Jodoh Emily

Jodoh Emily
JANGGAL


__ADS_3

Rachel menepuk punggung Sean saat motor yang dikendarai oleh Sean baru saja berbelok ke gang rumah Rachel.


Sean segera menghentikan laju motornya dan membuka kaca helm.


"Ada apa?" Tanya Sean pada Rachel yang sejak dari apartemen tadi hanya diam dan tak mengobrol dengan Sean sedikitpun.


"Aku turun disini saja. Terima kasih," ucap Rachel yang ternyata sudah turun dari motor Sean.


Rachel memberikan helm yang tadi ia kenakan masih tanpa menatap wajah Sean dan gadis itu langsung berjalan meninggalkan Sean begitu saja.


"Rachel!" Panggil Sean yang merasa sangat bersalah pada Rachel.


Tak ada jawaban.


Rachel terus saja berjalan meninggalkan Sean dan menyusuri jalan perumahan sambil menundukkan wajahnya. Langkah Rachel terlihat sedikit tersaruk dan gasis itu sesekali meringis menahan nyeri di pangkal pahanya.


Sean hanya bisa menatap punggung Rachel hingga akhirnya sahabat baik Emily itu berbelok ke sebuah rumah yang berjarak tiga rumah dari tenpat Sean berhenti.


Rachel membuka pagar besi di depan rumah bercat putih tersebut dan langsung menghilang ke dalam pagar.


Sean menyalakann mesin motornya dan melajukannya perlahan menuju ke arah depan rumah Rachel.


Pagar sudah jembali tertutup rapat, dan teras rumah Rachel juga sudah sepi. Sepertinya Rachel memang membawa kunci rumah dan langsung masuk ke dalam.


Apa gadis itu akan kena omel dari papa dan mamanya?


Setahu Sean, Ayah Rachel yang juga adalah seorang dokter lumayan protektif pada sang putri.


Ah, semoga orangtua Rachel belum bangun.


Nanti saja Sean menghubungi Rachel karena mungkin sekarang gadis itu masoh marah pada Sean.


****


"Rachel, darimana?" Tanya Mama Eve yang langsung membuat Rachel berjenggit kaget dan menghentikan langkahnya.


Tadinya Rachel pikir, Mama atau Papanya belum bangun karena langit masih gelap.


"Kau tidak pulang semalaman dana ponselmu mati. Kau darimana?" Tanya Mama Eve sekali lagi.


"Rachel.... Rachel menginap dirumah Emily, Ma!" Jawab Rachel setenang mungkin.


Rachel tidak mau membuat Mama Eve curiga. Dan alasan menginap di rumah Emily sekaku bisa menjadi senjata utama, karena Mama Eve dan Papa Steve pahama bdtul kalau Rachel berteman baik dengan Emily.


"Lalu kenapa pulangnya pas langit masih gelap begini dan tidak menelepon Mama atau Papa saja minta dijemput?" Tanya Mama Eve sekali lagi.


"Iya tadi kebetulan bareng sekalian sama Om Satria yang berangkat pagi-pagi. Rachrl pikir, Mama dan Papa juga belum sampai rumah," jawab Rachel masih dengan nada yang tenang.


Mama Eve mengusap lembut kepala sang putri seraya tersenyum.


"Ya sudah, kamu istirahat lagi sana, kalau masih mengantuk!" Titah Mama Eve pada Rachel.


"Iya, Ma," jawab Rachel yang segera melangkah mebuju kanarnya sambil sedikit meringis karena pangkal pahanya yang masih terasa perih.


Sean merobek mahkota Rachel dengan sangat kasar semalam.


Rachel menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir bayangan kejadian semalam yang terjadi diantara dirinya dan Sean.


"Rachel! Kenapa jalanmu seperti itu?" Tanya Mama Eve heran pada cara berjalan Rachel yang sedikit aneh.


Rachel menelan salivanya denag susah payah dan otaknya berpikir keras tentang alasan yang akan dia berikan pada Mama Eve kali ini.

__ADS_1


"Rachel semalam jatuh, Ma!" Jawab Rachel tergagap.


"Jatuh? Bagaiamana bisa? Ada yang terluka?" Cecar Mama Eve khawatir.


"Rachel kepleset dan kaki Rachel saja yang sakit sedikit. Tapi semalam udah di urut sama Tanta Naya, jadi sudah mendingan." Jelas Rachel pada sang Mama.


"Nanti ke rumah sakit biar diperiksa, ya!" Ujar Mama Eve yang langsung membuat nafas Rachel serasa tercekat di tenggorokan.


Rumah sakit?


"Nggak usah, Ma! Rachel istirahat saja, dan mungkin akan membaik nanti setelah bangun tidur," jawab Rachel sedikit tergagap.


"Baiklah kalau maumu begitu. Tapi kalau masih sakit dan jalanmu masih belum normal begitu, Mama akan membawamu ke rumah sakit!" Mama Eve mengajukan syarat.


"Iya, Ma! Rachel masuk kamar dulu!" Pamit Rachel selanjutnya yang langsung membuka pintu kamarnya yang berada di sebelah kamar kedua orangtuanya.


