Jodoh Emily

Jodoh Emily
KAU CEMBURU?


__ADS_3

Emily dan Galen sudah meninggalkan, rumah Rachel.


Rachel segera membereskan sisa kue bolu dan minuman yang tadi ia suguhkan untuk Emily.


"Biar aku yang membawanya ke dapur." Sean mengambil alih piring serta gelas yang hendak dibawa Rachel ke dapur.


Rachel mengekori Sean menuju ke dapur untuk mencuci piring.


"Galen dan Emily terlihat akrab tadi. Kesini sampai barengan," ucap Sean membuka obrolan.


"Apa kau cemburu?" Tanya Rachel tiba-tiba yang langsung membuat Sean menoleh ke arah istrinya tersebut.


"Kenapa aku harus cemburu? Aku justru senang, karena akhirnya Emily bisa dekat dengan pria lain dan membuka hatinya," jawab Sean diplomatis.


"Aku pikir kau masih menyimpan perasaan pada Emily. Jadi mungkin kau merasa cemburu melihat Emily yang datang kesini bersama Galen," gumam Rachel yang kini sudah duduk di kursi meja makan dan membuka tudung saji karena peritnya sudah lapar.


Kosong!


Mama Eve memang pergi dari siang dan belum memasak. Tadi Mama Eve juga berpesan pada Rachel untuk beli makanan matang saja jika Rachel malas memasak.


Ya ampun!


Kenapa Rachel bisa lupa?


"Kau lapar?" Tebak Sean yang sepertinya peka.


"Aku akan memasak sebentar," Rachel hendak beranjak dari duduknya, dan Sean dengan sigap membantu istrinya tersebut.


"Ayo kita makan diluar saja!" Aja Sean lembut pada Rachel.


"Kau mau makan apa dan dimana, ayo aku antar!" Imbuh Sean lagi kali ini disertai senyuman tulus di bibirnya.


Rachel diam sebentar dan mengingat lagi kata-kata Emily sore tadi kepadanya.


"Aku dan Sean sudah tak menyimpan perasaan apapun lagi, Rachel! Sean sekarang adalah suamimu!"


"Sean juga sudah berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Jadi berhentilah bersikap dingin pada Sean!"


"Aku tidak betsikap dingin pada Sean! Aku hanya-"


"Hanya apa? Menjaga perasaanku?" Emily terkekeh santai.


"Aku sudah tidak menaruh perasaan apapun pada Sean, oke! Kau mau berpelukan atau berciuman dengan Sean juga aku tidak akan cemburu!" Nada bicara Emily benar-benar lepas dan santai.


"Paling sedikit pengen saja. Pengen cepat-cepat punya suami maksudnya biar ada yang mencium juga," sambung Emily yang malah berkelakar.


"Emily!"


"Buka hatimu untuk Sean, Rachel! Bukankah kau juga mencintai Sean? Jadi tidak usah pura-pura bersikap dingin begitu!" Ujar Emily sok tahu.


"Dasar sok tahu!"


"Hoh! Aku bukan sok tahu! Aku memang tahu segalanya!" Emily bersedekap sombong


"Rachel! Kenapa melamun?" Tanya Sean yang langsung membuyarkan lamunan Rachel tentang Emily.

__ADS_1


"Jadi makan di luar?" Rachel balik bertanya pada Sean dan sedikit tergagap.


"Iya, jadi. Ayo!" Ajak Sean sekali lagi masih mengukir senyum di bibirnya.


"Aku ambil jaket dulu," ucap Rachel yang masih sedikit tergagap.


"Baiklah! Aku tunggu di teras!" Sean mengusap lembut punggung Rachel segelum berllaj meninggalkan istrinya tersebut.


Rachel masih mematung di tempatnya dan sedikit terkejut dengan sikap lemah lembut Sean.


Mungkin Emily benar tentang Sean yang sedang berusaha menjadi suami yang baik untuk Rachel.


Rachel segera masuk ke kamar untuk mengambil jaket serta dompet. Wanita itu lanjut menyusul Sean ke teras dan mengunci pintu depan.


"Mau makan kemana?" Tanya Sean yang kini membukakan pintu mobil untuk Rachel.


"Aku pengennya makan mie goreng pinggir jalan yang biasa aku beli bareng Mama dan Papa. Tapi apa kamu doyan?" Tanya Rachel sedikit ragu.


"Doyan, kok! Aku kan pemakan segalanya," jawab Sean sedikit terkekeh.


Sean menyusul masuk ke dalam mobil dan segera melajukan kendaraan roda empat tersebut meninggalkan rumah Rachel.


****


Sean dan Rachel sudah duduk di dalam warung tenda yang menjadi langganan Rachel dan kedua orangtuanya saat makan di luar. Pasangan suamk istri itu duduk berhadapan, dan Sean terus saja memandangi perut Rachel yang kini sudah membulat sempurna. Tinggal sebukan lagi, dan Rachel mungkin akan segera melahirkan.


Rachel sedikit risih karena Sean yang terus menatap ke arah perutnya. Segera Rachel merapatkan jaket yang ia menakan, meskiou itu tak seoenuhnya bisa menutupi perutnya yang membukit.


"Apa ada yang aneh denagn bajuku? Kenapakau terus saja menatapmke arahku begitu?" Tanya Rachel seraya menundukkan wajahnya.


