Jodoh Emily

Jodoh Emily
LEMBUR


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Faisal sudah membereskan meja kerjanya dan bersiap-siap untuk pulang, sementara Emily masih saja berkutat denagn layar iMac-nya.


"Em, nggak pulang?" Tanya Faisal mengerutkan kedua alisnya.


"Kerjaan belum selesai! Deadline-nya besok pagi," jawab Emily seraya mengusap wajahnya beberapa kali.


"Kok bisa numpuk begitu? Kemarin nggak kamu cicil?" Tanya Faisal heran. Tidak biasanya Emily keteteran saat ada kerjaan. Emily termasuk yang paling rajin di ruangan ini.


"Boro-boro mau nyicil! Pak Galen aja baru ngasih kerjaannya tadi pagi!" Gerutu Emily sebal.


"Ckckck! Pak manajer maho itu sepertinya seneng banget bikin kamu kesel! Ada dendam kesumat apa, ya?" Faisal berdecak dan malah berkelakar.


"Dia itu bukan maho, Sal!" Sergah Emily cepat, sebelum gadis itu menutup mulutnya dengan tangan.


"Tahu darimana?" Tanya Faisal kepo.


"Ya, tahu aja! Udah stop ngatain Pak Gak Selera itu maho! Atau bakalan kena sembur kamu nanti!" Jawab Emily dengan nada berlebihan. Sementar Faisal ekspresi wajahnya sudah berubah menjadi kaku dan menatap ke arah punggung Emily.


Ada apa memangnya?


"Sore, Pak Galen! Belum pulang, Pak?" Sapa Faisal sedikit meringis yang sontak langsung membuat Emily memutar kepalanya.


Galen sudah berdiri di belakang punggung Emily dan memasang raut wajah datar yang sungguh membuat Emily tak paham.


Apa dia marah?


Apa dia tadi mendengar Emily yang menyebut namanya mebjadi Pak Gak Selera?


Ouw! Ouw! Ouw!


Bodoh kamu, Emily!


Alamat potong gaji habis ini.


"Kau tidak pulang, Faisal?" Tanya Galen menatap tegas pada Faisal yang hanya meringis.


"Ini baru mau pulang, Pak! Selamat sore, Pak Galen!" Pamit Faisal dengan nada sopan yang dibuat-buat.


Ck!


Lebay sekali teman Emily yang satu itu.


Kini tinggal Emily dan Galen yang berada di ruangan ilustrator.


Duh!


Emily kok jadi sport jantung begini, ya?


Galen maho, kan, ya?


Jadi dia nggak mungkin ngapa-ngapain ke Emily, kan?


Eh, tapi mereka kan udah sering satu mobil juga.


Dan Emily baik-baik saja!


Masa iya Pak Manajer maho yang katanya tidak maho ini mau memperkosa Emily di ruang ilustrator?


Duh!


Kayaknya Emily kebanyakan nonton film thriller.


"Belum selesai?" Tanya Galen yang kini sudah menarik kursi kerja dari meja Irma dan membawanya ke dekat Emily duduk.


"Ini baru dikerjakan, Pak! Besok pagi pasti saya serahkan, kok! Sebelum jam delapan!" Jawab Emily yang pura-pura sibuk dengan layar iMac-nya. Padahal pikiran Emily malah sudah buyar kemana-mana ini dan fokusnya menguap pergj gara-gara kehadiran Pak Galen sialan ini.


Lagian, Emily kenapa, sih?

__ADS_1


Cuma di deketin sama Galen aja groginya luar biasa.


Kemarin juga Emily biasa saja pada Pak Gak Selera ini.


"Bapak nggak pulang?" Tanya Emily berusaha mencairkan kecanggungan antara dirinya dan Galen yang kakunya melebihi kanebo kering ini.


"Sudah lama pacaran sama Sean?" Tanya Galen tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan Emily tentang pulang tadi.


Ealah, Kanebo kering!


Ada orang bertanya, malah dia balik tanya.


Pertanyaan nggak pebting juga yang ditanyakan!


Kenapa mendadak membawa-bawa Sean?


Emily kan udah move on dari Sean!


"Nggak pacaran, kok! Orang cuma sahabatan sejak dulu!" Jawab Emily dengan nada malas.


Ish!


Bikin Emily jadi badmood saja!


"Sahabat rasa pacar, ya?" Nada bicara Galen terdengar menyindir.


