
Kediaman Arthur
Sean masih termenung di dalam mobilnya yang kini terparkir di depan garasi.
Sore begini, biasanya Mom Bi dan Dad Nick sedang ada di rumah dan bercengkerama dengan mesra. Sean masih memikirkan kata-kata yang akan ia sampaikan pada kedua orang tuanya tersebut, tentang perbuatan brengseknya yang telah menghamili anak gadis orang.
Tadinya, Sean ingin ke rumah Emily dan mengejar kekasihnya itu, lalu menjelaskan semuanya. Namun sepertinya hal itu hanya akan sia-sia. Emily pasti shock dan marah pada Sean. Jadi jika Sean menjelaskan sekarang, yang ada semuanya malah akan bertambah runyam.
Seam menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya pemuda dua puluh empat tahun tersebut membuka pintu mobilnya, dan keluar dari dalam mobil. Sean sedikit meringis menahan lebam di wajahnya, akibat hadiah bogem mentah dari Papanya Rachel tadi.
Masih bagus Om Steve hanya menghadiahi Sean dua bogem mentah. Sean mendadak ingat pada Abi yang juga pernah mendapat hadiah bogem mentah dari Uncle Dev saat menghamili Anne dan menjadikan Anne sebagai bahan taruhan.
Sean salah apa, coba?
Sampai bisa mengikuti jejak Anne dan Abi seperti ini.
Tapi Anne dan Abi masih beruntung karena mereka tak menyakiti hati orang lain saat mereka harus mendadak menikah karena kecelakaan. Dua orang itu memang sama-sama tak punya kekasih, saat mereka dinikahkan.
Sedangkan Sean?
Sean sudah menghancurkan hati Emily sekarang.
Sean sudah mengingkari janjinya sendiri yang akan menikahi Emily beberapa bulan ke depan saat gadis itu sudah lulus kuliah.
Emily pasti tidak akan pernah memaafkan Sean.
Sean sudah masuk ke dalam rumah besar keluarga Arthur. Langsung teedengar suara Mom Bi yang tengah mengobrol santai dengan Dad Nick di ruang tengah. Kedua orang tua Sean itu masih ceria dan bersemangat. Tidak tahu setelah nanti Sean menyampaikan kelakuan brengseknya.
Mungkin Dad Nick akan langsung menghadiahi Sean bogem mentah juga.
Atau mungkin Mom Bi akan langsung kecewa berat pada Sean.
"Sean? Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Mom Bi histeris saat mendapati wajah putra kesayangannya yang membiru dan lebam di sana-sini.
"Siapa yang sudah memukulimu hingga babak belur begini, Sean?" Dad Nick ikut-ikutan bertanya dan merasa tak terima.
"Sean memang pantas mendapatkannya, Dad!" jawab Sean yang kini sudah menundukkan wajahnya.
Bayangan wajah Emily yang bersedih dan bersimbah airmata kembali menari-nari di benak Sean. Namun bayangan Rachel dengan perut bulatnya akibat perbuatan brengsek Sean juga ikut menari-nari di kepala Sean.
"Apa maksudnya kau pantas mendapatkan ini semua? Tidak ada yang boleh menyakiti anak Dad seperti ini!" Sergah Dad Nick yang masih merasa tak terima.
"Katakan siapa yang sudah membuatmu lebam-lebam begini, Sean!" Gantian Mom Bi yang menuntut jawaban dari Sean.
"Sebenarnya," Sean merasa bingung untuk menyusun kalimat yang tepat tanpa membuat Mom dan Dad-nya shock.
"Mom, Dad, Sean minta maaf," ucap Sean tiba-tiba yang tentu saja membuat Mom Bi dan Dad Nick menjadi bingung.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba minta maaf? Ada apa denganmu?" Tanya Dad Nick bingung.
"Sean sudah-"
"Sean!!!" Teriakan Kyle yang menggema dari pintu depan membuat Sean tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Brengsek kamu, Sean!" Kyle sudah mendekat ke arah Sean denagn cepat dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Sean yang sudah babak belur.
Sean kembali harus jatuh terjungkal setelah mendapat serangan mendadak dan bertubi-tubi dari abang Kyle.
"Kyle! Apa yang kamu lakukan?" Dad Nick langsung berusaha melerai dua anak lelakinya yang sedang baku hantam. Sementara Mom Bi menjerit-jerit histeris menyaksikan kelakuan barbar Kyle pada Sean.
"Kyle! Sudah cukup!" Dad Nick mencekal lengan Kyle yang terus saja memukuli Sean dengan membabi buta.
Sementara Mom Bi langsung membantu Sean untuk bangkit berdiri dan mendudukkan anak lelakinya tersebut di sofa.
"Brengsek kamu, Sean! Keterlaluan! Kenapa kamu menyakiti Emily?" Cecar Kyle yang tangannya masih dicekal oleh Dad Nick.
Wajah abang sambung Sean sekaligus abang sambung Emily tersebut terlihat merah padam menahan amarah.
"Sean tidak bermaksud untuk melakukannya, Bang! Sean benar-benar tidak sengaja, Sean pikir malam itu-"
"Tunggu!" Dad Nick menyela pembelaan diri dari Sean
"Kalian sedang membicarakan apa? Sean menyakiti Emily? Apa maksudnya?" Cecar Dad Nick merasa bingung.
"Anak kesayangan Dad ini sudah menghamili seorang gadis bernama Rachel yang merupakan sahabat baik Emily!" Jelas Kyle yang langsung membuat Dad Nick dan Mom Bie kaget bukan kepalang.
