
Kediaman Arthur.
Sean baru selesai mandi, saat pria itu mendapati baju kerjanya yang sudah disiapkan oleh Rachel di atad tempat tidur.
Namun seperti biasa, Rachel selalu tidak berada di kamar setiap kali Sean bersiap-siap dan hendak pergi kerja.
Sudah satu bulan Rachel dan Sean resmi menjadi pasangan suami istri. Namun sikap Rachel masih saja dingin pada Sean. Rachel seakan masih tidak ikhlas menjadi istri Sean.
Seberapa dalam sebenarnya luka di hati Rachel, hingga wanita yang sudah berstatus sebagai istri Sean itu, masih tidak mau disentuh oleh Sean?
Apa mungkin seumur hidup Sean harus menanggung rasa bersalahnya pada Rachel?
Pintu kamar dibuka dari luar.
Rachel masuk tanpa menyapa Sean sedikitpun dan langsung mengambil baju ganti di lemari.
"Darimana?" Tanya Sean berbasa-basi.
Rachel tidak akan pernah bicara pada Sean, kecuali Sean melemparkan pertanyaan kepadanya.
Begitulah Rachel sekarang!
Diberi pertanyaan dia menjawab, tapi jika tak ditanya apapun ya dia akan diam seribu bahasa. Dan sikap diamnya itu hanya pada Sean seorang. Jika pada Mom atau Dad, sikap Rachel mendadak berubah hangat.
Menyebalkan, bukan?
"Jalan pagi bersama Mom!" Jawab Rachel dengan ekspresi wajah datar.
"Sudah sarapan?" Tanya Sean lagi.
Perasaan setiap pagi pertanyaan Sean cuma itu-itu saja dan jawaban Rachel juga itu-itu saja.
"Sudah!" Jawab Rachel singkat.
"Mau mandi?"
"Iya!"
Singkat, padat, dan jelas.
Tidak bisakah Rachel sedikit saja berbasa-basi pada Sean?
Rachel sudah hampir masuk ke dalam kamar mandi, saat Sean kembali melontarkan pertanyaan,
"Kapan jadwalmu bertemu dokter kandungan?"
"Lusa." Jawab Rachel masih tanpa basa-basi sedikitpun.
"Aku antar!" Ucap Sean cepat berusaha memberikan perhatian pada Rachel.
Rachel diam dan menatap Sean sejenak sebelum kembali membuang pandangannya.
"Terserah!"
Sesaat setelahnya, terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan kasar. Sean hanya menghela nafas dan lanjut memakai dasinya sendiri tanpa bantuan dari Rachel sedikitpun.
Kalau tidak ingat dengan kata-kata Emily yang meminta agar Sean menjadi suami yang baik untuk Rachel dan belajar untuk mencintai Rachel dengan sepenuh hati, mungkin Sean sudah menyerah sekarang.
Siapa yang tahan coba, jika setiap hari hanya diberikan sikap dingin dan cuek seperti ini?
****
"Ini kamu yakin, ke kantor pakai baju seperti ini?" Tanya Bunda Naya heran saat melihat Emily yang mengenakan celana jeans serta baju tunik lengan pendek dan sebuah tas selempang. Lebih mirip anak muda yang mau hang out ke mall.
"Iya yakin, Bunda! Yang lain bajunya juga seperti ini, kok!" Jawab Emily dengan raut wajah penuh keyakinan.
__ADS_1
"Kemarin pas Emily pakai blouse sama rok itu diketawain sama Irma dan dibikang salah kostum," lanjut Emily lagi sedikit mencebik.
"Ada memang, orang kerja salah kostum?" Celetuk Ayah Satria yang ikut memindai penampilan Emily.
"Tapi kalau dipikir-pikir kerjaannya Emily kan cuma sebagai ilustrator, Nay! Jadi mungkin wajar kalau dia nggak perlu pakai baju resmi orang kantoran. Cuma coret-coret di iMac gitu kerjaannya," kekeh Ayah Satria yang sontak membuat Emily mencebik.
"Ayah, ih! Coret-coret tapi kan dapat duit. Ketimbang Ayah, kerjaannya cuma pegang pentungan setiap hari!" Emily balas mengejek sang Ayah.
"Ayah kepala keamanan! Mana ada pegang pentungan? Buat mentungin yang usil sama kamu, ya!" Sahut Ayah Sataria yang malah berkelakar.
"Cocok kayaknya kalau Pak Galen yang ayah pentung biar nggak resek mulu," gumam Emily seraya tertawa-tawa sendiri.
"Siapa Pak Galen?" Tanya Bunda Naya yang ternyata mendengar gumaman Emily.
"Bukan siapa-siapa, Bund! Cuma manajer di bagian penerbitan yang super resek! Resek banget pokoknya!" Jawab Emily dengan nada lebay.
"Sudah! Ayo berangkat, keburu kesiangan kamu nanti!" Ayah Satria merangkul Emily dan segera berpamitan pada Bunda Naya.
Ayah dan putrinya tersebut berjalan ke arah mobil yangbterparkir di halaman masih sambil bersenda gurau.
"Kau masih berhubungan baik dengan Rachel?" Tanya Ayah Satria saat mobil yang ia tumpangi bersama Emilybsudah melaju menembus jalanan kota yang cukup padat pagi ini.
"Masih suka berbalas pesan, sih. Paling tanya kabar. Emily nggak mau cari musuh, Yah!" Jawab Emily diplomatis.
Ayah Satria tersenyum tipis mendengar jawaban Emily.
