Jodoh Emily

Jodoh Emily
SALAH KOSTUM


__ADS_3

Irma membawa Emily ke sebuah ruangan dimana terdapat tiga meja kerja dengan layar iMac yang terdapat di setiap meja. Ada seorang pria yang sepertinya seusia dengan Irma sedang serius menatap layar iMac di depannya dan membuat coretan ilustrasi.


"Selamat datang di ruang kerja pada ilustrator!" Ucap Irma sedikit lebay saat mereka sudah masuk ke ruangan tersebut.


"Anak baru, Ir?" Sapa pria yang tadi yang hanya menoleh sekilas pada Emily sebelum kembali fokus ke layar iMac-nya.


"Ini namanya Faisal, Em!" Irma mengenalkan pria yang ternyata bernama Faisal tersebut pada Emily.


"Emily," ucap Emily yang langsung menyebutkan namanya seraya menjabat tangan Faisal.


"Semoga betah, ya! Kerja disini," ucap Faisal seraya mengulas senyum pada Emily.


"Ini meja kerja kamu, ya!" Irma menunjuk ke satu meja yang berada tepat di depan pintu masuk ruangan.


Emily mengangguk paham.


"Dan baju kamu," Irma sedikit menahan tawanya.


Emily segera melihat penampilannya sendiri yang memang berbeda jauh dari penampilan Irma yang begitu santai mengenakan celana jeans dan kemeja lengan pendek warna salem dengan ikat pinggang kecil di bagian pinggang.


Dan Faisal yang juga hanya mengenakan celana jeans serta kaus polo. Bahkan Pak Galendra tadi juga hanya mengenakan kemeja yang dipadu dengan kaus sweeter tipis. Tidak mengenakan jas seperti orang kantoran pada umumnya.


"Kita bisa pakai baju santai di sini, Em! Nggak usah pakai baju kantoran resmi begitu. Asal tetap sopan saja dan jangan terlalu terbuka," Faisal lanjut memberi penjelasan pada Emily karena Irma masih tak berhenti tergelak.


"Jadi besok lagi ngga usah pakai baju resmi begitu, Em!" Sambung Irma yang akhirnya sudah berhenti tergelak.


Emily hanya meringis dan segera menuju ke meja kerjanya.


Baiklah!


Mulai besok Emily juga akan mengenakan baju santai seperti yang Emily kenakan saat masih kuliah.


****


Galen membaca sekali lagi data diri Emily yang sejak tadi masih berada di atas mejanya. Pria itu mengambil map baru dari dalam laci, lalu menyusun data diri, serta beberapa gambar coretan tangan Emily ke dalam map dengan rapi. Galen mengambil satu map lagi dari atas mejanya, sebelum keluar dari ruangan.


Namanya adalah Galendra Biantara dan akrab dipanggil Galen olen keluarga serta teman-temannya yang mungkin hanya bisa dihitung dengan jari.


Galen memang tidak punya banyak teman mungkin karena sifat Galen yang sedikit aneh menurut kebanyakan orang.


Basic Galen yang merupakan seorang editor, seakan terbawa ke dalam kehidupannya sehari-hari. Galen hobi mencari-cari kesalahan orang lain, lalu ia akan memperbaikinya menurut seleranya sendiri.


Sama seperti saat dirinya mengedit naskah atau isi buku sebelum diterbitkan. Galen akan mencari bagian yang salah atau tidak sesuai, lalu memperbaiki bagian yang salah tersebut sehingga isi buku menjadi benar-benar sempurna.

__ADS_1


Galen sudah tiba di ruang ilustrator, dan mendapati tiga manusia yang bekerja di ruangan tersebut sedang sibuk dengan iMac-nya masing-masing.


"Eheem!" Galen berdehem ringan yang sontak membuat Emily, Irma, dan Faisal menoleh bersamaan ke arah pintu masuk.


"Pagi, Pak Galen! Tumben kesini?" Faisal yang terlebih dahulu berbasa-basi pada atasannya tersebut.


"Ada pekerjaan baru. Untuk Emily!" Galen mengulurkan map yang tadi ia bawa pada Emily yang meja kerjanya memang berada di dekat pintu masuk.


