
Rumah Emily
"Baru pulang, Em?" Sapa Ayah Satria saat Emily baru tiba di rumah.
Ayah Satria sedang duduk di kursi teras dan sedang membaca sesuatu di koran. Entah membaca apa, Emily juga tidak tahu.
"Habis dari Mall, jadi obat nyamuk buat Irma sama Faisal, Yah!" Cerita Emily yang langsung ikut duduk bersama sang Ayah.
Emily melepas sepatunya sekalian di teras dan meletakkannya begitu saja di samping kursi.Padahal jarak rak sepatu dari tempat Emily duduk hanya dua sampai tiga langkah. Tapi bokong Emily sudah terlanjur menempel di kursi dan Emily sedang malas beranjak.
Nanti saja Emily menaruhnya di rak. Syukur-syukur itu sepatu kets cukup tahu diri dan berjalan ke rak sendiri, jadi tidak perlu merepotkan Emily seperti Galen yang sukanya membuat repot Emily saat memberikan pekerjaan.
Yang rambut harus diikat lah!
Yang harus pakai rok lah!
Yang kertas nggak boleh terlipat lah!
Lah!
Ngapain Emily mikirin Galen resek itu lagi!
Pasti gara-gara tadi mobil silver sialan Galen yang hampir menabrak Emily, membuat Emily jadi memikirkan manajer maho menyebalkan itu!
"E-mi-ly!"
"Berapa kali Bunda bilang, kalau habis lepas sepatu itu, langsung taruh ke rak dan jangan sembrono begini!" Omel Bunda Naya yang sudah memindahkan sepatu kets Emily ke dalam rak sepatu yang ada di sudut teras.
"Masih capek, Bund! Nanti juga Emily pindahin kalau sekalian Emily berdiri mau masuk rumah!" Jawab Emily mencari alasan.
Ayah Satria hanya tersenyum tipis melihat tingkah sang putri.
"Kamu itu seorang gadis, Emily! Belajarlah untuk rapi sedikit dan jangan sembrono apalagi malas-malasan!" Nasehat Bunda Naya yang kini juga sudah ikut duduk di kursi teras. Perempuan paruh baya tersebut menuang teh dari teko yang masih mengepulkan asap ke dalam cangkir.
Ada sepiring pisang goreng juga yang sudah dicomot Emily, dan sudah berpindah ke dalam perut gadis tersebut.
"Kerapian lagi yang dibahas! Nggak di kantor, nggak di rumah disuruh rapi melulu! Lama-lama Bunda jadi kayak Pak Gak Selera itu!" Gerutu Emily sebelum menggigit pisang gorengnya yang ketiga.
Padahal tadi di mall sudah ditraktir makan sama Mom Bi dan Rachel. Kenapa sekarang perut Emily lapar lagi, ya?
Apa gara-gara Emily menendang-nendang ban mobil Pak Galen sialan tadi?
"Siapa itu Pak Gak Selera?" Tanya ayah Satria mengernyit bingung.
"Manajer di kantor penerbitan. Orangnya resek. Resek banget pokoknya. Udah gitu maho lagi."
__ADS_1
"Hhhhhh! Amit-amit!" Emily mengendik geli.
Ayah Satria dan Bunda Naya saling lempar pandang sebelum akhirnya kedua orang tua Emily tersebut terkekeh bersamaan karena cerita konyol Emily.
"Oh, ya! Ayah ingat Bu Mia dan Pak Bian yang ketemu pas di pernikahan Rachel itu, nggak?" Bunda Naya mengalihkan topik pembicaraan.
"Yang paman dan bibinya Rachel itu, ya?" Ayah Satria menebak-nebak.
"Iya yang itu. Kemarin Bunda ketemu sama Bu Mia di supermarket, eh dia nanyain Emily sudah punya pacar apa belum," cerita bunda Naya yang langsung membuat Emily menggaruk tengkuknya sendiri.
Emily sudah mencium gelagat kurang mengenakkan dari sang Bunda.
"Emang bu Mia bu Mia itu udah pernah lihat Emily, Bund? Bunda jangan mengarang, deh!" Sergah Emily menyela cerita Bunda Naya.
"Iya dia lihat kamu pas di pesta pernikahan Rachel dan Sean waktu itu."
Emily memutar bola matanya demi mengusir rasa aneh yang bergelayut di hatinya saat Bunda Naya menyebut pernikahan Sean dan Rachel.
Tapi mereka memang sudah menikah dan resmi menjadi suami istri sekarang.