"Mana ada! Sahabat ya sahabat! Bapak bisa bedakan sahabat dan pacar, kan?" Sungut Emily seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Galen masih memperhatikan tangan Emily yang sangat lincah menggerakkan mouse untuk membuat coretan ilustrasi. Sejak awal melihat hasil coretan Emily, Galen memang langsung kagum, karena gambar Emily selalu punya ciri khas. Bahkan para coustomer juga banyak yang memuji hasil coretan Emily.


Sepertinya Emily memang benar-benar berbakat.


"Galen!" Ucap Galen tiba-tiba yang langsung membuat Emily memutar kepalanya dan menatap pada atasannya tersebut.


"Apa?"


Sial!


Ternyata dia beneran dengar pas Emily memanggilnya dengan sebutan Pak Gak Selera!


Mati kau, Emily!


"Hehe. Kan nggak sopan, Pak! Masak manggil atasan lancang begitu," kilah Emily yang masih saja nyengir.


"Ini sudah bukan jam kantor." Jawab Galen santai.


"Tapi kita masih di kantor, Pak!" Ujar Emily yang selalu bisa menjawab semua kalimat yang dilontarkan Galen.


Ponsel Galen berbunyi.


"Bawa saja ke ruang ilustrator. Aku ada disini!" ucap Galen berbicara di telepon entah dengan siapa.


Apanya juga yang disuruh bawa kesini?


Emily memilih mengabaikan keberadaan Galen dan lanjut mengerjakan pekerjaannya agar ia bisa secepatnya pulang. Namun sekarang, gantian ponsel Emily yang berbunyi karena Ayah Satria menelepon.


Ya ampun!


Emily lupa mengabari sang ayah kalau dirinya mendadak lembur kali ini.


"Halo, Ayah!"


"Kamu dimana, Em? Ayah udah di depan kantor kamu ini."


"Emily masih lembur, Ayah! Belum tahu sampai jam berapa. Ayah pulang duluan saja. Nanti-" Emily menatap ke arah Galen yang ternyata sedang memperhatikan dirinya.


Ish!

__ADS_1


"Nanti Emily telepon lagi kalau sudah-" kalimat Emily terpotong karena Galen mendadak merebut ponsel gadis itu.


Dasar tidak sopan!


"Sore,Om! Saya Galen!" Galen berbicara pada Ayah Satria melalui ponsel Emily.


Cih!


Suka sekali cari muka sama ayah.


Maksudnya apa coba?


"Loh, Galen! Kamu lembur juga?"


"Kebetulan iya, Om. Nanti Emily biar saya antar pulang sekalian. Jadi Om Satria pulang duluan saja," tutur Galen dengan nada sopan yang Emily yakin hanya akting dan dibuat-buat.


"Begitu, ya? Baiklah kalau memang tak merepotkan. Terima kasih sebelumnya, Galen!"


"Sama sekali tidak merepotkan, Om! Nanti Emily saya antar sampai ke rumah," ucap Galen sekali lagi yang tentu saja langsung membuat seorang Emily merengut.


Galen sudah selesai berbicara dengan Ayah Satria di telepon. Pria itu mengembalikan ponsel Emily dan tak berucap sepatah katapun.


Dasar kanebo kering!


Emily tetap lanjut mengerjakan ilustrasi di iMac-nya. Berusaha mengabaikan keberadaan Galen yang hanya diam seperti patung.


Tak berselang lama, security kantor datang ke ruangan membawa sebuah bungkusan. Sepertinya itu pesanan Galen.


"Terima kasih, Pak!" Ucap Galen ramah.


Security tadi langsung pergi setelah berbasa-basi sedikit pada Galen.


Galen mengeluarkan dua gelas minuman dari kantong plastik dan menyodorkan salah satunya pada Emily.


"Maaf, Pak! Saya nggak minum kopi!" Tolak Emily cepat setelah melirik gelas berlambangkan logo salah satu kedai kopi tersebut.


"Itu bukan kopi! Itu susu coklat!" Jawab Galen mengendikkan dagunya ke arah gelas Emily.


Sedikit ragu, namun akhirnya Emily meraih gelas ukuran large tersebut dan memeriksa isinya, lalu sedikit mencicipi.


Memang benar ini susu coklat dengan double coklat sepertinya.


Enak sekali!


"Enak?" Tanya Galen sebelum menyeruput kopi di gelasnya.


"Enak, Pak! Terima kasih banyak!" Ucap Emily benar-benar tulus kali ini.


Dan Galen hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Benar-benar senyuman tipis yang bahkan tak sampai ke mata.


Apa susahnya senyum agak lebar, sih, Pak Gak Selera?


.


.


.


Beliin susu dulu


Besok lanjut beliin apa lagi, ya?


🤭🤭🤭


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2