
Emily keluar dari kamar Galen membawa piring kotor bekasnya sarapan kesiangan tadi. Galen sendiri masih betah di kamar dan langsung sibuk dengan laptopnya.
Cih!
Bilangnya ambil cuti, tapi masih memeriksa naskah juga.
Rumah Galen terasa sunyi, entah kemana perginya para penghuni rumah ini.
Emily segera meletakkan piring kotornya di bak cucian piring dan mencucinya sekalian.
Padahal kalau di rumah, mana pernah Emily mencuci piring?
Kecuali piring di rak habis, barulah Emily akan turun tangan mencuci piring-piring di bak cucian piring. Namun tentu saja hal itu mustahil, karena Bunda Naya yang terlampau rajin dan tak akan pernah membiarkan piring kotor menumpuk di bak cuci piring.
Kenapa Emily tidak bisa rajin seperti Bunda Naya, ya?
Padahal Emily kan satu-satunya putri Bunda Naya.
Aneh sekali!
"Sudah bangun, Em?" Itu suara Papi Bian yang baru datang dari arah pintu utama, membawa kantung belanja yang cukup besar. Entah apa isinya.
"Iya, Pi! Sedikit kesiangan," jawab Emily seraya meringis.
Apanya yang sedikit?
Jelas-jelas Emily kesiangan sekali tadi.
Semua gara-gara Galen mesum!
Eh, tapi Emily menikmati juga.
"Papi mau memasak?" Tanya Emily sealnjutnya saat melihat Papi Bian yang membongkar kantung belanjanya.
Kalau dirumah Emily, yang biasanya melakukan hal ini tentu saja Bunda.
Tapi di rumah Galen ini sepertinya sedikit terbalik.
Kenapa Papi Bian yang malah jadi bapak rumah tangga?
Mom Mia kemana coba?
"Tidak! Hanya membongkar belanjaan. Yang memasak nanti kamu saja, ya! Papi sibuk di bawah!" Jawab Papi Bian yang sontak membuat Emily melongo.
Mati kau, Emily!
Mau memasak apa coba?
Tumis buncis buruk rupa dan ayam goreng kurang garam lagi?
"Kan kemarin katanya kamu bisa memasak, jadi Papi pensaran dengan rasa masakan kamu. Nanti kamu tata semua sayurnya di kulkas, lalu kamu memasak untuk makan siang, ya!" Pesan Papi Bian yang sudah selesai membongkar semua belanjaan.
"Tapi Emily bisanya cuma masak sup sayur dan tumis sederhana, Pi! Apa nanti pada doyan?" Tanya Emily merasa ragu.
"Semua keluarga Biantara tak pernah pilih-pilih makanan. Asal enak dan cocok di lidah, pasti kami doyan!" Jawab Papi Bian santai.
Nah itu masalahnya, Pi!
__ADS_1
Kalau ternyata masakan Emily nggak cocok di lidah keluarga Biantara bagaimana?
Bagaimana?
Bagaimana?
Apa iya nanti sup sayurnya bakal diguyurkan di kepala Emily seperti di sinetron-sinetron itu?
Eh, tapi kemarian Galen kan bilang kalau masakan Emily enak, meskipun bentuknya buruk rupa.
Dan Galen adalah bagian dari keluarga Biantara.
Jadi mungkin masakan Emily benar-benar enak.
Atau Emily merayu Galen saja agar dia mau membantu Emily menyiapkan makan siang, ya?
Diiming-imingi lembur sampai pagi kayaknya manjur.
Hihihi!
Dasar otak Emily!
Kenapa malah mikirin lembur sampai pagi bareng Galen?
"Jangan lupa, ya, Emily! Papi turun ke bawah dulu!" Pesan Papi Bian yang sudah berjalan ke arah pintu utama, meninggalkan Emily yang hanya masih mematung menatap ke aneka sayuran segar yang tadi dibawa Papi Bian.
Emily segera membuka kulkas empat pintu yang ada di dapur, lalu menaruh dengan asal, sayuran yang ada di atas meja.
Halah!
Penting masuk semua, kan?
Sekalian nanti Emily mau telepon bunda dan bertanya menu makan siang selain sup sayuran dan tumis buncis buruk rupa.
****
Emily membuka pintu kamar, saat wanita itu mendapati Galen yang sudah kembali tertidur, dengan laptop yang masih menyala di depannya.
Ya ampun!
