
Mobil silver milik Galen yang kerap membuat Emily jantungan, akhirnya tiba di rumah Rachel, tepat saat matahari hampir terbenam.
Bagus sekali!
Harusnya Emily sudah di rumah Rachel sejak tadi menikmati kue bolu pisang buatan Tante Eve. Tapi gara-gara Pak Galen menyebalkan ini yang sok-sokan ngajak ngopi dulu membuat Emily jadi kesorean tiba di rumah Rachel.
Emily baru turun dari mobil Galen saat gadis itu melihat Sean yang sedang duduk di teras rumah sendirian dan membaca majalah atau koran, Emily juga tidak tahu.
"Emily?" Sapa Sean yang tampak terkejut dengan kedatangan Emily. Lebih terkejut lagi saat Sean tahu kalau Emily datang bersama Galen dan turun dari mobil pria tersebut.
Apa memang hubungan Emily dan Galen?
"Hai, Sean! Bagaimana kabarmu?" Sapa Emily sesantai mungkin pada Sean.
Oh, ayolah!
Kau dan Sean memang tak lagi memiliki hubungan apa-apa!
Jadi santai saja dan tak perlu grogi, Emily!
Emily hanya menggerutu dalam hati.
"Kabarku baik," jawab Sean yang nada bicaranya juga terdengar santai.
"Aku mau bertemu Rachel," ucap Emily yang langsung menyampaikan niat dan tujuannya datang ke rumah ini.
"Rachel ada di dalam. Masuk saja!" Sean menunjuk ke arah pintu rumah Rachel yang terbuka.
Emily hanya mengangguk dan tersenyum, lalu segera masuk ke dalam rumah Rachel untuk mencari sahabatnya tersebut.
"Hai, Sean! Sudah pulang?" Galen menyapa Sean yang masih mematung di kursi teras.
Pria itu ikut duduk di samping Sean.
"Ya, sudah sejak tadi. Kau sendiri?" Sean balik bertanya pada Galen.
"Baru pulang dari pameran tadi. Kebetulan kantor sedang ikut pameran, jadi ikut jaga stand," jawab Galen sedikit bercerita.
"Ngomong-ngomong, kau dan Emily kerja di kantor yang sama?" Tanya Sean menyelidik.
Sean memang tidak tahu banyak tentang sepupu Rachel ini. Yang Sean tahu hanyalah, Galen bekerja di sebuah kantor penerbitan sebagai seorang manajer.
"Ya! Emily adalah ilustrator di kantor penerbitan tempatku bekerja. Aku kira kau sudah tahu," Galen tertawa renyah dan Sean hanya mengendikkan bahu.
"Aku jarang bertemu Emily belakangan ini, jadi kami juga belum ngobrol lagi. Mungkin Emily sibuk dengan pekerjaan barunya." Ujar Sean menerka-nerka.
Galen masih tertawa kecil dan dua pria itupun melanjutkan obrolan mereka.
****
"Kau darimana, Em? Kenapa pakai baju batik dan rok begini?" Tanya Rachel yang sedikit heran saat memindai penampilan Emily yang berbeda dari biasanya.
Emily memang sangat jarang mengenakan rok atau gaun kalau tidak sedang kondangan atau ada acara resmi lainnya. Gadis ini lebih suka berpenampilan kasual dan cenderung tomboy.
"Habis jagain stand pameran! Aku rasa sepupumu itu sedikit gila! Mana ada karyawan ilustrasi jagain stand pameran?" Jas5ab Emily bersungut-sungut.
"Maksud kamu Galen? Memang apa hubungannya Galen dengan kamu yang jagain stand pameran-"
"Sore!" Sapa Galen yang tiba-tiba muncul dari pintu depan.
"Sore, Galen! Tumben datang kesini?" Balas Rachel sedikit bingung karena Galen yang tiba-tiba muncul di rumahnya berbarengan dengan Emily.
__ADS_1
Apa mereka datang bersama tadi?
"Sudah selesai yang ngobrol, Em?" Tanya Galen seraya menatap pada Emily yang sedang menggigit kue bolu pisangnya tanpa memakai garpu atau sendok. Gadis itu memegang potongan kue bolu yang lumayan besar menurut Galen dan menggigitnya begitu saja seperti gadis kelaparan yang belum makan tiga hari tiga malam.
Ya ampun!
Apa gadis ceroboh ini tidak bisa bersikap elegant sedikit saja?
"Baru juga datang, Pak! Kue bolunya juga belum habis!" Emily menggigit lagi kue bolu pisangnya.
"Bapak pulang saja kalau memang mau pulang! Saya bisa pulang naik taksi nanti!" Sambung Emily lagi dengan mulut yang penuh dengan kue bolu.
"Telan dulu kuenya, Em!" Tegur Rachel karena Emily bicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Sean sudah menyusul masuk ke dalam rumah dan ikut duduk bersama Rachel dan Emily. Hanya Galen yang masih berdiri di ruangan tersebut.
Mungkin bokong pak manajer itu sedang tertancap paku hingga ia tak ikut duduk bersama yang lainnya.
"Jadi, apa kau dan Emily bekerja di kantor yang sama, Galen?" Tanya Rachel memastikan karena tadi Emily memanggil Galen dengan sebutan Pak.
Pak Galen!
