
Gedebug!
Bruuk!
Pekikan Ghea disertai suara debuman membuat suasana pagi di rumah Galen sedikit heboh.
Saat semua orang keluar dari kamar masing-masing dan menuju ke sumber suara, sudah terlihat Ghea yang jatuh tersungkur di lantai dengan kepalanya yang membentur bagian samping sofa ruang tamu.
"Ghe! Kamu kenapa?" Tanya Emily yang paling cepat menghampiri Ghea yang sedang berusaha untuk bangun.
"Tu!" Ghea mencebik seraya menunjuk ke arah tiga buah kelapa muda yang tergeletak di samping sofa.
"Siapa, sih! Yang taruh kelapa utuh disitu? Ghea kan jadi tersandung trus terjungkal!" Gerutu Ghea yang masih mencebik.
Galen hanya meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal saat Emily melempar tatapan horor ke arahnya.
"Salahin abangmu itu! Dia yang taruh," celetuk Papi Bian yang langsung membuat Ghea melotot ke arah Galen.
"Salah sendiri, kalau jalan matanya lihat ke layar ponsel. Lagi chat sama siapa memangnya?" Sahut Galen yang malah menyalahkan Ghea yang kerap bermain ponsel saat sedang berjalan atau makan atau melakukan hal lain. Adik Galen itu seolah-olah tidak bisa hidup tanpa ponsel.
"Udah salah malah nyalahin! Bantuin berdiri juga enggak!" Gerutu Ghea seraya bersungut-sungut.
Gadis itu sudah berusaha untuk bangkit berdiri dengan dibantu Emily.
"Bawa ke dapur kelapanya, Galen! Dibelah sekalian, biar Emily bisa minum airnya nanti siang," titah Papi Bian pada Galen. Pria paruh baya tersebut sudah berlalu menuju ke dapur.
"Emang masih ngidam kelapa muda, Yang?" Tanya Galen seraya menatap pada Emily.
"Ya nggak tahu!" Emily mengendikkan kedua bahunya.
"Kalau sekarang ya masih belum pengen. Nggak tahu kalau nanti siang. Kalau pengen sesuatu suka dadakan soalnya," imbuh Emily lagi yang sontak membuat Galen berdecak.
Sedikit malas, namun Galen akhirnya mengambil tiga kelapa tadi dan membawanya ke arah dapur.
"Abang nyolong kelapa dimana? Awas ketangkap CCTV," kikik Ghea merasa kepo.
"Sembarangan! Abang petik du rumah Ayah Bunda juga," jawab Galen bersungut-sungut.
"Eh, Yang. Aku kok mendadak pengen makan kue bolu pisang buatan Tante Eve, ya!" Ucap Emily sedikit berbisik pada Galen.
"Aku bikinin sendiri aja gimana?" Tawar Galen yang sontak membuat Emily mengerutkan kedua alisnya.
"Emang kamu bisa? Aku maunya yang buatan Tante Eve. Bukan buatan kamu," jawab Emily meragukan kemampuan Galen.
__ADS_1
"Yang ngajarin Tante Eve bikin bolu pisang itu Papi. Minta saja Papi yang membuatkan!" Tukas Galen seraya menunjuk ke arah Papi Bian yang sedang memotong bawang dan beberapa sayuran segar. Sepertinya mau memasak nasi goreng spesial.
"Papi sibuk dan mau ada acara di luar! Jadi nggak usah nyuruh-nyuruh Papi, kamu!" Papi Bian menuding ke arah Galen.
"Aku maunya yang buatan Tante Eve! Kita kesana, ya! Setelah sarapan. Minta tante Eve buatin bolu pisang untuk aku," rengek Emily sedikit merayu pada Galen.
"Turutin, Bang! Namanya ngidam juga. Biar anaknya Abang nggak ileran nanti," celetuk Ghea yang sudah ikut masuk ke dapur dan menuang air ke dalam botol.
"Iya, baiklah!" Galen mengacak puncak kepala Emily dengan gemas.
Semoga Rachel dan Sean sedang tidak menginap di rumah tante Eve. Galen sedang malas melihat wajah suami Rachel itu. Meskipun Emily dan Sean sudah berulang kali mengatakan kalau mereka tak ada perasaan apa-apa lagi, tapi tetap saja perasaan cemburu masih saja membuncah di dada Galen setiap kali melihat Sean berdekatan dengan Emily.
