
"Emang kita mau nikah, ya, Pak?" Tanya Emily memasang raut wajah pura-pura polos.
"Nggak! Kita mau main kawin-kawinan!" Jawab Galen merasa geregetan.
"Nikah dulu baru kawin, Pak!" Sahut Emily sedikit terkikik.
"Itu kamu tahu! Masih saja bertanya!" Galen masih kesal.
"Bapak nggak ada romantis-romantisnya begitu. Sikapnya juga selalu ketus dan galak sama saya. Kenapa tiba-tiba melamar? Bapak nggak sedang ngerjain saya, kan?" Tanya Emily curiga.
"Sikap ketus bukan berarti nggak perhatian!" Sahut Galen membela diri.
"Memang kapan Bapak perhatian sama saya? Perasaan sikap bapak ketus begitu setiap hari. Omongan juga selalu pedas!" Cecar Emily seraya mencibir.
Galen langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Emily memastikan kalau gadis di depannya tersebut tidak sedang amnesia atau mungkin demam tinggi hingga ia lupa ingatan.
"Saya nggak demam, kok! Ngapain Bapak pegang-pegang dahi saya?" Emily menyentak kasar tangan Galen yang berada di dahinya.
"Jadi menurutmu, aku nganterin kamu pulang itu bukan perhatian? Aku menemani kamu lembur, mengajakmu makan siang, membelikanmu susu coklat dengan dobel coklat, itu juga bukan perhatian?" Galen memamerkan semua sikap baiknya pada Emily.
Cih!
Dasar tukang pamer!
"Kan waktu itu yang nyuruh saya lembur bapak sendiri! Saya juga nggak minta ditemani dan diantar pulang, kok!" Kilah Emily mencari pembenaran.
"Nanti nangis di ruang ilustrasi, kalau nggak aku temani," ejek Galen yag sontak membuat Emily merengut
"Masih ada Security. Kan bisa minta Security menemani," Emily tetap tak mau kalah.
"Terserah kamu saja! Yang penting kita akan menikah dua minggu lagi!" Pungkas Galen akhirnya yang langsung membuat Emily ternganga tak percaya.
"Kenapa cepat sekali, Pak!" Protes Emily yang masih merasa belum siap menjadi istri dari Pak Galen menyebalkan ini.
"Kita juga nggak pernah pacaran. Bapak nggak pernah pedekate sama saya. Sikap bapak selalu kaku macam kanebo kering, trus tiba-tiba malam ini Bapak melamar saya, mengajak saya menikah dua minggu lagi. Bapak sengaja mau buat saya jantungan?" Cerocos Emily panjang lebar nyaris tanpa jeda.
"Yang bagus kan memang begitu! Nggak usah pakai pacaran atau basa-basi pacaran. Langsung melamar aja karena aku memang serius sama kamu. Ketimbang yang ngajak pacaran bertahun-tahun, tapi nggak kunjung diajak nikah. Eh, sekalinya nikah malah sama orang lain!" Jawab Galen yang langsung menohok ginjal Emily yang paling dalam.
Tepat sasaran sekali sindiran Pak Gak Selera ini!
"Kamu mau aku romantisin?" Galen kembali mendekatkan wajahnya ke arah Emily.
"Bapak mau ngapain?" Tanya Emily curiga.
"Katanya tadi minta di romantisin!"
"Iya tapi bapak mau ngapain? Saya teriak lho, Pak!" Ancam Emily yang terus beringsut mundur menjauhkan wajahnya dari wajah Galen yang semakin mendekat.
"Pak, saya beneran teriak in-" kalimat Emily belum selesai saat Galen memcium kening Emily dan seketika membuat Emily mematung.
Oh ayolah!
Itu hanya ciuman di kening, Em!
__ADS_1
Kenapa kamu harus sekaget itu?
Apa kabar kalau bibirmu yang dicecap oleh Pak Gak Selera ini?
"Katanya mau teriak?" Bisik Galen mengerling nakal pada Emily yang kini mengerjap-ngerjapkan matanya beruang kali.
Sial!
Jatung Emily rasanya mau melompat keluar dari rongganya.
"Ngak jadi, Pak! Sudah lupa caranya teriak," jawab Emily tergagap.
"Mau aku buat kamu teriak-teriak?" Galen masih mengerling nakal pada Emily.
Hah?
Apa maksudnya coba membuat Emily teriak-teriak?
Duh!
Pikiran Emily kok jadi kemana-mana begini!
"Jangan mesum, ih!" Emily mendorong Galen dan bibirnya merengut.