Hahahaha!
Padahal Galen juga masih sepantaran dengan Rachel dan Emily. Kenapa Emily memanggil sepupunya itu dengan sebutan Pak?
"Ya!" Jawab Galen singkat sebelum akhirnya pria itu ikut duduk di sofa di sebelah Sean.
Akhirnya paku di bokong pak manajer itu sudah hilang.
"Om dan Tante kemana?" Tanya Galen selanjutnya pada Rachel karena tak melihat kedua orang tua Rachel itu sejak tadi.
"Sedang ada acara di luar," jawab Rachel sebelum menyodorkan air minum pada Emily yang sepertinya kesulitan menelan kue bolunya karena gadis itu memasukkan terlalu banyak kue ke dalam mulut.
Kadang tingkahnya begitu konyol dan kekanakan.
Tapi saat harus serius Emily benar-benar akan serius dan bersikap dewasa.
"Eheem!" Emily akhirnya berdehem setelah berhasil menelan semua kue bolu di mulutnya.
Ponsel gadis itu berbunyi nyaring.
"Duh! Ayah telepon!" Gumam Emily sebelum mengangkat panggilan dari sang Ayah.
"Halo, Ayah!" Sambut Emily sedikit menjauh dari Rachel, Sean, dan Galen yang hanya saling diam.
"Kau dimana? Sudah pulang belum? Ayah jemput ke kantor, ya!"
"Nggak usah, Ayah! Emily sedang di rumah Rachel dan udah mau pulang, kok! Ayah juga langsung pulang saja!" Jawab Emily sedikit tergagap.
"Sedang apa di rumah Rachel?"
"Main, Ayah! Kan udah lama nggak ketemu sama Rachel," jawab Emily nyengir kuda.
"Yaudah cepat pulang kalau begitu sebelum malam!"
"Iya, Ayah! Ini udah mau pulang, kok!" Jawab Emily cepat sebelum menutup telepon dari Ayah Satria. Gadis itu menjejalkan ponselnya ke dalam tas dan segera berpamitan pada Rachel.
"Aku juga mau pulang. Tante Eve dan Om Steve nggak pulang-pulang," Galen ikut-ikutan mau pulang dan berpamitan.
Emily hanya memutar bola matanya pada pak manajer aneh ini karena selalu saja mengekori Emily sejak pagi.
__ADS_1
Aneh juga lama-lama dan mencurigakan sikapnya.
"Aku pulang dulu, Rachel! Salam buat Tante Eve, ya! Kuenya enak!" Emily bercipika-cipiki dengan Rachel sebelum lanjut berbasa-basi sedikit dengan Sean.
"Pulang bareng Galen?" Tanya Sean saat Emily berpamitan.
"Nggak! Aku naik taksi, kok!" Jawab Emily setelah melempar tatapan ketus pada Galen yang wajahnya terlihat santai.
Aneh!
"Yaudah, hati-hati!" Pesan Sean yang hanya dijawab Emily dengan anggukan dan senyum tipis.
Emily berjalan santai santai keluar dari rumah Rachel, dan Galen memang tak mencegahnya apalagi memaksa-maksa untuk mengantar Emily.
Baguslah!
Emily tak perlu naik mobil silver sialan milik Pak Gak Selera itu lagi.
Emily terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan perumahan. Kalau di dalam perumahan mana ada taksi. Emily harus berjalan dulu kurang lebih 200 meter ke jalan raya di depan untuk mendapatkan taksi.
Mobil silver sialan milik Pak Galen berhenti di dekat Emily.
Oh ya ampun!
Baru juga bernafas lega.
"Aku antar!" ucap Galen setelah membuka kaca jendela mobil.
"Nggak usah, Pak! Saya nggak mau ngrepotin," tolak Emily yang tetap melanjutkan langkahnya.
"Udah gelap! Kalau kamu kena begal bagaimana?" Pak Galen menakut-nakuti Emily.
"Oh, saya punya ilmu beladiri, kok, Pak! Anak kepala keamanan masa iya takut begal!" Jawab Emily sedikit sombong.
Kalau sekedar menendang atau memiting tangan begal juga Emily berani. Kecuali kalau begalnya bawa golok mungkin Emily akan nangis di pojokan.
"Bapak ngapain naik mobilnya pelan-pelan begitu?" Tanya Emily heran karena Galen yang mengemudikan mobilnya perlahan menyamai langkah Emily yang sudah hampir di jalan raya depan perumahan.
"Suka-suka aku mau mengemudikan mobil bagaimana." Jawab Galen ketus.
Baiklah, terserah!
Emily tidak akan bertanya lagi.
Ah, kebetulan ada taksi melintas tepat saat Emily tiba di ujung jalan perumahan. Emily bisa langsung naik taksi dan tak perlu bersitegang lagi dengan manajer maho yang ternyata tak maho itu.
"Saya pulang dulu, Pak! Selamat sore!" Pamit Emily sebelum masuk ke dalam taksi.
Galen tak menyahut dan membiarkan taksi yang membawa Emily melaju meninggalkan mobilnya.
Kenapa juga Galen penasaran dengan gadis ceroboh bernama Emily itu?
Padahal jelas-jelas penampilan serta tingkah polah Emily itu sangat jauh dari selera Galendra Biantara.
Aneh sekali!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.