Rasanya, Galen mau ngumpetin Emily ke dalam saku bajunya saja agar tidak pelukan atau salaman sama Sean.
"Mom mana? Tumben nggak kelihatan?" Tanya Galen sedikit celingukan mencari keberadaan Mom Mia yang memang belum terlihat sejak pagi.
"Diumpetin sama Papi kayaknya," kekeh Ghea yang sudah selesai menuang air di dalam botol. Gadis itu mengambil satu apel dari dari dalam kulkas dan segera keluar dari dapur.
"Mau kemana, Ghe?" Tanya Emily penasaran.
"Olahraga pagi, Kak! Jogging, cuci mata mumpung hari Minggu," jawab Ghea yang suaranya nyaris tak terdengar karena gadis itu sudah tiba di depan pintu utama.
"Nggak usah cari pacar!" Seru Galen berpesan pada sang adik.
Tak berselang lama, terdengar suara pintu depan yang dibuka lalu ditutup lagi.
"Kalian tidak olahraga?" Tanya Papi Bian yang sudah selesai memasak nasi goreng dan mulai menyajikannya di depan Galen dan Emily yang masih duduk di minibar yang ada di sisi dapur.
"Nanti olahraganya diatas ranjang saja, Pi! Mumpung hari Minggu, bisa lembur seharian," jawab Galen asal yang langsung berhadiah cubitan di perut dari Emily.
"Sakit, Sayang! Aku cium juga kamu nanti," Galen mengecup sekilas pipi Emily.
Papi Bian membawa sepiring nasi goreng buatannya keluar dari dapur.
"Itu buat siapa, Pi?" Tanya Galen kepo.
"Buat Mommy kamu."
"Mommy sakit, ya, Pi?" Tanya Emily khawatir.
"Cuma kecapekan," jawab Papi Bian sebelum menghilang masuk ke dalam kamar.
"Hmmm! Pasti diajak lembur sampai pagi, majanya Mommy langsung tepar," celetuk Galen sok tahu.
__ADS_1
"Lembur ngapain, Yang? Perasaan kafe tutup seperti biasa tadi malam," tanya Emily dengan raut wajah polosnya yang membuat Galen menjadi gemas.
"Lembur menanam benih kayak aku dan kamu!" Bisik Galen seraya tertawa genit pada Emily.
"Ck! Dasar sok tahu!" Gerutu Emily sebelum mulai melahap nasi gorengnya.
****
Emily dan Galen baru saja turun dari mobil saat Galen sudah melihat Sean yang sedang menggendong anaknya yang masih bayi berdiri di halaman depan rumah tante Eve.
"Hai, Alle!" Sapa Emily yang langsung mendekat ke arah Sean dan Alle.
Galen harus berdecak berulang-ulang menyaksikan Emily yang mulai dekat-dekat ke Sean.
Awas saja kalau nanti Emily peluk-peluk Sean!
Bakalan Galen hukum istrinya itu semalaman di kamar.
"Tumben main kesini?" Tanya Sean berbasa-basi pada Emily.
"Sedang ada perlu sama tante Eve," jawab Emily sambil mencubit-cubit pipi gembil Alle.
"Belajar gendong, gih! Udah mau jadi Mama juga," kekeh Sean seraya menyodorkan Alle ke arah Emily yang langsung membuat Emily beringsut mundur.
"Masih ngeri. Besok - besok aja belajarnya," jawab Emily seraya meringis.
"Pagi, Sean!" Sapa Galen yang kini berbasa-basi pada Sean.
"Pagi, Galen!" Balas Sean ramah.
"Yaudah aku masuk dulu, mau menemui Tante Eve sama Rachel," pamit Emily yang refleks mengusap lengan Sean yang masih dipakai untuk menggendong Alle. Terang saja, hal itu langsung membuat Galen geregetan dan ingin secepatnya mengomeli Emily. Namun Galen berusaha meredam emosinya dengan menarik nafas panjang-panjang.
Galen tidak mau mencari perkara di rumah orang pagi-pagi begini.
Nanti saja saat ada kesempatan, baru Galen akan melancarkan aksinya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.