Jodoh Emily

Jodoh Emily
JATUH CINTA?


__ADS_3

"Emily!" Panggil Rachel saat Emily dan Galen baru tiba di lantai bawah.


Emily bergegas melepaskan genggaman tangan Galen dan menghampiri Rachel dengan perut semangkanya.


Emily bahkan sudah kesulitan memeluk sahabatnya itu sekarang.


Bayangkan kalau Rachel dan Emily sama-sama hamil besar, lalu mereka hendak saling memeluk. Pasti tidak akan bisa.


Hahaha


Konyol sekali imajinasi Emily.


"Ciyee! Yang baru aja dilamar. Gandengan terus," goda Rachel yang langsung membuat wajah Emily bersemu merah.


"Apa sih! Sepupumu itu yang sukanya nempel-nempel! Aku kan selow," kilah Emily membela diri.


"Hai," Sapa Sean yang ikut menghampiri Rachel dan Emily.


"Selamat atas pertunanganmu malam ini, Em!" Sean memeluk Emily dengan hangat dan memberikan ucapan selamat.


Pelukan Sean kali ini rasanya memang berbeda, karena ini hanyalah pelukan seorang sahabat. Sean dan Emily kini adalah sahabat dan tak ada lagi perasaan lain di antara mereka.


"Eheem!" Deheman dari Gapen membuat Emily dengan cepat melepaskan pelukan Sean dan gadis itu menatap pada Galen yang kini sedang melempar tatapan tidak senang ke arahnya.


Ck!


Apa Pak Gak Selera ini sedang cemburu sekarang?


"Selamat, ya, Galen! Akhirnya berhasil juga melamar Emily," goda Rachel mencarirkan ketegangan diantara mereka berempat.


Galen hanya tersenyum tipis dan sikapnya kaku sekali. Membuat Emily ingin cepat-cepat merendam kanebo kering ini ke dalam air biar lemes sedikit.


"Cuma pelukan sebagai sahabat, kok! Rachel juga biasa aja dan nggak keberatan," ujar Emily membela diri karena Galen masih menatap penuh kecemburuan ke arahnya.


"Yang bilang kamu memeluk Sean sebagai pacar siapa memang? Nggak ada yang tanya atau menuduh juga, kenapa kamunya salah tingkah begitu?" Sahut Galen yang nada bicaranya sedikit ketus.


Ish!


Menyebalkan sekali calon suami Emily itu!


Mau nyumpahin kok ya takut kuwalat.


Udah diemin aja!


"Kapan lahiran? Udah besar banget." Emily memilih untuk ganti mdngusap perut Rachel dan bertanya tentang kehamilan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Sementara Galen sudah mengobrol bersama Sean dan tamu undangan yang lain. Namun Emily bisa merasakan kalau Galen masih melempar tatapan ke arahnya be erapa kali, meskipu prja itu sedang mengobrol bersama beberapa orang.


Ya ampun!


Lihatin apa, coba?


Takut Emily hilang?


"Hari Perkiraan Lahirnya sih minggu ini. Tapi ini belum ada tanda-tanda. Jadi masih bisa kesini melihat acara pertunanganmu dengan Galen. Meskipun telat," Rachel tertawa kecil.


Emily hanya mengangguk-angguk tanda paham.


"Jadi kapan rencana pernikahan kamu dan Galen akan dilaksanakan? Duh, semoga aku masih bisa hadir, ya!" Tanya Rachel selanjutnya sedikit berharap.


"Kata Pak Galen sih dua minggu lagi," jawab Emily seraya memainkan kedua telunjuknya.


"Kok masih panggil Pak? Panggil Mas atau Sayang atau Honey gitu," Rachel terkekeh dengan panggilan Emily pada Galen.


Usia mereka hampir sama tapi Emily malah memanggil Galen Pak terus.


"Udah kebiasaan! Susah dihilangkan!" Jawab Emily mencari alasan.


"Galen nggak marah kamu panggil Pak saat kalian sedang berduaan?" Tanya Rachel kepo.


Rachel mengajak Emily duduk di kursi karena kini ibu hamil itu sudah pegal berdiri.


