
Emily masih menyusupkan kepalanya di pelukan Galen, saat terdengar dering ponsel dari dalam tasnya yang entah berada dimana.
Tadi saat masuk ke dalam kamar hotel ini, Galen melempar tas Emily secara serampangan, dan sekarang, Emily juga tidak tahu tasnya terselip dimana.
"Sayang, ponsel aku bunyi," gumam Emily yang merasa malas-malasan untuk mencari keberadaan tasnya.
"Angkat sana!" Jawab Galen tanpa melepaskan dekapannya pada Emily. Galen malah mengeratkannya sekarang.
Ish!
"Lepasin dulu aku, Sayang! Kamu meluk aku udah kayak meluk guling aja," protes Emily yang malah membuat Galen tergelak.
"Satu ciuman dulu!" Galen memonyongkan bibirnya ke arah Emily, minta Emily yang menciumnya terlebih dahulu.
Dering ponsel semakin terdengar nyaring.
"Bentar aja, ya!" Emily langsung mengecup bibir Galen. Namun bukan Galen namanya jika tak membalas kecupan sang istri tersayang dengan lama.
Kedua tangan Emily menangkup wajah Galen, saat ciuman mereka terasa semakin dalam. Hingga akhirnya ponsel Emily lelah berdering dan tak berdering lagi.
"Udah!" Bisik Emily yang sudah melepaskan tautan bibirnya dan bibir Galen.
Emily mengambil kaus milik Galen, dan memakainya sebelum turun dari atas tempat tidur.
"Tas aku dimana, Sayang?" Tanya Emily seraya mencari-cari keberadaan tasnya. Ponselnya yang tak lagi berdering semakin membuat Emily kesulitan menemukan dimana letak tasnya.
"Coba telepon pakai ponsel aku!" Jawab Galen memberikan saran. Suami Emily itu masih tengkurap di atas tempat tidur tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
Emily segera mengambil ponsel Galen dari atas nakas dan mengetikkan password. Namun baru saja Emily akan menelepon ponselnya, ponsel Galen malah berbunyi dan nama Mommy terpampang jelas di layarnya.
"Mom telepon, Sayang!" Lapor Emily pada Galen yang masih tengkurap dan mala memejamkan matanya.
"Angkat aja!" Gumam Galen pada sang istri.
Segera Emily mengangkatnya.
"Halo, Mom!" Sambut Emily dengan nada semanis mungkin.
Emily yang masih mengenakan kaus Galen, kembali naik ke atas tempat tidur, dan Galen segera meletakkan kepalanya di pangkuan Emily.
"Emily? Kamu dan Galen pulang ke rumah Bunda? Kok belum sampai rumah jam segini?"
"Enggak, kok, Mom! Galen tiba-tiba ngajak Emily nginep di hotel, jadi-"
__ADS_1
"Kami pulang besok, Mom!" Sambung Galen yang sudah mengambil ponselnya dari tangan Emily dan menyalakan pengeras suara.
"Iya sudah, Mom cuma tanya. Takutnya Emily masih sedih karena kejadian siang tadi, trus nggak mau pulang lagi ke sini." Ucap Mom Mia yang sepertinya tak tahu kalau Gaken menyalakan pengeras suara, dan Emily ikut mendengar ucapannya.
"Emily nggak sedih atau marah, kok, Mom! Cuma mogok masak aja dia. Nggak mau memasak lagi katanya," jawab Galen yang sontak berhadiah cubitan di perut dari Emily.
"Waduuuuuh!" Pekik Galen karena cubitan Emily yang begitu kuat.
"Kamu kenapa, Galen?"
"Nggak kenapa-kenapa, Mom! Habis digigit ikan hiu saja," jawab Galen berkelakar dan Emily kembali memukul dada suaminya itu karena kesal. Bibir Emily juga sudah merengut sampai mungkin Galen bisa menguncirnya dengan karet gelang yang dipakai mengikat nasi bungkus.
Karet merah yang lauk daging.
Karet kuning yang lauk ayam.
"Yaudah Mom tutup dulu teleponnya. Jangan lupa menantu Mom kamu suruh makan dulu," pesan Mom Mia sebelum mengakhiri telepon.