Genit juga ternyata manajer maho yang OCD ini!
"Bapak sepertinya pengalaman sekali membuat orang teriak-teriak!" Gumam Emily masih kesal.
"Bapak yakin mau menikah dengan saya?" Tanya Emily yang sepertinya masih tak percaya denagn keputusan Galen ini.
"Iya, aku yakin. Kenapa?"
"Kita berbeda, Pak! Bapak itu kan orangnya perfeksionis! Sedangkan saya ini ceroboh dan jorok! Bapak juga kerap mengomel saat saya garuk-garuk kepala-"
"Seperti ini?" Galen menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tak malu menunjukkannya di depan Emily.
Emily sampai melongo melihat Galen yang ternyata juga hobi garuk-garuk kepala sekarang.
Sukurin!
Kuwalat, kan?
Salah sendiri, sering mengomentai Emily!
"Bapak juga nyuruh saya bersikap feminim! Saya nggak bisa, Pak! Saya juga nggak bisa untuk selalu rapi, selalu bersih! Pokoknya saya ini jauh dari standar bapak! Nanti kalau setiap hari kita ribut soal kebersihan rumah bagaimana? Pokoknya bapak bakalan nyesel nanti kalau nikah sama saya dan tahu sifat asli saya yang jorok!" Tutur Emily mengungkap semua keburukannya sendiri pada Galen.
"Sikap jorokmu yang mana memang yang aku belum tahu? Yang suka nyelipin sampah di meja kerja dan di tas selempang? Atau yang suka nyumpelin makanan satu mangkok langsung ke dalam mulut? Atau yang suka ngelap sisa makanan pakai punggung tangan? Atau kamu yang suka ceroboh menyimpan baju kotor di setiap sudut kamar dan tidak langsung menaruhnya di keranjang baju kotor?" Cecar Galen yang kembali membuat Emily terperangah.
Darimana juga Pak Gak Selera ini tahu tentang kebiasaan Emily yang terakhir itu?
Apa Bunda yang sudah memberitahu Galen?
"Aku sudah bertekad untuk menerima kamu dan semua sifat cerobohmu itu!" Ucap Galen bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Dan aku akan mengeditnya sedikit nanti setelah kita menikah!
Galen menyambung dalam hati.
"Lalu aku juga sudah bertekad untuk menurunkan sedikit standar kerapian dalam hidupku," sambung Galen lagi yang masih bersungguh-sungguh.
Namun Emily masih saja tak percaya.
"Kenapa cuma sedikit nuruninnya, Pak? Kenapa nggak banyak sekalian?" Tanya Emily sedikit bergumam.
"Kalau banyak, aku nanti jadi jorok kayak kamu berarti! Trus rumah kita jadi kandang ayam, begitu!" Jawab Galen bersungut-sungut yang malah membuat Emily terkikik.
"Yakin, Bapak nanti nggak nyesel?" Tanya Emily sekali lagi.
"Enggak! Udah! Kamu ganti pertanyaan kamu itu dengan pertanyaan yang lain bisa nggak?" Jawab Galen galak.
"Ish! Bapak marah-marah terus! Lama-lama darah tinggi, stroke, nggak jadi nikah lho, Pak!" Cecar Emily menakut-nakuti Galen.
"Kok kamu malah doain aku jelek begitu! Aku calon suamimu! Kalau aku stroke, kamu juga nanti yang akan merawatku!" Galen balik menakut-nakuti Emily.
"Hah? Amit-amit! Yaudah, jangan stroke, Pak! Berhenti marah-marah, oke!" Saran Emily sedikit cengengesan.
Kruuuk!
Suara perut Emily yang meronta minta diisi memecah keheningan di balkon.
"Kamu lapar?" Tebak Galrn yang hanya dijawab Emily dengan sebuah cengiran.
"Belum makan malam sejak tadi, Pak!"
"Yaudah ayo kita turun dan makan di bawah!" Ajak Galen seraya menarik tangan Emily lalu menggandengnya menuju ke arah tangga.
"Pak, saya bisa jalan sendiri! Nggak usah digandeng!" Protes Emily yang berusaha berontak.
"Udah diam! Katanya mau diromantisin!" Sahut Galen yang langsung membuat Emily terdiam.
Romantis sih romantis.
Tapi apa harus gandengan kemana-mana macam truk gandeng begini?
.
.
.
Yaudah nanti diikat pake rafia aja biar nggak usah gandengan lagi 😂😂
Jadi buras malahan 😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1