"Kalau Sean?" Tanya Ayah Satria lagi.
"Emily harus menjaga perasaan Rachel, Ayah!" Jawab Emily seraya melempar tatapan tajam pada sang Ayah yang masih tersenyum tipis.
Ayah Satria mengulurkan satu tangannya untuk mengusap kepala Emily yang menurutnya sudah benar-benar bersikap dewasa sekarang.
"Kau akan bertemu pria baik yang seribu kali lebih baik dari Sean!" Ucap Ayah Satria yang seolah sedang menghibur Emily.
Emily masih mencoba move on sekarang, meskipun dari luar Emily sudah terlihat tegar namun tetap saja luka di hati Emily masih menganga dan entah kapan akan sembuh. Sean juga akan tetap ada di sudut kecil hati Emily sampai kapanpun.
Sean, cinta pertama Emily.
Mobil yang dikemudikan Ayah Satria sudah tiba di gedung kantor tempat Emily bekerja.
Emily segera berpamitan pada sang ayah dan masuk ke gedung tersebut. Gadis itu langsung menuju ke ruang kerjanya, untuk menge-print hasil pekerjaannya kemarin.
Emily baru ingat kalau Pak Galen minta pekerjaan Emily diserahkan pagi. Jadi daripada kena semprot dan dapat image buruk di hari pertamanya bekerja, lebih baik Emily menyerahkan pagi-pagi saja. Sebelum Pak Gak Selera itu datang.
****
Emily mengintip sejenak lewat kaca di pintu ruangan Pak Galen, untuk melihat apa pria itu sudah datang atau belum.
Belum ternyata.
Baiklah!
Emily langsung masuk saja dan menaruh pekerjaannya.
Namun baru saja Emily selesai menaruh map berisi gambar hasil coretannya, pintu ruangan sudah dibuka dari luar.
Ah, Sial!
Kenapa Pak manajer resek ini tidak kesiangan seperti kemarin, sih?
"Sedang apa kamu, Em?" Tanya Galen seraya memindai penampilan Emily dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sudah seperti pengamat fashion saja!
"Menyerahkan pekerjaan yang Bapak berikan kemarin," Jawab Emily seraya tersenyum kaku.
__ADS_1
Galen segera meraih map berisi hasil pekerjaan Emily dan memeriksanya. Pria itu berdecak yang sontak membuat Emily menggerutu dalam hati.
Apalagi sekarang?
Gambarnya tak sesuai?
Atau hasil gambar Emily buruk rupa?
"Em, bukankah kemarin saya sudah bilang. Kalau meyerahkan sesuatu itu yang rapi!" Ucap Pak Galen tegas.
"Itu sudah rapi, Pak! Sudah saya masukkan ke dalam map!" Sergah Emily mencari pembenaran.
"Rapi? Ini kamu bilang rapi?" Pak Galen menunjuk pada lipatan di ujung kertas, yang tidak Emily perhatikan saat mem-print hasil coretannya tadi.
"Kan tinggal dibenerin begini, Pak!" Emily meluruskan kertas yang terlipat tersebut yang tentu saja hal itu malah membuat Galen semakin geregetan.
"Print ulang!" Perintah Galen galak.
"Hah, apa?" Emily menatap tak percaya pada atasan reseknya tersebut.
"Print ulang! Apa kau tidak punya telinga? Makanya itu rambut diikat atau digelung kalau sedang bekerja! Bukan digerai seperti kuntilanak begitu!" Gerutu Galen yang entah mengapa malah merembet dan ganti mengomentari rambut Emily.
Ya ampun!
Rambut lagi!
Kemarin masalah poni dan jepit rambut korea.
Sekarang masalah rambut tergerai dan kuntilanak.
Apa katanya tadi? Emily seperti kuntilanak?
Dia genderuwo berarti! Dasar lebay!
Emily tak berhenti menggerutu dan bersungut-sungut dalam hati. Besok Emily benar-benar akan meminjam pentungan Ayah Satria buat mentungin pak manajer resek ini biar amnesia sekalian!
"Emily!" Tegur Pak Galen yang langsung membuat Emily tersentak kaget.
"Aku menyuruhmu untuk mem-print ulang pekerjaanmu! Kenapa kamu malah berlatih jadi patung disini?" Omel Pak Galen yang langsung membuat bibir Emily mencebik.
"Iya, Pak! Akan saya print ulang!" Jawab Emily yang ikut geregetan pada Pak Galen sialan ini.
Emily meraih map yang berisi pekerjaan dan membawanya keluar dari ruangan Pak Galen.
"Ih! Menyebalkan!" Gerutu Emily seraya meremas-remas map tadi menjadi bentuk abstrak yang sudah tak karuan.
"Orang lagi PMS juga malah dibikin emosi! Aku bacok juga lama-lama itu manajer resek!" Gerutu Emily sekali lagi yang kini sudah tiba di ruang kerjanya.
Irma dan Faisal masih belum nampak batang hidungnya. Kemana dua manusia yang hobi ngomongin Pak Galen itu?
Emily mem-print ulang pekerjaannya, lalu meraih map baru dan memasukkan kertas ke dalam map dengan hati-hati. Memastikan tidak ada yang terlipat atau Emily akan disuruh mem-print ulang lagi oleh Pak Galen resek itu.
Bisa-bisa seharian nanti pekerjaan Emily hanya mem-print dan belajar cara memasukkan kertas ke dalam map secara baik dan benar.
Buang-buang waktu saja!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1