Jodoh Emily

Jodoh Emily
BUKAN MAHO


__ADS_3

[Hai, Rachel! Lagi sibuk, nggak?] -Emily-


[Nggak, kok! Lagi santai aja di rumah Mama] -Rachel-


[Wah! Kamu lagi di rumah mama kamu, ya? Aku main kesana, ya! Mau ngobrol sedikit] -Emily-


[Ngobrol banyak juga boleh, kok, Em! Aku tunggu di rumah Mama. Kebetulan Mama bikin kue bolu pisang kesukaan kamu ini] -Rachel-


[Hihi, kebetulan sekali! Baiklah, aku akan mampir kesana] -Emily-


Emily sedikit membereskan meja di depannya dan beberapa printilan di stand pameran sebelum beranjak pergi. Emily tidak mau kena sembur dari manajer maho yang merangkap jadi tukang inspeksi itu.


"Sudah, Em?" Tanya karyawan marketing yang tadi berjaga bersama Emily.


"Iya, sudah! Kamu pulang naik apa? Keluar bareng, yuk!" Ajak Emily pada temannya sesama karyawan tersebut.


"Aku dijemput pacar aku. Kamu pulang naik apa?"


"Naik taksi mungkin," Emily mengendikkan kedua bahunya.


"Itu kamu dipanggil Pak Galen! Aku duluan, Bye!" Pamit teman Emily tadi menunjuk ke arah Galen yang kini sedang berjalan ke arah Emily.


"Sudah dibereskan semua?" Tanya Galen menyelidik dan kembali memindai penampilan Emily dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Membuat risih saja!


Emily menarik-narik roknya agar sedikit turun, karena Emily merasa tak nyaman betisnya terpampang nyata begini tanpa tertutupi celana jeans.


Coba Pak Galen sialan ini bilang dari kemarin kalau hari ini Emily harus jaga stand pakai rok. Kan Emily bisa siap-siap stocking dari rumah, biar betisnya nggak perlu terpampang nyata begini!


"Sudah, Pak! Bapak bisa cek sendiri biar puas!" Jawab Emily dengan nada berlebihan.


"Tidak usah! Aku percaya kok, sama kamu!" Ujar Galen dengan raut wajah datar.


"Kamu pulang naik apa?" Tanya Galen lagi pada Emily yang abru saja akan melangkah menuju pintu utama gedung.


"Naik taksi, Pak!" Jawab Emily cepat.


"Ayo, aku antar sekalian!" Ajak Pak Galen yang sontak membuat Emily merasa canggung.


"Nggak usah, Pak! Saya masih bisa naik taksi, kok! Lagipula, saya juga mau pergi ke rumah teman dulu," tolak Emily mencari alasan.


"Ke rumah Rachel?" Tebak Galen sok tahu.


Kok bisa tahu, sih?


Batin Emily seraya garuk-garuk kepala.


"Em! Kamu pagi tadi keramas nggak, sih? Kamu selalu saja garuk-garuk kepala begitu setiap aku mengajakmu bicara. Keramas! Creambath!" Ucap Galen merasa geregetan pada Emily.


"Iya keramas, Pak! Orang gatal, masa nggak boleh digaruk!" Jawab Emily mencari alasan.


"Udah, Pak! Saya mau pulang dulu," pamit Emily yang kembali menggaruk kepalanya. Biar saja sekalian manajer maho menyebalkan ini menjadi illfeel pada Emily dan tidak dekat-dekat lagi.


"Aku antar! Kamu punya telinga tidak, Emily!" Galen mencekal lengan Emily yang sontak membuat Emily sedikit terhuyung karena sandal higheels sialan yang Emily kenakan itu juga.


"Aduh, auuw!" Emily menutup matanya dan sudah membayangkan bokongnya akan jatuh mencium lantai.


Sakit nggak seberapa malunya seumur hidup pasti.


Tapi nyatanya, Emily tak jadi jatuh karena Galen yang sigap menahan tubuhnya.


