
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit yang terasa seperti tiga puluh abad, mobil silver Pak Galen akhirnya tiba di kantor penerbitan, tempat Emily dan Galen bekerja.
Huh!
Akhirnya Emily terbebas dari penjara berjalan yang mengurungnya bersama Pak Gak Selera ini!
"Langsung ke ruanganku untuk mengambil pekerjaan, Em!" Pesan Galen sebelum Emily keluar dari mobilnya.
Sial!
Tidak bisakah pak manajer menyebalkan ini memberikan Emily sedikit ruang untuk bernafas?
Baru juga Emily mau me-refresh matanya karena terlalu banyak tertempel virus Galendra. Sekarang malah disuruh ke ruangannya yang teramat sangat rapi itu!
Uuuh!
Menyebalkan!
"Kau dengar tidak, Emily?" Tegur Galen srkai lagi karena Emily tak menjasab perintahnya tadi.
"Iya, saya dengar, Pak Galen! Saya akan segera ke ruangan Bapak!" Jawab Emily dengan nada yang terdengar lebay.
"Lepas sekalian itu sweater kamu! Pakai baju kok kedodoran begitu! Bikin sepet mata saja!" Ujar Galen lagi yang kini mengekor di belakang Emily.
"Kalau bikin sepet ya nggak usah dilihat, Pak!" Gumam Emily sedikit menggerutu.
Emily terus melangkah menuju ke ruangan Galen. Kali ini Emily tak perlu mengetuk pintu, karena sang pemilik ruangan berada di belakang Emily.
Cocok juga sepertinya kalau Galen jadi pengawal atau bodyguard Emily.
Hahahaha!
Tapi sepertinya kemampuan bela diri pria itu sedikit meragukan.
Bentuk badannya saja yang oke tinggi tegap. Tapi kalau berhadapan sama preman, jangan-jangan langsung meringkuk di pojokan.
"Lepaskan sweater kamu yang kedodoran itu, Em!" Perintah Galen sekali lagi pada Emily.
"Ruangan Bapak dingin! Kalau saya menggigil bagaimana?" Jawab Emily mencari alasan.
Galen segera meraih remote AC dan mematikan pendingin ruangan tersebut.
"Sudah tidak dingin! Cepat lepaskan agar penampilanmu itu rapi sedikit!" Perintah Galen lagi dengan nada memaksa.
"Maaf, Pak! Tapi baju saya Terlihat kurang sopan jika saya melepaskan sweater ini! Jadi tolong pahami dan jangan memaksa saya!" Jawab Emily dengan nada tegas seraya melempar tatapan tajam ke arah Galen.
"Kau tidak memakai baju di dalam sweater itu?" Tebak Galen seraya menunjuk ke arah sweater Emily.
__ADS_1
Emily hanya memutar bola matanya dengan malas dan berdecak berulang kai.
"Jadi sebenarnya, ada pekerjaan baru untuk saya atau tidak, Pak? Jika tidak ada, saya mau kembali ke ruangan dan ke meja kerja saya, menyelesaikan pekerjaan lama saya yang belum selesai!" Tanya Emily mengesampingkan rasa segan ataupun rasa sopan pada Pak Gak Selera ini!
Lama-lama bosan juga Emily dikomentari masalah baju setiap pagi. Kalau bukan rambut ya baju. Kalau bukan baju ya rambut. Sebenarnya Pak Galen ini editor atau komentator, sih?
Galen menyodorkan sebuah map berwarna hijau pada Emily.
"Deadline besok pagi! Serahkan sebelum jam delapan di meja kerja ini!" Pesan Galen yang langsung membuat Emily menganga tak percaya.
"Kenapa mendadak, Pak!" Protes Emily tak terima.
"Karena bukunya sudah mau naik cetak! Ilustrasi itu sudah dikerjakan Irma beberapa minggu yang lalu. Tapi hasilnya amburadul dan customer tidak puas! Jadi sekarang kamu yang perbaiki ilustrasi itu!" Perintah Galen yang sontak membuat Emily kehilangan kata-kata.
Brengsek!
Sial!
Apa Pak Galen menyebalkan ini memang berniat menyuruh Emily lembur?
