
"Abang Kyle!" Emily menyambut sang abang kesayangan yang baru datang dengan senyum sumringah dan langsung menghambur ke pelukan Kyle.
"Rambut baru? Jadi kayak anak TK kamu!" Ejek Abang Kyle seraya mengacak rambut Emily.
"Ck! Kan jadi lebih imut dan awet muda!" Cebik Emily merasa tak terima dengan ejekan Abang Kyle.
"Iya, imut!" Abang Kyle mencubit gemas kedua pipi Emily dan menarik-nariknya seperti squishy.
"Mulai!" Emily kembali merengut dan Abang Kyle segera merangkul adik sambungnya tersebut.
"Dah, nggak usah ngambek! Nanti abang belikan permen satu toples," bujuk Abang Kyle yang sudah sedikit menyeret Emily masuk ke teras rumah, dimana ada Galen yang masih berdiri di dekat pintu.
"Emily bukan anak TK, Bang! Masa dibeliin permen terus! Beliin emas kek, berlian kek, mobil kek!" Protes Emily merasa tak terima dengan bujukan sang Abang.
"Iya! Besok Abang beliin pesawat!" Jawab Abang Kyle berkelakar sambil masih merangkul Emily dengan erat.
"Sore, Bang!" Galen menyapa dan berbasa-basi pada Abang Kyle meskipun sedikit kaku. Dan bibir Galen sepertinya susah sekali menyunggingkan senyuman.
"Sore, Galen! Sedang menginap disini?" Tanya Abang Kyle yang kini sudah duduk di kursi teras.
"Iya Bang! Emily katanya sudah kangen sama Bundanya. Jadi malam ini kami akan menginap disini," jawab Galen yang akhirnya bisa tersenyum meskipun masih kaku.
"Emang kita mau menginap, Sayang?" Tanya Emily yang sudah mendekat ke arah Galen sedikit berbisik pada suaminya tersebut.
"Terserah kamu aja!" Jawab Galen sedikit ketus dan merengut.
Emily sontak memasang raut wajah heran karena sikap Galen yang tiba-tiba jadi ketus begini.
Padahal kan tadi masih mesra sebelum abang Kyle datang?
Dasar labil!
"Em! Bunda panggil-panggil sejak tadi kok masih disini," Bunda Naya akhirnya menyusul keluar karena putri dan menantunya tak kunjung masuk ke ruang makan.
"Bund!" Sapa Kyle seraya memeluk hangat Bunda Naya.
"Kyle! Tumben kesini?" Bunda Naya membalas pelukan hangat Kyle.
"Wajahnya sumringah, Bund! Kayaknya bawa berita bagus," celetuk Emily sok tahu.
"Vale sudah ditemukan?" Tanya Bunda Naya pada Kyle.
"Sudah, Bund. Dan acara pernikahan kami rencananya akan diadakan akhir pekan ini," jawab Kyle yang kembali tersenyum sumringah.
"Asyik! Ada yang mau nikah bentar lagi," Emily langsung bersorak senang dan kembali menghambur ke pelukan Abang Kyle.
"Selamat, ya, Bang!" Ucap Emily lebay.
"Iya, iya! Udahan meluknya. Suami kamu cemburu itu!" Kyle menunjuk ke arah Galen yang kini terlihat salah tingkah.
"Nggak cemburu, kok, Bang! Masa iya Galen cemburu sama Abang Kyle," kilah Galen yang masih saja salah tingkah.
Apanya yang nggak cemburu.
Ini sedang cemburu banget, Bang!
Tapi mana ada orang cemburu mau ngaku?
"Ayo kita bahas di dalam sambil makan malam. Kamu juga belum makan, kan, Kyle?" Ajak Bunda Naya pada anak dan menantunya.
"Kebetulan belum, Bund! Kangen masakannya Bunda," jawab Kyle yang kini sudah ganti merangkul Bunda Naya dan mereka masuk beriringan ke dalam rumah.