"Sean tidak sengaja, Mom, Dad!" Sean membela diri sekali lagi.
"Bagaimana kau bisa melakukan hal bodoh itu, Sean?" Cecar Dad Nick emosi seraya menarik kerah baju Sean yang wajahnya sudah babak belur.
Apa Dad Nick akan menghajar Sean juga sekarang?
"Sean mabuk, Dad! Sean pikir, malam itu Sean ke apartemen bersama Emily-"
"Brengsek kamu! Jadi jika malam itu kau bersama Emily, kau akan meniduri adik kesayanganku?" Kyle kembali murka pada Sean dan hendak meninju wajah adiknya itu lagi. Namun Dad Nick bisa dengan cepat mencegah sikap barbar Kyle.
"Kita bicarakan dengan kepala dingin!" Titah Dad Nick setelah berulangkali menarik nafas panjang.
"Katakan kalau kau belum pernah menyentuh Emily!" Kyle mendelik sekaligus menuding ke arah Sean yang kini duduk di sofa bersama Mom Bi.
"Sean belum pernah menyentuh Emily, Bang! Sean berani bersumpah!" Jawab Sean bersungguh-sungguh.
"Kyle! Sudah!" Bentak Dad Nick pada Kyle yang emosinya terus saja meledak-ledak sejak tadi.
Dad Nick juga shock, kaget dan tak menyangka dengan semua yang terjadi, sama seperti halnya Kyle. Tapi orang tua tersebut lebih bisa mengendalikan emosinya ketimbang Kyle yang terus saja mengamuk tak terkendali.
__ADS_1
Sangat wajar sebenarnya, mengingat Kyle yang begitu menjaga dan menyayangi Emily. Semua abamg pasti akan marah dan murja jika melihat adik kesayangannya disakiti dan dikhianati seperti ini.
"Jadi, sejak kapan kau suka mabuk-mabukan, Sean!" Tanya Dad Nick tegas meminta pengakuan dari Sean.
Sejak dulu Dad Nick sudah memperingatkan kedua putranya itu untuk tak menyentuh minuman keras atau obat-obatan terlarang. Tapi sekarang, Sean malah melanggarnya.
"Teman-teman Sean yang memaksa Sean untuk minum, Dad!"
"Tidak usah membawa atau menyalahkan teman-teman kamu!" Sergah Kyle menyela cerita Sean.
"Sean baru sekali itu mabuk, Dad! Sebelumnya tidak pernah! Sean berani bersumpah!" Sean mengangkat tangannya ke atas dan berucap dengan sungguh-sungguh.
Lalu bagaimana kau bisa membawa Rachel ke apartemenmu?" Tanya Dad Nick tidak paham.
Setahu Dad Nick, Papa Rachel yang merupakan seorang dokter itu begitu protektif menjaga putrinya. Bagaimana bisa kecolongan seperti ini?
"Rachel menolong Sean, karena Sean mengemudi sastt mabuk dan mobil Sean menabrak trotoar. Rachel ingin mengantar Sean pulang ke rumah, namun Sean memaksanya untuk mengantar Sean ke apartemen saja karena Sean takut Mom dan Dad akan marah melihat Sean pulang dalam keadaan mabuk," cerita Sean panjang lebar.
"Lalu Sean tidak ingat lagi apa yang Sean lakukan pada Rachel malam itu. Rachel sudah mrnangis sesenggukan saat Sean bangun dan sadar," lanjut Sean seraya menundukkan wajahnya.
Dad Nick memijit pelipisnya sendiri yang mendadak menjadi pening.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Mom Bi yang akhirnya buka suara.
"Sean tidak tahu berapa usia kehamilan Rachel sekarang. Tapi kalau kejadian itu sudah lebih dari lima bulan yang lalu," jawab Sean kembali menundukkan wajahnya.
"Dan kau hanya diam saja selama lima bulan ini?" Kyle menatap tak percaya pada Sean.
"Sean tidak tahu kalau Rachel hamil, Bang! Rachel langsung memblokir nomor Sean sejak kejadian itu dan menghindar setiap kali kami tak sengaja bertemu!" Sahut Sean mencari pembenaran.
"Sangat wajar Rachel marah padamu! Kau memperkosanya dan merenggut paksa miliknya yang berharga." Ucap Kyle bersungut-sungut.
"Dan kau benar-benar sudah menjadi pria brengsek yang tidak peka, Sean! Kau bahkan tidak berusaha mencari tahu bagaimana keadaan Rachel setelah kau menyakitinya," sambung Kyle lagi meluapkan semua rasa kesalnya pada Sean.
"Dan jika Rachel tidak hamil, kau mungkin akan tetap melanjutkan hubunganmu dengan Emily, menikahi Emily, dan melupakan apa yang sudah kau lakukan pada Rachel! Dasar brengsek!" Tuduh Kyle menuding ke arah Sean,
"Sean tidak sebrengsek itu, Bang! Sean akan menikahi Rachel dan mempertanggungjawabkan perbuatan Sean!" Sergah Sean yang sudah kehilangan kesabaran karena Abang Kyle yang terus mencecar dan memojokkanya sejak tadi
"Sudah cukup! Kita ke rumah Rachel malam ini. Kita selesaikan semuanya!" Dad Nick menyudahi perdebatan Kyle dan Sean yang semakin memanas.
Kyle hanya mendelik ke arah Sean, sebelum pria itu berlari naik tangga menuju ke kamarnya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.