
Flashback beberapa jam sebelum pesta...
Galen dan Emily masih menikmati makan siang mereka di sebuah rumah makan yang tak jauh dari kantor penerbitan.
"Kalau makan itu feminim sedikit!" Nasehat Galen saat Emily menyuapkan nasi dengan ukuran satu sendok penuh ke dalam mulutnya, hingga membuat kedua pipi Emily menggembung karena mulutnya penuh dengan makanan.
Galen menyambar tisu untuk menyeka sisa makanan yang mengotori sudut bibir Emily.
"Saya bisa sendiri, Pak!" Rengut Emily yang hendak membersihkan sudut bibirnya sendiri. Namun Galen tetap keras kepala dan lanjut menyeka sisa-sisa makanan di sekitar bibir Emily yang tentu saja membuat Emily merasa sedikit aneh.
Sikap Pak Manajer Maho ini lama-lama mengkhawatirkan!
Emily mengedarkan pandangannya ke kiri kanan resto, untuk memastikan kalau si Kymi centil tak ada disini.
Bisa saja, kan?
Pak Galen bersikap romantis begini cuma mau membuat seseorang yang mungkin sedang melihat mereka berdua jadi cemburu.
Duh, kok Emily jadi baper begini, sih?
Tapi Emily sudah lama juga tidak mendapat perlakuan romantis begini dari seorang pria.
Terakhir yang suka romantis ke Emily itu Sean.
Ish!
Apa, sih!
Kok malah mikirin suami orang?
Move on, Emily!
Move on, dan cari suami sana! Atau minimal pacarlah biar ada yang romantisin kamu kayak Galen sekarang.
Lihat!
Galen nyuapin kamu begitu, kurang romantis apa, coba?
Hah?
Galen nyuapin Emily?
"Emily!" Teguran Galen menyentak lamunan Emily. Pria itu sudah menyodorkan sesendok nasi yang ukurannya pas sekali untuk Emily dan tidak penuh seperti kalau Emily makan sendiri.
"Sa-saya bisa makan sendiri, Pak! Kenapa harus disuapi?" Emily kembali merengut dan tak kunjung membuka mulut.
"Makan sendiri tapi berantakan begitu, tidak ada feminimnya sama sekali! Jaim juga enggak!" Komentar Galen yang semakin membuat Emily merengut.
"Yaelah! Kalau nggak mau makan siang sama saya yaudah, Pak! Saya tadi juga nggak mau makan siang sama Bapak, eh Bapak maksa-maksa saya! Sekarang Bapak komentar pedes begitu sama saya yang katanya nggak feminim lah! Nggak jaim lah! Belepotan lah! Berantakan lah! Memangnya bapak siapa, sih? Hobi sekali komentarin hidup saya?" Cerocos Emily bersungut-sungut pada Galen.
Gadis itu bahkan sudah bangkit dari kursinya sekarang. Namun Galen segera menarik Emily untuk kembali duduk dan kini berpindah ke samping Galen.
"Apa, sih, Pak! Saya mau pulang!" Emily meronta seperti gadis yang sedang ribut denagn pacarnya.
"Duduk diam dan habiskan makananmu!" Perintah Galen galak.
"Atau mau aku suapi sampai habis?" Sambung Galen yang kini sudah meraih piring Emily dan bersiap menyuapi Emily.
"Saya bisa makan sendiri!" Jawab Emily seraya merebut sendoknya dari tangan Galen dan mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan ukuran sedikit-sedikit dan berusaha feminim.
__ADS_1
Emily sedang malas mendengarkan ocehan Pak Gak Selera ini yang benar-benar membuat Gak Selera buat makan.
"Pelan-pelan!" Galen kembali menyeka sisa makanan di sudut bibir Emily, namun Emily pilih diam saja dan tetap lanjut melahap makanannya hingga habis.
Makanan Galen malah udah habis sejak tadi. Dasar tukang makan!
"Sudah habis, Pak! Bisa kita kembali ke kantor sekarang?" Tanya Emily setelah meneguk air minum di gelasnya.
Kita?
Ngapain juga Emily menyebut dirinya dan Pak Gak Selera ini jadi kita?
Kan bisa pertanyaannya diganti jadi 'Bisa saya kembali ke kantor sekarang?'
Ish!
Dasar lidah sialan!
"Ikut aku sebentar mampir ke toko sebelum kembali ke kantor." Galen menyusun dan mengumpulkan piring-piring di atas meja mereka tadi di tengah-tengah meja. Lalu tisu bekas pakai juga Galen kumpulkan jadi satu, hingga meja terlihat tak berserakan, meskipun Emily dan Galen habis makan disitu.
Ck!
Dasar OCD!
Padahal kan ada waitres yang digaji buat beresin meja.
Kenapa juga harus ribet rapiin meja begitu?