Rachel segera masuk ke dakam kamar, menutup dan mengunci pintu, lalu bersandar dibalik pintu sambil berurai airmata.


Rachel menangis dalam diam di dalam kamarnya.


Rachel bingung sekarang.


****


Rachel pendiam.


Namun setelah kejadian di apartemen Sean, Rachel menjadi semakin pendiam dan irit bicara.


"Pulang bareng, yuk, Chel! Sean mau jemput sebentar lagi," tawar Emily pada Rachel yang semakin irit bicara.


"Nggak usah, Em!" Tolak Rachel cepat.


"Aku mau langsung pulang saja. Mau ngerjain tugas!" Sambung Rachel mencari alasan.


Rachel selalu menolak saat Emily mengajaknya pergi atau jalan terutama saat ada Sean.


Rachel seolah sedang menghindari bertemu dengan Sean.


"Itu mobil Sean sudah datang! Ayo bareng aja, Chel!" Paksa Emily seraya menggamit lengan Rachel.


Mobil Sean berhenti di dekat Rachel dan Emily, dan si empunya mobil segera menurunkan kaca jendela.


Rachel segera membuang pandangannya dan enggan menatap pada Sean yang Rachel yakini sedang menatap ke arahnya saat ini.


Rachel memang langsung memblokir nomor Sean setelah sampai di rumah pagi itu. Dan Rachel sebisa mungkin menghindari untuk bertemu Sean.


"Ayo, Rachel!" Paksa Emily pantang menyerah


"Aku akan naik taksi saja, Em!" Tolak Rachel bersikeras.


Rachel melambaikan tangannya pada taksi yang melintas dan segera naik ke dalam taksi tersebut.


"Aku duluan, Em! Bye!" Pamit Rachel sedikit tergesa pada Emily.


Taksi sudah melaju meninggalkan area kamlus dan meninggalkan Emily yang kini masuk ke dalam mobil Sean dengan sedikit mencebik.


"Rachel jadi aneh belakangan ini. Udah pendiam akut, irit bicara, nggak pernah mau diajak kemana-mana juga. Apa Rachel marah sama aku ya, Sean?" Tanya Emily meminta pendapat dari Sean.


"Mungkin Rachel sedang ada masalah, Em!" Jawab Sean sedikit melamun.


"Kamu juga kalau aku ajak membahas tentang Rachel, pasti melamun begitu. Kalian berdua kenapa, sih?" Tanya Emily sekali lagi merasa tak paham.

__ADS_1


"Aku nggak melamun! Aku sedang memperhatikan jalan," kilah Sean mencari alasan.


Emily hanya memutar bola matanya dan memilih untuk tak menyahut lagi. Suasana hati Emily sedang berantakan karena sikap Rachel yang semakin aneh dari hari ke hari.


****


Beberapa bulan berlalu.


Mama Eve merasa curiga pada perubahan bentuk tubuh Rachel belakangan ini.


Rachel sedikit menggemuk, terutama di bagian perutnya. Dan gadis itu jadi gemar memakai baju longgar kemana-mana seolah sedang menyembunyikan bentuk perutnya yang terlihat membuncit dengan tidak normal.


Mustahil Rachel hamil.


"Mama kenapa?" Tanya dokter Steve pada sang istri yang terlihat melamun.


"Rachel, Pa!" Jawab Mama Eve lirih.


"Rachel kenapa?"


"Papa merasa ada yang aneh nggak sih dengan bebtuk tubuh Rachel? Dia terlihat sedikit gemuk beberapa bulan ini." Tangan Mama Eve membentuk tanda kutip.


Dokter Steve terkekeh,


"Ya baguslah, Ma! Berarti gizi Rachel terpenuhi ddngan baik. Anaknya jadi gemuk kok mama bingung begitu."


"Tapi gemuknya Rachel itu sddikit aneh, Pa! Masa perutnya saja yang mengalami perubahan? Lengan dan kakinya hanya berubah sedikit ukurannya," tutur Mama Eve masih merasa bingung.


"Masa, sih?" Kali ini raut wajah dokter Steve sudah berubah serius.


"Papa perhatikan saja nanti pas anaknya pulang!" Ujar Mama Eve memberikan saran.


"Siang, Ma, Pa!" Sapa Rachel yang ternyata panjang umur sekali.


Baru dibicarakan sudah sampai di rumah.


"Siang, Rachel!" Balas papa Steve seraya memperhatikan dengan seksama bentuk tubuh Rachel yang siang ini mengenakan blouse warna hitam dan rok sebetis.


Papa Steve langsung fokus pada perut Rachel yang memang terlihat sedikit buncit.


"Rachel masuk kamar dulu, Ma, Pa!" Pamit Rachel selanjutnya sebelum menghilang ke dalam kamar.


"Papa lihat sendiri tadi?" Tanya Mama Eve meminta pendapat sang suami setelah Rachel tak terlihat lagi.


"Sebaiknya mama tanya baik-baik ke Rachel. Kita bawa ke rumah sakit untuk periksa kalau perlu," ujar dokter Steve pada Mama Eve.


"Iya, Pa!"


.


.


.


Membosankan, ya?


Berbelit-belit?


Konfliknya itu-itu terus.


😔😔

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2