang ke Tatar Sunda kala itu mendapatkan kebebasan untuk menjelajah seluruh wilayah Kerajaan Galuh Pakuan dan tidak boleh diganggu oleh siapapun karena memegang lencana emas dari Penguasa tertinggi Tatar Sunda ini.


Kedua penganut agama Buddha ini pun memanfaatkan kesempatan yang telah mereka dapatkan dan terus menerus memburu para siluman yang ada di Tanah Jawadwipa. Meskipun tak semuanya berhasil mereka kalahkan namun itu semua sudah cukup bagi mereka untuk memiliki nama besar yang dihormati oleh para pendekar dunia persilatan khususnya dari golongan putih.


"Sungguh luar biasa, akhirnya kami bisa berjumpa dengan Wiku Pembasmi Siluman yang tersohor itu.


Hormat kami kepada mu, Wiku Jinaloka dan Wiku Dhammayekti", ujar Sadewa segera. Ketiga guru pengajar Perguruan Bukit Katong itu pun segera menghormat pada kedua wiku ini.


"Namo Budhdhaya..


Rupanya kisanak bertiga telah mengenal nama kami. Karena kisanak bertiga sudah tahu bahwa kami memburu siluman dan para makhluk tak kasat mata, tolong jangan halangi keinginan kami untuk meringkus siluman yang ada di tempat ini", ucap Wiku Jinaloka sembari menghormat pada Sadewa, Locana dan Surtikanti.


"Eh ini.....", ketiga murid Resi Mpu Hanggabhaya itu saling berpandangan karena bingung mau menjawab bagaimana omongan pendeta agama Buddha ini. Di tengah kebingungan mereka, Jaka Umbaran pun segera angkat bicara.


"Maaf Wiku..


Tapi ini bukanlah hal yang harus kau tangani. Resi Simharaja adalah pengikut setia ku. Keberadaan dan keselamatan nya menjadi tanggung jawab ku sebagai majikannya. Jadi kau tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan ku", tegas Jaka Umbaran segera.


"Terpujilah Sang Budhdha..


Pendekar muda, sesungguhnya keberadaan siluman di dunia manusia bukanlah sesuatu hal yang baik. Mereka punya alam yang berbeda dengan manusia. Adanya mereka di dunia manusia adalah sebuah kesalahan besar dan ini bisa merusak tatanan alam semesta yang sudah di gariskan oleh Sang Budhdha.


Mohon tidak ikut campur dalam upaya kami membasmi siluman", ucap Wiku Jinaloka tetap dengan bahasa yang lemah lembut meskipun terdengar penuh ancaman pada kalimat terakhir. Belum sempat Jaka Umbaran menjawab omongan sang wiku, Resi Simharaja melangkah maju.


"Yang Mulia, mereka ingin berurusan dengan ku jadi mohon Yang Mulia membiarkan ku yang turun tangan.


Anjing berkepala tiga itu aku masih sanggup menghadapinya ", Resi Simharaja menunjuk ke arah Wiku Dhammayekti yang berdiri di samping Wiku Jinaloka.


"Anjing berkepala tiga? Apa maksud dari ucapan mu, Resi Simharaja?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Ilmu kebatinan Yang Mulia harus lebih ditingkatkan lagi agar bisa melihat wujud asli dari wiku keparat itu", setelah berkata demikian, Resi Simharaja segera menyentuh keningnya. Cahaya putih kekuningan muncul di kedua jari telunjuk dan tengah lelaki paruh baya bertubuh gempal itu. Dia segera menghormat pada Jaka Umbaran sesaat sebelum menyentuh kening sang pendekar muda.

__ADS_1


Tiba-tiba saja manik mata kuning keemasan Jaka Umbaran bersinar sekilas. Saat itu juga Jaka Umbaran melihat sosok asli lelaki yang berdiri di samping Wiku Jinaloka. Seekor anjing besar berbulu hitam pekat dengan tiga kepala yang memiliki masing-masing tiga buah mata. Tentu saja ini mengejutkan bagi Jaka Umbaran.


Untuk sesaat Jaka Umbaran terkejut namun ia segera menguasai dirinya. Setelah berdehem kecil beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya, dia segera memberi isyarat kepada Resi Simharaja.