"Ayo, Em!" Galen sudah bangkit dari duduknya dan mau tak mau Emily ikut bangkit berdiri lalu mengikuti langkah Pak Gak Selera itu yang katanya mau mengajak Emily mampir ke toko.
Toko apa, coba?
Mobil Galen berhenti di sebuah pusat pertokoan yang sepertinya menjual berbagai jenis perhiasan dari emas.
Lah, ngapain Pak Galen ngajak Emily ke toko perhiasan?
Mau beli seserahan buat pacarnya yang bocah itu?
"Kita kesini mau ngapain, Pak?" Tanya Emily saat Galen sudah melepas sabuk pengamannya dan menyuruh Emily turun.
"Udah, turun aja!" Perintah Galen tegas.
Emily hanya mencibir dan segera ikut turun dari mobil. Emily mengikuti langkah Galen yang masuk ke sebuah toko perhiasan lalu langsung menuju ke etalase bagian cincin.
Mau beli cincin ternyata!
Pasti buat pacarnya yang suka gelendotan itu!
"Kamu suka yang mana, Em?" Tanya Galen yang terang saja malah membuat Emily jadi merengut.
"Kok tanya saya, Pak? Kan Bapak yang mau beli cincin! Bapak pilih saja yang Bapak suka!" Jawab Emily ketus.
"Aku tanya sama kamu! Kok malah kamu nyuruh aku pilih sendiri." Galen ikut-ikutan ketus.
"Emang bapak mau beli cincin buat siapa?" Tanya Emily akhirnya sedikit merasa sebal.
"Untuk calon istri lah!" Jawab Galen yang masih melihat-lihat cincin di dalam etalase sambil sesekali bertanya pada pramuniaga toko.
"Trus kenapa bukan calon istrinya yang dibawa ke sini? Kenapa malah ngajak saya? Nanti kalau ukurannya nggak pas bagaimana, coba? Bagaimana? Bagaimana?" Cecar Emily yang langsung membuat Galen berdecak.
__ADS_1
"Kalau calon istri yang aku bawa ke toko, nggak bakal jadi kejutan! Lagian, ukuran jarimu dan jari calon istriku itu sama! Itulah makanya kenapa aku mengajakmu ke toko!" Jelas Galen yang sontak membuat Emily berdecak malas.
Diih!
Cuma kelinci percobaan ternyata!
"Ukurannya sebesar jari gadis ini, Mbak!" Ucap Galen pada pramuniaga toko seraya menggenggam jemari Emily dan menunjukkannya pada pramuniaga toko.
"Bisa yang ini, Pak! Atau yang ini." Pramuniaga memberikan dua pilihan cincin yang bentuknya berbeda. Satu cincin desainnya simpel dengan dua berlian kecil sebagai hiasan. Dan satu cincin lagi desainnya lebih glamour, serta berliannya yang cukup besar namun malah membuat Emily menjadi illfeel.
"Yang ini deainnya berlebihan, Pak! Yang ini cantik dan simpel!" Komentar Emily pada dua cincin di hadapannya.
Galen meraih cincin berdesain simpel yang ditunjuk Emily dan mencobakannya ke jari manis gadis tersebut.
Wow!
Bagus ternyata!
Emily paling malas memakai perhiasan, namun cincin ini terlihat sangat bagus di jari Emily.
Boleh beli satu terpisah nggak, ya?
"Saya ambil yang ini saja, Mbak!" Ucap Galen akhirnya yang sudah membuat keputusan. Dan Galen benar-benar memilih cincin yang tadi ditunjuk oleh Emily.
Ealah!
Bikin baper saja!
Nanti pas Pak Gak Selera ini nikah, Emily nggak usah datang!
Emily juga mau beli cincin sendiri nanti!
"Ayo pulang!" Ajak Galen setelah cincin pesanannya selesai dibungkus.
"Ke kantor, Pak?" Emily mengoreksi kalimat Galen.
"Pulang ke rumah! Kan kamu kerja setengah hari saja hari ini!" Jawab Galen yang sontak membuat Emily ternganga dan bibirnya membulat cukup lama.
"Tutup bibir kamu itu, Em! Nanti kalau ada lalat masuk bagaimana?" Galen menangkupkan bibir mungil Emily yang ternyata begitu lembut dan kenyal.
Galen terdiam sejenak menatap bibir merah merekah tersebut padahal Galen sangat yakin kalau Emily tidak sedang memakai lipstik. Itu memang warna alami bibir Emily.
"Pak! Jadi pulang nggak? Kok malah melamun!" Tegur Emily yang langsung membuyarkan lamunan Galen.
"Iya, jadi! Ayo!" Jawab Galen seraya membuka pintu mobilnya.
Tak butuh waktu lama, dan mobil Galen sudah melaju meninggalkan toko perhiasan.
Flashback off
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1