
Bunda Naya sedikit heran pagi ini, karena Emily bangun lebih pagi tadi dan langsung berkutat di dapur, memotong buncis dan menggoreng ayam.
Tidak biasanya!
"Bunda sudah memasak untuk sarapan, Em! Kenapa kamu memasak lagi?" Tanaya Bunda heran.
"Ini Emily masak buat bekal, Bund! Galen minta Emily bawa bekal hasil masakan Emily sendiri," tutur Emily yang kini sedang mencicipi tumis buncis buatannya.
"Coba bunda icipi, udah pas belum rasanya!" Emily menyuapkan sesendok lagi untuk bunda Naya.
"Iya, sudah enak. Ayam gorengnya aja yang kurang garam," komentar Bunda Naya yang sedikit membuat Emily bernafas lega.
Setidaknya Emily masih bisa memasak meskipun hanya masakan sederhana. Tidak sia-sia juga Bunda Naya sejak dulu mengajari Emily memasak meskipun sambil mengomel dari Sabang sampai Merauke karena Emily yang selalu bermalas-malasan jika di suruh belajar masak.
"Udah biarin. Nggak usah terlau asin! Nanti Galen darah tinggi kalau ayamnya asin," ucap Emily mencari alasan. Bunda Naya hanya terkekeh denagn jawaban dan pembelaan dari Emily.
"Yaudah, mandi dulu sana! Nanti disusun di kotak pas mau berangkat!" Titah Bunda Naya.
Emily mengangguk dan segera masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor.
****
"Kenapa potongan buncisnya tidak seragam begini? Ini ada yang pendek, ada yang panjang, ada juga yang panjang sekali," komentar Galen saat melihat tampilan tumis buncis yang dibawa oleh Emily.
"Ish! Yang penting kan rasanya! Mau potongan seragam kalau rasanya tidak enak apa gunanya, coba? Icipin dulu!" Emily menyodorkan sesendok tumis buncis pada Galen.
Galen membuka mulutnya dan segera mengicipi tumis buncis hasil karya Emily.
"Enak!" Puji Galen setelah mencicipi.
"Ini kamu yanag masak atau Bunda? Jangan-jangan kamu cuma bantu iris-iris?" Tanya Galen selanjutnya merasa curiga.
"Aku masak sendiri! Dari ambil sayurnya di kulkas, motong-motong sayurnya, nyuci sayurnya, sampai memasaknya aku lakukan semuanya sendiri! Kamu bisa tanya Bunda kalau nggak percaya!" Jawab Emily seraya bersungut-sungut.
"Iya, aku percaya! Nggak usah bersungut-sungut begitu jawabnya!" Galen mencubit gemas bibir Emily yang merengut. Rasanya ingin Galen lahap saja bibir yang suka merengut itu!
Galen segera menuangkan semua tumis buncis buatan Emily ke atas nasi lalu mulai menikmatinya dengan lahap.
Emily menperhatikan sekali lagi tumis buncisnya yang bentuknya memang tak karuan dan tak seragam. Ada yang potongannya bulat ada yang potongannya serong. Tadi Emily masih setengah mengantuk saat memotong buncisnya, jadi Emily melakukannya asal-asalan saja.
Tapi ternyata nggak enak juga dilihatnya. Mungkin besok lagi kalau memasak, Emily harus memakai penggaris saat memotong buncis agar bisa seragam ukurannya.
"Makan!" Galen menyodorkan sesendok nasi dan tumis buncis ke depan bibir Emily.
Segera Emily membuka mulut dan membiarkan Galen terus menyuapinya, hingga akhirnya kotak bekal yang dibawa Emily sudah kosong sekarang.
Emily dan Galen sudah sama-sama kenyang.
"Oh, iya aku mau antar undangan ke kantor abang Kyle. Dari kemarin belum ketemu. Kemarin pas di acara syukuran kelahiran Allegra, Abang Kyle juga nggak datang." Tutur Emily sembari membereskan kotak bekalnya yang sudah kosong.
__ADS_1
"Sekarang? Yakin ada di kantor? Coba telepon dulu!" Ujar Galen memberikan saran.
Emily segera mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi nomor Abang Kyle. Gadis itu berbicara sebentar pada Abang Kyle di telepon, sebelum kembali menutup dan menyimpan ponselnya.
"Abang Kyle ada kok di kantor," lapor Emily pada Galen.
