
"Ish!"
Emily menghapus lagi semua coretannya di layar iMac karrna ternyata tidak sesuai dengan tema yang tertulis di catatannya.
Gambarnya juga terlihat amburadul tak karuan. Pak Galen pasti mencak-mencak kalau Emily tak kunjung memperbaikinya.
"Kamu kenapa, sih, Em? Dari tadi gambar, hapus gambar, hapus. Ini udah mau jam makan siang gambarmu belum ada yang jadi." Cecar Faisal yang sudah memutar kursinya dan menghadap ke arah Emily.
"Nggak tahu!" Sahut Emily kesal. Gadis itu membuka bungkus coklat yang ia ambil dari laci, lalu memakan isinya dan membuang bungkusnya sembarangan.
"Buang bungkus coklatnya di tempat sampah, Em!" Tegur Faisal pada Emily yang hobi sekali buang sampah sembarangan dan kadang menyumpalkannya dimana saja.
Di laci, di bawah keyboard, di dalam tas, di dalam tempat pensil.
Dasar Emily!l
"Suka-suka akulah! Orang baru kesal malah diomeli! Aku bacok juga kamu nanti!" Omel Emily pada Faisal seraya bersungut-sungut.
"Serem banget ancaman kamu kalau lagi PMS, Em!" Faisal begidik ngeri dan memutar kembali kursinya menghadap ke arah meja kerjanya.
"Siapa juga yang PMS. Baru kemarin selesai datang bulan!" Sahut Emily semakin kesal.
"Belum ngopi?" Tebak Faisal sok tahu.
"Nggak doyan kopi!"
"Belum minum susu!" Sahut Pak Galen tiba-tiba yang sudah berada di ruangan ilustrator dan meletakkan susu coklat seperti yang ia belokan untuk Emily kemarin sore.
Faisal langsung diam dan Emily semakin merengut.
"Saya nggak minum susu coklat lagi, Pak! Saya sedang diet!" Ucap Emily pada Galen tanpa menatap ke arah pria tersebut.
"Eh! Udah jam makan siang. Aku ke kantin dulu, Em!" Faisal bangkit berdiri dari kursinya.
"Mari, Pak Galen!" pamit Faisal pada Galen yang hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis.
"Kamu nggak makan siang?" Tanya Galen pada Emily yang kembali menghapus coretannya di layar iMac.
Sejak tadi Emily hanya ingin membuat ilustrasi karakter wanita yang ceria. Namun gambar Emily wajahnya terus saja merengut. Ada apa sebenarnya dengan tangan Emily?
"Nggak! Belum lapar, kok! Bapak sendiri ngapain disini dan menapa nggak makan siang?" Emily balik bertanya pada atasannya tersebut.
"Ini aku mau ngajak kamu makan siang bareng," jawab Galen dengan raut wajah datar.
Dasar kanebo kering!
__ADS_1
Tadi pas digelayuti sama Kymi wajahnya juga cuma datar. Nolak enggak, bales juga enggak.
Benar-benar kaku!
"Kerjaan belum seleeai, Pak! Saya makan siangnya nanti saja! Bapak kalau udah lapar, pergi makan siang sendiri sana!" Usir Emily pada Galen.
"Minum dulu susu coklatnya, trus rileksin itu pikiran kamu!" Galen menyodorkan kembali susu coklat yang tadi ia bawa pada Emily.
Emily hanya merengut dan mau tak mau terpaksa mengambil susu coklat yang disodorkan Galen, lalu menyeruputnya hingga tinggal setengah gelas.
Rasanya enak sekali!
Emily bakalan beli lagi nanti dua gelas setelah pulang dari kantor.
"Ayo makan siang dulu!" Ajak Galen sekali lagi pada Emily yang kembali menyeruput susu coklatnya.
"Saya pesan makanan online saja, Pak!" Emily meraih tas selempangnya dan mencari-cari ponselnya yang entah berada dimana.
Dimana ponsel Emily?