"Ganti panggilannya kalau begitu, biar Galen berhenti marah-marah!" Nasehat Rachel seraya menepuk pundak Emily.


"Kamu manggil Sean dengan panggilan apa memangnya sekarang? Cuma Sean gitu aja, kan?" Tanya Emily yanb gantian merasa kepo.


"Ya iya cuma Sean. Tapi kan nggak pakai embel-embel Pak. Trus kalau lagi berduaan ya lain lagi panggilannya," jawab Rachel yang wajahnya sudah bersemu merah.


Rachel menatap pada Sean yang ternyata juga tengah menatapnya sekarang.


Ya ampun!


Kedua pipi Rachel terasa memanas sekarang.


"Jadi kepo, panggilan kamu ke Sean kalau lagi berduaan," Emily terkikik geli.


"Nanti juga paham kalau udah nikah sama Galen," ujar Rachel yang kembali membuat wajah Emily berubah khawatir.


"Tapi aku masih belum yakin untuk menjadi istrinya Pak Galen, Chel," curhat Emily sedikit merendahkan volume suaranya.


"Maksud akau, sifat aku dan Galen itu kan begitu berseberangan. Gimana kalau nati aku nggak bisa ngimbangin Galen dan bikin dia mengomel terus setiap hari? Masa iya nanti rumah tangga kami ribut terus setiap hari. Kan nggak enak didengar sama tetangga," lanjut Emily menyambung curhatannya sambil merengut.

__ADS_1


"Begini!" Rachel merengkuh kedua pundak Emily.


"Setelah kamu dan Galen menikah nanti, kalian akan saling menyesuaikan dengan sendirinya. Kamu pasti akan sedikit merubah sifat jorokmu itu setelah kamu hidup bersama Galen, dan aku yakin kalau Galen juga akan menurunkan standar kerapian serta kebersihan dalam hidupnya setelah kalian tinggal seatap." Tutur Rachel panjang lebar yang benar-benar terdengar menyejukkan serta melegakan hati Emily.


"Menurutmu begitu?" Emily masih ragu.


"Iya! Kamu percaya deh sama aku! Jatuh cinta itu kadang bisa membuat seseorang berbuat hal-hal yang bertentangan dengan sifat aslinya." Ucap Rachel penuh keyakinan.


"Tapi aku nggak jatuh cinta pada Pak Galen, kok!" Kilah Emily sebelum gadis itu menatap pada Galen yang masih mengobrol dan tertawa bersama Sean, dan juga tamu undangan lain yang hadir.


Memang benar selama ini Emily tidak jatuh cinta pada Galen?


Lalu kenapa Emily jadi badmood dan mencak-mencak sendiri pas melihat Kymi gelendotan sama Galen?


Emily juga mengomel dalam hati dan tak berhenti merengut saat Galen mengajaknya membeli cincin yang tadinya Emily kira untuk gadis lain, namun rupanya cincin itu malah untuk Emily.


Sial!


Emily benar-benar sudah dikerjai oleh manajer maho menyebalkan itu!


Tapi kan selama ini Emily benci dan sebel banget sama manajer menyebalkan itu!


Masa iya Emily jatih cinta pada orang yang ia benci?


"Jadi, Em! Benci dan cinta itu bedanya tipis banget! Kalau kamu benci sama Pak Galen sampai kebangetan begitu sekarang, bukan tak mungkin besok kamu akan jadi jatuh cinta dan tergila-gila sama manajer maho itu!"


"Amit-amit! Nggak mungkin!"


Celetukan Faisal kala itu kembali berkelebat di benak Emily.


Emily menatap ke arah Galen yang tiba-tiba juga sudah menoleh dan menatap juga ke arah Emily. Galen tersenyum ke arah Emily yang sontak membuat hati Emily terasa menghangat dan wajahnya memanas.


Apa Emily benar-benar jatuh cinta pada Pak Gak Selera yang OCD dan tak maho tapi menyebalkan tersebut sekarang?


Mustahil!


.


.


.


Heleh!


Iyain aja kenapa, Em!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2