"Yaudah, ayo aku antar!" Galen sudah beranjak dari duduknya dan merangkul Emily keluar dari ruangannya. Dua sejoli yang akan segera menikah tersebut segera meninggalkan kantor penerbitan dan segera menuju ke kantor Arthur Company.
****
Tok tok tok!
Emily mengetuk pintu ruangan Kyle.
Pintunya saja mewah sekali apalagi ruangannya.
"Masuk!" Jawab Kyle dari dalam ruangan.
Emily segera membuka pintu dan melongokkan kepalanya sebentar.
"Bang!"
"Masuk, Em! Kamu kenapa cuma ngintip begitu?" Ucap Kyle saat melihat hanya kepala Emily yang muncul dari pintu.
"Takutnya sedang ada tamu," kekeh Emily yang akhirnya masuk ke dalam ruangan Kyle dan Galen yang juga ikut masuk.
"Itu siapa?" Tanya Kyle seraya menunjuk ke arah Galen yang datang bersama Emily.
Galen segera memperkenalkan dirinya secara singkat pada Abang Kyle dan menjabat tangan pria dewasa tersebut.
Memang apa hubungannya Emily dengan pria bernama Kyle ini?
Bukankah dia abangnya Sean?
"Jadi kabar tentang pernikahanmu itu benar?" Kyke mengerutkan kefua alisnya.
"Ya benar! Masa iya cuma lelucon. Ini Emily bawa undangannya untuk abang Kyle," Emily menyodorkan sebuah undangan pada Abang Kyle.
"Sudah move on dari Sean?" Tanya Abang Kyle serius.
"Apa Abang masih harus bertanya? Emily sudah move on sejak hari pernikahan Sean dan Rachel! Jadi tidak usah di ungkit lagi, Bang!" Jawab Emily sedikit bersungut.
"Baiklah, Abang percaya!" Kyle mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah dengan perdebatannya bersama Emily.
"Jadi, Galen! Kau kenal Emily dimana?" Abang Kyle ganti bertanya pada Galen dan segera mempersilahkan calon suami Emily itu untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Kami kerja satu kantor, Bang." Jawab Galen jujur.
"Cinta lokasi, ya?" Tebak Abang kyle yang hanya membuat Galen tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Abang kemarin kemana?" Emily yang juga sudah ikut duduk di sofa menginterogasi sang abang.
"Kemarin kapan? Abang dikantor setiap hari." Jawab Kyle santai.
"Pas acara syukuran kelahiran Allegra Abang nggak datang. Alle kan keponakan Abang," cecar Emily meminta jawaban dan penjelasan.
"Abang sibuk!" Jawab abang Kyle yang sikapnya berubah dingin.
"Abang masih marah pada Sean?" Tebak Emily yang hanya diajwab kebisuan oleh Abang Kyle.
"Bang, itu semua sudah berlalu! Hubungan Sean dan Emily sudah lama berakhir dan kami sudah sama-sama move on sekarang! Bisakah Abang ikut move on juga dan mengakhiri kemarahan Abang pada Sean?" Tutur Emily memohon pada sang Abang.
"Sean sudah menyakitimu, Em! Dia itu pria brengsek!" Kyle tetap keras kepala.
"Sean adik kesayangannya Abang! Bukankah Abang selalu mengatakannya sejak dulu?"
"Adik kesayangan Abang hanya kamu!" Kyle berkelit.
"Dan Sean! Kami berdua adik kesayangannya Abang Kyle! Jadi sudah cukup Abang mendiamkan Sean seperti ini, Bang! Sean sudah menjadi pria yang bertanggung jawab. Dia sudah menikah dengan Rachel, sudah menjadi suami dan ayah yang baik-"
"Lalu kau?" Sela Kyle memotong kalimat Emily.
"Emily juga akan menikah dengan Galen," Sahut Emily cepat.
"Kau yakin tidak sedang menjadikan Galen pelarian cintamu yang gagal bersama Sean?" Tuduh abang Kyle yang sesaat membuat Emily mematung.
Namun Emily bisa segera dengan cepat menguasai dirinya dan membantah tuduhan Abang Kyle.
"Sama sekali tidak!"
"Emily mencintai Galen, Bang! Kami saling mencintai, itulah mengapa kami akan menikah beberapa hari lagi," ujar Emily dengan raut wajah sangat yakin dan bersungguh-sungguh. Bahkan sekarang tangan Emily juga sudah menggenggamnya erat tangan Galen.
Hah?
Kapan Emily menggenggam tangan Galen?
Kok Emily bisa tak sadar?
.
.
.
Wkwkwkwkwk
Dia ngaku.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.