Dasar tukang tidur!
Bergegas Emily mematikan layar laptop Galen dan menyelimuti Galen yang tidur tengkurap. Emily menatap sejenak pada wajah putih bersih Galen dan masih sedikit tak percaya, kalau atasan resek yang selalu membuat Emily menggerutu tersebut, kini adalah suaminya.
Emily duduk di tepi tempat tidur dan malah lanjut mengusap bibir Galen yang semalam menciuminya tanpa henti. Bahkan masih ada beberapa bekas kemerahan di dada Emily, hasil perbuatan Galen.
Kelihatannya saja cuek dan nggak romantis. Tapi saat sudah di atas ranjang apalagi di atas Emily, Galen ternyata bisa menjelma menjadi sosok yang sangat romantis dan agresif tentu saja.
Emily tersenyum sendiri mengingat kegiatannya semalam bersama Galen. Jemari Emily masih mengusap lembut bibir serta menyusuri lekuk wajah Galen yang ternyata memang tampan.
Suami Emily tampan juga, ya!
Emily terkikik sendiri.
Ck!
Tiba-tiba terdengar decakan dari Galen, bersamaan dengan tubuh Emily yang mrndadak ditarik oleh suamimya tersebut.
__ADS_1
"Galen!" Pekik Emily yang entah bagaimana caranya kini bisa berada di atas tubuh Galen yang sudah berganti posisi menjadi telentang.
"Kenapa cuma diusap-usap?" Galen mencubit hidung Emily dengan gemas.
"Aku kira tadi mau kamu cium," sambung Galen lagi dengan nada lebay.
"Dicium bagaimana maksudnya?" Emily malah menumpuk kedua tangannya di dada Galen sekarang. Dan tengkurap di atas Gaken, seolah suaminya ini adalah kasur.
Badan Galen kan besar!
Jadi kalau Emily tindih begini paling juga nggak berasa.
"Mau minta jatah lagi? Kok malah tengkurap di atasku begini?" Tanya Galen seraya me dekap tubuh Emily.
"Nggak ada! Pikiran kamu itu, isinya menanam benih terus." Emily mengetuk-ngetuk kening Galen dengan jarinya.
"Biar cepat tumbuh benihnya. Jadi Galen junior yang wajahnya mirip Emily!" Galen ganti mencubit gemas kedua pipi Emily.
"Kamu sweet-nya kalau di kamar dan di ranjang aja. Kemarin-kemarin pas di kantor marahin aku terus," Emily memainkan jarinya di hidung Galen yang mancung sempurna.
Ini suami Emily, pas ngantri hidung dapat nomor urut pertama apa, ya?
Bisa bagus begini hidungnya.
"Kapan memang aku marahin kamu?" Sergah Galen pura-pura lupa.
Segera Emily menaruh punggung tangannya du atas kening Galen dan tentu saja hal itu sontak membuat Galen tergelak.
"Emily! Ikat rambutmu biar nggak jadi kuntilanak!" Emily menirukan suara Galen saat sedang mengomelinya di kantor.
"Ngatain aku kuntilanak, eh dinikahin dan dikawin juga. Enak kawin sama kuntilanak?" Cibir Emily yang semakin membuat Galen terkekeh geli.
"Enak sekali! Sampai bikin candu dan ketagihan!" Jawab Galen yang masih tergelak.
"Dasar genderuwo!" Emily memukul dada Galen dan segera turun dari atas tibuh Galen.
Kini istri Galen tersebut duduk di tepi ranjang dan hendak beranjak. Namun Galen mencegahnya dengan cepat.
"Enak, dikawin sama genderuwo?" Bisik Galen di telinga Emily yang sontak membuat Emily tersipu malu.
"Kalau enak kenapa kalau nggak enak kenapa?" Emily malah balik bertanya.
"Kalau enak, nanti malam kita kawin lagi, beronde-ronde. Kalau nggak enak, nanti malam aku ajari gaya dan teknik baru biar bisa enak," jawab Galen blak-blakan yang sontak langsung membiat Emily memejamkan mata.
"Ish! Mesum terus pikiranya!" Gerutu Emily yang sudah bangkit berdiri dan meraih kopernya di sudut kamar.
Emily akan mulai menyusun dan memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari Galen.
Namun saat membuka lemari besar Galen, lagi-lagi Emily dibuat terperangah tak percaya.
"Ya ampun! OCD gini amat!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.