Kok jadi kayak adegan di film-film itu, ya?


Eh!

__ADS_1


"Ayo aku antar!" Titah Galen yang sontak membuat bibir Emily kembali mengerucut.


Mau tak mau, Emily akhirnya mengikuti langkah pak Galen Gak Selera itu keluar dari gedung dan naik mobil silvernya.


Setelah berjibaku dengan aspal dan kemacetan kurang lebih dua puluh menit, Galen membelokkan mobilnya ke sebuah coffeeshop.


Ya, ampun!


Coffeeshop lagi!


Udah dibilang Emily tidak minum kopi, kenapa Pak Galen maho menyebalkan ini malah mengajak Emily ke coffeeshop terus, sih!


"Pak, saya langsung pulang naik taksi saja!" Pamit Emily setelah turun dari kobil Galen.


"Ayo ikut masuk! Aku cuma ngopi sebentar. Ada menu jus buah dan minuman selain kopi, kok disini! Jadi kamu tidak harus minum kopi!" Ujar Galen memaksa Emily untuk ikut masuk.


Ish!


Menyebalkan sekali manajer maho ini!


Emily hanya bisa menggerutu dalam hari dan mengikuti langkah Galen untuk masuk ke dalam coffeeshop tersebut. Emily dan Galen baru saja duduk dan membaca menu saat pemuda tanggung sialan itu ikut duduk di meja yang sama dengan Galen dan Emily.


"Ya ampun! Bikin jantungan saja!" Gumam Emily menggerutu.


"Jadi, sudah jadian?" Tanya Alvin sok tahu.


Hah?


Jadian?


Siapa yang jadian memangnya?


"Nggak usah sok tahu!" Jawab Galen ketus.


"Apa maksudmu merebutku dari Alvin? Kau pikir aku ini pacarnya Alvin?" Sergah Galen merasa tak terima.


"Bukan mengira, Pak! Tapi itu kan kenyataan!" Jawab Emily menatap berani pada Galen.


"Jadi selama ini yang menyebarkan rumor kalau aku itu penyuka sesama jenis adalah kamu!" Galen menuding ke arah Emily dan menuduh gadis itu dengan geregetan


"Loh! Saya tidak pernah menyebarkan rumor, Pak! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bapak dan Alvin itu usap-usapan tangan, ribut rebutan uang belanja, lalu janjian untuk saling menelepon setiap malam. Biasanya kan yang seperti itu orang pacaran, Pak. Cewek sama cowok. Lah ini bapak dan Alvin sama-sama cowok. Kalau bukan maho, apa dong namanya?" Cerocos Emily panjang lebar nyaris tanpa jeda yang sontak membuat Alvin tertawa terbahak-bahak


Dan Galen yang menggeram geregetan sekaligus mendelik ke arah Emily.


"Aku dan Alvin itu tidak pernah pacaran! Dan aku itu pria normal yang hanya menyukai lawan jenis! Jadi berhenti menuduhku atau aku perlu membuktikan kepadamu kalau aku itu pria normal?" Cecar Galen mendelik-delik pada Emily.


Membuktikan?


Apa maksudnya membuktikan?


Pak Galen maho yang katanya tidak maho ini mau memperkosa Emily?


"Itu hanya kesalahpahaman, Em!" Alvin yang sejak tadi tergelak akhirnya buka suara dan ikut meluruskan duduk perkara ini pada Emily.


"Tadinya aku pikir Galen ini pria bengkok." Kedua telunjuk Alvin membentuk tanda kutip.


Galen sontak menoyor kepala pemuda tanggung tersebut.


"Karena malam saat Galen menolongku dari keroyokan orang-orang mabuk, aku melihat banyak sekali boneka perempuan dan barbie di jok belakang mobilnya," Alvin kembali harus tergelak mengingat hal konyol itu.