Rachel terdiam sesaat, ketika Sean menyebut bayi kita!


Kita!


Ya ini memang bayi Rachel dan Sean.


Tapi Rachel belum pernah mengizinkan Sean membelainya sejak mereka menikah beberapa bulan yang lalu.


"Ya, dia sedang menendang-nendang sekarang," jawab Rachel seraya mengusap perutnya, membuat Sean semakin menatap lekat pada Rachel dan sepertinya Sean ingin ikut mengusap perut Rachel juga.


"Bukalah hatimu, Rachel! Jika kau tidak membuka hatimu mulai sekarang, bagaiamna kau bisa tahu perasaan Sean yang sebebarnya kepadamu?"


"Apa dia sangat aktif?" Tanya Sean lagi menunjuk ke afah perut Rachel dengan dagunya.


"Ya! Bukankah kau sudah melihatnya saat USG kemarin? Dia bergerak dengan sangat aktif," jaeab Rachel yang kemabli menundukkan wajahnya.


"Hanya melihat. Aku belum pernah merasakan tendangannya," ucap Sean memasang raut wajah memelas.


Rachel mendadak mearsa bersalah karena tak pernah mengizinkan Sean mengebtuhnya atau sekedar membelai perut besarnya.


Mie goreng pesanan Sean dan mie kuah pesanan Rachel sudah datang. Obrolan anatara Sdan dan Rachel pun terjeda, karena dua orang itu sudah menikmati makana mereka masing-masing.


Rachel beberapa kali melirik ke arah mie goreng Sean yangbtetlihat mdnggiurkan dan membuat Rachel menelan saliva. Bisa saja Rachel memesan mie goreng lagi untuknya. Tapi pasti tidak akan habis dan malah terbuang nanti. Kenapa tadi Rachel tidak ikut memesan mie goreng saja?


"Kau mau?" Sean yang sepertinya peka menyodirkan sesendok mie goreng pada Rachel dan memberi kode agar Rachel membuka mulut.

__ADS_1


Meskipun ragu, Rachel akhirnya membuka mulut dan menerima suapan Sean.


"Enak!" Gumam Rachel setelah mencicipi mie yang tadi disuapkan Sean.


"Mau tukaran?" Tawar Sean yang sudah menukar piringnya dengan mangkuk mie kuah di hadapan Rachel.


"Tapi, Sean!"


"Makan saja! Aku akan menghabiskan yang berkuah!" Ucap Sean seraya mengulas senyum di bibirnya.


Rachel tak protes lagi, dan segera melahap mie goreng milik Sean hingga tandas tak bersisa. Dan Sean juga melahap mie kuah milik Rachel tadi hingga tandas.


"Aku baru ingat, kalau kau gadis di halte yang pernah di ganggu oleh sekelompok pemuda mabuk itu, kan? Saat sore hujan deras di halte dekat kampus," Sean kembali membuka obrolan setelah dirinya dan Rachel menghabiskan mie mereka.


"Ya! Kau yang menyelamatkanku waktu itu, dan aku lupa belum berterima kasih. Jadi sekarang saja aku berterimakasihnya. Terima kasih Sean!" Rachel akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap pada Sean yang ternyata juga sedang menatapnya.


Apa sejak tadi Sean terus menatap ke arah Rachel?


"Sama-sama, Rachel! Tolong jangan lupa bersikap dingin lagi kepadaku!" Pinta Sean sedikit memohon.


"Aku tahu kamu marah kepadaku tentang emua yang terjadi diantara kita. Tapi setidaknya, berilah aku satu kesempatan untuk menebus semua kesalahanku yang telah lalu."


"Aku benar-benar sudah tak memiliki perasaan apapun pada Emily," ucapan Sean terdengar bersungguh-sungguh.


"Biarkan aku menjadi suami yang baik untukmu, Rachel! Aku akan berusaha untuk terus mencintaimu dan mencintai calon anak kita," Sean kembali menatap ke arah oerut Rachel.


Sepertinya Sean ingin sekali mengusap perut Rachel dan merasakan tendangan dari calon bayi mereka.


"Kau menyebut nama Emily malam itu, Sean!" Ucap Rachel dengan nada yang terdengar sedih.


"Aku mabuk malam itu, Rachel!" Sean mencari pembenaran.


"Dan aku benar-benar menyesalinya. Aku minta maaf, Rachel!" Mohon Sean sdkali lagi yang membuat Rachel menarik nafas panjang sejenak.


Sean memang sedang mabuk malam itu dan tak sadar dengan ucapan sekaligus perbuatannya. Rachel juga ikut bersalah malam itu karena malah membawa Sean yang mabuk ke apartemennya dan bukannya mengantar Sean pulang ke rumah Mom Bi. Jadi rasanya berlebihan jika Rachel terus mendiamkan Sean dan marah pada suaminya tersebut.


Sean juga sudah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya dan menikahi Rachel. Lalu memberikan segenap perhatian pada Rachel.


Bukankah Rachel tak boleh egois?


Rachel mengangguk-angguk pada Sean.


"Kita lupakan saja semua kejadian malam itu!" Ucap Rachel akhirnya yang membuat Sean sedikit bernafas lega dan mengulas senyum di bibirnya.


"Terima kasih atas pengertianmu, Rachel!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2