Jadi apa pentingnya perasaan Emily sekarang?
"Kamu kan pakai gaun warna lilac waktu itu, cantik, anggun, dan feminim. Coba setiap hari kamu mau pakai gaun begitu, kayak Anne atau Valeria," sambung Bunda Naya yang malah ganti membahas soal cara berpakaian.
"Ribet lah, Bund!" Sahut Emily acuh.
Emily baru mau memakai gaun kalau sedang kondangan atau ada acara pesta. Kalau cuma ke kantor atau di rumah, ya pakai celana saja!
"Bu Mia dan Pak Bian itu bukannya punya anak yang seusia sama Emily, Bund?" Tanya Ayah Satria selanjutnya yang kembali membahas tentang Bu Mia.
Duh, mencurigakan ini!
Semoga anaknya Bu Mia perempuan juga sama seperti Emily, jadi orang tua Emily ini tidak ada niat menjodoh-jodohkan macam siti nurbaya.
"Iya, anaknya yang laki-laki, seusia dengan Emily. Katanya jadi manajer di kantor penerbitan gitu," jawab bunda Naya sedikit bercerita.
Apa?
Anak Bu Mia laki-laki, seusia dengan Emily, jadi manajer di kantor penerbitan?
Bu Mia dan Pak Bian adalah Paman dan Bibinya Rachel.
Jadi itu artinya, anaknya Bu Mia itu.....
"Bapak sendiri siapanya Rachel? Kok waktu itu ada di acara nikahannya Rachel?"
__ADS_1
"Menurut kamu? Aku siapanya Rachel?"
"Mantan pacarnya Rachel mungkin,"
"Aku sepupunya Rachel!"
"Jadi Pak Galen Maho itu anaknya Bu Mia?" Celetuk Emily tiba-tiba yang langsung membuat Bunda Naya dan Ayah Satria menatap bingung pada sang putri.
"Pak Galen Maho siapa maksud kamu, Em?" Tanya Bunda Naya tidak paham.
"Manajer di kantor Emily, Bund!" Jawab Emily yang kembali menggigit pisang gorengnya yang entah sudah ke berapa ini.
"Kok bawa-bawa maho segala? Memang namanya Galen Maho atau itu kamu yang ngasih julukan?" Tanya Ayah Satria yang sontak membuat Emily hampir tersedak pisang goreng.
Membayangkan Bu Mia memberikan nama anaknya yang aneh itu Galen Maho benar-benar membuat Emily ingin tertawa sampai menangis.
"Mana ada orang tua ngasih nama anaknya Maho, Ayah! Itu pasti Emily yang iseng ngasih julukan ke manajernya," ujar Bunda menjawab pertanyaan Ayah Satria.
"Kamu nggak boleh begitu sama atasan, Emily! Menuduh sembarangan tanpa bukti, menjelek-jelekkan atasan kamu. Itu tidak sopan namanya!" Bunda Naya lanjut memberikan nasehat pada sang putri dengan nada yang lemah lembut.
Ah, Bunda!
Nasehatnya selalu bisa menyejukkan hati.
"Iya, Bund! Emily juga nggak nuduh sembarangan, kok! Orang Emily lihat dengan mata kepala sendiri Pak Galen lagi mesra-mesraan sama pemuda tanggung," jawab Emily yang masih saja mencari alasan dan pembenaran.
Gadis itu menggaruk tengkuknya sendiri.
"Masih aja cari alasan! Kamu itu sama persis dengan Ayah kamu yang selalu saja pintar mencari alasan!" Bunda Naya mencubit hidung Emily.
"Namanya juga anak Ayah! Ya wajar mirip Ayah! Ya, kan, Emily!" Ayah Satria segera mengajak Emily untuk melakukan tos.
"Mandi sana! Sebelum keburu malam!" Titah Bunda Naya selanjutnya pada sang putri.
"Bunda nggak ada rencana menjodohkan Emily dengan anaknya Bu Mia, kan? Emily masih bisa mencari jodoh Emily sendiri, Bund!" Cecar Emily sebelum gadis itu beranjak dari duduknya.
"Siapa yang mau menjodohkan kamu memangnya, Em? Kan Bunda tadi cuma cerita ketemu Bu Mia di supermarket!" Jawab Bunda Naya santai.
"Baiklah! Kan Emily cuma bertanya dan memastikan!" Gumam Emily sebelum gadis itu berlalu masuk ke dalam rumah untuk mandi dan membersihkan diri.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.