"Kau boleh bertarung melawan nya, Resi Simharaja. Tapi lakukan di luar bangunan ini. Kalau sampai bangunan ini hancur, kami akan kebingungan mencari tempat berteduh dari hujan", Jaka Umbaran mengibaskan tangannya sebagai isyarat kepada Resi Simharaja untuk bertindak.


"Saya mengerti Yang Mulia", Resi Simharaja mengangguk mengerti lalu menoleh ke arah Wiku Dhammayekti dan Wiku Jinaloka.


"Kalian ingin menjajal kemampuan ku? Di luar saja. Majikan ku melarang bertarung di tempat ini", ujar Resi Simharaja seraya memberi isyarat kepada Wiku Pembasmi Siluman itu untuk segera keluar dari dalam tempat itu.


Sesampainya mereka di luar, Resi Simharaja segera melepaskan manik-manik berbentuk gelang dan melemparkannya ke udara. Manik-manik itu segera membesar dan terus membesar lalu berputar cepat di atas langit. Hujan deras yang mengguyur tempat itu seketika tersibak ke arah lain seolah tertutup payung raksasa.


Di halaman rumah yang luas ini, Resi Simharaja telah berdiri berhadapan. Meskipun malam ini nyaris tidak ada penerangan yang cukup untuk memperjelas keadaan sekeliling mereka, namun sepertinya itu tidak berlaku bagi Resi Simharaja maupun Wiku Dhammayekti yang memiliki penglihatan tajam dalam kegelapan.


Begitu hendak bertarung, Wiku Jinaloka segera melepaskan kalung tasbih biji genitri dari leher Wiku Dhammayekti. Begitu kalung itu lepas, perlahan wujud Wiku Dhammayekti berubah menjadi seekor anjing hitam besar berkepala tiga. Para murid Perguruan Bukit Katong yang ikut keluar dari dalam rumah tua itu seketika bergidik ngeri melihat perubahan wujud wiku muda ini.


"Itu Anjing Neraka.. Rupanya wiku muda itu bukan manusia sebenarnya", ujar Locana sambil melangkah mundur selangkah saking kagetnya.


Mereka yang ada di tempat itu kembali dikejutkan dengan omongan Locana. Bagi masyarakat Nusantara kala itu, semua orang mengenal Dewa Yamadipati sebagai Dewa Kematian atau Dewa Pencabut Nyawa yang menguasai neraka. Banyak sekali makhluk makhluk menyeramkan yang konon menjaga neraka agar para tahanan neraka tidak bisa kabur dari sana. Salah satu dari sekian Penjaga Alam Neraka ini adalah seekor anjing berkepala tiga yang merupakan penjaga neraka terbawah.


Di lain sisi, Resi Simharaja segera merendahkan tubuhnya. Perlahan tapi pasti, wujud bekas penguasa Kerajaan Siluman Alas Roban itu berubah menjadi seekor harimau putih besar dengan gigi taring besar dan mata yang menakutkan. Melihat lawannya sudah siap bertarung, anjing berkepala tiga itu langsung melompat menerkam maju ke arah harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja.


Bhhhuuuuuuggggh dhhiiieeeeesssshhh..


Khhaaaiiiiiingggggggg...!!!


Pertarungan sengit antara dua makhluk jadi-jadian itu berlangsung seru dan menegangkan. Keduanya mengerahkan seluruh kemampuan bertarung mereka untuk menjatuhkan lawan. Semua orang terlihat menahan nafas melihat pertarungan sengit mereka.


"Menurut mu, siapa yang akan keluar sebagai pemenang Permadi?", bisik Gendol yang berdiri di dekat Permadi, murid kesayangan Sadewa.


"Aku tidak bisa memutuskan dengan cepat, Saudara Gendol. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu?", tanya Permadi segera.


"Hehehehe... Aku punya duit ini. Jumlahnya ada 10 kepeng perak. Bagaimana kalau kita bertaruh? Aku pegang macan putih itu", Gendol menyodorkan setumpuk kepeng perak ke samping Permadi.


