
"Jadinya kamu mau pakai gambar yang baru atau yang lama saja?" Tanya Galen pada Intan yang hari ini mengenakan baju berwarna merah terang.
"Aduh, aku jadi bingung, Galen. Gambarnya bagus semua. Kalau menurut kamu bagusan yang mana?" Intan malah balik bertanya pada Galen.
Tangan Intan hendak mengusap lengan Galen yang ada di atas meja. Namun Galen dengan cepat menurunkan lengannya dari atas meja. Dan mata pria itu tetap fokus pada gambar-gambar yang ada di atas meja.
"Kalau saran dari aku, lebih baik pakai yanag lama saja," Galen menunjuk ke salah satu kertas yang ada di atas meja. Semuanya kertas berisi gambar Emily.
"Begitu, ya?"
"Misalnya aku minta diubah lagi, bisa nggak, Galen? Aku masih kurang sreg dengan keduanya," tanya Intan lagi yang sontak membuat kedua alis Galen mengernyit.
"Bisa saja. Tapi resikonya nanti, buku kamu bakalan mundur tanggal rilisnya," jawab Galdn mengingatkan.
"Nggak masalah kok! Fans aku bakalan ngerti," nada bicara Intan sudah berubah merayu.
"Tapi nanti kamu konsulnya sama salah satu editor aku saja. Nanti aku kenalkan. Karena besok aku sudah mulai cuti. Lalu untuk ilustrasinya, nanti biar fpFaisal yang mengerjakan," tutur Galen yang sontak membuat Intan sedikit terkejut atau mungkin tak senang.
"Kenapa bukan Emily saja?"
"Emily sudah mulai cuti besok. Jadi aku tidak bisa menyuruhnya mengerjakan ilustrasi untuk bukumu," jawab Galen yang nada bicaranya terdengar santai.
"Lucu sekali! Kau cuti besok, Emily juga cuti. Apa kalian hendak liburan bersama?" Tebak Intan sedikit terkekeh.
"Kami akan menikah lebih tepatnya!" Jawab Galen mengoreksi tebakan Intan. Tatapan pria itu tegas dan tak ada raut bercanda sedikitpun.
"Kau akan menikah?" Tanya Intan tergagap.
"Ya! Kau bisa datang jika ada waktu. Aku dan Emily akan sangat senang, jika kau mau meluangkan sedikit waktu," Galen menyodorkan sebuah undangan pada Intan.
"Tapi bagaiamana dengan permintaanku tempo hari, Galen? Aku pikir kau akan memikirkannya sekali lagi!" Intan membanting undangan yang disodorkan Galen karrna kesal.
"Aku memang sudah memikirkannya, dan aku tetap menolaknya!" Jawab Galen tegas.
"Kau bisa mencari pria lain yang mungkin lebih tertarik untuk menjadi pacar pura-puramu!" Imbuh Galen lagi yang sontak membuat Intan kian marah.
"Ini terakhir kali aku menerbitkan buku disini! Aku akan pindah ke penerbit lain setelah ini!" Intan mengancam Galen dan mendelik ke arah pria tersebut.
Galen mengangkat tangannya dan raut wajahnya tak gentar sama sekali.
"Itu hakmu, Nona Intan!"
__ADS_1
Intan bersungut dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sebelum wanita itu keluar dari ruangan Galen.
Di pintu masuk Intan hampir menabrak Emily yang hendak masuk ke ruangan Galen. Intan hanya mendelik pada Emily dan langsung melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan ruangan Galen.
Emily mengernyit dan merasa tak paham dengan sikap aneh Intan tersebut.
"Em, kaukah itu?" Tanya Galen pada Emily yang masih mematung di ambang pintu.
"Ya! Aku mengantar kopimu," jawab Emily seraya meletakkan segelas kopi di atas meja Galen.
Kertas-kertas berisi coretan Emily masih berserakan di atas meja. Ada juga undangan pernikahan Galen dan Emily yang tadi dibanting oleh Intan.
"Aku juga memesan susu coklat tadi untukmu," ucap Galen sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya.
"Iya, ada di mejaku. Kenapa juga harus aku bawa-bawa ke sini," jawab Emily sedikit bergumam.
"Jadinya, Intan mau pakai ilustrasi yang mana?" Tanya Emily selanjutnya pada Galen.
"Yang lama katanya," jawab Galen seraya mengendikkan bahu.
"Nggak mau ganti lagi?" Tanya Emily dengan nada menyindiri.
"Tadinya mau ganti lagi. Tapi pas aku bilang kalau besok aku udah cuti dan diskusi berikutnya aku suruh sama editor penggantiku, dia ngambek," cerita Galen yang sedikit membuat Emily bingung.
"Tadi aku berikan pada Intan. Eh, malah dibanting dan dia ngamuk-ngamuk sendiri," jawab Galen seraya mengendikkan bahu.
Galen memutari mejanya dan menghampiri Emily yang masih berdiri di depan meja kerja Galen.
"Jadi, Intan masih menggodamu tadi?" Tanya Emily curiga.
"Masih cemburu!" Galen mencolek hidung Emily.
"Siapa yang cemburu? Aku kan cuma tanya!" Kilah Emily sedikit berdecak.
"Aku udah bilang tegas ke Intan kalau aku menolak permintaannya kemarin tentang pacar pura-pura itu. Dan aku juga bilang tadi kalau aku mau menikah dengan Emily besok," tutur Galen menjelaskan pada Emily.
"Pantas tadi mukanya Intan sepet banget ke aku," Emily sedikit terkekeh. Galen ikut terkekeh.
"Pekerjaan kamu sudah kamu beres-bereskan?" Tanya Galen seraya melirik arloji di tangannya.
"Sudah semua," Jawab Emily cepat.
__ADS_1
"Yaudah, nanti kita pulang saat jam makan siang," pesan Galen mengerling nakal pada Emily.
"Mau kemana?" Tanya Emily curiga.
"Ya pulang ke rumah. Istirahat, biar besok pas acara bisa fit!"
"Besok kita sudah menikah, lho!" Goda Galen yang sudah menarik pinggang Emily dan memangkas jarak di antara mereka.
"Iya, trus?"
"Udah siap aku ajak lembur?" Galen kembali mengerling nakal pada Emily.
"Ish! Lagi di kantor juga! Pikirannya mesum begitu!" Emily sedikit mendorong dada Galen dan menahan wajahnya yang terasa memanas. Jantung Emily rasanya sudah mau lepas dari rongganya karena berdetak dengan kuat dan kencang.
Sejak semalam Emily memang tak bisa tidur membayangkan pernikahannya dengan Galen. Lalu soal malam pertama mereka nanti.
Duh!
Emily mendadak jadi grogi.
"Udah, ah! Aku mau balik ke ruanganku," Emily kembali mendorong tubuh Galen yang masih menguncinya sejak tadi.
"Sebentar," Galen mengecup singkat bibir Emily.
"Mulai!"
"Bukannya besok udah sah? Nunggu besok aja kenapa?" Gumam Emily yang berusaha menghindari bibir Galen yang terus nyosor ke arahnya.
Meskipun Emily tak sepenuhnya menghindar.
Emily juga suka kok dicium Galen begini.
"Nyicil dikit. Cuma ciuman juga nggak nyicil yang lain," Galen menarik kepala Emily dan tanpa aba-aba langsung ******* bibir Emily, dan mencecap setiap bagiannya dengan menggebu-gebu.
Semoga Galen tak kebablasan kali ini!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.