Jodoh Emily

Jodoh Emily
TETANGGA


__ADS_3

Suara alarm dari ponsel yang berdering nyaring langsung bisa membuat Rachel terjaga. Ibu hamil itu beberapa kali mengerjapkan matanya, saat ia merasakan ada tangan yang mendekap dan melingkari perutnya dari arah belakang.


Apa ini tangan Sean?


Rachel meraba-raba tangan tersebut dan berbalik untuk memastikan.


Sean masih terlelap dan kembali melingkarkan lengannya pada Rachel yang kini sedang menatapnya. Wajah Rachel menjadi bersemu merah sekarang, mengingat kejadian semalam yang terjadi antara dirinya dan Sean.


Semalam, Sean minta izin pada Rachel untuk mengusap perut Rachel dan menyapa calon anak mereka. Dan karena Rachel sudah berjanji untuk tak berdikap dingin lagi pada Sean, jadi Rachel mengijinkan suaminya tersebut. Lalu setelahnya, Rachel bisa melihat binar kebahagiaan di mata Sean saat pfia itu merasakan tendangan dari calon bayinya.


Sean bahkan berulang kali mengecup perut Rachel dan menunjukkan betapa Sean peduli dan perhatian pada Rachel dan calon bayinya.


Sean juga menawatkan untuk mengusap punggung Rachel, dan karena rasanya sangat nyaman, jadi Rachel mengiyakan. Hingga Rachel tak ingat apapun setelahnya.


Hingga pagi ini, Rachel merasakan dekapan hangat seorang Sean.


Rachel mengusap lembut wajah Sean yang masih terlelap. Menyusur setiap lekuk wajah tersebut. Dari dahi, turun ke mata, ke hidung mancung Sean, lalu ke bibir suaminya tersebut. Cukup lama jemari Rachel berada di bibir Sean hingga tiba-tiba pria itu membuka mata dan Rachel menjadi kaget.


Buru-buru Rachel menyingkirkan tangannya daru waja Sean, namun Sean mencegahnya dengan cepat, dan memegang lembut tangan Rachel. Menatap pada wajah Rachel yang bersemu merah.


"Aku tidak keberatan, kok!" Ucap Sean seray mdngevup jemari Rachel yang tebtu saja semakin membuat wajah Rachel memerah karena malu.


Rachel mengalihkan tatapannya dan tak berani lagi mrmbalas tatapan mata Sean.


"Rachel!" Panggil Sean lembut setaya meraih dagu Rachel.


"A-aku harus bangun, dan jalan pagi," ucap Rachel tergagap karena Sean masih memegangi dagunya, dan kini pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Rachel.


"Sean-" ucapan lirih Rachel langsung terhenti saat bibir Sean mengecup bibif Rachel dengan lembut.


Rachel hanya diam mematung.


"Kiss morning!" Ucap Sean yang ganti mengecup kening Rachel.


"Ayo bangun! Aku temani jalan-jalan pagi!" Lanjut Seana yang sudah beranjak dari atas tempat tidur. Meninggalkan Rachel yang masih diam mematung, dan sepertinya sedikit shock dengan apa yang baru saja dilakukan Sean kepadanya .


****


Bim bim!


Suara klakson dari luar pagar membuat Emily yang sedang memakai sepatunya di teras, mengangkat kepala untuk melihat siapa yang datang.


Apa Emily tak salah lihat?


Bukankah itu mobil silver milik Pak Gak Selera?


Sedang apa mobil itu disini?


"Siapa, Em?" Tanya Ayah Satria yang baru keluar dari dalam rumah dan sudah berpakaian rapi memakai seragam safari serba hitamnya.


"Nggak tahu,Yah! Orang nyasar mungkin! Jawab Emily yang kembali memakai sepatunya.

__ADS_1


Pak Gak Selera Sialan itu sudah turun dari mobilnya dan denagn sangat percaya diri masuk ke halaman rumah Emily, lalu berjalan ke arah teras menyapa Ayah Satria.


Darimana Pak maho menyebalkan itu tahu rumah Emily, coba?


Apa dia memata-matai Emily?