Sementara Emily sudah menghampiri Galen yang wajahnya terlihat merengut.
__ADS_1
"Emang kamu cemburu, Yang? Lihat aku peluk-pelukan sama Abang Kyle?" Tanya Emily penasaran, seraya mengusap-usap dagu Galen.
"Nggak ada! Abang kamu itu aja yang sok tahu!" Sahut Galen sedikit ketus.
Emily menahan tawanya.
"Kamu lucu kalau cemburu."
"Aku nggak cemburu, oke!" Kelit Galen sekali lagi.
"Iya nggak cemburu. Cuma panas aja kayaknya," Emily mengusap dada Galen lalu berakting kepanasan.
"Duh! Panasnya dada kamu, Yang!" Kekeh Emily yang sepertinya senang sekali karena bisa menggoda Galen.
"Jangan mulai! Ayo makan, aku udah lapar!" Ajak Galen seraya merangkul Emily dan mereka berjalan beriringan menyusul Bunda dan Abang Kyle tadi yang sudah terlebih dahulu masuk ke ruang makan.
****
Hari sudah beranjak malam.
Abang Kyle juga sudah berpamitan setelah tadi sempat ngobrol banyak bersama Bunda Naya dan Ayah Satria. Emily serta Galen hanya sesekali nimbrung ke obrolan para sesepuh tersebut.
"Kalian menginap?" Tanya Ayah Satria karena anak dan menantunya yang tak kunjung pulang.
"Kata Galen begitu, Yah!" Emily meringis dan menggaruk kepalanya. Cepat-cepat Galen menyentak tangan Emily dan sedikit mendelik ke arah istrinya tersebut seakan sedang mengingatkan agar tak garuk-garuk kalau sedang bicara.
Dasar ngeyel!
"Emily kangen sama kamarnya, Yah! Jadi malam ini kami menginap disini, kalau boleh," ucap Galen menimpali jawaban Emily.
"Kok aku? Aku kan nggak bilang kangen sama kamarku yang-"
Mati kau Emily!
Jangan-jangan malam ini Galen mau mengadakan inspeksi mendadak di kamarmu. Galen kan belum pernah masuk ke kamarmu.
"Emily akan ke kamar duluan. Udah ngantuk!" Pamit Emily seraya melangkah mundur dan masuk ke kamarnya dengan cepat.
Sementara Bunda Naya, Ayah Satria, dan Galen masih mengobrol di ruang tengah, dan sesekali tiga orang itu tertawa bersama seperti sedang membahas hal lucu.
Emily membuka pintu kamarnya, dan membayangkan kamarnya yang mungkin terasa pengap atau berbau apek karena tiga hari tak Emily tempati. Namun nyatanya, pemandangan di dalam kamar membuat Emily seketika bernafas lega.
Sprei dan tirai sudah diganti, dan kamar Emily bersih sekali. Pasti Bunda yang membersihkan semuanya.
Kenapa Emily bisa lupa kalau dirinya punya Bunda penolong yang super duper rajin?
Hihihi.
Emily lanjut membuka lemarinya untuk mengambil piyama, namun nyatanya, Bunda hanya merapikan bagian kamar Emily yang terlihat saja. Bagian dalam lemari Emily tetap amburadul, dan membuat mata menjadi sepet.
Huh!
Sebaiknya Emily cepat-cepat mengambil piyamanya sebelum Galen melihat isi lemarinya yang seperti-
"Itu lemari atau kapal pecah?" Suara Galen yang terdengar dari balik punggungnya, membuat Emily kaget dan langsung menepuk dahinya sendiri.
Mati kau Emily.
Buru-buru Emily menutup kembali lemarinya dan berbalik menatap ke arah Galen yang kini sedang bersedekap.
"Kok udah masuk kamar, Yang? Udah selesai yang ngobrol ama Ayah dan Bunda?" Tanya Emily berbasa-basi.
"Iya, udah! Udah ngantuk juga," Galen pura-pura menguap lebar.