Emily tak berhenti mengumpat dalam hati dan gadis itu masih berdiri di depan meja kerja Galen.
"Kamu kenapa masih disitu, Em! Bukankah aku menyuruhmu untuk memperbaiki ilustrasi Irma? Pekerjaanmu tidak akan selesai, kalau kau hanya melamun di depan mejaku begitu!" Tegur Galen yang langsung membuat Emily merengut.
"Iya, Pak! Ini juga baru mau pergi!" Jawab Emily bersungut-sungut. Gadis itu segera berbalik dan keluar dari ruangan Galrn. Masih semoat Emily lihat, Galen yang berulang kali merapikan tumpukan kertas di mejanya, padahal sudah rapi.
Masih OCD ternyata!
****
Emily masuk ke ruangan ilustrator dan membanting map hijau yang tadi diberikan oleh Galen ke atas meja kerjanya.
"Dasar OCD!" Gerutu Emily sebal.
"Siapa yang OCD, Em?" Tanya Faisal yang sudah terlebih dahulu sampai. Irma tidak kelihatan batang hidungnya.
Kemana ilustrator senior itu?
"Irma mana, Sal?" Bukannya menjawab pertanyaan Faisal, Emily malah balik bertanya pada teman satu ruangannya tersebut.
"Irma resign mulai hari ini," jawab Faisal dengan nada datar.
Cenderung memelas sebenarnya.
"Resign? Kok aku nggak dipamitin?" Tanya Emily yang begitu kaget dengan kabar Irma yang mendadak resign.
"Iya kamu kemarin sore kemana memangnya? Habis makan siang ngilang begitu aja!" Faisal melemparkan sebuah undangan ke arah Emily.
__ADS_1
"Ini apa?" Emily membuka undangan yang dilempar olrh Faisal, lalu mdmbaca isinya dengan seksama, sebelum gadus itu kembali terkejut.
"Kok bukan nama kamu yang ada di undangan pernikahannya Irma, Sal? Kirain kalian berdua pacaran kemarin," tanya Emily sedikit bingung.
"Ya begitulah! Aku cuma korban PHP ternyata," jawab Faisal yang nada bicaranya terdengar memelas.
"Yaudah yang sabar kamu, Sal!" Emily sudah kembali melipat undangan Irma, dan menyimpannya kd dalam laci meja. Gadis itu lanjut menyalakan layar iMac-nya dan mengetikkan password.
"Iya ini udah sabar, kok!" suara Faisal masih memelas.
Yaelah!
Cengeng banget ni cowok!
"Ngomong-ngomong kemarin kamu ngilang kemana, sih, Em?" Tanya Faisal kepo.
"Diajak Pak Gak Selera ke pameran sama di suruh jagain stand! Kan nyebelin!" Cerita Emily bersungut-sungut.
"Sejak kapan anak ilustrasi jagain stand pameran?" Faisal mengernyit heran.
"Nah itu yang aku bingung! Kata Pak Galen, hal itu sudah dibahas pas meeting bulanan awal bulan kemarin. Tapi perasaan aku nggak dengar Pak Gak Selera itu bahas tentang sistem rolling buat jagain stand pameran." Emily mengendikkan bahu dan mersa bingung.
Emily membaca kembali deskripsi tema ilustrasi Irma yang amburadul dan harus ia perbaiki.
Bagaimana mau diperbaiki, kalau file lamanya nggak ada!
Mau tak mau Emily harus membuat yang baru dan mulai lagi dari awal.
Menyebalkan!
"Kamu kebanyakan ngobrol pas meeting, Em! Makanya nggak dengar," kikik Faisal yang langsung membuat Emily merengut.
"Kan kamu yang ngajakin ngobrol! Dasar!"
"Besok ke kondangan Irma datang sama siapa kamu? Sama pacar?" Tanya Faisal kepo.
"Pacar yang mana? Orang aku masih jomblo!" Jawab Emily memutar bola matanya dengan malas.
"Datang bareng aku aja kalau begitu!" Tawar Faisal cepat.
"Bolehlah! Sesama jomblo kan harus saling menguatkan!" Celetuk Emily yang sontak membuat Faisal tergelak.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.