"Pagi, Om!" Sapa Galen pada Ayah Satria yang kini berkacak pinggang.


Haha!


Mati kau, Pak Gak Selera!


Sebentar lagi pasti kena omel dari Ayah Satria karena sok-sokan mau menjemput Emily!


"Mencari siapa?" Tanya Ayah Satria tegas.


"Apa benar ini rumah Bapak Satria Aditya dan Ibu Kanaya?" Tanya Galen sopan.


"Iya!"


"Maaf, Pak Satria! Saya mengantar undangan syukuran rumah baru kami di depan kompleks," Galen mengulurkan sebuah undangan pada ayah Satria.


Eh, apa katanya!


Undangan syukuran rumah baru?


Di depan kompleks?


Serius?


Emily bahkan beberapa kali berdecak kagum saat lewat di depan rumah yang masih dalam tahap renovasi satu bulan belakangan tersebut!


"Jadi kamu putranya Pak Bian pemilik kafe Analogy yang di depan kompleks itu?" Tanya Ayah Satria yang wajahnya sudah berubah ramah.


Sepertinya Ayah Satria kenal dengan Pak Bian pemilik kafe Analogy tersebut.


Kenal dimana coba?


Kenapa dunia ini sempit sekali?


"Iya, Pak! Saya putra sulung Papi. Nama saya Galen." Galen memperkenalkan dirinya sendiri pada ayah Satria.


Heleh!


Galen katanya!


Padahal Gak Selera lebih bagus daripada Galendra. Sesuai lah sama orangnya yang benar-benar Gak Selera buat dilihatin.


Emily membatin seraya terkikik sendiri, masih sambil mengikat sepatu kets-nya.


"Terima kasih, undangannya, Galen! Kami sekeluarga pasti datang ke acara syukuran sekaligus soft opening cabang baru dari kafe Analogy, ya!" Ujar ayah Satria setelah membaca sekilas undangan yang diberikan Galen tadi.

__ADS_1


Lah, aneh juga kalau dipikir-pikir.


Bapaknya pemilik kafe, tapi anaknya hobi ke Coffeeshop lain.


Kenapa nggak ngabisin kopi di kafe bapaknya saja, ya?


"Saya permisi kalau begitu, Om! Mau mengantar undangan yang lain juga, sekalian ke kantor," pamit Galen selanjutnya masih dengan nada sopan yang Emily yakin hanya dibuat-buat dan akting semata.


"Oh, kamu sudah kerja! Om kira masih kuliah!" Ayah Satria sedikit terkekeh.


Galen ikut terkekeh meskipun tampak kaku.


Dasar kanebo kering!


Nggak di kantor, nggak di rumah orang bawaannya kaku melulu. Lemesnya pas di depan Alvin doang kayaknya!


"Kerja di kantor penerbitan, Om! Satu kantor denag putri Om Satria!" Galen menunjuk ke arah Emily yang masih duduk di kursi teras dan sudah selesai memakai sepatunya.


Ck!


Dasar tukang pamer.


"Benarkah? Kebetulan sekali! Tukang coret-coret juga seperti Emily?" Tanya Ayah Satria penasaran.


"Ilustrator, Ayah! Bukan tukang corat-coret!" Protes Emily karena sang ayah yang selalu menyebut pekerjaannya sebagai tukang corat-coret. Lama-lama muka pak Galen menyebalkan itu juga yang Emily coret-coret!


Loh!


Apa hubungannya?


"Bukan, Om! Saya di bagian editor," jawab Galen seraya mengulas senyum di bibirnya.


Ayah Satria hanya manggut-manggut paham.


"Saya permisi dulu, Om! Selamat pagi!" Pamit Galen sekali lagi yang kali ini benar-benar berpamitan dan meninggalkan rumah Emily.


Emily hanya mencibir pada Galen dan mobilnya yang sudah pergi.


Sudah kerja satu kantor!


Sekarang rumah juga satu kompleks!


Dosa Emily apa, coba? Sampai hidupnya terus saja bersinggungan dengan Pak Galen menyebalkan itu!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2