__ADS_1
"Tidur, gih! Kalau udah ngantuk," Emily menunjuk ke arah tempat tidurnya yang terlihat masih rapi dan bersih. Tapi sebentar lagi juga palingan berubah jadi kapal pecah kalau Galen sudah mulai menanam benih.
Eh, tapi Emily kan sedang ada tamu bulanan. Jadi malam ini nggak akan ada acara menanam benih.
Baguslah!
Emily bisa tidur cepat dan nggak perlu begadang.
"Tapi setelah melihat isi lemarimu, rasa kantukku menddak hilang dan jiwa OCD ku jadi berkobar hebat."
Galen memaksa Emily untuk menyingkir dari depan lemari dua pintu miliknya dan segera membuka pintu kayu tersebut.
Bruuuk!
Baru juga pintu di buka sudah di sambut dengan longsoran selimut dari dalam lemari.
"Kemarin kan harus buru-buru berkemas pas kamu bilang kita malam pertamanya di rumah kamu, Yang! Jadi aku belum sempat membereskan isi lemariku," tutur Emily memberikan alasan.
"Berkemas kan cuma ambil baju beberapa. Kalau sebelumnya kamu nggak malas membereskan isi lemari ya pasti bentuknya nggak akan kayak kapal pecah begini," omel Galen yang sontak membuat Emily merengut.
Galen mengeluarkan semua baju Emily dari dalam lemari.
"Punya karton bekas pakai, nggak? Atau kontainer besar, atau apapun yang bisa dipakai buat wadah." Tanya Galen yang sontak membuat Emily bingung.
"Mau buat apa memangnya?"
"Misahin baju-baju yang masih kamu pakai sama yang udah nggak kamu pakai. Biar bisa disumbangin ke yang lebih membutuhkan, ketimbang cuma jadi sumpalan tak berguna di lemarimu," jawab Galen panjang lebar yang langsung membuat Emilh manggut-manggut.
Emily bergegas keluar dari kamar dan bertanya pada Bunda tentang wadah untuk baju bekas.
Tak berselang lama, Emily sudah kembali masuk ke kamar dan membawa dua kontainer yang ukurannya lumayan besar.
Galen sendiri sudah mulai melipat-lipat baju Emily dan memisah-misahkannya sesuai jenis baju.
"Kamu pilih yang udah nggak kamu pakai, trus lipat yang rapi, masukkan ke dalam kontainer. Sekalian itu semua celana jeans kamu sumbangin juga. Sama kemeja kotak-kotak yang bikin mata sepet itu juga," jari Galen menunjuk ke arah celana jeans dan kemeja kotak-kotak Emily.
"Aku masih mau pakai yang itu, Yang!" Protes Emily merasa keberatan.
"Aku udah nggak kasih ijin! Mulai sekarang kamu pakai dress atau rok atau kulot panjang itu!" Ucap Galen tegas yang sontak membuat Emily merengut.
"Dress aku kan nggak banyak! Masa iya aku nggak ganti baju nanti," gumam Emily yang masih mencebik.
"Besok aku belikan biar punya banyak!" Jawab Galen enteng.
Emily akhirnya mengucapkan salam perpisahan pada kemeja kotak-kotaknya dan ceelana jeansnya yang hampir selusin. Juga beberapa kausnya yang memang sudah tak muat lagi di badan Emily, ikut sekalian Emily sumbangkan pada yang lebih membutuhkan.
Galen sudah selesai menyusun baju-baju Emily ke dalam lemari, dan kini lemari dua pintu milik Emily terlihat rapi serta lebih lega.
"Enak nggak lihatnya kalau begini?" Tanya Galen meminta pendapat Emily.
"Enak, Yang! Jadi lebih rapi dan lega. Terima kasih, ya!" Emily menggamit lengan Galen dan mengecup pipi suaminya tersebut.
Ada gunanya juga punya suami OCD.
"Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, ganti piyama, trus tidur sana!" Titah Galen pada Emily selanjutnya.
Emily hanya mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.