"Huh siapa takut?! Baiklah aku pegang anjing berkepala tiga itu, Saudara Gendol. Aku yakin dia pasti akan keluar sebagai pemenang nya", Permadi merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan 10 kepeng perak dan dia tumpuk diatas kepeng perak milik Gendol. Keduanya kembali menyaksikan langsung pertarungan sengit antara Resi Simharaja dan Wiku Dhammayekti.


Usai menghindari terkaman anjing berkepala tiga yang mengincar kakinya, harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja membuat gerakan cepat kearah samping lalu melompat tinggi ke udara sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Gerak tipu ini rupanya sanggup membuat pertahanan anjing berkepala tiga itu lengah hingga harimau putih besar itu langsung menggigit salah satu tengkuk leher salah satu kepala anjing hitam besar itu dan membantingnya sekuat tenaga.

__ADS_1


Bhhhuuuuuuggggh...


Khhaaaiiiiiingggggggg!!!!


Lolongan kesakitan terdengar dari mulut anjing berkepala tiga yang merupakan penjelmaan dari Wiku Dhammayekti. Melihat lawannya sudah kehilangan kekuatan nya, harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja segera melompat hendak menerkam hendak menghabisi nyawa lawan.


Tak ingin anjing berkepala tiga ini terbunuh oleh harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja, Wiku Jinaloka segera melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya.


"Tapak Arahat Emas...


Mati kau siluman..!!!"


Bayangan tapak raksasa berwarna kuning terang meluruk cepat kearah pergerakan harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja. Melihat itu, Jaka Umbaran segera menginjak tanah dengan keras.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Seketika itu juga, tanah retak dan menjalar cepat kearah langkah kaki Resi Simharaja dalam wujud harimau putih besar. Satu kaki harimau putih besar itu langsung terperosok ke dalam tanah hingga tubuhnya jatuh ke samping kiri. Tepat saat yang bersamaan, hantaman Tapak Arahat Emas melesat di atas kepala harimau putih besar itu hingga dia lolos dari serangan maut Wiku Jinaloka.


Manik mata kuning keemasan Jaka Umbaran bersinar terang saat serangan nyasar dari Wiku Jinaloka menderu kencang kearah para murid Perguruan Bukit Katong. Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah serangan maut itu dan menepisnya hingga bayangan tangan raksasa berwarna kuning terang itu berbelok arah tanggul Kali Comal yang sedang banjir.


Blllaaammmmmmmm!!!


Tanggul Kali Comal langsung meledak saat hantaman ilmu kesaktian Wiku Jinaloka menghantamnya. Kerasnya suara ledakan terdengar jauh hingga ke kaki bukit yang jaraknya sekitar 2000 depa jauhnya.


Segera setelah itu, Jaka Umbaran melesat ke depan harimau putih besar yang baru saja berdiri sambil menatap tajam ke arah Wiku Jinaloka.


"Rupanya tangan mu sudah gatal hingga turut campur dalam pertarungan mereka, Wiku Tua..


Apa kau benar-benar ingin menjajal kemampuan beladiri ku?!", ucap Jaka Umbaran menahan amarah.


"Aku bekerja untuk Sang Buddha di nirwana, anak muda. Tugasku menegakkan hukum dunia. Jika ada yang menghalangi, aku tidak akan bisa memaafkannya", ucap Wiku Jinaloka sembari menatap kereng pada si Pendekar Gunung Lawu.


"Jangan membawa nama agama dalam niat busuk mu mengumpulkan permata siluman, hai Wiku Tua.


Aku tahu, dalam tenaga dalam yang kau lepaskan baru saja, ada hawa hitam dingin yang pekat. Itu bukan ilmu pencerahan dari Sang Buddha, tapi hawa iblis hitam yang kau dapat setelah memurnikan permata siluman. Meskipun kau cukup rapi menutupi nya tapi itu tidak akan pernah bisa menipu ku", jawab Jaka Umbaran yang membuat para penonton pertarungan ini terhenyak mendengarnya.


Wiku Jinaloka muram durja seketika lalu dari dalam tubuh muncul aura kegelapan yang sanggup membuat orang bergidik ngeri saking kelamnya.

__ADS_1


"Mata mu cukup tajam juga bocah. Orang yang terlalu pintar biasanya tidak akan berumur panjang. Kau sudah mengetahui rahasia ku,


Maka kau harus mati!!"


__ADS_2