"Tas kamu kenapa tergeletak mengenaskan begitu, Emily? Tidak bisakah kau menyimpannya dengan rapi di bawah meja?" Tegur Galen selanjutnya yang matanya merasa risih dengan posisi tas Emily yang memang tadi Emily letakkan secara serampangan di atas meja.


Emily hanya meringis dan segera menyimpan tasnya ke bawah meja setelah menerima map yang diangsurkan oleh Galen.


"Sudah, Pak!" Ucap Emily menatap pada Galen.


"Kau tidak memeriksa dulu pekerjaan yang tadi aku berikan kepadamu? Barangkali ada yang ingin kau tanyakan atau tidak kau pahami. Agar kau bisa mengerjakannya denagn semourna dan tak perlu mengulang-ulang!" Cerocos Galen lagi yang lagi-lagi membuat Emily kembali harus meringis.


Emily membuka map berwarna putih tersebut dan membaca isinya.


Lah!


Ini kan data diri Emily!


Apa maksudnya coba?


"Map satunya!" Galen menunjuk map lain yang juga berwarna putih yang ada di atas meja Emily dan sedikit berdecak.


"Eh, iya ada dua," Emily terkekeh sendiri dan segera membuka map yang dimaksud Galen tersebut.


Emily membaca dengan seksama isi tulisan di dalam map sambil sesekali menyelipkan poninya yang terus jatuh ke arah depan wajahnya.


"Saya paham, kok, Pak!" Ucap Emily setelaha membaca dengan teliti karakter dari tokoh yang akan ia buat ilustrasinya.


"Benar, paham?" Tanya Galen sekali lagi memastikan.


"Benar, Pak!" Jawab Emily dengan penuh keyakinan. Gadis itu kembali menyelipkan poninya ke belakang telinga.


"Em, kamu tahu jepit rambut korea yang kekinian itu, kan? Yang bentuknya macam-macam itu?" Tanya Galen tiba-tiba yang sontak membuat Emily mengernyit bingung


Hah, apaan jepit rambut korea?


"Itu fungsinya buat menjepit poni rambut, biar nggak jatuh jatuh menutupi wajah dan mengganggu konsentrasi saat bekerja!" Sambung Galen lagi yang sepertinya risih sekali melihat poni Emily yang berserakan.


"Maaf, tapi saya nggak tahu, Pak!" Jawab Emily polos.

__ADS_1


Irma dan Faisal terlihat menahan tawa mendengar jawaban polos Emily.


"Besok lagi, kalau ke kantor kamu jepit yang rapi poni kamu itu!"


"Dan serahkan pekerjaanmu besok pagi di meja saya agar bisa segera saya koreksi!" Pesan Galen sebelum meninggalkan ruangan tempat Emily bekerja.


"Baik, Pak!" Jawaban Emily hanya terbang tertiup angin karena Galen sudah berlalu dengan cepat.


Dasar manajer aneh!


Segala penampilan bawahannya dikomentari!


Bahkan letak tas juga dikomentari!


Apa hidupnya benar-benar kurang kerjaan?


Tawa Irma dan Faisal sontak meledak setelah Pak Galen tak terlihat lagi.


"Sabar, ya, Em! Bos kita itu emang resek!" Celetuk Irma yang masih saja tergelak.


"Nanti kamu juga terbiasa, kok!" Sambung Faisal yang sudah berhenti tertawa.


"Memang penampilan semua karyawan juga selalu dikomentari kayak aku tadi?" Tanya Emily yang mendadak merasa penasaran.


"Ya begitulah! Udah bawaan orok kayaknya!" Sahut Irma sebelum kembali fokus ke layar iMac-nya.


"Emaknya Pak Galen dulu ngidam apa, ya?" Celetuk Faisal yang kembali tergelak.


"Mulai! Kalau ngomongin Pak Galen kamu langsung semangat empat lima!" Cibir Irma seraya melempar klip kertas pada Faisal.


"Halah! Kayak kamu nggak aja!" Sahut Faisal balas mencibir pada Irma.


Emily yang mendengarkan perdebatan Irma dan Faisal hanya mengendikkan bahu dan segera meraih kertas post it untuk mencatat apa-apa saja yang ia perlukan saat akan membuat gambar ilustrasi pertamanya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2