"Brengsek kamu, Alvin! Itu aku sengaja beli demi membantu kakek tua yang dagangannya tidak laku!" Sela Galen membela diri.


"Kau tidak membungkusnya! Jadi siapapun yang melihatnya, pasti mengira kau memainkan semua benda itu!" Kekeh Alvin yang tak mau kalah dari Galen.


Emily yang diam menyimak sesaat merasa kagum pada Pak Galen yang menyebalkan ini. Ternyata dibalik sifatnya yang menyebalkan, hatinya begitu mulia.

__ADS_1


"Jadi itu hanya kesalahpahaman. Aku dan Galen bukan pacar apalagi pasangan sesama jenis! Kami hanya sahabat biasa karena aku berhutang budi pada pria baik ini!" Jelas Alvin sekali lagi, menunjuk ke arah Galen dan memuji pria tersebut.


"Nggak usah berlebihan!" Sahut Galen yang sepertinya merasa risih dengan pujian dari Alvin.


Emily hanya manggut-manggut dan mendadak merasa canggung karena sudah ikut-ikutan termakan gosip tentang Pak Galen yang kata Irma adalah seorang maho.


Kopi pesanan Galen dan jus buah pesanan Emily sudah datang. Segera Emily menyesap jus buahnya, karena tenggorokannya memang sudah sangat kering sekarang. Namun karena kurang hati-hati jus buah Emily tak sengaja tumpah sedikit di roknya.


Ya ampun.


Emily segera menyambar tisu di atas meja untuk membersihkan tumpahan jus di roknya.


"Pakai tisu basah, Em!" Ucap Galen yang langsung membuat Emily meringis.


"Nggak bawa, Pak!"


Galen hanya berdecak dan mengeluarkan tisu basah dari tas yang ia bawa.


Etdah!


Dia cowok kenapa malah dia yang bawa-bawa tisu basah?


Mencurigakan sekali!


"Memangnya tas kamu itu isinya apa? Sampah?" Cecar Galen seraya mengulurkan bungkus tisu basah tadi pada Emily.


Emily hanya merengut dan mengambil satu lembar tisu basah sebelum mengembalikannya lagi pada sang pemilik.


Isi tas lagi yang dibahas!


Sudah dua kali mengobrak-abrik isi tas Emily, masih saja bertanya apa isi tas Emily.


Amnesia mungkin, ya pak manajer menyebalkan ini!


"Nah, kan! Sikap kamu yang terlalu berlebihan dalam hal kebersihan dan kerapian itu juga yang membuat orang-orang berpikir kalau kamu itu pria bengkok, Galen!" Pendapat Alvin sebelum menyesap es kopinya yang baru datang.


"Apa hubungannya? Kebersihan dan kerapian itu sudah bagian dari hidupku selama dua puluh empat tahun ini!" Sergah Galen dengan nada berapi-api.


"Tapi tak perlu berlebihan juga!" Sahut Emily dan Alvin serempak.


"Apa kalian berdua sedang paduan suara?" Tanya Galen memasang raut wajah heran, karena dua orang yang baru bertemu itu bisa kompak sekali mengomentari bagaimana Galen menjaga kebersihan dan kerapian dalam hidupnya.


"Udah, ah! Mau pulang! Masih harus ke rumah Rachel juga," Emily memecah kebisuan yang sempat menyelimuti meja yang dikerubuti tiga orang tersebut.


Emily sudah bangkit berdiri dan Galen ikut bangkit berdiri.


Huh!


Sudah seperti ekor untuk Emily saja!


"Saya bisa pulang sendiri, Pak! Silahkan kalau mau lanjut ngobrol sama Alvin!" Ujar Emily menatap pada Galen masih sambil merengut.


"Aku juga mau ke rumah tante Eve! Jadi bareng saja sekalian!" Jawab Galen yang sontak membuat Emily memutar bola matanya.


Perasaan Emily saja, atau sekarang Pak Galen ini memang selalu cari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengan Emily?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2