Emily membuka lebar ritsleting tasnya dan melihat ke dalam tas untuk memastikan keberadaan ponselnya.
Tidak ada!
Emily lupa membawa ponselnya.
"Mau pesan apa memangnya?" Galen menyodorkan ponselnya pada Emily yang kini meringis.
"Nggak jadi, Pak!" Emily menolak ponsel Galen dan kembali fokus ke layar iMac-nya.
"Nanti sore datang ke acara, kan?" Tanya Galen yang kini sudah mendekat ke arah meja Emily, dan matanya memeriksa meja kerja tersebut.
"Belum tahu, Pak! Acara apa memangnya?" Tanya Emily pura-pura tak tahu.
"Memang belum baca undangannya kemarin?" Galen mengambil dua buah puplen dari atas meja Emily lalu memegangnya seperti sumpit dan mulai mengambil sampah-sampah yang bertebaran di atas meja kerja Emily.
Ya ampun!
Memalukan sekali!
"Undangannya diumpetin sama Ayah. Bagaimana mau membaca?" Jawab Emily sekenanya yang tangannya langsung sigap mengambili gumpalan tisue serta bungkus permen dan coklat dari atas meja kerjanya
"Itu bisa cekatan bersih-bersih meja! Kenapa mejanya macam tempat sampah begitu? Nggak sepet memang lihat meja kerja berantakan?" Tanya Galen dengan nada menyindir.
"Meja bersih juga belum tentu naik gaji, Pak!" Jawab Emily asal.
__ADS_1
"Lagian, yang penting kerjaan saya beres dan hasilnya memuaskan. Bukan begitu?" Emily mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Galen yang kini berjarak sangat dekat dengan kepalanya.
"Galen mengusapkan jarinya ke layar iMac Emily saat lapisan debu yang tebalnya mungkin hampir satu mili menempel ke telunjuk Galen.
Ya ampun!
Emily mengetuk keningnya sendiri.
"Kamu nggak pernah bersihin layar iMac kamu?" Tuduh Galen yang kini mengusap jarinya yang terkena debu dengan tisu.
Emily juga bergegas mengambil tisu untuk membersihkan layar iMac. Benar-benar seperti inspeksi mendadak!
Sial! Sial! Sial!
"Pernah kok, Pak! Cuma jarang saja!" Kilah Emily seraya merengut.
"Matikan iMac kamu dan ayo pergi makan siang!" Ajak Galen yang kali ini nadanya terdengar memaksa.
"Kenapa nggak ngajak karyawan lain saja, sih, Pak?" Protes Emily akhirnya karena Pak Galen sepertinya hanya mengganggu Emily di kantor. Padahal karyawan cewek juga banyak di kantor ini dan nggak cuma Emily seorang.
"Yang aku ajak itu kamu! Kok jadi kamu yang ngatur-ngatur! Suka-suka aku mau ngajak siapa!" Jawab Galen dengan nada galak.
"Ya saya kan jadi risih karena bapak dekati saya terus! Nanti kalau pacar Bapak yang masih bocah tadi marah dan mengamuk bagaimana? Ujung-ujungnya saya juga yang dituduh sebagai pelakor," cerocis Emily panjang lebar mengomel pada Galen.
"Pacar yang mana maksud kamu?" Tanya Galen yang kini mengerutkan kedua alisnya.
"Yang pakai rok di ruangan Bapak tadi! Yang gelayutan dan gelendotan sama Bapak tadi!" Jawab Emily dengan ekspresi wajah kesal dan nada bicara yang bersungut-sungut seperti orang yang sedang cemburu.
Apa Emily cemburu pada Kymi?
"Nggak bakal tahu dia! Udah cepat kita makan siang dulu, Emily!" Ajak Galen laginyang entah sudah berapa kali.
Emily yang perutnya sudah keroncongan, akhirnya terpaksa berdiri dan bangkit dari duduknya, lalu mengikuti langkah Galen menuju ke halaman parkir.
Kau bisa apa memangnya, Emily?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1