"Siap, Mom! Ini juga baru mau keluar cari makan. Bye, Mom!" Pamit Galen bersamaan dengan telepon yang akhirnya terputus.
Galen segera bangun dan mencium kening Emily.
"Mandi, trus jalan-jalan, yuk!" Ajak Galen lembut.
"Aku mandi sendiri aja, biar nggak lama dan kemalaman," ucap Emily yang langsung turun dari atas tempat tidur. Galen ikut turun dan mengekori Emily masuk ke dalam kamar mandi.
"Galen, aku bisa mandi sendiri!" Protes Emily seraya menahan tubuh Galen agar tidak ikut masuk. Nanti pasti ujung-ujungnya Galen akan mengajak Emily berendam lama kalau mereka mandi bersama.
"Aku juga cuma mau mandi. Nggak bakal aneh-aneh!" Kilah Galen yang tetap keras kepala dan mendorong Emily masuk ke dalam.
"Lepas kaus aku! Nggak bawa baju ganti juga," Galen melepaskan kausnya dati tubuh Emily dan kini istrinya itu tak lagi mengenakan baju apapun.
"Salah sendiri, ngajak nginep di hotel dadakan kayak tahu bulat," sahut Emily yang malah membuat Galen terkekeh.
"Udah cepat mandi! Aku udah lapar!" Ucap Galen yang langsung menyalakan shower untuk membasuh tubuhnya dan tubuh Emily.
Meskipun masih saling mengusap dan mencecap, Galen dan Emily tak berlama-lama mandi, karena mereka sudah sama-sama lapar.
****
Galen dan Emily memilih untuk berjalan kaki saja, menuju ke mall yang letaknya hanya 100 meter dari hotel tempat mereka menginap. Mereka memilih makan di dalam foodcourt mall sekalian mencari baju dan cuci mata.
Galen terus menggandeng tangan Emily, seolah takut jika istrinya hilang atau tersesat. Padahal Emily juga sudah besar dan bukan bocah lagi.
__ADS_1
Dasar Galen!
"Beli lingerie sekalian, ya!" Galen menunjuk dengan dagunya ke arah departmen store yang khusus bagian baju dalam wanita.
"Buat apa, sih? Biasa juga kamu langsung buka-buka bajuku," jawab Emily dengan nada malas.
"Nanti rasanya beda, kalau kamu pakai lingerie malam-malam," Ujar Galen yang malah membuat Emily berdecak.
"Beda dimananya, coba? Perasaan rasanya juga gitu-gitu aja." Gumam Emily merasa tak paham.
"Udah, ayo! Beli tiga atau lima," Galen menarik tangan sang istri dan mereka berdua segera menuju ke bagian lingerie aneka model yang tergantung dengan rapi.
"Satu aja cukup, Galen! Nggak usah banyak-banyak!" Protes Emily saat Galen mulai memilih-milih lingerie yang sekiranya cocok untuk Emily.
Tadi gaun-gaun Emily juga Galen yang memilihkan. Sekarang baju dalam Galen juga yang memilihkan. Jadi selain editor dan chef, Galen juga seorang fashion stylish begitu?
Multifungsi sekali suami Emily ini.
Luar biasa!
Emily dan Galen meninggalkan mall saat jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam, sambil menenteng banyak paperbag. Emily menggamit erat lengan Galen di sepanjang perjalanan dan menenderkan kepalanya di bahu sang suami.
"Nanti nggak lembur lagi, kan, Sayang? Aku capek," keluh Emily sedikit merengek pada Galen.
"Kamu tidur aja kalau capek. Nanti kalau udah nggak capek aku bangunin," jawab Galen sedikit terkekeh.
"Ish! Sama aja!" Gumam Emily seraya mencebik.
"Ya kan kita masih bulan madu. Wajar dong, aku minta jatah lembur setiap malam," tukas Galen seolah tanpa dosa.
"Remuk aku, Yang! Kalau kamu gempur terus setiap malam," keluh Emily yang semakin mengeratkan gamitannya pada lengan Galen.
"Biar Galen junior cepat jadi," bisik Galen yang hanya membuat Emily memutar bola matanya.
Emily dan Galen sudah kembali tiba di hotel. Pasangan suami istri tersebut memilih untuk langsung beristirahat saja karena mereka sudah sama-sama lelah.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.